Bab 10 JP911

1045 Words
Kaeta tertawa terbahak-bahak, semalam pesan yang di kirim oleh Zeta membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. “Nggak ada yang lucu Kae, aku beneran gak nyangka komplotan Damian orangnya pada kaku kayak Kanebo" Ucap Zeta mengeluhkan Magnus yang semalam mengantarkannya pulang. Matahari baru saja memancarkan sinarnya di balik gedung-gedung tinggi di New York. kedua gadis cantik itu sedang menikmati paginya sembari bercerita tentang kejadian semalam. Dengan segelas iced americano di tangan kanan dan buku anatomi yang super tebal di tangan kiri, keduanya benar-benar mencerminkan seorang mahasiswa kedokteran di Universitas terbesar di New York. Kurang tidur, panik namun tetap berusaha terlihat cantik dan mempesona. “Astaga, Kae ayo cepatan!! Profesor Sterling itu tipe orang yang bakalan ngunci pintu setelah satu menit kelas dimulai, Sumpah aku beneran males kalau sampai mohon-mohon di depan kelas." Seru Zeta dia hampir saja melupakan kelas paginya. Tangannya membenahi letak kaca mata hitamnya yang beberapa kali melorot, napasnya terengah-engah sembari menarik tangan Kaeta. suara sepatu boots Doc Martens nya terdengar jelas bisingnya. “Tenang aja sih Zet, kita masih punya waktu tujuh menit lagi, pelan dikitlah, kopi mu bisa tumpah malah ribet, jangan heboh sendiri kayak gak biasanya aja telat." Zeta menggeleng, Dosen yang satu ini benar-benar tidak menerima alasan apapun, dia terus menarik tangan Kaeta. Sampai akhirnya mereka berdua berhasil menyelipkan masuk kedalam ruangan yang begitu megah. aroma ruangan yang khas dengan perpaduan antara pendingin ruangan dan sisa kopi dari ratusan mahasiswa. “Good Morning!! calon dokter masa depanku, I miss you so much!" Teriak seorang pemuda tampan ke arah Kaeta. Kaeta memutar bola matanya malas, sementara Zeta langsung reflek memasang wajah yang seakan-akan ingin muntah. “kurang kerjaan banget si Daniel." Pemuda itu duduk di barisan belakang mereka berdua, tetapi dengan sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah depan sampai dagunya hampir menyentuh sandaran kursi Kaeta. Dari penglihatan mata yang normal, sebenarnya Daniel tidak kalah tampannya dengan Damian, hari ini dia memakai jaket kulit hitam di atas scrub birunya, rambutnya sedikit berantakan yang memang sudah menjadi ciri khasnya. Tetapi anehnya di mata para gadis lainnya, Daniel tetap terlihat effortlessly coll. Aura badboy nya sangat jelas, namun sayangnya jika di depan Kaeta, dia langsung berubah menjadi pria konyol yang ke bucinannya sangat maksimal. “Kae, kamu tau gak sih, bedanya kamu dan materi anatomi hari ini?" Tanya Daniel sembari mengedipkan sebelah matanya, menurutnya dia sudah sangat karismatik, padahal terlihat seperti orang kelilipan. “Nggak tau dan nggak mau tau" Jawab Kaeta tanpa menoleh kearah pemuda itu. “Kalau materi anatomi itu ngebahas struktur tubuh, tapi kalau kamu itu, penstruktur masa depanku, Boom!!" Danie tersenyum penuh percaya diri, meskipun gombalan yang dia lemparkan sangat garing. Hening, tidak ada yang tertawa ataupun menganggap kalimat Daniel romantis, Zeta menoleh sembari menarik sudut bibirnya. “Daniel, aku saranin, mendingan kamu duduk di tempatmu daripada nanti kena semprot profesor." Daniel memutar bola matanya malas. “Diem Zeta, aku lagi mengejar masa depanku." “Berharap banget, Kaeta udah kecintaan sama pamanmu." Gumam Zeta pelan. Daniel mengangkat kedua bahunya, dia tidak perlu khawatir meskipun saingan pamannya sendiri, dia mengakui jika Damian lebih tampan darinya, tapi keberuntungan tidak ada yang tau. Belum sempat Danie menjawab, ruangan mendadak hening ketika seorang pria paru bayar dengan setelan jas rapi, berjalan tegap di podium, sang Profesor, Dosen legendaris yang terkenal dengan tegesannya. ​ Begitu berdiri di depan, tanpa basa basi lagi, layar proyektor di belakangnya langsung menampilkan gambar tiga dimensi dari jantung manusia yang sangat detail. ** Sementara di tempat lain, Xavier memejamkan matanya, kekacauan terjadi di Rumah Sakit nya. Kali ini dia tidak bisa menduga siapa dalang yang sebenarnya. Meskipun kecurigaannya tertuju para Damian. “Tenang Xavier, aku sudah meminta beberapa orangku untuk menanganinya, pemasokan alat-alat medis dan obat-obatan akan segara datang." Ucap Sam, dia satu-satunya orang yang bisa di percaya oleh Xavier dan juga sering membantunya ketika mendapatkan masalah. Sam juga orang yang sangat menyayangi Kaeta layaknya putri kandungnya sendiri, terkadang orang-orang sampai kebingungan, siapa sebenarnya Ayah kandung Kaeta. Xavier mendongak. “Terimakasih Sam, lagi-lagi aku merepotkan mu." “Jangan terlalu sungkan Xavier, kita timbul bersama sejak kecil, sudah seharusnya saling membantu." Jawab Sam. “Tetapi kita jangan terlalu senang, karena siapapun yang itu tidak akan tinggal diam, jika tujuannya adalah Kaeta." Lanjut Sam. Xavier mengangguk kecil. “Kau benar Sam, mereka tidak langsung menyerangku, tetapi pada kelemahan ku." Sam mengangguk kecil, dia siap membantu sahabatnya. “Xav, sebenarnya tidak ada yang salah kalau Kaeta berada di tangan Tuan Damian, pria itu bisa melindungi Kaeta da... " Sam menggantung kalimatnya setelah mendapatkan tatapan tajam. “Apakah kau juga akan memberikan putrimu pada orang yang jelas kamu ketahui kabagaimana kehidupannya, Sam?" Desis Xavier Sam menarik nafas dalam-dalam, tentu saja tidak, tetapi Damian yang menginginkan Kaeta, tentunya pria itu tidak akan menyakiti Kaeta dan akan melindunginya. “Aku hanya... " “Tidak!..selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti putriku ataupun menyerahkannya pada pria sepertinya." “Ah.. Ya.. Ya.. Maafkan aku, anggap saja tadi aku salah bicara." Xavier menyandarkan tubuhnya, dia menggeleng pelan. “Terimakasih atas bantuanmu, tapi tolong bisa tinggalkan aku sendiri." Sam menghela nafas panjang. “Baiklah, jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku." “Hmmm" Sam keluar dari ruangan Xavier dengan perasaan tidak enak, dia sadar jika ucapannya menyakiti hati sahabatnya. Sedangkan di tempat lain, Damian beberapa kali menghela nafas panjang, Ayahnya kembali datang, menagih janji yang Damian ucapkan beberapa hari lalu. “Dad, kekasihmu sedang.. " “Kau hanya membual Damian, jika dalam satu minggu tidak membawa calon menantuku pulang, bersiaplah menikah dengan Jessica." Sela Tuan Wesley Damian kembali menarik napasnya dalam-dalam. “Baiklah pria tua, sekarang pulang dan istirahatlah, karena aku tidak mau membawa calon istriku ke pemakaman untuk berkenalan dengan mu." Tuan Wesley melebarkan matanya, sungguh kurang ajar sekali mulut Damian. “Kau.. " “Magnus!!" Seru Damian memanggil salah satu orang kepercayaan. “Saya Tuan." “Antar pulang pria tua ini, pastikan dia mencuci tangan dan kakinya sebelum tidur." Ucap Damian membuat Tuan Wesley kembali ingin memukulnya dengan tongkal legendnya. “Anak kurang ajar!! Berani sekali kau bicara seperti itu pada Daddy mu!" “Memangnya apa yang salah dengan ucapanku, Dad?.. Sekarang cepatlah pulang sebelum aku meminta Jordi untuk meracun semua ikan peliharamu." Sahut Damian, dia duduk dengan santai menikmati kemarahan sang Ayah. Sedangkan Jordi masih menahan tawanya, keluarga mereka terkenal dengan kekejamannya, tetapi inilah yang sebenarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD