Banyak yang terjadi

1285 Words
Daisy terdiam, tatapannya bertaut dengan sang Ayah sambil berkaca-kaca. Lalu langkahnya menyusuri koridor hotel yang dingin menuju ballroom yang jadi tempat pernikahannya. Musik yang dipilih mulai bergema, pintu besar terbuka, dan ribuan pasang mata menatap ke arahnya. Di ujung jalan itu, di depan meja kayu yang berukir indah, Omara Akssa Jagaraga berdiri tegak. Ia tampak sangat tampan dalam setelan jas hitamnya, rapi seolah-olah ia tidak pernah menghilang atau membuat semua orang panik dan marah pagi ini. Daisy tiba di sampingnya, Omara tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan. Daisy duduk di sisinya dengan ketegangan yang untuk pertama kali dihidupnya. Ia pun hanya menatap lurus, mengikuti setiap prosesinya. Lampu-lampu kristal di Grand Ballroom berpendar megah, memantulkan cahaya pada manik-manik yang dijahit tangan di kebaya Daisy. Di sisinya, Omara Akssa Jagaraga duduk tegak. Tangan terjabat tegas, erat dengan Papa mertua yang akan menyerahkan putri kesayangannya, Daisy. Saat kalimat ‘Sah’ bergema dan saksi-saksi menyerukan doa, Daisy merasakan sebuah beban yang tak kasat mata menghantam pundaknya. Ia telah resmi menjadi Nyonya Muda Jagaraga. Seharusnya, ini adalah puncak romansa yang ia bayangkan sejak lama. Pernikahan impian. Namun, saat ia mencium punggung tangan Omara, pria itu hanya memberikan respons berupa remasan singkat yang kaku pada jemarinya. Menatap lekat, mendekat untuk mencium keningnya sesaat saja. Air mata Daisy jatuh tanpa bisa dibendung. Orang-orang mengira itu adalah tangis haru seorang pengantin baru, namun Daisy merasakan sesak yang berbeda. Sesak yang lahir dari kesadaran bahwa pria yang baru saja mengikat janji dengannya entah mengapa baru terasa jauh darinya. Daisy sadar, pernikahan mereka memang perjodohan bukan atas dasar cinta yang kuat. *** Pesta resepsi berlangsung dengan kemewahan yang terbilang hampir sempurna. Ribuan tamu dari kalangan elit, pejabat, hingga deretan menteri yang masih aktif, maupun orang nomor satu negera yang menjabat, hingga kolega bisnis internasional mengalir masuk seperti arus sungai. Daisy tampil memukau, rambut hitamnya yang indah disanggul modern dengan aksen headpiece berlian, menonjolkan leher jenjang dan bahunya yang putih porselen. Setiap mata memujinya, setiap bibir membicarakan betapa beruntungnya Omara. Namun, Omara sendiri tampak abai. Ia menjalankan perannya. Ia tersenyum pada kamera, menyalami tamu dengan ramah yang terukur, menampung setiap ucapan selamat dan doa, atau saat berfoto namun setiap kali lampu kilat padam, wajahnya kembali datar. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di bawah matanya yang memerah. “Mas,” bisik Daisy di sela-sela pergantian musik latar. Ia memberanikan diri menyentuh lengan tuksedo suaminya. “Mas tidak tidur semalam? Wajahmu sangat pucat.” Omara tidak menoleh sepenuhnya. Ia hanya melirik dari sudut mata. “Aku memang tidak tidur,” jawabnya singkat, suaranya serak dan berat. “Apa karena gugup akan akad nikah kita tadi?” Daisy mencoba menyelipkan tawa kecil yang cemas. “Aku juga sama. Semalam aku hampir tidak bisa memejamkan mata karena memikirkan hari ini.” Omara tidak menyahut, hanya tersenyum tipis. Ia hanya menarik napas panjang dan kembali menyalami tamu berikutnya. Daisy tidak tahu bahwa alasan Omara tidak tidur bukan karena gugup memikirkan pernikahan mereka. Semalam, setelah pesta lajang yang gila bersama teman-temannya, Omara memacu mobilnya ke tempat sunyi. Di sana, di bawah langit malam yang pekat, ia menghabiskan waktu berjam-jam mencoba menghubungi satu nomor internasional yang tetap berada dalam daftar kontaknya. Nomor milik satu-satunya wanita yang dicintainya. Ia hanya ingin mendengar suara wanita itu sekali lagi, hanya ingin memastikan apakah Aurelia merasa kehilangan saat tahu ia akan menikah hari ini. Namun, hanya keheningan yang ia dapatkan. Rasa sakit yang kembali menikamnya. Aurelia masih tidak mengizinkan komunikasi dengannya atau bahkan mungkin, sang mantan sudah mengganti nomornya. Ia tersentak saat merasakan tangan Daisy meraih tangannya, Omara menoleh dan mendapati senyum tulus istrinya. Mencari-cari rasa bersalah dihatinya, tapi egonya merasa itu tak perlu ia pikirkan. Malam makin larut, hingga satu momen yang dinanti tiba, dansa pertama sebagai suami istri, musik yang melankolis mulai mengalun. Omara menarik Daisy ke tengah lantai dansa. Tangan pria itu di pinggang Daisy terasa panas, namun genggamannya mulai melemah. Baru beberapa putaran, Daisy merasakan tubuh Omara limbung. Napas pria itu memburu, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya. “Mas? Mas Omara?” Daisy berbisik panik saat merasakan berat tubuh Omara sepenuhnya bertumpu pada bahunya. Wajah Omara memucat pasi. Kepalanya berdenyut hebat, efek dari alkohol semalam, kurang tidur, dan tekanan yang mencapai puncaknya. Pandangannya kabur. Sebelum musik berakhir, lutut Omara goyah. Ia lemas dan hampir jatuh pingsan jika tidak segera ditangkap oleh Daisy, lalu meminta bantuan dan asisten, serta salah seorang teman Omara sigap mendekat, membantunya. "Pak Omara, Anda demam!" Ucap Gian. Daisy juga menyentuh kening suaminya, ia bisa rasakan panasnya yang tidak normal. Kehebohan pecah. Para tamu berdiri, suara bisik-bisik memenuhi ruangan. Para orang tua berlari mendekat. Omara segera dibawa ke kamar pengantin mereka di lantai atas oleh tim medis hotel yang sudah disiapkan. Resepsi itu tetap berlanjut, atas perintah tegas Catur Aji dan keluarganya agar tidak mempermalukan keluarga lebih jauh. Daisy terpaksa berdiri sendiri. Dengan hati yang hancur dan kekhawatiran yang meluap, ia harus tetap menyalami tamu-tamu yang tersisa, didampingi oleh kedua orang tuanya yang berusaha menjaga raut wajah mereka seolah semuanya baik-baik saja. Ia berdiri di sana, cantik dan megah, namun sendirian di atas pelaminannya sendiri. Daisy berusaha memaklumi, mungkin kondisi suaminya sedang tidak sehat bukannya tidak siap dengan pernikahan ini. *** Menjelang tengah malam, saat tamu terakhir telah pergi dan gedung mulai sepi, Daisy kembali ke kamar dengan langkah lunglai. Ia masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat, namun ia tidak memedulikannya. Ia hanya ingin melihat kondisi suaminya dengan rasa cemas. Di dampingi sepupunya dan yang akan bantu melepaskan diri dari semua dandanan pengantinnya. Pintu kamar suite itu sedikit terbuka. Daisy hendak masuk, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara percakapan dari dalam. Ada suara Omara yang lemah, namun tetap terdengar tegas, berbicara dengan Gian. “Sudah diurus, Gian? Tiketnya, visanya? Ambil pasporku dari kakek, dia sudah tidak bisa menahannya” suara Omara terdengar serak. Daisy terdiam, terheran—mengapa paspor milik Omara sempat ditahan kakeknya? Tanya hatinya. “Sudah, Pak. Semua sudah siap lusa pagi. Tapi... apa tidak sebaiknya ditunda? Pak Omara baru saja menikah, dan kondisi Bapak sekarang sedang diinfus,” suara Gian terdengar cemas. Daisy mematung di balik pintu. Tangannya mencengkeram kain gaunnya kuat-kuat. “Tidak bisa ditunda,” potong Omara cepat. “Pekerjaan di Meksiko itu krusial. Aku harus berangkat lusa. Keluarga tidak boleh tahu dulu, terutama kakek. Dia akan makin marah setelah kejadian pagi tadi. Aku akan memberitahu mereka saat aku sudah hampir berangkat.” “Lalu... bagaimana dengan Nona Daisy?” tanya Gian ragu. Hening sejenak. Daisy menahan napas, menanti jawaban yang mungkin akan menentukan nasib hatinya. “Dia akan tetap di sini,” jawab Omara dingin. “Sebaiknya, bisa sekalian honeymoon, Pak.. Saya akan carikan tiket untuk istri Pak Omara menyusul jika Anda mau.” “Itu nanti, aku belum terpikirkan.” Katanya santai. Dunia Daisy seolah runtuh seketika. Lusa? Pernikahan mereka baru saja diresmikan beberapa jam, dan suaminya sudah berencana meninggalkannya ke Meksiko tanpa memberitahunya? Air mata yang tadinya ia tahan, kini mengalir deras membasahi riasannya yang sempurna. “Mengapa rasanya ada yang aneh dengan Mas Omara?” gumamnya. Khusus hari ini, setelah hari-hari sebelumnya yang terasa benar membuatnya berusaha tidak ragu lagi. Daisy mundur perlahan, menjauh dari pintu itu sebelum ada yang menyadari keberadaannya. “Mas Omara pasti butuh istirahat... aku mau ganti pakaian, dan bersih-bersih dulu saja.” Alasannya pada sepupu yang menyusulnya. Ia ditemani berjalan menuju sofa di ruang tengah suite yang luas itu, menatap cincin berlian di jarinya. Ia baru saja disahkan sebagai Nyonya Jagaraga, namun ia merasa lebih kesepian daripada saat ia masih melajang. Di kamar sebelah, Omara mungkin sedang berbaring dengan infus di tangannya, memikirkan agenda berikutnya ke Meksiko. Sementara di sisi lain, di malam pertama yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, Daisy perlahan merasa bahwa ia menikahi Omara yang belum benar-benar dikenalnya dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD