bc

Jangan Panggil 911

book_age18+
8
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
age gap
second chance
friends to lovers
badboy
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
bold
city
office/work place
cheating
childhood crush
secrets
love at the first sight
affair
like
intro-logo
Blurb

Aturan pertama menghadapi Damian Sinclair Wesley: Jangan pernah bermain api dengannya.Aturan yang dilanggar Kaeta Calliope Quinn: Berpura-pura menjadi dokternya.​Kaeta adalah gadis usil yang merasa bosan dan suka bermain-main, sementara Damian adalah komandan pemadam kebakaran di negara New York yang memiliki sifat cuek,kejam, disiplin dan juga sangat misterius. Hanya butuh satu detik bagi insting seorang Damian untuk mengetahui bahwa gadis cantik di depannya adalah seorang dokter gadungan.​Tetapi, alih-alih melaporkan nya, Damian justru mengunci Kaeta dalam permainan yang gadis itu ciptakan. Pria yang biasanya tidak tersentuh itu mulai hadir di setiap sudut hidup Kaeta, menjebaknya dalam jerat pesonanya. ​Di balik tawa jahil Kaeta, ada rahasia masa lalu yang gadis itu sembunyikan. Sementara di balik seragam gagah Damian, ada sesuatu yang membahayakan bagi siapapun itu. ​Ketika cinta sang Dokter membakar Api pengkhianatan Damian, akankah hubungan ini menyembuhkan luka mereka, atau justru menghanguskan keduanya tanpa sisa?​"Ketika keisengan berubah menjadi takdir, jangan pernah memanggil 911."

chap-preview
Free preview
Bab 1 JP911
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Kaeta Calliope Quinn, Mahasiswa cantik dan kaya raya yang menjadi primadona di Universitas kedokteran. Menjadi anak tunggal yang kaya raya, membuat Kaeta memiliki sifat, Manja dan keras kepala. Dia juga tidak akan segan untuk membuat perhitungan pada siapapun yang berani mengusiknya. Namun di bandingkan dengan gelar primadona, gadis bar-bar, kegilaannya yang lebih melekat pada dirinya. Pagi senin yang begitu cerah, sebagian manusia dimuka bumi ini mulai melakukan aktivitas nya, tidak terkecuali dengan sosok cantik bermata hazel itu. “Astaga, kenapa harus ada janji menemani si Duda sepagi ini.?" Gumamnya menatap penampilannya melalui kaca full body. Dia menggeleng gemas pada dirinya sendiri. “Aku memang gadis paling cantik di dunia yang penuh tipu-tipu ini." Tok Tok “Kaeta!! cepatlah sayang, jangan sampai kita telat!" Seru Xavier sembari mengetuk pintu kamar sang putri. Kaeta menghela nafas panjang. “Tunggu di bawah aja Dad, sebentar lagi aku selesai." Jawab Kaeta. Xavier menuruti perintah putri kesayangannya. sembari sesekali melirik jam mahal di pergelangan tangannya. Tidak butuh waktu lama, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. suara itu semakin dekat membuat Xavier menoleh. “Wow!!.. Cantik sekali putri Daddy, udah siap?" Kecantikan sang putri adalah obat kerinduannya pada mendiang sang istri. Kaeta memutar bola matanya dengan malas, sudah terbiasa dengan pujian sang Ayah. “Udah Dad, ayok buruan, katanya takut telat." Xavier pun terkekeh, lalu keduanya berjalan keluar menuju mobil yang sudah di siapkan oleh supir pribadi mereka. Pagi ini Xavier ada jadwal operasi, seperti biasanya tidak ingin meninggalkan Kaeta sendiri di rumah, dia mengajaknya ke Rumah Sakit tempatnya bekerja yang tidak lain milik mendiang sang istri. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di depan loby rumah sakit, terlihat para pengunjung ataupun perawatan yang berjalan kesana kemari. “Dad, kenapa bengong, ayo turun!" Ucap Kaeta dia lebih dulu turun. Brakkk Suara dentuman pintu mobil yang begitu keras membuat Xavier memejamkan matanya untuk sesaat, lalu melirik sang putri yang cengengesan. Menutup pintu mobil seperti ingin menghancurkannya. Tetapi Xavier tidak pernah memarahinya. Bahkan membentaknya pun tidak pernah. Kehadiran Kaeta selalu menarik perhatian, semua pasang mata tertuju padanya dengan berbagai ekspresi, ada yang mengagumi kecantikannya ada pula yang membencinya karena sifatnya yang terkadang manja, jail dan menyebalkan. “Kaeta!!... Calon anak tiriku!!" Dari arah lain seorang gadis berlari kearahnya, Kaeta menoleh dan tersenyum lebar. Sementara Xavier segera mempercepat langkahnya. Karena penyebab nyeri kepalanya telah bertemu, Kaeta dan Zeta. Dua gadis satu jurusan itu berpelukan dengan tawa cekikikan, Kaeta tidak ingin mati membosankan di Rumah Sakit karena lama menunggu sang Ayah yang akan melakukan operasi pasien Timor Otak, jadi dia menghubungi Zeta. Zeta dengan senang hati dan meninggalkan segala kegiatannya pagi ini guna menemani Kaeta, tetapi bukan itu asalan yang sebenarnya, karena Xavier lah tujuannya dan Kaeta sama sekali tidak keberatan jika sahabatnya menjadi cegil sang Ayah. Keduanya berjalan masuk menuju ruangan Xavier, sembari sesekali cekikikan. “Enaknya kita ngapin ya?" Tanya Kaeta yang bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan rasa bosan. “Nonton film, sambil menunggu calon suami." Jawab Zeta menahan gemas, membayangkan wajah Xavier yang tampan. “Cih..calon suami, minimal jadian dulu gak sih?" Zeta merangkul pundak Kaeta. “Aku akui, Daddy mu sulit untuk di tahklukkan, tapi itu yang membuatku semakin cinta." Ujarnya sembari cengengesan, sementara Kaeta hanya menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian Kaeta dan Zeta sudah tergeletak di sofa ruang kerja Xavier. Dengan Kaki menggantung di sandaran. Kepalanya berada di tempat duduk, sungguh ini posisi yang sangat tidak elegan untuk dua gadis dari keluarga terpandang itu. ketika rasa bosan mulai menyerang, keduanya mulai memainkan ponsel masing-masing, 4-8 jam bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tidak ada yang menarik sama sekali, bahkan media sosial juga sangat membosankan, Video lucu juga tidak kalah membosankan, bermain Game juga dia tidak begitu menyukainya. "Kalau seperti ini, kita bisa mati karena bosan." Ucap Kaeta, dia bangkit lalu berjalan mengelilingi ruangan Ayahnya, Matanya memperhatikan berbagai penghargaan yang terpajang di dinding. Foto-foto lama, Sertifikat, Trofi. Dan jas dokter putih yang tergantung rapi. Kaeta menyipitkan kedua matanya lalu detik berikutnya dia tersenyum penuh arti. "Oho!!" Kaeta melangkah kearah jas tersebut. Lalu dia mengambilnya dan memakainya. Beberapa detik kemudian, Kaeta berdiri di depan cermin. Jas itu sedikit kebesaran, tetapi baginya masih tetap terlihat mempesona. Kaeta mengangguk puas "Dokter Kaeta Calliope Quinn." dia menepuk dadanya penuh dengan rasa bangga. "Dokter paling cantik di dunia." dia cekikikan. Sementara Zeta hanya menggelengkan kepalanya, tidak membantah, memang Kaeta sangat cantik. Kaeta tertawa pelan, lalu mengambil stetoskop yang berada di atas meja. Digantungkan ke leher, benar-benar cosplay yang sempurna.saat ini dia terlihat seperti dokter yang sesungguhnya. "Pasien berikutnya silakan masuk." kaeta tertawa geli. Membayangkan dirinya memeriksa pasien. Tentu saja semua itu akan terjadi, tetapi nanti ketika dia sudah menyelesaikan kuliahnya. untuk saat ini cukup menghayal dulu. Tok. Tok. Tok. Kaeta membeku,lalu dia menoleh kearah Zeta yang menggelengkan kepalanya, lalu keduanya kembali melihat kearah pintu. "Daddy?" Gumam Kaeta dan Zeta menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin operasi berjalan begitu cepat.Operasi baru berjalan sekitar dua jam. Ketukan kembali terdengar. Kaeta melangkah mendekati pintu. Lalu detik berikutnya seluruh tubuhnya seakan membeku. Dan saat itulah dunia seolah berhenti untuk sesaat. Mata Kaeta membulat sempurna dengan mulut seperti biasanya terbuka saking terkejutnya, melihat sosok pria tampan berdiri di hadapannya Tinggi, badannya tegap, tampan bahkan ketampanannya melebihi sang Ayah, Kaos hitam yang terlihat tidak telalu mahal membungkus tubuh pria itu dengan sempurna. Tatapan matanya begitu tajam namun terlihat tenang. Pria itu terlihat seperti tokoh utama drama yang keluar langsung dari layar televisi. Kaeta sampai berkedip beberapa kali, Astaga. Manusia bisa setampan ini? Batinnya. Pria itu menatap Kaeta sekilas, "Dokter Xavier Quinn?" Ucapnya, sementara Kaeta masih terpaku, Jantungnya mendadak mur4han yang langsung berdetak begitu kencang. Tetapi karena otaknya yang sedang menghasilkan ide paling bodoh dalam sejarah hidupnya. Pria tampan, Ruangan dokter. Jas dokter, tidak ada orang lain lagi, selain Zeta. Senyum penuh arti muncul di wajah Kaeta. Senyum yang selalu menjadi pertanda masalah. Masalah besar akan terjadi. "Ahem." Kaeta berdeham. Lalu berdiri tegak, Berusaha terlihat profesional. Meski sebenarnya dia menahan tawa. "Perkenalan saya Kaeta Asisten Dokter Xavier." gadis itu memperkenalkan dirinya dengan sangat profesional. Pria itu mengangkat sebelah alis, lalu mengangguk pelan, namun ekspresi wajahnya tidak bisa di tebak. "Saya ada jadwal pemeriksaan." Mendengar itu Kaeta menggigit bibir bagian dalam agar tidak tertawa. Jadwal pemeriksaan? sangat menarik. "Silakan masuk." Pria itu masuk ke ruangan tanpa curiga meskipun dia melihat ada orang lain selain mereka berdua. Kaeta menutup pintu perlahan sembari tersenyum penuh arti. Dia bahkan sudah bisa membayangkan betapa lucunya situasi ini. Hanya lima menit. Ahhh.. Mungkin sepuluh menit. Setelah itu dia akan jujur jika dirinya bukan Dokter dan masih seorang mahasiswi kedokteran. Tanpa Kaeta sadari pria yang baru saja akan dia jadikan target keisengan bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Damian Sinclair Wesley, Seorang pewaris keluarga Wesley yang terkenal kejam dalam dunia bisnis. Tetapi Damian lebih memilih menjadi seorang komandan kebakaran. Pria yang tidak pernah memberi kesempatan kedua kepada siapa pun yang berani mempermainkan nya. Dan hari ini, Kaeta Calliope Quinn baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Bersambung...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
752.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
985.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
363.1K
bc

Not just, the Beta

read
350.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook