Tipu Daya?

1530 Words
Daisy menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang liar sebelum menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Ia berdehem kecil agar suaranya tidak terdengar terlalu kentara merindukan suaminya. “Halo, Mas Omara?” sapa Daisy, suaranya lembut, berusaha menyelipkan nada ceria yang tulus. Hening sejenak di seberang sana. Daisy hanya mendengar suara gemerisik kain dan desis napas yang berat, seolah lawan bicaranya sedang mengumpulkan kesadaran. “Daisy...” Suara Omara terdengar sangat parau, jauh lebih rendah dari biasanya, dan ada getaran serak yang tidak bisa disembunyikan. “Iya, Mas. Mas Omara baru bangun? Atau belum tidur?” Daisy melirik jam di dinding. Di New York seharusnya sudah lewat tengah malam, menuju dini hari. “Baru selesaikan memeriksa beberapa berkas,” jawab Omara singkat. Ia tidak menceritakan bahwa ia kemarin sempat diseret Gian dari kelab malam, mandi air dingin untuk mengusir sisa mabuk, dan kini sedang duduk di pinggir ranjang dengan kepala yang masih terasa berdenyut setelah memaksa tetap mengurus urusannya di sana. Telepon ini sebenarnya adalah paksaan dari Gian yang berdiri di depan pintu kamarnya, mengancam tidak akan pergi sebelum Omara menghubungi istrinya atau akan melapor pada Kakek. Namun, begitu mendengar suara Daisy yang jernih, rasa pening di kepala Omara seolah bertemu dengan penawar yang aneh. “Benar, Mas... Mas baik-baik saja? Suara Mas terdengar sangat lelah. Pasti Mas sangat sibuk, sampai kurang istirahat ya?” tanya Daisy pelan, terselip nada cemas yang nyata. Omara memejamkan mata, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang yang mewah. “Hm, hanya banyak urusan di sini. Kamu sendiri? Sedang apa?” “Aku baru selesai makan siang sama Kakek, Mas. Tadi Kakek Catur Aji mampir ke rumah, di sini sampai sore.” Daisy mulai bercerita, jemarinya sibuk mengelus bulu halus Daima di pangkuannya. “Kakek tanya kabar Mas. Aku bilang Mas lancar kasih kabar dan Mas perhatian banget sama aku.” Omara terdiam. Kalimat terakhir Daisy terasa seperti sebuah sindiran yang halus, namun ia tahu Daisy mengatakannya untuk melindunginya di depan sang kakek. Ada rasa bersalah yang menusuk, tipis namun tajam. Terlebih ia tidak menduga Catur Aji datang menemui Daisy. “Pasti Kakek tua itu ingin memastikan sendiri hubungan kami!” batinnya. Kemarin ia benar-benar tidak ingat bagaimana bisa sampai hotel, dan bangun pagi tadi dengan kepala sakit. Lalu ia menghubungi Catur Aji dengan terpaksa, walau harus makin pening mendengar kemarahannya. “Kakek bilang apa lagi?” tanya Omara, mencoba mencari tahu. “Kakek bilang mau pukul Mas pakai tongkat kalau Mas nakal,” Daisy terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Dia benar-benar polos. "Tapi aku bilang Mas sudah dewasa, nggak pantas dipukul pakai tongkat. Mas saja sudah hebat, bisa urus perusahaan besar.” Omara menarik sudut bibirnya, sebuah senyum tipis yang getir. Istri kecilku in benar-benar terlalu polos! batinnya. Di saat ia sedang mengejar bayang-bayang masa lalu dan mabuk hingga hilang kesadaran, istrinya justru sedang memasak untuk kakeknya dan memberikan pujian yang tidak pantas ia terima. Sungguh b******k sekali kamu, Omara! “Daisy,” panggil Omara tiba-tiba. “Iya, Mas?” “Sorry.” Hanya satu kata, namun cukup untuk membuat pertahanan Daisy yang ia bangun seharian ini runtuh. Matanya mendadak panas. “Maaf untuk apa, Mas? Mas punya salah?” “Untuk tidak menghubungimu, beberapa hari kemarin.” Omara menjeda. Tentu ia terlalu banyak menyimpan kenyataan dari istrinya. “Pekerjaan di sini benar-benar menyita waktuku.” Daisy tersenyum tulus, “iya, Mas. Aku mengerti. Mas fokus saja di sana. Aku dan Daima baik-baik saja di rumah.” “Gini saja, kamu mau aku bawakan apa dari sini? Tas terbaru? Atau apa? Katakan, Bee. Aku akan pastikan pulang membawakannya.” ucap Omara, kembali ke pola lamanya, merayu sang wanita dengan hadiah. “Mas, aku nggak butuh apa-apa. Tas-tas dari seserahan nikah kita saja, belum ada yang aku pakai. Uhm, aku cuma... aku cuma senang Mas telepon. Kasih komunikasi seperti ini, melegakan sekali rasanya.” Daisy menggigit bibir bawahnya, keberaniannya muncul sesaat. “Mas kapan pulang?” “Tiga hari lagi.” Beritahunya, jadwalnya memang disiapkan ia kembali tiga hari lagi. “Aku tunggu ya, Mas. Hati-hati di sana. Jaga kesehatan Mas juga, makan dan istirahat harus cukup walau sangat banyak pekerjaan.” “Iya, Bee.” “I'll see you soon, Mas.” Setelah sambungan terputus, Omara melempar ponselnya ke tengah ranjang. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara Daisy masih terngiang, begitu tulus dan tanpa tuntutan. Ia merasa seperti pecundang yang baru saja mendapatkan pengampunan dari seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dia sempat bertingkah dan hampir menyentuh wanita lain. Sementara di Jakarta, Daisy memeluk ponselnya di d**a. Kali ini ada sedikit rasa lega. Walaupun singkat, walaupun Omara terdengar dingin, setidaknya pria itu masih mengingatnya. “Daddy bakal pulang, Dai. Tiga hari lagi!” bisik Daisy pada kucingnya. Sangat antusias, ia senang. “Meong!” Daima mengeong malas. “Kok malas begitu tanggapannya? Pasti bonding Daddy sama kamu kurang ya, Dai?” Mungkin saja kucing itu tahu bahwa dia hanya dimanfaatkan untuk jadi akses jaman pendekatan Omara ke Daisy waktu itu. Lalu Daisy mulai berdebar lagi, “itu artinya, nanti... Mommy tidurnya sama Daddy lagi dong, Dai?!” pipinya terasa panas mengingat momen mesra, intim mereka. *** Setelah sambungan telepon selesai, keheningan di kamar hotel mewah itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Omara masih menggenggam ponselnya, merasakan sisa hangat dari perangkat itu di telapak tangannya, sehangat suara Daisy yang baru saja meruntuhkan sedikit egonya. Ia mendongak, menatap Gian yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tatapan Omara seketika berubah, binar yang sempat melunak saat mendengar suara istrinya kini digantikan oleh tatapan sedingin es. “Sudah puas?” tanya Omara, nadanya datar namun sarat dengan ancaman. “Aku sudah melakukan apa yang kamu dan Kakek inginkan. Sekarang, keluar!” Gian tidak langsung mundur. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun mengikuti setiap langkah Omara, ia tahu bahwa di balik kemarahan bosnya itu, ada rasa malu yang sedang disembunyikan. “Saya hanya menjalankan kewajiban saya, Pak. Setidaknya, Nyonya Daisy juga terdengar senang dikabari suaminya.” “Ya, ya! Terserah katamu, Gian. Pergi sana!” usir Omara lagi, kali ini lebih tajam. “Bersiap saja, jika aku sudah tidak menoleransi sikapmu ini, aku akan menggantimu!” “Itu artinya, saya siap pindah bekerja sepenuhnya untuk Tuan besar.” Omara melongo, “ck! Keterlaluan!” Gian menahan senyum, Omara tahu bahwa dia dipilihkan Catur Aji. Yang, bisa memecatnya benar-benar hanya Catur Aji. Lalu ia sedikit menundukkan kepalanya. “Selamat beristirahat. Untuk esok hari, saya sudah mengosongkan seluruh jadwal Anda. Tidak ada agenda pertemuan. Itu adalah hari bebas Anda sebelum kita kembali ke Jakarta lusa pagi. Selamat malam.” Pintu tertutup pelan. Omara menghempaskan tubuhnya ke tumpukan bantal, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik. Pikirannya kacau. Di satu sisi, ada bayang-bayang rasa getir yang terjadi hari sebelumnya. Di sisi lain, ada suara polos Daisy yang mengamankan martabatnya di depan sang Kakek. Omara merasa seperti penjahat yang baru saja diberi mahkota oleh korbannya sendiri. Lalu ia mengingat yang terjadi kemarin sore... Perempuan itu hanya berada tiga meter dari posisi dirinya yang menunggu dalam taksi. Dia sedang memilih beberapa bunga segar, saat Omara mengawasi dan berpikir dia sendiri, Omara sudah siap membuka pintu namun urung melihat seseorang pria mendekatinya langsung memeluk, dan mencium bibirnya. Omara mengepalkan tangan, dadanya terasa sesak. “Sialan!” umpatnya menarik napas panjang. Kebahagiaan perempuan itu, sangat mengusik hidupnya. Keesokan harinya, matahari New York sudah naik tinggi saat Omara akhirnya membuka mata. Kelelahan membuatnya tidur jauh lebih lama dari biasanya. Ia bangun dengan kepala yang terasa jauh lebih ringan, meski sisa-sisa kegelisahan itu masih ada. Ia ke kamar mandi, membersihkan diri. Beberapa waktu kemudian, ia sudah duduk, menghadap meja kecil di sudut balkon hotel yang menghadap langsung ke arah Central Park. Di hadapannya tersaji makan siang mewah, namun ia hanya mengaduk-aduk saladnya tanpa selera. Gian duduk di kursi seberang, sibuk dengan tabletnya, sesekali memastikan kenyamanan bosnya. “Kakek benar-benar datang ke rumahku, menemui Daisy? tanya Omara tiba-tiba, memecah kesunyian. Gian mendongak, meletakkan tabletnya. “Benar, Pak. Laporan dari orang-orang di rumah mengatakan Tuan Besar Catur Aji datang kemarin siang, menunggu Nyonya Daisy pulang kuliah. Beliau bahkan makan siang di sana. Masakan Nyonya Daisy sendiri, yang baru pulang dari kampus tapi tetap ingin memasak untuk Tuan Besar.” Omara mendengus pelan, ada seringai getir di sudut bibirnya. “Makan siang? Kakek tua itu tidak pernah mau makan di rumah orang lain kecuali dia sedang melakukan investigasi. Dia pasti menginterogasi Daisy habis-habisan.” “Sepertinya begitu, Pak,” sahut Gian tenang. “Tuan Besar Catur Aji tidak pernah benar-benar melepaskan kendalinya. Beliau masih terus mengawasi Anda, bahkan dari jarak ribuan mil. Kedatangannya ke rumah itu adalah pesan jelas jika beliau ingin tahu apakah pilihannya tepat, dan apakah Anda menjaga pilihannya dengan benar. Jadi sebaiknya memang Bapak tidak membuat Tuan Besar marah.” Omara terdiam, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kristal. “Dia meragukanku. Dia tahu aku tidak akan bisa melupakan 'urusan' di sini begitu saja.” “Bukan meragukan kemampuan Anda memimpin perusahaan, Pak. Beliau lebih pada meragukan integritas Anda sebagai seorang suami,” Gian berujar dengan keberanian yang terukur. “Beliau tahu New York bukan hanya soal bisnis bagi Anda. Takutnya Anda benar-benar lupa kalau sudah ada istri yang menunggu setia dirumah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD