Ditinggal, setelah pernikahan [2]

1437 Words
Pagi berikutnya, Daisy terbangun bukan karena alarm, melainkan karena keheningan yang terlalu pekat dalam kamar hotel yang ditempatinya setelah tiga malam itu. Ia mengerjapkan mata, tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun yang ia temukan hanyalah seprai lembut yang sudah dingin dan bantal tanpa kepala suami yang menempatinya seperti semalam. Daisy menarik selimut sutra itu lebih tinggi, membungkus tubuh telanjangnya yang terasa sangat berbeda pagi ini. Tubuhnya benar-benar terasa remuk, sebuah kelelahan yang manis sekaligus menyakitkan. Setiap kali ia bergerak, ia meringis kecil, bagian dadanya terasa kencang dan sedikit nyeri, sebuah sensasi baru yang lahir dari intensitas sentuhan Omara semalam. Area kewanitaannya pun terasa tidak nyaman, rasa perih yang mengingatkannya pada momen ketika ia menyerahkan segalanya pada pria itu. Ia menyentuh leher dan bahunya, ujung jarinya merasakan kulitnya yang merinding kala ingat setiap tanda love bites yang Omara tinggalkan dengan begitu posesif. Semalam, Omara seolah ingin menandai setiap jengkal tubuhnya, memujinya dengan bisikan serak yang membuat jantung Daisy berdegup kencang hingga kini. Pipinya merona hangat, bayangan tentang bagaimana suaminya menatapnya dengan lapar namun penuh pemujaan kembali berputar seperti film di benaknya. Pantas teman-temannya bilang bahwa seks itu menyenangkan, setiap kali ia harus mendengarkan dari cerita beberapa temannya yang sudah lepas perawan dengan para kekasihnya. Tapi, Daisy punya prinsip sendiri yang kuat, jika hanya ingin melakukannya dengan suaminya seperti yang sudah terjadi. Namun, romansa itu mendadak luruh saat matanya menatap waktu di ponselnya. Pukul sembilan pagi. Daisy kembali berbaring, menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Lampu kristal yang megah itu seolah menertawakan kesendiriannya. Di pagi berikutnya mereka sebagai suami istri yang bebas dari pengawasan keluarga, ia justru ditinggalkan. Rasa sesak merayap di dadanya, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena kenyataan bahwa kehangatan pelukan Omara semalam tidak cukup untuk menahan pria itu pergi ke belahan dunia lain. Ya, walau Omara akhirnya memberitahunya kemarin. “Dia pergi untuk pekerjaan, bukan sengaja meninggalkanku...” gumamnya untuk menghibur dirinya sendiri. Getaran ponsel di atas nakas memecah keheningan. Daisy berharap itu adalah pesan dari Omara, sebuah permintaan maaf atau kata perpisahan yang manis. Namun, layar itu menunjukkan nama Lulu Prita—sekretaris Omara yang sudah pernah dikenalkannya. Selama dekat dengan Omara, memang Daisy menyimpan kontak dua orang penting—Lulu dan Gian—yang ia butuhkan saat membuat janji bertemu di kantor Omara, atau saat Omara terlalu sibuk hingga sulit dihubunginya. “Halo, Mbak Lulu?” suara Daisy terdengar parau. Usia Lulu di atasnya. Perempuan berusia 30 tahun yang sudah menikah. Jadi, Daisy memanggilnya sopan. “Selamat pagi, Nyonya Jagaraga,” suara Lulu terdengar profesional namun sangat sopan. “Nyonya Jagaraga? Mbak, panggil aku seperti biasa saja...” “Tidak bisa, Nyonya. Status Anda sudah menikah dengan Pak Omara.” “Hm, baiklah... walau terdengar tidak biasa untukku.” “Saya yakin, nanti Nyonya akan terbiasa.” Ia menjeda sesaat, “Maaf mengganggu waktu istirahat Anda. Pak Omara menugaskan saya untuk membantu urusan check-out hotel hari ini. Beliau juga meminta saya untuk mengantar Anda pulang dan memastikan apa pun yang Anda butuhkan selama Pak Omara sibuk dan tidak di Jakarta.” Daisy terdiam sejenak. “Pulang? Ke mana? Ada arahan dari suamiku?” Belum ada pembicaraan ini, Daisy melewatkannya. Dia pikir sebelum tahu Omara akan pergi, mereka akan pulang menuju rumah Omara bersama-sama. “Pak Omara hanya menyampaikan, pilihan ada di tangan Anda. Saya bisa mengantar Anda ke kediaman Pak Omara yang sudah jadi rumah Anda juga, atau jika Anda merasa lebih nyaman, saya bisa mengantar Anda kembali ke rumah orang tua Anda sampai menunggu Pak Omara kembali dari Meksiko.” Daisy menelan ludah. Rumah yang dingin tanpa Omara, atau rumah orang tuanya dengan tatapan tanya dari Papa dan Mamanya? Keduanya terasa sama buruknya. “Beri aku waktu satu jam, Mbak Lulu. Aku butuh mandi dan bersiap-siap,” ujar Daisy akhirnya, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar. Meski mengerti keputusan suaminya, tetap saja tampak menyedihkan ditinggal sendirian seperti sekarang. "Baik, Nyonya. Saya akan menunggu." *** Air hangat yang membasuh tubuhnya membawa luruh aroma parfum Omara yang masih tertinggal di kulitnya. Setiap kali air menyentuh tanda kemerahan di tubuhnya, Daisy teringat bagaimana Omara berjanji bahwa Daisy adalah miliknya. Satu jam kemudian, Daisy keluar dari kamar dengan pakaian yang lebih tertutup, sebuah atasan kerah tinggi untuk menutupi jejak-jejak semalam dan celana panjang bahan yang elegan. Lulu sudah menunggu di ruang tengah suite bersama dua orang staf hotel yang siap membawakan kopernya dan koper Omara akan diurus pulang ke rumah. Jujur saja, Daisy merasa jalannya agak berbeda, masih tidak nyaman tapi ia berusaha untuk tidak kentara aneh. “Selamat pagi, Nyonya,” sapa Lulu dengan senyum tipis. Ia segera mengambil alih tas jinjing Daisy. Rasanya belum terbiasa dengan semua panggilan baru, sikap orang-orang Omara kepadanya. “Kita sarapan dulu di restoran bawah? Saya sudah memesankan meja privat untuk Anda.” Daisy mengangguk lemah. “Terima kasih, Mbak Lulu.” Di restoran bawah yang kemarin disewa khusus untuk sarapan pagi keluarganya, tapi hari ini sudah dibuka untuk pengunjung hotel lain, Daisy duduk berhadapan dengan Lulu. Di depannya tersedia sarapannya dan buah-buahan segar, namun seleranya sudah hilang entah ke mana. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek ponselnya. Kosong. Tidak ada satu pun pesan dari Omara. Tidak di mana pun. Bahkan sebuah pamit yang diharapkan pun tidak ada. Daisy meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar di atas meja. Ia menatap Lulu yang sedang sibuk mengecek jadwal di tabletnya. “Mbak Lulu,” panggil Daisy. Lulu mendongak. “Jadwal pesawat Mas Omara... pukul berapa dia berangkat?” Lulu tampak ragu sejenak, ia mengecek jam tangan mewahnya. “Pak Omara sudah meninggalkan Jakarta sekitar satu jam yang lalu, Nyonya. Pesawatnya lepas landas sekitar pukul delapan lewat lima belas menit." Deg. Jantung Daisy seolah berhenti berdetak. Satu jam yang lalu. Saat ia terbangun dan merasa remuk di atas ranjang mereka, suaminya sudah berada di pesawat. Pria itu bahkan tidak berniat menunggunya bangun hanya untuk mencium keningnya dan mengatakan selamat tinggal secara langsung dengan cara romantis. Atau Daisy tidak tahu, karena dirinya tidur dan Omara tidak mau membangunkannya? Lulu memahami posisi Daisy, gadis muda itu membuatnya prihatin... “Pak Omara memang punya agenda kerja yang selalu padat, Nyonya.” Daisy tersenyum kecil, sebuah ekspresi yang jarang muncul di wajah polosnya. “Aku sudah kenyang, Mbak... Antar aku ke rumah Mas Omara saja,” ujar Daisy meminta dengan pertimbangan. Jika ia pulang, itu akan membuat keluarganya bertanya-tanya. Lulu mengangguk patuh. “Baik, Nyonya. Mobil sudah siap di depan.” Daisy melangkah keluar hotel dengan kepala tegak, meski kakinya masih terasa sedikit gemetar dan tubuhnya masih terasa perih di beberapa bagian. Ia memakai kacamata hitamnya, menyembunyikan tatapan matanya. Di dalam mobil menuju rumah yang akan ditempatinya dengan sang suami, Daisy menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang sibuk. Ia adalah Nyonya Jagaraga sekarang. Omara akan memenuhi hidupnya dengan segala materi yang dimilikinya. Namun, saat ia menyentuh bibirnya yang masih sedikit bengkak karena ciuman Omara semalam, ia menyadari satu hal pahit bila ia memiliki tubuh Omara semalam, tapi ia tidak pernah memiliki prioritas pria itu. Omara sudah pergi membawa hatinya yang mudah terbuka, meninggalkan Daisy dalam sebuah pernikahan yang mulai terasa seperti sebuah pengabdian sepihak. Dan di atas sana, di ketinggian ribuan kaki, Omara mungkin sudah melupakan malam pengantin mereka dan beralih pada dokumen-dokumen bisnis, sementara Daisy harus belajar bagaimana cara bernapas di rumah besar yang tanpa kehadiran suaminya selama beberapa hari ke depan. Bahkan waktu pasti kembalinya sang suami, Daisy belum diberitahu. “Setelah kamu antar aku, kamu bisa pergi mengurus pekerjaan yang lain.” Ucap Daisy. Namun, Lulu menyerahkan beberapa kartu dengan limit tinggi. Daisy memiliki kartu, tapi belum black card... Ada batasan yang diberikan orang tuanya, supaya ia bisa bijak menggunakan uangnya. “Apa ini, Mbak?” “Milik Nyonya, apa pun yang Nyonya butuh dan inginkan... untuk pribadi, bisa melakukan pembayaran dengan kartu ini. Sementara untuk rumah, para pekerja rumah, termasuk pendidikan Nyonya... semua sudah diatur Pak Omara.” Tidak sampai di sana, “dan Pak Omara juga membebaskan Nyonya untuk pakai mobil di rumah yang mana pun, tapi... Pak Omara lebih senang jika Nyonya diantar sopir pribadi yang sudah disiapkan untuk mengantar Nyonya berkegiatan sehari-hari. Supaya lebih memastikan Nyonya aman.” "Uhm, apa semua ini perlu Mbak Lulu?" "Tentu, karena Anda sekarang sudah menjadi istri Pak Omara, bagian dari keluarga Jagaraga." Daisy terdiam, ia merasa seperti tangan, kaki dan lehernya perlahan diikat sebuah rantai, dan mana ia langkahkan kakinya sudah terlanjur masuk ke dalam bagian dari istri Omara Akssa Jagaraga. Mendadak kepalanya pening, dan rasa mual mendesak dari perutnya. Bukan, itu bukan gejala kehamilan, terlalu dini untuk itu ditambah mereka memang menunda. Entahlah, Daisy kembali merasakan sesuatu yang tidak nyaman, tetapi sangat sulit ia mengerti dan ungkapkan dengan kata-kata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD