Bab 2 JP911

1362 Words
Damian berjalan dengan langkah pelan menuju kursi depan meja kerja, wajah Damian terlihat begitu datar dan tatapannya bagaikan anak panah yang siap merobek-robek jantung Kaeta. Sementara itu, Zeta yang sejak tadi santai bersandar di sofa, mendadak menegakkan punggungnya, matanya membulat sempurna ketika sosok pria yang sangat dia kenali itu. “Damian?" gumamnya pelan, komandan damkar sekaligus pewaris tunggal Wesley Group yang sangat terkenal kekejamannya itu, Zeta hanya bisa berteriak dalam hati, dia menggelengkan kepalanya kearah Kaeta. Zeta ingin menarik tangan Kaeta dan membawa sahabatnya itu keluar dari ruangan tersebut, sementara Kaeta yang penuh dengan percaya diri itu melangkah maju dengan dagu sedikit terangkat. Kaeta berdehem kecil, merapikan jas dokter yang kedodoran di tubuh mungilnya. “Silahkan duduk.. Hmm.. Tuan..?" Keata sengaja menjeda kalimatnya dan membiarkan pria tampan itu menyebut namanya sendiri. “Damian" Jawabnya singkat, suaranya terdengar sangat berat dan candu di indra pendengaran Kaeta, “Baiklah, Tuan Damian, silahkan duduk." Titah Kaeta sembari tersenyum manis. “Kebetulan Dad.. Eh.. Dokter Xavier sedang melakukan tidakkan operasi yang cukup memakan waktu lama." Ujar Kaeta, hampir saja dia keceplosan. Damian masih diam memperhatikan gadis cantik didepannya dengan ekspresi datar, sedangkan Zeta beberapa kali memberi isyarat agar Kaeta menghentikan niatnya itu. “Sebagai Asisten yang paling cerdas dan yang paling cantik di rumah sakit ini, saya akan menangani pemeriksaan Anda, Tuan." Tingkat kepercayaan diri Kaeta memang patut mendapatkan apresiasi, jika yang dihadapinya adalah pria biasa, tetapi kali ini dia salah mangsa. ​Damian tidak menjawab, dia hanya menatap dengan tatapan yang begitu tajam, seolah-olah bisa membaca isi kepala Kaeta yang penuh dengan rencana. Jika itu orang lain, tentunya tidak akan berani membalas tatapan Damian, Tetapi ini Keata bukan gadis yang mudah di intimidasi, tingkat kepercayaan dirinya sudah mencapai level stratosfer. “Keluhannya apa?” tanyanya sambil berbalik. “Tidak ada.” Jawaban itu membuat Kaeta menahan senyum. Dia menatap pria itu cukup lama, memperhatikan posturnya yang tegap dan ekspresinya yang nyaris tidak berubah. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan hampir tidak terdengar. “Semua orang pasti punya keluhan.” “Pemeriksaan rutin setelah tugas lapangan." Ucap Damian, membuat Kaeta manggut-manggut paham. “Ouh..justru yang gak ada keluhan kayak gini yang paling bahaya." Kaeta melangkah menghampiri Damian untuk lebih dekat, mengabaikan Zeta yang terlihat jelas ingin menariknya keluar. ​Kaeta memasang ear-piece stetoskop ke telinga nya, lalu mengarahkan bagian dadu stetoskop ke d**a bidang Damian. ​Deg!! ​Tangan Kaeta sedikit bergetar saat menyentuh d**a pria itu. Bukan karena stetoskopnya, melainkan karena otot d**a Damian yang terasa begitu keras membuat otak mesumnya langsung travelling. ‘Astaga!!.. ini sungguh gila, dadanya hampir mirip seperti papan gilasan? kokoh banget.' kaeta menjerit dalam hati sembari menelan ludahnya kasar. Selagi ada kesempatan, Kaeta tidak akan pernah melewatkannya, alih-alih menempelkan stetoskop, jemari lentiknya mulai beraksi, dia sengaja menekan stetoskop nya dengan sangat lambat. Telapak tangan kirinya mendarat di d**a kiri Damian dengan dalih merasakan getaran detak jantung, Kaeta meraba dengan sangat lembut, menikmati sensasi otot padat di bawah telapak tangannya. ​Damian menurunkan pandangannya, menatap tepat pada jemari Kaeta yang sedang menari-nari di dadanya. Pria itu menarik sudut bibirnya. Dia adalah pria yang terlatih mendeteksi bahaya dan kebohongan. Cara gadis ini memegang stetoskop saja sudah salah dan ketukan jarinya sama sekali tidak mencerminkan seorang Dokter yang profesional. ​“Ini tidak benar Tuan Damian, detak jantung Anda terlalu normal." Entah apa yang di maksud oleh Kaeta, Damian masih menunggu kelanjutan kalimat gadis itu. “Untuk orang biasa, itu mungkin sangat normal,” lanjutnya sembari kembali melangkah mendekat “Tapi untuk Anda,itu adalah tanda bahaya.” “Bahaya?" Damian menaikan sebelah alisnya, dia tidak mengerti di mana letak bahayanya. Kaeta menghela nafas panjang, memasang wajah yang sangat sulit untuk di artikan. “Anda terlalu sehat, sangat tidak baik, kalau di biarkan itu bisa berkembang." “Berkembang menjadi apa?" Entah kenapa Damian sampai membuang waktu hanya untuk menanggapi Kaeta, padahal dia tau jika gadis itu sendang mempermainkan dirinya. “Hal-hal yang tidak di inginkan, jadi.. " Kaeta sengaja menjeda kalimatnya, dan sialnya membuat Damian penasaran untuk kalimat berikutnya. ​Di sudut ruangan, Zeta hampir saja tidak sadarkan diri, dia membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak, “Kaeta, kau cari mati!! Dia bisa meratakan rumah sakit ini kalau sampai tau kau hanya seorang mahasiswi" Gumamnya pelan. ​"Sesuatu yang serius?" Damian mengangkat sebelah alisnya. Dia tau persis kondisi fisiknya. Sebagai komandan damkar, dia menjalani tes fisik ketat setiap tiga bulan dan hasilnya selalu sehat dan tidak ada masalah. "Penyakit apa?" “Kesimpulannya, penyakit Anda ini memang sangat serius" Jawab Kaeta. ​"Jadi, ini benar-benar sangat serius?" tanya Damian, sengaja kembali meladeni permainan konyol si dokter gadungan ini. Dia ingin melihat sejauh mana gadis kecil itu melangkah. ​"Sangat serius!" tegas Kaeta dengan nada bicara yang meyakinkan. "Penyakit ini tidak bisa disembuhkan dengan obat biasa, Anda harus rajin melakukan kontrol ke rumah sakit ini. Minimal tiga kali dalam satu minggu, dan Anda juga harus memastikan kalau sayalah yang memeriksa Anda. Jika dengan dokter lain, energinya tidak akan jelas." ​"Tiga kali dalam satu minggu?" ulang Damian, menatap Kaeta yang saat ini sedang tersenyum. ​"Benar sekali, dan selama masa observasi ini, Anda dilarang keras untuk dekat-dekat dengan wanita lain, karena stres emosional bisa membuat jantung Anda meledak," Kaeta sedang membual semakin jauh dan tingkat kepercayaan dirinya yang setinggi langit itu membuatnya merasa seperti seorang penyelamat hidup untuk Damian. "Bagaimana Tuan Damian? Apakah Anda keberatan? ini semua demi keselamatan nyawa Anda." ​Damian menyandarkan punggungnya ke kursi dan melipat tangannya di atas d**a, membuat otot lengannya terlihat jelas, lalu dia menatap Kaeta dalam-dalam. Ada rasa geli yang seakan menggelitik dalam hatinya, gadis di depannya ini sungguh sangat berani bermain-main dengannya. Damian mengangguk pelan. “Baiklah, saya tidak keberatan." Jawab Damian santai, membuat Kaeta tersenyum senang. “Tapi Dokter Kaeta..." Damian menggantung kalimatnya, pria itu memajukan tubuhnya untuk lebih dekat. sehingga Kaeta bisa mencium aroma maskulin bercampur asap tipis di tubuh pria itu. “Tapi apa,Tuan tampan?" Tanya Kaeta, entah dia mendadak gugup karena tatapan yang begitu intens. “Benarkah Anda Asisten Dokter Xavier?" Damian melirik sekilas ke arah bordiran di yang terletak di sebelah kanan d**a Kaeta, tertulis jelas nama Xavier Quinn. Kaeta tersentak, dia meringis sembari memejamkan matanya, bodoh, kenapa sampai melupakan hal sepenting ini, Belum sempat Kaeta memberikan alasan, tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar. “Princess!! Maaf menunggu lama." Xavier melangkah masuk dengan senyum lebar, tetapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat sosok pria yang sangat dia kenali. “Tuan Damian, Anda sudah datang, maaf kalau terlalu lama menunggu." Sapa Xavier, beliau tau siapa Damian yang sebenarnya selain sebagai komandan Damkar. Damian mengangguk kecil, lalu kembali melirik kearah Kaeta yang menundukkan kepalanya, pria itu menarik sudut bibirnya. Xavier menautkan kedua alisnya, menatap sang putri yang memakai jas kebesaran miliknya, sebagai seorang Ayah yang sangat mengenal bagaimana tabiat sang putri, tanpa di jelaskan pun Xavier langsung paham, apa yang baru saja di lakukan oleh Kaeta. ​"Kaeta Calliope Quinn!!" desis Xavier, menepuk jidatnya sendiri dengan penuh rasa frustrasi. "Apa yang kamu lakukan pada tamu Daddy?!" Kaeta cengengesan, perlahan melangkah mundur menjauh dari Damian. “Hehe,Dad, operasinya udah selesai? Kenapa cepat sekali, seharusnya sampai besok pagi." Dia mencoba mengalihkan pembicaraan. ​Damian bangkit dari duduknya, berdiri tegak di hadapan Kaeta Pria itu menatap Xavier, lalu beralih kembali pada Kaeta yang saat ini sedang memberikan senyum termanisnya . ​"Dokter Xavier," Panggil Damian datar, tetapi pandangannya masih tertuju pada Kaeta. "Asisten Anda baru saja mendiagnosis saya dengan penyakit mematikan. Dia bilang saya harus rajin menemuinya tiga dalam seminggu agar jantung saya tetap aman dan tidak meledak." ​Xavier memejamkan matanya, menahan malu yang luar biasa. "Tuan Damian, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, ini putri saya, dia masih seorang mahasiswi semester awal dan otaknya memang kadang suka bergeser jauh dari tempatnya." ​Kaeta mengerucutkan bibirnya, tidak terima dengan ucapan sang Daddy. “Dad, gak gituh ya!!.. Tuan Damian ini memang tidak sehat, karena dia terlalu sehat untuk jantungku yang lemah." Sahutnya dengan cepat. ​Damian tidak marah dan tidak juga tersenyum. Dia hanya merapikan kaos hitamnya, lalu menatap Kaeta untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. "Saya pegang kata-kata Anda, Dokter Gadungan, tiga kali seminggu jangan sampai Anda tidak ada di tempat ketika saya datang menagih janji itu" Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD