“Mereka masih belum turun juga?” tanya Dierja, matanya menyapu setiap meja yang ada di sana. Suasana di restoran hotel yang telah dipesan khusus oleh keluarga Jagaraga pagi ini tampak sangat kontras dengan hiruk-pikuk pesta semalam. Tenang, obrolan hangat, meja panjang yang dipenuhi hidangan mewah, namun hawa dingin tetap terasa berkat ekspresi kaku Catur Aji Jagaraga yang memang sudah bawaannya seperti itu.
Disadari sang putra, Catur Aji makin menyadari jika Omara yang semalam meninggalkan resepsi lebih dulu karena kesehatannya, pagi ini pun datang terlambat.
“Hubungi putramu, pastikan keberadaannya! Dokternya bilang, kondisinya sudah membaik semalam. Harusnya dia sudah muncul sekarang!” ia memberi perintah.
“Sudah, Pa. Tapi, Omara tidak menjawabnya.”
Mantan orang nomor satu itu mulai menyadarkan punggung, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran piring porselen dengan irama yang menuntut jawaban. Di sekelilingnya, besan dari keluarga Sangaji, kerabat dan kolega dekat sudah mulai menyelesaikan sarapan mereka, namun kursi di sebelah kanannya—kursi yang seharusnya ditempati oleh Omara dan Daisy—masih kosong melompati waktu sarapan yang hampir usai.
“Panggil Gian ke sini, aku ingin bicara dengannya.”
Dierja Oman Jagara bangun, menemui asisten pribadi putranya.
Catur Aji menunggu, sambil mengingat jika sudah mendapatkan laporan dari asistennya, jika Gian telah meminta kembali paspor Omara semalam juga. Sebuah pertanda yang hanya memiliki satu arti bagi sang kakek, cucunya akan segera melakukan perjalanan bisnis.
Gian, yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan layaknya patung, mencoba tidak terlihat tampaknya gagal. Dia dipanggil menghadap Kakek, segera melangkah maju dengan kepala menunduk mengikuti Papa dari bosnya. Keringat dingin mulai merembes di balik setelan jasnya. Ia tahu benar bahwa menghadapi Catur Aji Jagaraga jauh lebih mengerikan daripada menghadapi amukan Omara.
“Ya, Tuan Besar memanggil saya?” tanyanya setelah menghadap, agak menunduk.
“Duduk, ada yang ingin saya tanyakan padamu.”
Gian duduk di tempat yang Catur Aji tunjuk melalui tatapannya.
“Ke mana cucuku, kenapa dia belum muncul?” tanya Catur dengan nada tajam. “Papanya, Dierja coba menelepon pun tidak diangkat. Apa dia pikir setelah pernikahan, dia bebas menghilang lagi seperti kemarin pagi?”
Gian berdehem, mencoba menelan gumpalan rasa canggung di tenggorokannya. Ia teringat pesan singkat namun sangat spesifik yang dikirimkan Omara kepadanya beberapa menit lalu. Omara tahu kakeknya akan meledak, jika tahu Omara besok akan pergi urus pekerjaan tanpa istrinya.
“Begini, Bapak... Pak Omara tidak pergi ke mana-mana, beliau ada di kamarnya bersama istrinya,” ujar Gian dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar tetap sopan namun terdengar tegas. “Pak Omara menyampaikan pesan secara pribadi. Beliau meminta agar keluarga tidak mengganggu privasi mereka pagi ini. Ia dan sang istri akan sarapan di kamar.”
Catur Aji menaikkan sebelah alisnya, tatapannya menyipit penuh selidik. “Privasi? Dia mengabaikan seluruh keluarga demi privasi?”
Dierja berdehem kecil, “Pa, maksudnya Omara dan Daisy kan pengantin baru. Privasi itu yang dimaksud.”
“Iya, maksudnya begitu. Pak Omara bilang...” Gian menjeda, wajahnya sedikit memerah saat harus mengucapkan kalimat lanjutannya itu di depan kerabat senior Jagaraga lainnya. Bukan hanya Dierja, pun saudaranya yang tidak lain paman-bibinya Omara beserta pasangannya ada di sana, “beliau sedang sangat fokus pada proyek memberikan cicit segera untuk Anda, Tuan Besar. Beliau meminta waktu agar tidak diganggu sampai uhm bahkan besok pagi.”
Hening sejenak.
Catur Aji tertegun, lalu berdehem keras untuk menutupi keterkejutannya. Di seberang meja, beberapa bibi dan paman Omara mulai tersenyum simpul dan saling berbisik. Alibi ‘malam pengantin yang panjang’ adalah satu-satunya alasan yang tidak bisa dibantah oleh protokol keluarga mana pun. Meski Catur Aji tahu benar tabiat licin cucunya, alasan ini adalah serangan balik yang jenius untuk menggunakan keinginan terbesar sang kakek sebagai tameng.
“Sudahlah Papa, biarkan saja jika memang alasannya begitu. Omara terpenting memang dikamar bersama istrinya.” Irene Nura Jagaraga—istri Dierja, atau Ibu sambung Omara angkat bicara.
“Anak itu...” gumam Catur Aji, mencoba kembali memasang wajah datar meski hatinya sedikit melunak mendengar kata 'cicit'. “Dia selalu punya cara untuk membungkam omelanku, pasti karena ia tahu aku akan menginterogasinya akan tingkah memalukannya kemarin!”
Namun, kecurigaan tidak lantas hilang dari benak sang kakek. Ia tahu Omara punya banyak hutang penjelasan. Mulai dari insiden menghilangnya pria itu beberapa jam sebelum akad, drama pingsan di lantai dansa yang menghebohkan publik, hingga laporan keberangkatan ke Meksiko besok yang sudah sampai ke telinganya.
“Dia ingin menyogokku dengan harapan cicit agar aku tidak mempertanyakan tiket pesawatnya ke Meksiko, kan?” Catur Aji menatap Gian.
Ia tahu Omara sedang berusaha menghindarinya. Catur yakin, apa yang terjadi di atas sana, di kamar pengantin itu, bukan sekadar urusan ranjang, melainkan strategi Omara untuk menenangkan Daisy agar gadis itu tidak protes saat ditinggal pergi nanti.
“Papa bilang apa? Kapan Omara ke Meksiko?” tanya Dierja yang terkejut.
“Memang Omara tidak ambil cuti, Gian?” Tambah Irene sama-sama terkejut.
Gian sudah serapi mungkin merahasiakan dari Catur Aji dan keluarga Jagaraga lainnya.
“Saya sudah coba mencegahnya, dan akan mengatur libur dua minggu. Tapi, keberangkatan Pak Omara ke sana memang sudah lebih dulu direncanakan sebelum hari ini.”
“Ck!” Catur Aji melirik Dierja, ayah Omara, yang hanya diam memandang bingung. Ia menghela napas panjang.
“Aku akan temui Omara, bicara dengannya—“
“Tidak usah, Dierja.” Lalu Catur Aji menatap Gian, “Baiklah. Biarkan mereka untuk hari ini. Tapi katakan pada bosmu itu, Gian... Minta dia temui aku sebelum pergi ke bandara. Kalau pun ia harus pergi meninggalkan istrinya, dia tetap harus bertanggung jawab menempatkan orang untuk menjaganya! Aku akan selalu mengawasi, dan tahu jika ia bertingkah... di luar sana berani kembali ke kehidupan bebas dan liar seperti sebelum menikah!”
Gian mengangguk cepat, merasa sedikit lega meski ia tahu Catur Aji tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Catur melirik orang tua Daisy, mendorong kursi roda yang ditempati sahabatnya, Genji Hyuga Sangaji. Ia segera menghentikan pembicaraan, bersikap tenang dan menghampiri.
“Kami tidak melihat Omara dan Daisy sampai sarapan ini selesai, pasangan muda sekarang... ya begitulah. Kami maklumi.” Ucap Genji mewakili keluarganya.
Sementara di lantai atas, di dalam kamar yang luas, Omara masih memeluk Daisy dari belakang, mengusap bahu terbuka istrinya sebelum menunduk dan menciuminya.
Ia baru saja menggunakan Daisy sebagai alasan untuk menghindar dari kakeknya,
“Daisy,” panggilnya lembut, Omara perlu memberitahunya. “Besok pagi aku harus meninggalkanmu dulu, ada pekerjaan yang tidak bisa kutunda.”
“Aku sudah tahu kok, aku sempat dengar semalam Mas bicara dengan Pak Gian. Personil asistennya, Mas kan?”
Tubuhnya agak menegang, Daisy menoleh dan mendongak supaya bisa bertemu tatap dengan suaminya.
“Apa yang kamu dengar? Kapan?”
“Pas resepsi di bawah sudah hampir selesai, aku tetap pamit untuk melihat kondisi Mas Omara... Aku sudah di sini, baru sampai ruang tamu depan pas dengar pembicaraan Mas dan Pak Gian yang bilang kalau mau ke Meksiko. Semalam sampai pagi ini, aku menunggu Mas bilang... dan ternyata baru bilang sekarang.”
Omara segera memasang ekspresi menyesal, “aku takut kamu marah.”
“Aku ngerti kalau memang ini kewajibanmu yang tidak bisa ditunda. Pergi saja, Mas... Aku akan tunggu Mas pulang.”
“Harusnya kita honeymoon tapi aku malah pergi sendiri, pergi kerja. Aku sudah sempat minta Gian carikan tiket lain untukmu, supaya ikut. Tapi, tidak bisa mendadak.” Omara berbohong, ide mencari tiket dari Gian malah Omara tolak. Dia merasa istrinya hanya perlu menunggu di rumah.
“Aku juga tidak bisa pergi, yang minta honeymoon kita ditunda juga kan aku? Karena aku mau fokus skripsiku.”
Omara mengangguk.
“Saat kita sudah sama-sama punya waktu, kita bisa pergi honeymoon kan, Mas?”
“Ya, Sweety... Pilih ke mana pun kamu mau.”
Daisy mengangguk, ia memainkan jemari Omara yang lebih besar dan panjang dari miliknya. Tangannya tampak tenggelam dalam genggamannya.
"Aku tidak ada tempat impian, rasanya cuman ingin ke tempat tenang untuk bisa berdua sama Mas, lalu sama-sama lebih mengenal satu sama lain." Permintaannya sederhana.