Menjadi tunangan Omara Akssa Jagaraga terasa seperti masuk ke dalam pusaran arus yang tenang namun menghanyutkan. Daisy Raqeela sering kali mendapati dirinya melamun dekat jendela kamar, menatap Daima—anak kucing Munchkin berpipi bulat yang kini asyik mengejar ujung pita di karpet.
Kucing lucu yang merupakan hadiah pertama dari Omara yang tahu benar bahwa Daisy lemah terhadap makhluk-makhluk mungil yang menggemaskan, menambah anggota anabul di rumah. Saat Omara mengirimkan Daima rasanya pandangan terhadap Omara tidak lagi menilainya sebagai ‘Om-om tidak beradap’ seperti di awal pertemuan.
Ya, pria yang awalnya terlihat begitu mengancam di koridor rumah sakit, bisa berubah menjadi sosok yang begitu penuh perhatian.
“Kok belum siap juga kamu, sayang? Malah masih santai...”
Daritri—Ibunya menggeleng pelan menemukan putri bungsunya masih betah bermain dengan kucingnya.
“Bukannya Mas Omara akan jemput?” Ibunya memastikan, Omara sebelum mengajaknya pergi sudah pasti akan meminta izin juga pada orang tuanya.
“Masih ada waktu, Ma.” Rasanya malas sekali, pergi mendampingi Omara di berbagai acaranya.
“Kamu kalau bersiap suka lama. Nanti Masmu menunggu kelamaan lho.” Ibunya mengingatkan.
Daisy akhirnya bangun dari posisinya, “baru calon mantu, Mama dan sekeluarga ini sudah sesayang itu sama Mas Omara.” Gerutunya.
Mata Daritri menatap punggung putrinya, ia ambil alih Daima ke pelukannya sambil mengusap-usap lembut “harusnya kamu lega, Mama dan Papamu, keluarga ini sudah bisa sayang sama calon suamimu.”
Daisy terdiam diambang pintu menuju kamar mandi, hanya menatap sekilas ke arah Mamanya sebelum kembali bertanya “Mama benar-benar yakin aku akan cocok sama Mas Omara?”
Ia mengangguk, “ya, terlepas dia pilihan Opamu juga cucu bungsunya Kakek Catur Aji, sikapnya terlihat baik, dan paling utama serius terhadap hubungan kalian.”
“Usia kami beda jauh, Ma.”
“Mama sama Papamu juga beda sebelas tahun. Perbedaan usia bukan masalah, tergantung bagaimana kalian saling mengimbangi nantinya. Mama percaya, sekali pun kamu terkadang manja... pas sudah menikah nanti, pasti menyesuaikan sebagai istrinya Mas Omara. Malah kayaknya dia tipe yang akan manjain kamu.”
Setelah pertemuan makan malam keluarga yang canggung untuk pertama kali, Omara mulai menunjukkan sisi yang hampir sempurna. Omara tidak hanya mendekati Daisy, ia menaklukkan seluruh anggota rumah. Pria itu bisa berbicara tentang fluktuasi saham, bisnis dengan ayahnya, menghargai setiap masakan Mama yang disajikan dengan pujian dan berakhir duduk bersama Kakek Hyuga tanpa terlihat bosan sedikit pun.
Status pertunangan mereka pun akhirnya diresmikan secara kekeluargaan. Tidak ada pesta besar yang dipublikasikan secara besar-besaran—atas permintaan Daisy yang ingin fokus menyelesaikan kuliahnya lebih dulu—namun cincin berlian yang melingkar di jarinya adalah bukti nyata bahwa ia telah 'ditandai' sebagai calon istri Omara.
Hubungan mereka berjalan dengan ritme yang manis. Omara sering menjemputnya di kampus, saat pria itu ada waktu luang mereka pergi kencan dengan menuruti kemauan Daisy dan sesekali membantunya dengan memberi masukan untuk tugas akhirnya. Perhatian-perhatian kecil itu, yang dilakukan oleh pria sedewasa Omara, membuat Daisy makin luluh.
Beberapa waktu kemudian, Daisy masih bersiap. Ia tidak tahu jika Omara sudah tiba di rumah.
“Biar Mama panggil Daisy, sudah bersiap sejak tadi harusnya sudah selesai.”
Melihat calon mertuanya siap bangkit dari duduknya, Omara berinisiatif meminta izin, “kalau aku sendiri yang menemui Daisy, boleh?”
Daritri terdiam, lalu tersenyum “oh boleh, pintu kamar Daisy yang pertama di kanan dari tangga ya.”
Izin calon mertuanya didapatkan, Omara segera menuju lantai dua rumah itu. Langkahnya mencari pintu kamar yang di maksud.
Ia masuk saat ketukan pintunya di awal tidak ada sahutan izin. Omara melangkah dengan pelan di atas karpet bulu kamar Daisy. Matanya yang tajam langsung menangkap sosok Daima, kucing pemberiannya yang tertidur melingkar di atas sprei.
“Pemalas,” bisik Omara, sudut bibirnya terangkat. Ia membelai kepala Daima dengan ujung jarinya, namun perhatiannya segera teralihkan oleh suara kehadiran Daisy dari arah ruang ganti.
Pintu itu tidak tertutup rapat.
Niat awalnya untuk memberi kejutan atau sekadar memanggil Daisy tertahan di tenggorokan. Omara terpaku. Dari celah sempit itu, ia bisa melihat punggung mulus tunangannya. Cahaya lampu dari dalam ruang ganti menyinari lekuk tubuh Daisy yang ramping, kulitnya yang tampak sehalus porselen, dan gerakan jemarinya yang lincah membalurkan body lotion ke bahu serta lengannya.
Udara di kamar itu mendadak terasa tipis. Omara bukan pria naif yang belum pernah melihat wanita, tapi ada sesuatu tentang Daisy seperti kepolosan yang bersanding dengan kecantikan yang mulai matang, yang membuat darahnya berdesir lebih cepat. Ia tahu ia harus berbalik, ia tahu ini tindakan yang melanggar batas, tapi kakinya seolah tertanam di lantai.
Ia melihat Daisy meraih pakaian dalamnya, mengenakannya dengan gerakan yang natural dan anggun. Omara mengepalkan tangan di samping tubuh, meredam gejolak yang mulai menguasai akal sehatnya. Wangi Daisy yang manis, campuran antara vanilla dan bunga, mulai menyusup keluar ke arahnya, menguji pertahanannya sebagai pria dewasa.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan tanpa suara, Omara mundur beberapa langkah. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menarik Daima ke pangkuannya untuk menutupi ketegangan yang nyata pada tubuhnya. Ia menarik napas dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berpacu liar.
“Ck, kenapa aku mulai merasa seperti tersiksa begini?!” Gumamnya. Heran, harusnya ia tidak secanggung itu hanya melihat seorang wanita telanjang. Atau mungkin karena ini tunangannya?
***
Beberapa menit kemudian, Daisy keluar dengan gaun malam yang pas di tubuhnya. Ia sedang merapikan antingnya saat matanya menangkap sosok pria yang seharusnya masih berada di lantai bawah. Bahkan ia belum diberitahu akan kehadirannya.
“Mas Omara...”
Daisy tersentak, tangannya refleks memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget. Ia mendapati Omara sedang duduk tenang, mengusap bulu Daima yang makin nyaman. Pria itu tampak begitu berwibawa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang menonjol.
“Sejak kapan di kamarku?” tanya Daisy, berusaha mengatur napasnya. Ada rasa malu yang tiba-tiba menyerang, meski ia yakin ia sudah berpakaian lengkap saat keluar tadi.
Omara mendongak. Tatapannya berbeda dari biasanya. Jika biasanya matanya tampak tenang dan penuh perhatian, kali ini ada kilatan gelap yang dalam, seolah ia sedang menahan sesuatu yang besar di balik topeng kesopanannya.
“Baru saja,” bohong Omara dengan suara yang lebih serak dari biasanya. “Ibumu yang menyuruhku naik. Katanya kamu suka lama kalau bersiap. Mungkin kehadiranku, bisa membuatmu lebih cepat.”
Daisy mendekat, berdiri beberapa langkah di depan Omara. “Aku sudah siap. Kita berangkat sekarang?”
Omara tidak langsung berdiri. Ia menatap Daisy dari ujung kaki hingga ke mata. “Gaun itu... sangat cocok untukmu, Daisy. Tapi mungkin lain kali, pastikan kamu mengunci pintu kamarmu jika sedang bersiap.”
Daisy mengerutkan kening, tidak mengerti maksud sindiran itu. “Kenapa? Di rumah ini hanya ada keluarga.”
Omara berdiri, membiarkan Daima terusik, sampai melompat turun dari pangkuannya. Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Daisy harus mendongak jauh untuk menatap wajah tunangannya. Omara mengulurkan tangan, bukan untuk membelai pipi Daisy, melainkan untuk merapikan sehelai rambut yang jatuh di bahu gadis itu.
Sentuhan jarinya yang hangat dan lembut di kulit leher Daisy membuat gadis itu merinding.
“Karena mulai sekarang, kamu bukan hanya milik keluargamu lagi,” bisik Omara, menunduk hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Daisy. “Ada pria yang akan punya hak penuh atas dirimu, dan pria itu tidak selalu bisa bersabar, Sweety...”
Daisy membeku. Kalimat itu terdengar seperti peringatan sekaligus janji yang terdengar posesif. Ia menatap mata Omara dengan jantung berdebar.
“Aku membuatmu takut?” bisik Omara.
Daisy menggeleng pelan, “enggak, aku cuman belum paham kenapa tiba-tiba Mas Omara bicara ini.”
“Nanti kamu akan paham, sayang. Ayo jalan sekarang, kita bisa terlambat dan Mamamu akan bingung menantikan kita yang tidak kunjung turun,” ajak Omara, kembali ke suaranya yang tenang seolah tekanan di udara tadi tidak pernah terjadi. Ia menawarkan lengannya untuk digandeng. Daisy menyambut lengan itu dengan ragu.