Di kediaman pribadi Catur Aji Jagaraga, keheningan terasa begitu mengancam. Sang mantan Jenderal dan mantan orang nomor satu itu, terus menatap layar ponselnya yang menunjukkan deretan panggilan tak terjawab kepada cucu bungsunya. Amarahnya mulai naik ke ubun-ubun, bukan karena ketidakpatuhan biasa, melainkan karena firasatnya jarang meleset. Terlebih, Omara saat pergi tidak menemuinya dulu seperti pesannya pada Gian.
Ia segera mendial nomor Gian. Kali ini, hanya dalam dua nada sambung, asisten itu mengangkatnya.
“Gian! Di mana Omara? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku?” suara Catur Aji menggelegar, meskipun ia hanya bicara lewat sambungan telepon.
Setelah berhasil menjodohkannya, ia pikir akan tenang tetapi salah.
Di seberang sana, Gian terdengar gelagapan. Suaranya terbata-bata, “M-maaf, Tuan Besar. Pak Omara sedang... sedang keluar hotel sejak sore tadi. Beliau meminta saya untuk tetap di sini dan mengurus sisa laporan.”
“Keluar hotel? Malam-malam di New York? Ke mana?” Di sana masih malam, walau di Jakarta sudah siang. Perbedaan waktu belasan jam.
“Saya... saya bersumpah saya tidak tahu, Tuan Besar. Pak Omara sangat tegas melarang saya mengikuti atau bertanya. Beliau pergi sendiri.”
Catur Aji terdiam sesaat. Napasnya terdengar berat. Sebagai mantan kepala intelijen dan pemimpin negara, ia bisa mendeteksi kebohongan atau sesuatu yang disembunyikan hanya dari getaran suara seseorang. Ia tahu Gian tidak berbohong soal ketidaktahuannya, tapi ia juga tahu ke mana kaki cucunya melangkah jika sudah bersikap impulsif seperti itu.
“Sampaikan pada anak kurang ajar itu, begitu dia kembali, dia harus meneleponku. Atau aku akan mengirim orang-orangku untuk menyeretnya pulang ke Jakarta, dia membuatku marah dengan tingkah dari mula di hari pernikahannya! Jangan mengujiku lebih lagi!” ancam Catur Aji sebelum mematikan sambungan secara sepihak.
Catur Aji meletakkan ponselnya di meja kayu jati yang kokoh. Ia bangkit, melangkah perlahan menuju dinding ruang kerjanya yang penuh dengan bingkai sejarah. Di sana, ia menatap potret dirinya dalam seragam Jenderal yang gagah, berdiri di samping mendiang istrinya yang tersenyum anggun. Ada juga foto ikonik saat ia dilantik menjadi kepala negara, sebuah momen puncak dari pengabdiannya pada bangsa. Sepuluh tahun, dia tidak terlengserkan memimpin negara.
Namun, di masa tuanya ini, kejayaan itu terasa hambar. Matanya beralih pada foto pernikahan Omara dan Daisy yang baru dikirimkan kemarin. Ia menatap wajah Daisy—gadis dengan sorot mata yang begitu jernih dan polos.
“Apakah aku sudah benar?” bisiknya pada potret mendiang istrinya. “Apakah menjodohkan mereka adalah pilihan tepat untuk keluarga kita, atau justru hukuman bagi gadis sebaik dia? Omara terlalu b******k untuk memiliki gadis semurni cucu sahabatku itu.”
Penyesalan itu mulai menyusup. Catur Aji tahu benar bahwa mantan kekasih Omara tinggal di kota tempat cucunya berada sekarang. Dan ia sangat tahu, Omara adalah tipe pria yang tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan, meskipun itu berarti menginjak-injak janji suci yang baru diucapkannya.
Sementara itu, Gian terus menunggu dengan gelisah. Jangankan Catur Aji, dirinya pun tidak bisa menghubungi bosnya.
Hari sudah larut, hampir tengah malam waktu setempat saat akhirnya bosnya menelepon.
“b******k, kenapa terus menghubungiku?!” Dari nada suara bosnya, ada yang tidak beres.
“Bapak, minum? Bapak di mana... saya akan menjemput!” tegasnya.
Omara tidak menjawab, hanya ada suara bising khas tempat hiburan malam.
Gian terus mendesak, hingga Omara mengatakan sebuah nama tempat. Gian tidak menunggu, dia pergi dengan taksi menuju tempat tersebut. Betapa, ia terkejut dapati Omara memang semabuk itu. Suasana di kelab malam yang remang dan bising itu terasa memuakkan bagi Gian. Aroma alkohol yang menyengat dan dentuman musik yang memekakkan telinga seolah mengejek kesunyian yang seharusnya dirasakan seorang pengantin baru. Gian mencengkeram lengan Omara, berusaha menarik bosnya itu berdiri dari sofa beludru yang didudukinya.
“Pak! Sadar, Pak! Apa-apaan ini?” bentak Gian, suaranya bersaing dengan musik, “Bapak baru menikah beberapa hari yang lalu! Ada Nyonya Daisy yang menunggu di Jakarta, dan Tuan Besar Catur Aji hampir meledak karena mencari Bapak! Kalau beliau tahu semua ini, bisa beneran dihajar anu bapak sama tongkat kebanggaannya!!!”
Omara tertawa hambar, matanya merah dan sayu karena pengaruh alkohol. Ia menepis tangan Gian dengan kasar. “Nikah? Hah! Itu cuma kewajibanku, yang tidak bisa menolak keinginan Kakek dan keluargaku!”
“Apa pun alasannya, sekarang Bapak sudah menikah!” Gian tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia lupa sejenak pada batasan antara asisten dan atasan.
“Diam kamu, Gian. Jangan sok menceramahiku!”
Omara berdiri dengan goyah, hampir jatuh jika Gian tidak sigap menahannya.
“Saya tidak sok ceramah, Bapak! Saya hanya menjalankan tugas saya agar Bapak tidak hancur lebih jauh. Kita pulang ke hotel sekarang. Tuan Besar memerintahkan Bapak meneleponnya segera setelah Bapak kembali, atau beliau akan mengirim orang-orangnya untuk menyeret Bapak pulang ke Jakarta!”
“Kakek tua itu... dia selalu ikut campur mengaturku!” Lalu dia tertawa sebelum tubuhnya lunglai.
***
Daisy baru saja kembali dari kampusnya. Ia memarkirkan mobilnya dengan perasaan yang sedikit lebih ringan setelah bertemu teman-temannya, meski hatinya tetap terasa kosong. Daisy pilih menyetir sendiri. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil hitam mewah yang sangat ia kenali terparkir di depan lobi rumah.
Jantungnya berdegup kencang.
“Apakah Mas Omara sudah pulang? Tapi, dia tidak mengabariku! Apakah dia ingin memberiku kejutan?”
Dengan tergesa-gesa, Daisy masuk ke dalam rumah. Namun, alih-alih menemukan sosok tegap suaminya, ia justru melihat Kakek Catur Aji sedang duduk di ruang tengah, menyesap secangkir teh hangat. Wajah sang kakek mertuanya terlihat lelah, namun matanya melembut saat melihat cucu menantunya.
“Kakek?” sapa Daisy, mencoba menyembunyikan kekecewaannya. Ia menghampiri dan mencium tangan Catur Aji. “Maaf, Daisy tidak tahu Kakek datang. Sudah lama nunggu?”
“Baru saja, Sayang. Kakek hanya... ingin menjengukmu,” ujar Catur Aji. Ia menatap Daisy dengan tatapan penuh selidik namun penuh kasih. Ia melihat Daisy masih mengenakan pakaian rapi, wajahnya polos, mata gadis ini selalu berbinar.
“Kakek sudah makan siang? Daisy baru mau masak. Kakek harus makan di sini ya?” tanya Daisy penuh harap.
Catur Aji tersenyum tipis. “Apa tidak merepotkan, kamu kan baru tiba? Baru pulang dari kampus. Ada ART-mu di sini, yang bisa menyiapkan.”
“Sama sekali tidak, Kek! Aku memang sudah berencana mau masak sendiri kok.”
Catur Aji sebenarnya tidak ingin berlama-lama, tetapi tidak kuasa menolak Daisy yang antusias.
Daisy bergerak ke dapur. Hanya dalam waktu singkat, kurang dari satu jam, ia menyajikan sayur bening bayam yang segar dan perkedel kentang daging giling kesukaannya. Masakan sederhana, namun aroma bawang putih gorengnya memenuhi ruangan, memberikan kesan ‘rumah’ yang hangat.
“Maaf ya Kek, masakannya sederhana. Daisy takut Kakek menunggu lama kalau Daisy masak yang berat,” ujar Daisy malu-malu.
Catur Aji mencicipi masakan itu dalam diam. Rasanya sangat pas, sangat tulus. Jauh berbeda dengan makanan mewah yang biasa ia santap. “Ini enak sekali, Daisy. Terima kasih cucuku.”
Di sela-sela makan, Catur Aji bertanya pelan, “Daisy... apa Omara sering meneleponmu? Meski dia jauh, dia tetap menjalankan kewajibannya mengabari istrinya, kan?”
Daisy terhenti sejenak, sendoknya menggantung di udara. Ia teringat ponselnya yang sepi. Ia teringat pesan terakhirnya yang hanya dibaca tanpa dibalas. Namun, ia menarik napas dan tersenyum manis.
“Lancar, Kek. Mas Omara sering kasih kabar. Hanya saja perbedaan waktu terkadang membuat kami sulit bicara lama. Tapi dia sangat perhatian.”
Catur Aji menatap mata Daisy yang berbohong demi membela harga diri suaminya. Hatinya perih. Ia tahu Omara sedang melakukan hal buruk di sana, sementara gadis ini menunggu dengan sabar.
Sebelum pulang, Catur Aji berdiri di samping mobilnya, memegang tangan Daisy.
“Daisy, dengar Kakek. Kalau anak itu... kalau Omara membuatmu sedih atau memperlakukanmu dengan buruk, kamu jangan diam saja. Beritahu Kakek. Jika perlu, Kakek akan datang sendiri dan memukulnya dengan tongkat ini sampai dia sadar.”
Daisy terkekeh, suara tawanya yang jernih sedikit mencairkan ketegangan. “Mas Omara sudah sangat dewasa, Kek. Orang dewasa sudah tidak pantas didisiplinkan dengan tongkat. Apa Kakek meragukan Mas Omara?”
Catur Aji menatap Daisy dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Ya, aku mengenal cucuku... Pada bisnis dia jelas bisa bertanggung jawab, menjalaninya... tapi, aku meragukan kewarasannya dalam menghargai permata yang kupilih, yang ada di depan matanya.”
Setelah mobil kakeknya pergi, Daisy masih berdiri di teras rumah yang kembali sunyi. Senyum di wajahnya perlahan luntur. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap ponsel di tangannya yang masih belum menunjukkan notifikasi apa pun dari New York.
“Aku juga mulai meragukannya, Kek...” bisik Daisy pada angin sore. “Tapi aku sudah memilih untuk percaya. Karena hanya itu yang aku punya sekarang.”
Daisy kembali masuk ke rumah, di mana Daima sudah menunggunya di sofa. Di balik kemewahan rumah, Daisy belajar bahwa menjadi istri seorang Jagaraga berarti harus memiliki stok kesabaran yang tidak terbatas.
Daisy memeluk Daima, “kamu kangen sama Daddy, Dai?”
Kucingnya mengeong, menjilati tangannya sendiri.
“Apa aku harus meneleponnya? Di sana jam berapa ya sekarang?” gumamnya.
Daisy menghela napas dalam, “kurasa, bukan kamu yang kangen Daddy... tapi, aku.” Jujurnya.
Tepat itu ponselnya berdering, Daisy segera mengambilnya dan sudut bibirnya merekah membentuk senyum lebar saat nama 'Mas Omara' muncul di layar.
"Astaga, Dai! Kenapa Mommy deg-degan gini sih? Daddy kan sudah jadi suami Mommy ya?!" Gumamnya sebelum menjawab.