Hening yang janggal menyelimuti kamar luas itu ketika Omara membuka matanya. Rasa pening yang beberapa jam lalu sempat menghantam kepalanya seperti godam kini mulai menyurut, menyisakan sensasi rasa yang lebih bisa ditoleransi. Ia menoleh ke arah tangannya, plester kecil menutupi bekas infus yang telah dicabut.
Di ambang pintu kamar tidur, ia melihat Gian, asisten pribadinya, sedang mengarahkan dokter pribadi keluarga Jagaraga untuk pulang sebab tugasnya sudah selesai di sana.
“Kondisi fisiknya hanya kelelahan akut dan dehidrasi, Pak Gian. Pastikan bos Anda untuk minum obatnya dan istirahat total besok,” bisik sang dokter sebelum menghilang di balik pintu.
Omara bangkit dari ranjang, gerakannya masih sedikit kaku. Ia membenahi kaus rumahannya, lalu melangkah keluar. Tadi langsung ia ganti baju juga.
“Gian,” panggilnya serak.
Gian berbalik dengan sigap. “Pak? Bapak sudah bangun? Harusnya Bapak istirahat. Ini masih malam juga.”
“Aku sudah lebih baik,” potong Omara dingin. Matanya menyapu ruangan yang luas dan sunyi itu. “Di mana Daisy? Kenapa dia tidak ada di kamar ini bersamaku?”
“Baru sadar Pak, ingat istrinya?”
“Gian...” tegur Omara dengar Gian menyinggungnya.
Gian berdehem pelan, “Nona Daisy—maksud saya, Nyonya Daisy... ada di ruang tengah, Pak. Beliau tidak ingin mengganggu istirahat Bapak setelah dokter datang tadi. Tampaknya beliau ketiduran di sofa. Setelah beberapa kali temani di sini.”
Omara terdiam. Sebuah perasaan asing, antara rasa bersalah yang tipis dan ego yang keras, bergejolak di dadanya. Ia teringat bagaimana ia mengabaikan istrinya sepanjang resepsi tadi.
“Gian,” ucap Omara sambil berjalan menuju meja kerja di sudut ruangan. “Besok kita masih bermalam di sini sesuai jadwal. Tapi lusa pagi, siapkan segalanya. Aku akan langsung menuju bandara dari hotel ini. Jangan ada yang tahu, terutama Papa dan Kakek tua itu.”
Gian memberanikan diri mengutarakan yang mengganjal, “Nyonya Daisy pasti akan bertanya-tanya.”
Omara menatap Gian dengan tatapan yang mematikan diskusi. “Lakukan saja tugasmu. Pastikan semua dokumen dan tiket sudah siap. Sekarang, kamu bisa pergi. Bagian istriku, jadi urusanku.”
Gian mengangguk patuh dan melangkah menuju pintu keluar. Omara mengikutinya sampai ke ruang tengah. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok yang meringkuk di atas sofa beludru panjang.
Daisy.
Istrinya itu masih mengenakan silk robe putihnya. Ada selimut yang digunakan, menutupi pinggang ke bawahnya. Wajahnya yang polos tanpa riasan terlihat sangat muda, dengan sisa-sisa kelelahan yang nyata di sudut matanya yang tertutup. Omara berdiri mematung.
Gian, sang asisten sudah pamit. Setelah suara pintu tertutup dan kunci berputar, Omara mendekati sofa itu. Ia berdiri cukup lama, memerhatikan napas teratur Daisy. Tanpa peringatan, ia membungkuk, menyusupkan satu lengan di bawah leher Daisy dan satu lagi di bawah lututnya.
Daisy tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya tertahan saat ia merasakan tubuhnya terangkat ke udara. Dalam keremangan cahaya lampu ruang tengah, wajah Omara berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
“M-Mas Omara?” suara Daisy gemetar, serak karena baru bangun. “Mas sudah bangun? Infusnya—“
“Aku sudah lebih baik, Sweety” potong Omara, suaranya rendah dan dalam, bergema di d**a bidangnya yang bersentuhan langsung dengan lengan Daisy. “Dan aku tidak akan membiarkan istriku tidur di sofa di malam pengantin kita. Apa yang akan dikatakan keluarga kita jika mereka tahu?”
“Kamu kan lagi sakit, Mas...” Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Omara bisa mendengarnya. Ia membiarkan lengannya melingkar ragu di leher Omara saat pria itu membawanya masuk ke dalam kamar tidur utama.
Omara membaringkan Daisy dengan sangat perlahan di atas kasur king size yang empuk. Namun, alih-alih menjauh, Omara ikut naik ke atas ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Daisy.
Daisy mematung, menatap langit-langit kamar dengan kaku. Pikirannya melayang pada obrolan rahasia Omara dan Gian yang ia dengar tadi. Ia menunggu Omara mengatakan sesuatu.
Apa perlu ia yang bertanya dulu? Pikirnya.
Omara justru membalikkan tubuh, memosisikan dirinya miring menghadap Daisy. Ia menarik Daisy ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang terasa protektif.
“Tidur, atau aku akan berubah pikiran hm mengira kamu masih punya tenaga untuk menyenangkan suamimu ini?”
Omara justru semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Daisy, memberikan ciuman ringan di sana. Daisy menurut, mulai memejamkan mata. Keheningan kembali menyergap. Omara mulai bernapas teratur, tanda ia mulai terlelap. Namun Daisy meski matanya tertutup tetap terjaga. Sampai ia bisa mengubah posisi, memunggungi suaminya. Ia menatap dinding kamar yang mewah, menyadari perasaan aneh yang pekat menyelimuti hatinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, kembali memejamkan matanya.
***
Omara terbangun sendiri saat sinar terang menunjukkan siang terlihat dari dinding kaca kamar hotelnya. Ia mengusap wajah, rasa pening dikepalanya semalam benar-benar sudah hilang. Ia jauh lebih bugar.
Duduk, menyadarkan tubuh ke kepala ranjang... ia menarik gelas berisi air mineral yang masih penuh. Omara meneguknya, dan menyadari jika seharusnya Daisy masih mengisi sisi ranjang yang malah kini kosong, dengan selimut yang berantakan.
Omara menyapukan tatapan matanya ke setiap sudut kamar, hingga matanya jatuh pada dinding kaca menuju kamar mandi. Bisa transparan atau diatur sebaliknya.
Ia menyibak selimut, berjalan sambil melepas kausnya saat menyadari kehadiran istrinya sedang berendam di jacuzzi. Pintu yang tidak terkunci, memudahkan Omara masuk dan membuat Daisy terkejut.
Sudut bibirnya tertarik, “Mas... sudah bangun?”
“Baru, dan harusnya kamu membangunkanku untuk bergabung di jacuzzi ini, Bee...”
Jantung Daisy berdetak kencang, terutama menyadari tatapan berbeda suaminya. Dia merapatkan kakinya, dibalik busa-busa di sana, ia benar-benar telanjang.
“Mas masih sakit,”
“Aku yang tahu kalau tubuhku sudah sehat pagi ini, sayang.”
Daisy memalingkan tubuhnya saat Omara mulai melepas pakaiannya. Tangannya mencengkeram pinggiran jacuzzi. Setelah benar-benar telanjang juga, Omara malah duduk di pinggirannya. Tangannya terulur menyentuh busa di bahu istrinya sebelum jemarinya bergerak dengan ritme menggodanya. Lalu ia arahkan dagu istrinya supaya mau menatapnya.
Omara terkekeh dapati pipi Daisy benar-benar merona malu. Daisy merinding bukan main dengan situasi pagi ini, yang ia pikir akan berendam sendiri dengan tenang sebab suaminya tadi belum bangun.
“Daisy Raqeela-Jagaraga,” bisik Omara. “Izinkan aku melihat seluruh keindahan tubuhmu, hm?”
“M-mas...” Daisy tidak siap.
“Tidak boleh? Malu?” suara Omara benar-benar lembut khas perayu.
Kepalanya mengangguk kecil, siap menunduk tapi Omara malah mendekat dan mengarah untuk mencumbu bibirnya.
Daisy terdiam, tidak menolak dan membiarkan bibir mereka saling b******u mesra. Perlahan-lahan, sebelum ritmenya terasa berubah... ada tuntutan yang terasa lapar dari sang suami.
Hingga perlahan-lahan, tubuhnya ditarik, keluar dari sana dan Omara berhasil membimbingnya duduk, di pangkuannya. Kulit bertemu kulit, membagi rasa hangat tanpa penghalang. Daisy tersentak saat usapan sangat halus dan lihai menyapa garis lurus punggungnya, basah... tangan lain berada diperutnya yang ramping sebelum perlahan naik menyentuh yang membuat tubuhnya merespons dengan damba.
Daisy memang terlalu polos, berbanding terbalik dengan Omara yang sudah sangat berpengalaman untuk membuat perempuan menginginkan sentuhannya.
Jarinya mengusap puncak dadanya yang menegang, antara dingin dan keberadaan Omara.
Tidak apa, ia pasti akan mengajari banyak hal menyenangkan kepada istrinya ini. Sejak pertama kali bertemu, Omara tahu kalau Daisy masih benar-benar polos.
Uap hangat dari jacuzzi yang memenuhi kamar mandi luas itu seolah menjadi tirai tipis yang membingkai gairah yang mulai membakar. Daisy merasa oksigen di sekitarnya menipis. Setiap inci kulitnya yang bersentuhan dengan tubuh tegap Omara terasa seperti tersengat aliran listrik yang memabukkan. Sentuhan tangan Omara di perutnya bukan lagi sekadar usapan, melainkan klaim kepemilikan yang tak terbantahkan.
“Mas...” desah Daisy tertahan, kepalanya terkulai di bahu Omara saat bibir pria itu mulai menjelajahi leher jenjangnya.
Omara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memperdalam cumbuannya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih istrinya. Tangan yang tadinya berada di punggung Daisy kini merambat turun, mencengkeram pinggulnya dengan posesif, mengangkat tubuh Daisy sedikit lebih tinggi agar ia bisa menatap mata cokelat yang kini tampak sayu dan penuh damba itu.
Saat tangan itu makin lancang menyentuh paha terdalamnya, dan siap menyentuh, Omara menghentikan dan kembali menatap Daisy.
“Apa kamu pernah menyentuhnya?”
Daisy mengerjap, “ya?”
“Dengan jarimu, menyentuh—maksudku memuaskan dirimu sendiri hm?”
Daisy makin merasakan pipinya memanas, ia paham dan dengan jujur memberi jawaban malu-malu saat mengangguk.
Omara tersenyum senang, “aku suka kejujuranmu, Bee...”
“Apa itu memalukan?” tanyanya ragu.
“Tidak, itu pengakuan yang tidak memalukan... Sekarang biar aku yang gantikan jemarimu, rasanya akan berbeda, akan kutunjukkan kenikmatan yang tidak akan kamu dapat saat melakukannya sendiri.”
“Mas!” Bagi Daisy, ucapan Omara terlalu vulgar.
Omara terkekeh, malah terasa gemas dengan sikap malu-malu sang istri.
“Lihat aku, Daisy,” bisik Omara serak. Suaranya yang rendah terdengar seperti perintah sekaligus rayuan. “Katakan kalau kamu menginginkanku sebanyak aku menginginkanmu sekarang.”
Daisy menelan ludah, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Mata Omara bisa menatap dengan jelas, puncak dadanya yang ranum. Sementara Daisy, dalam posisi ini, ia bisa merasakan degup jantung Omara yang sama kencangnya dengan miliknya. Segala keraguan seolah menguap begitu saja, digantikan oleh naluri yang menuntut kepuasan juga rasa penasaran akan hubungan suami-istri.
“Aku... aku menginginkanmu, Mas,” jawab Daisy lirih, hampir berupa bisikan. Entah ke mana perginya keraguan semalam yang masih ada?!
Jawaban itu menjadi penyulut api bagi Omara. Ia tidak lagi menahan diri. Dengan gerakan yang penuh perhitungan namun bertenaga, ia membawa Daisy keluar dari air, menyambar handuk besar hanya untuk menyeka sisa-sisa air secara kasar, sebelum akhirnya membopong tubuh ringan itu kembali ke ranjang mereka yang masih berantakan.
Daisy mengernyit bingung, dia pikir akan berendam bersama.
***
Segalanya tampak begitu nyata. Tidak ada lagi batas fisik di antara mereka saat kain-kain penutup telah tanggal sepenuhnya. Omara menatap tubuh Daisy dengan intensitas yang membuat Daisy merasa seolah-olah ia sedang dipuja.
“Cantik, indah...” jemarinya menelusuri garis tubuh Daisy dengan lembut, seolah ia sedang menyentuh karya seni yang paling rapuh sekaligus paling berharga.
Daisy meraih tengkuk Omara, menarik pria itu turun untuk kembali menyatukan bibir mereka. Ciuman kali ini jauh lebih rakus, penuh dengan rasa lapar yang telah dipendam sepanjang rangkaian acara pernikahan yang melelahkan. Di atas ranjang itu, Omara membuktikan ucapannya bahwa ia telah benar-benar sehat.
Setiap sentuhan, setiap bisikan, dan setiap penyatuan yang terjadi siang itu terasa begitu intim. Omara bergerak dengan ritme yang dominan namun tetap memperhatikan setiap respons Daisy, memastikan istrinya merasa nyaman di tengah badai gairah yang ia ciptakan. Daisy sendiri, dalam kepolosannya, memberikan segalanya—rasa percayanya, tubuhnya, dan harapan-harapan yang baru saja tumbuh kembali dalam pernikahan ini.
Namun, di tengah puncak kebahagiaan fisik itu, di sudut terdalam pikiran Omara, sebuah bayangan keberangkatan lusa pagi masih menetap. Ia mencium kening Daisy yang berkeringat dengan penuh perasaan, sebuah rasa asing yang mulai tumbuh tanpa ia sadari, namun egonya tetap mengunci rapat mulutnya tentang banyak hal yang baginya tidak perlu Daisy ketahui.
“Sa-sakit... Mas... pelan-pelan.” Rintihnya bersama air mata yang berjatuhan.
Omara sudah sepelan, selembut mungkin tapi memang miliknya di bawah sana sangat rapat, sempit.
Omara hampir kesulitan, seolah pengalamannya tidak pernah ada di hadapan kepolosan sang istri.
Omara sampai sempat tertegun, melihat Daisy menangis. Membuatnya menciumi mata itu, lalu berkata “aku tetap harus melakukannya, dengan begitu sakitnya nanti berkurang. Percaya padaku, sayang?”
Meski makin terisak, Daisy memberi anggukan. Omara memintanya memeluk tubuhnya saat satu sentakan lebih kuat diberikannya.
Daisy sampai mengangkat kepala, kemudian menggigit bahu suaminya dan jemarinya mencengkeram kuat. Rasanya seperti dirinya terbelah.
“Aku milikmu, Daisy,” bisik Omara saat mereka berdua mengatur napas di bawah selimut yang sama setelah usaha Omara menerobos penghalangnya. “Hari ini, besok dan seterusnya... kamu adalah satu-satunya istriku, yang akan jadi Ibu dari anak-anakku.”
Daisy tersenyum lemas, Omara menciumnya kembali demi mengalihkan rasa sakitnya hingga mulai membuat sang istri mendesah nikmat.
Daisy mulai merasa lengkap. Ia merasa telah benar-benar menikah. Ia membuka mata, tatapannya terikat dengan Omara. Memerhatikan wajah suaminya yang mengejar kepuasan, menikmati tubuhnya seolah segalanya dilakukan menyertai hati.
Omara menunduk, "mau aku berhenti?"
Daisy menggeleng pelan, "jangan berhenti, Mas..." meraih wajah suaminya dan berciuman kembali.
Kamar Presidential Suite itu kini menjadi saksi dari pergulatan dua raga yang mencoba saling mengenal. Suara napas yang memburu bersahutan dengan denting pendingin ruangan, menciptakan gairah yang hanya dimengerti oleh mereka yang sedang mencecap manisnya pengantin baru.
Omara bergerak dengan keahlian seorang penakluk yang mendadak berubah menjadi pelindung saat sadar bahwa tidak bisa bertingkah seperti binatang saat ia bisa merasakan bagaimana tubuh Daisy gemetar di bawahnya, sebuah getaran yang bukan lagi karena rasa sakit, melainkan karena sensasi baru yang mulai mengambil alih kesadarannya. Daisy, dengan kepolosannya yang memikat, mengikuti setiap instruksi tanpa kata dari Omara—bagaimana ia harus melingkarkan kakinya, bagaimana ia harus membalas setiap cumbuan, hingga akhirnya rasa sakit itu benar-benar terkubur di bawah gelombang kenikmatan yang meluap.
Ia berusaha membuat momen pertama tidak sampai jadi trauma untuk Daisy.
“Mas... ahh, Mas Omara... a-aku rasanya mau keluar lagih!” Daisy memanggil nama suaminya seolah itu adalah satu-satunya mantra yang bisa menyelamatkannya dari tenggelam.
Omara menatap Daisy, matanya yang tajam kini tampak gelap dan dalam. Ia tahu, miliknya dibawah sana semakin dicengkeram kuat. Ada kepuasan ego di sana saat melihat istrinya berpasrah dalam pelukannya, namun ada pula percikan rasa asing yang hangat menjalar dalam hatinya. Saat puncaknya tiba, Omara mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Daisy, namun sesuatu menyentaknya sesaat dan terburu menarik diri.
Daisy tidak memahami situasinya sembari merasakan kekosongan, ia memandang Omara memegang miliknya sendiri kemudian menumpahkan di atas perutnya, kelegaan terlihat diwajahnya.
"Mas," panggilnya serak. Sambil merasa lengket yang membuatnya tak nyaman.
Omara segera mengambil tisu, butuh sebanyak mungkin lalu membersihkan sang istri sebelum bealih memeluknya erat, dengan napas yang memburu dan peluh membanjirinya.
Omara ambruk di atas tubuhnya, ia akui bahwa dirinya benar-benar puas. Menyukai setiap jengkal keindahan, dan kenikmatan yang diberikan sang istri.
"Itu barusan, Mas sengaja di luar?" pipinya merona, jantungnya berdebar kuat dan ia yakin Omara bisa mendengarnya sangat jelas dengan posisinya.
Omara memberi anggukan, "ya, kamu bilang setelah ini mau fokus selesaikan kuliahmu dulu kan?"
Daisy mengerti, "iya, jadi Mas tidak ingin aku hamil dulu?"
Pertanyaan polos yang buat Omara terkekeh, berakhir gemas dan menginginkannya lagi.
Omara bangun, membuat Daisy menatapnya lalu Omara membungkuk bersiap mengangkat tubuhnya, "pegangan."
"Uhm, kita mau ke mana?"
"Memulihkan sakit milikmu dulu dengan berendam air hangat, supaya kamu kembali siap, terbiasa denganku, karena aku kembali menginginkanmu."