Omara memalingkan wajah, menatap hiruk-pikuk kota di bawah sana. Ia membayangkan Daisy yang mengambil hati kakeknya, dengan wajah polos dan senyum tulus, melayani kakeknya. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dadanya. “Kakek memang menyayangi Daisy, terlebih dia cucu sahabatnya.”
Gian hanya menatap bosnya lekat.
“Daisy tidak tahu apa-apa, Gian,” gumam Omara lirih. “Ya, ia pikir pernikahan ini adalah awal dari sesuatu yang indah. Dia membelaku di depan Kakek.”
“Itulah mengapa Tuan Besar terus mengawasi, Pak.” Gian menambahkan. “Jika Anda menyakiti Nyonya, Anda bukan hanya berhadapan dengan mertua Anda, tapi Anda akan berhadapan dengan tongkat kebanggaan Tuan Besar yang tidak akan segan-segan menghajar dan menghancurkan karier Anda.”
Gian meringis sedikit, membayangkannya.
Omara mengepalkan tangannya di bawah meja. Matanya menyipit tajam. “Baiklah. Kalau dia ingin aku menjadi suami yang sempurna di depan matanya, aku akan memberikannya pertunjukan itu.”
Gian terdiam, menyadari bahwa bosnya hanya menikahi Daisy untuk sekadar pion dalam papan catur kekuasaan Jagaraga? Tidak bisa menolak keinginan final Kakek dan keluarganya setelah selama ini cukup membebaskan, dan diam dengan segala kelakuannya.
“Siapkan kepulanganku lusa, Gian,” perintah Omara dengan nada dingin yang kembali normal. “Dan belikan perhiasan di Fifth Avenue sore ini. Aku harus membawa sesuatu yang cukup berkilau sebagai hadiah untuk istri kecilku itu.”
Gian hanya mengangguk, menyadari bahwa meskipun Omara sudah kembali ‘waras’, hatinya masih tertutup rapat oleh lapisan ambisi dan ego yang belum tertembus oleh ketulusan Daisy. Namun, pengawasan Catur Aji yang begitu ketat memastikan bahwa Omara tidak akan bisa lari, setidaknya tidak dalam waktu dekat.
“Pak, seingat saya Bapak tidak seperti ini...” Gumam Gian.
Omara yang sudah akan menyuap jadi mendongak, bukan hanya orang lain pun dirinya menyadari banyak yang berubah darinya.
“Patah hati karena ditinggal Non Au—“
“Jangan pernah sebut nama itu, terutama depan Daisy. Dia tidak perlu tahu apa pun mengenai masa laluku yang satu itu.” Omara lanjut makan dengan tenang.
***
Beberapa hari kemudian, mobil sedan hitam dengan kaca film pekat itu berhenti tepat di depan lobi kampus. Daisy, yang baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya, tidak dapat menahan buncah bahagia saat mendapat telepon dari suaminya, lalu sekarang melihat sosok yang duduk di balik kemudi. Meski hanya beberapa hari berlalu, absennya Omara terasa seperti bertahun-tahun bagi Daisy.
“Mas Omara!” Daisy berseru kecil saat mendekat. Namun, alih-alih sambutan yang hangat, Omara justru memberikan gestur cepat dengan tangannya agar Daisy segera masuk. Matanya yang tajam sempat melirik ke arah kerumunan mahasiswa yang mulai menoleh penasaran. Aura Omara yang terlalu dominan dan kemewahan yang ia bawa memang selalu menjadi magnet bagi spekulasi orang-orang. Atau saja, mengira Daisy dijemput g***n atau Sugar Daddy. Meski pernikahan mereka tidak dilakukan sembunyi-sembunyi.
“Masuk, Daisy. Cepat!” perintahnya pendek.
Begitu pintu tertutup, Omara langsung menginjak pedal gas. Daisy, yang masih sedikit terengah, mencoba menetralkan degup jantungnya. Ia menoleh ke samping sambil memasang seatbelt, menatap profil suaminya yang terlihat letih namun tetap tampak luar biasa tampan dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.
“Mas benaran baru sampai, langsung jemput aku?”
Hari ini Daisy memang tidak mengemudi mobil sendiri, kemarin sore ia ke rumah orang tuanya lalu menginap. Pagi tadi, ikut Papanya karena satu arah ke kampus dengan kantor papanya.
“Iya, kamu yang bilang kemarin jam kuliahmu selesai. Jadi, aku pikir sekalian saja menjemputmu.” Ungkap alasan Omara di sana. “Kenapa, kamu tidak senang dijemput suamimu?”
“Aku senang kok!” ia jeda sesaat, Daisy memberi senyum, “padahal Mas tunggu di rumah saja sama Daima. Mas bisa istirahat dulu.”
Omara menghela napas dalam, tadi memang dia menemui Daima dan hampir menduduki anak bulu itu yang tidur di sofa. Ya, ia harus menerima kenyataan bahwa bukan istri kecilnya saja yang jadi penghuni baru di rumahnya, tapi makhluk pemalas itu.
“Apa Daima juga akan masuk kartu keluarga kita?” tanya Omara tidak serius.
Daisy terkekeh, “kalau bisa, ide bagus kan Mas? Anabul kita...”
Omara menggelengkan kepala.
“Gimana kabarmu selama aku tidak ada?” tanya Omara, suaranya agak parau.
“Baik, Mas. Daima juga baik, dia sudah makin betah. Kuliahku juga lancar, judul skripsiku akhirnya diterima..." Daisy mulai bercerita dengan nada ceria. Ia menumpahkan segala kejadian kecil yang ia simpan sendirian selama dua minggu terakhir. Ia sangat ingin tahu bagaimana Meksiko, bagaimana New York, dan apakah suaminya sempat memikirkannya di sela-sela kesibukan yang katanya ‘super padat’ itu.
Namun, semangat Daisy perlahan menyurut saat ia melihat Omara sesekali menguap kecil. Pria itu tampak tidak benar-benar hadir dalam percakapan mereka, ia hanya mendengarkan secara pasif, seolah cerita Daisy hanyalah suara latar di tengah kemacetan Jakarta.
“Mas... Mas Omara terlihat memang lelah,” ucap Daisy lirih, merasa sedikit bersalah karena terlalu banyak bicara.
Lampu lalu lintas di depan mereka berubah merah. Omara menghentikan mobil dengan halus, lalu perlahan ia memutar tubuhnya menghadap Daisy. Tatapannya yang tadi sayu mendadak berubah menjadi gelap dan intens. Tangannya terulur, menyentuh pipi Daisy dengan ibu jari yang mengusap bibir bawahnya perlahan.
“Aku lelah, Bee. Sangat lelah,” bisik Omara, wajahnya mendekat hingga Daisy bisa mencium aroma kopi dan sisa parfum maskulin yang samar. “Tapi mendengar suaramu yang terlalu riang seolah tidak terjadi apa-apa selama aku pergi... itu membuatku bertanya-tanya. Apa benar kamu kangen, seperti yang kamu bilang pas kita bicara ditelepon?
Daisy mengerjap, napasnya tertahan. “Eh, kenapa Mas bilang begitu? Uhm ya, a-aku... tentu saja aku kangen beneran, Mas!”
“Buktikan kalau begitu,” tantang Omara dengan seringai tipis yang provokatif.
“Hah, bagaimana buktikannya? Bilang kangen saja, enggak cukup?”
Tanpa memberikan ruang untuk bertanya, Omara memiringkan wajahnya dan membungkam bibir Daisy. Itu bukan ciuman yang lembut, lebih pada ciuman yang menuntut, penuh dengan aroma d******i yang membuat Daisy limbung seketika. Di tengah keterkejutannya, Daisy merasakan tangan Omara mulai merambat, menyelinap ke balik roknya dan menyentuh paha halusnya dengan remasan yang posesif.
Daisy tersentak, tubuhnya bergidik antara rasa malu dan sensasi masih asing yang menyerbu. Namun, sebelum ia benar-benar bisa membalas atau menolak lebih jauh, suara klakson nyaring dari mobil di belakang mereka memecah suasana. Lampu sudah hijau.
Daisy terburu-buru mendorong d**a bidang suaminya, wajahnya merona merah padam hingga ke telinga. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Omara hanya terkekeh rendah, kembali memegang kemudi dengan santai seolah tidak baru saja melakukan hal yang membuat jantung istrinya hampir copot di tengah jalan protokol.
“Mas, jalan cepat! Mobil di belakang sudah klakson-klakson.”
“Iya, Sweety. Kamu masih malu-malu dan kaku saja.” Omara menggodanya.
“Ih, enggak usah dibahas. Makin malu akunya tahu!” Katanya memalingkan wajah.
Omara meraih tangan yang setia memakai cincin pernikahan mereka.
"Kita pulang sekarang. Bersiaplah, pakai baju yang paling pantas,” ujar Omara, kembali ke nada suaranya yang memerintah. “Sore kita harus ke kediaman Kakek Catur Aji dan orang tuaku juga akan di sana, bibi dan pamanku juga berkumpul. Makan malam.”
Daisy menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Malam ini juga? Mas baru saja sampai, apa tidak sebaiknya istirahat dulu?”
“Tidak bisa. Kakek dan orang tuaku sudah menungguku,” sahut Omara datar.
Sebenarnya, ada motif lain yang sengaja Omara sembunyikan rapat-rapat di balik sikap ‘mesranya’ tadi. Kakek Catur Aji sebenarnya mengirimkan pesan yang sangat tegas, jika ia ingin bertemu Omara untuk meminta pertanggungjawaban atas perilakunya di New York dan sikapnya yang mengabaikan Daisy. Catur Aji sudah menyiapkan ‘sidang’ keluarga untuk menghajar cucunya itu dengan berbagai teguran keras.
Omara sangat sadar akan hal itu. Itulah sebabnya ia sengaja menjemput Daisy dan menunjukkan afeksi yang sedikit berlebihan. Ia tahu, jika ia membawa Daisy dan bersikap seolah mereka adalah pasangan yang sangat harmonis serta saling merindu, amarah kakeknya akan meluruh. Daisy adalah perisai paling efektif untuk meredam kemarahan kakeknya.
Daisy, di sisi lain, tidak tahu bahwa kehangatan suaminya sore ini adalah bagian dari strategi meyakinkan dirinya. Ia hanya merasa senang bahwa Omara akhirnya memberikannya perhatian fisik yang nyata.
“Dandan yang cantik, Bee. Aku ingin semua orang tahu kalau suamimu ini memperlakukanmu dengan sangat baik dan kamu bahagia bersamaku,” tambah Omara sambil melirik Daisy sekilas, memberikan senyum yang terlihat tulus namun menyimpan banyak hal dari Daisy.
Daisy mengangguk pelan, memberi senyum tulus. Ia merasa dicintai, tanpa menyadari bahwa malam ini ia akan menjadi aktor utama dalam sandiwara ‘pernikahan bahagia’ yang sedang disusun rapi oleh suaminya demi menghindari tongkat kebanggaan sang kakek menyasar tubuhnya lagi.
Daisy mendekat, tangan memeluk lengan suaminya dan menempelkan wajah di bahunya, “aku senang Mas sudah pulang.”
Omara menoleh, mengecup puncak kepalanya. Lalu saat ia menatap lurus ke depan, garis wajahnya berubah ketat dan tatapannya dingin.