Terjerat Makin Dalam

1474 Words
“Pak, ada Nona Daisy datang.” Omara yang tepat baru selesai bicara dengan rekan bisnis sekaligus sahabatnya, Anvaya Dante Sadajiwa berhenti mendapati laporan dari Gian Rafif. “Lulu menemaninya di ruang tunggu.” Ia beritahukan bahwa sekretarisnya, yang sedang bersama Daisy. Sejak dekat, lalu bertunangan, bisa dikatakan ini bukan yang pertama untuk Daisy datang ke kantornya. Namun, untuk pertama kali dia datang sendiri tanpa memberitahunya. “Dia sudah buat janji sebelumnya? Kok saya tidak diberitahukan, Gi?” Tanya Omara. Dante mengerutkan kening, sebelum Gian menjawab didahului oleh keheranannya “Daisy tunanganmu, harus buat janji temu juga?” “Ya, karena jam-jam kerja begini bisa jadi pas dia datang aku tidak dikantor kan?” Jawabnya santai, lalu ia bicara kembali pada asprinya. “Minta dia masuk, saya dan Dante bicara seriusnya sudah selesai.” Ucap Omara sambil melirik yang dimaksud. Gian mengangguk, segera pamit untuk menjemput dan mengarahkan tunangan bosnya. Sudah tinggal berdua, Dante bersandar sambil menatap ke arah Omara. “Pernikahan kalian tinggal menghitung minggu?” “Iya,” angguk Omara. “Yakin?” Omara tertawa mendengarnya, justru salah satu temannya yang tidak yakin terhadap keputusannya. “Daisy masih terlalu muda, Omara.” “Dia dua puluh satu, tahun ini. Usia legal untuk menikah.” “Masa depannya masih panjang,” “Masa depannya akan baik-baik saja setelah menjadi Nyonya muda Jagaraga. Dia menantu yang diharapkan oleh keluarga terutama Kakek tua itu. Dia yang akan memberiku keturunan berikutnya.” Jawabnya santai. Daisy sudah dikenalkan pada orang-orang terdekat dilingkup pertemanannya, walau belum pernah Omara ajak bersama mereka dalam waktu lama. Sehingga hanya kenal sekilas. “Aku mengenalmu, Omara... Ya, sebagaimana aku mengenalku di masa lalu sebelum seperti kehidupanku sekarang. Di antara teman-teman kita, aku merasa jika pernikahan belum benar-benar kamu inginkan. Aku turut berbahagia, jika memang kamu bersungguh-sungguh. Kukatakan ini, untuk kebaikanmu juga.” “Jika yang kamu khawatirkan aku tidak bisa berkomitmen, tenang saja aku tahu tidak akan macam-macam setelah menikah. Akan kuletakan kesetiaanku, di bawah kaki istriku nanti.” Jawabnya menyeringai, ia menoleh pada pintu. “Menerima perjodohan ini, bukan sebagai pelarianmu dari kabar pernikahan Aurelia kan?” Tanyanya hati-hati menyebutkan nama terlarang yang satu-satunya membuat Omara patah hati. Omara menatap Dante dingin, “jika memang ya, dia pelarian yang sempurna untuk membuat keluargaku dan Kakek tua itu tidak lagi berisik mengenai masa depan dan pendampingku.” Dante tidak lagi mengatakan apa-apa lagi. Tepat ia berdiri, pintu dibuka dan Daisy melangkah masuk mengikuti orang kepercayaan Omara. Pakaian gadis itu sangat mencerminkan usianya dan statusnya sebagai mahasiswi. Celana jeans, baju lengan panjang, dengan tas di bahunya lalu sepatu tanpa hak yang nyaman dikakinya. “Selamat siang, maaf kalau kedatanganku ditengah-tengah jam sibukmu.” Katanya dengan sopan. Omara mendekat, menyambutnya dengan tangan terbuka. Daisy melirik malu-malu sebelum akhirnya mendekat dan membiarkan pelukan serta ciuman di pipinya. “Kurasa aku pulang saja, urusan kita juga sudah selesai dan dapati kesepakatan.” Dante memilih pamit. Daisy menatap teman tunangannya, Dante yang sudah menikah bahkan memiliki tiga anak itu. Ia mengangguk sungkan, Omara menjauh sebentar. “Ya, salam pada istrimu Reema. Dante memberi anggukan. “Kamu tunggu di sini,” pinta Omara, mengusap kepalanya dengan lembut sebelum meninggalkannya. Daisy menatap setiap jengkal kantornya, kemudian berjalan menuju sofa dan duduk. Ia meletakan tasnya di sisi kanan. Omara mengantar Dante, diikuti asistennya. Daisy menarik napas dalam-dalam, memutuskan berdiri untuk menuju dinding kaca besar yang menunjukkan pemandangan dari lantai atas gedung ini. Ia mendengar saat suara langkah mendekat, Omara kembali sambil melepas dasi dan jasnya. Ia letakan di dekat sofa sebelum menawari, “mau minum apa, sayang?” Daisy masih tidak menoleh, matanya terpaku pada pemandangan di sana. “Daisy...” panggilnya sebab tunangannya tidak menjawab. “Aku datang untuk diskusi, mungkin saja kamu menyetujui permintaanku.” Omara jadi enggan mengambilkan minum, ia kembali menatap tunangannya. Omara mendekat perlahan, turut berdiri di belakangnya dan Daisy otomatis mundur untuk bersandar saat merasakan pelukan tangan itu menyapa tubuhnya. “Apa yang ingin kamu diskusikan? Mengenai tugas akhirmu? Butuh bantuanku?” Daisy tersenyum, merasakan usapan lembut saat Omara menyingkirkan rambutnya ke satu sisi agar ia bebas memberi ciuman di sana. “Mas, kita di kantormu—“ “Aku sudah minta Gian dan Lulu tidak mengganggu selama ada kamu di sini.” Daisy bersedekap, “tapi untuk bertemu kamu, harus buat janji dulu dengan orang-orangmu.” Dengan nada protesnya. Omara terkekeh kecil, mencium bahunya. “Aku sibuk, Bee...” Panggilan sayang Omara untuknya banyak sekali, kadang sayang, Sweety lalu Bee. Daisy tidak ada permintaan khusus untuk semuanya. “Jadi apa yang ingin kamu diskusikan?” Daisy tahu permintaannya ini terlalu mendadak, apalagi pernikahan mereka sudah ditetapkan. “Mas, kalau pernikahan kita diundur sehabis wisudaku saja bagaimana? Aku tahu ini terlalu tiba-tiba saat persiapannya sudah hampir selesai. Aku tidak berani buat bilang ke orang tuaku dulu, makanya berani bilang ke kamu.” Ujar Daisy dengan ragu, bahkan masih diposisi yang sama. Hening. Daisy bisa merasakan detak jantung Omara di punggungnya. Pria itu menarik diri perlahan, dan Daisy langsung merasa kehilangan kehangatan. Ia berbalik, menatap Omara lekat. Omara tampak tenang, terlalu tenang, hingga Daisy tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. “Kamu maunya dimundurkan?” tanya Omara sambil meraih tangan Daisy, mengusap cincin berlian di sana. “Aku bisa menuruti permintaanmu, Daisy. Tapi bagaimana dengan keluarga kita? Undangan sudah siap untuk dibagikan. Kakekmu... kamu tahu betapa dia menantikan ini.” “Iya, aku tahu... maka dari itu, aku pilih menemuimu lebih dulu untuk diskusi bagaimana baiknya?” Tepat, ponsel Omara di atas meja bergetar. “Tunggu sebentar, aku dapat telepon penting,” ucapnya membuat pembicaraan tertunda. Daisy memperhatikan Omara yang bicara di telepon yang mengambil jarak darinya. Ia tidak tahu bahwa saat itu Omara sedang memberikan sinyal implisit melalui pesan pada asistennya. Omara kembali mendekati Daisy, wajahnya tampak lebih lembut, seolah ia mengerti ketakutan tunangannya. “Pernikahan tidak akan jadi penghalangmu, Bee. Aku pastikan saat kamu sudah menjadi istriku, kamu tetap punya kebebasan untuk selesaikan kuliahmu,” ucap Omara lembut. Ia meraih wajah Daisy, menatap matanya dengan tatapan yang menghipnotis. Mereka kini sudah sama-sama duduk di sofa. Posisi bersisihan. Sebelum Daisy sempat membantah, Omara sudah memangkas jarak, lalu membungkam bibirnya. Ciuman itu awalnya lembut, sebuah rayuan yang menenangkan, namun perlahan berubah menjadi tuntutan. Omara menarik Daisy ke pangkuannya di sofa besar itu. Daisy yang awalnya ragu, mulai terhanyut. Pengalaman Omara membuat Daisy yang polos kehilangan kendali atas logikanya. Tangan Omara bergerak lihai, membuka kancing baju Daisy satu per satu hingga bahunya terekspos. Erangan manja lolos dari bibir Daisy saat Omara memberikan tanda di lehernya. Di ruangan kedap suara itu, Daisy merasa mereka aman hingga tidak merasa waswas. Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. “Daisy? Kamu ada di sini...?” Suara itu seperti petir di siang bolong. Daisy tersentak, hampir terjatuh dari pangkuan Omara jika pria itu tidak mendekapnya erat. Di ambang pintu, berdiri dua pria paruh baya dengan wajah kaku yakni Raiden Hyuga Sangaji dan Dierja Oman Jagaraga. Papanya dan Ayah dari Omara. Pemandangan di depan mereka sangat tidak pantas. Putri kesayangan Raiden duduk di pangkuan tunangannya dengan pakaian yang sudah acak-acakan di tengah hari bolong. “Omara! Apa-apaan ini?!” Dierja menegur, wajahnya memerah padam antara marah dan malu. “Daisy, Papa tidak menyangka kamu seliar ini di kantor tunanganmu!” Tambah Raider. Daisy gemetar hebat. Ia berusaha merapikan pakaiannya dengan tangan yang lunglai, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang terlihat, tapi bagaimana bisa? Posisinya di pangkuan Omara sudah menjelaskan segalanya bagi mata orang tua. Omara tetap tenang. Ia menarik Daisy ke dalam pelukannya, menutupi bahu tunangannya yang terbuka dengan telapak tangannya yang lebar. “Kami akan bicara dengan kalian, tapi beri waktu untuk merapikan pakaian Daisy,” ucap Omara dengan nada berwibawa, seolah ia adalah pelindung Daisy di tengah amukan Papanya. Setelah kedua orang tua itu berbalik dan menunggu di luar dengan kemarahan yang meluap, Daisy terisak kecil di d**a Omara. “Bagaimana ada Papaku di sini bersama Papa Dierja?” lirihnya hancur. “Ini bencana, Mas... Apa yang mereka pikirkan tentang kita berdua sekarang?” Omara mengusap rambut Daisy, memberikan senyum yang tampak prihatin. Ia tahu betul asistennya tidak akan membiarkan siapa pun masuk kecuali orang-orang yang memang tidak bisa dihentikan seperti para orang tua ini. “Aku juga terkejut, Sayang...” bisik Omara, suaranya terdengar sangat tulus di telinga Daisy yang sedang panik. “Penjelasan kita akan percuma sekarang. Mereka akan lebih memercayai apa yang mereka lihat. Jika sudah begini, keinginanmu untuk memundurkan tanggal pernikahan... itu sudah mustahil.” Daisy hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Omara. Ia tidak menyadari seringai kecil yang tersungging di bibir calon suaminya. Daisy datang untuk meminta kebebasan sementara, namun ia justru memberikan Omara alasan sempurna untuk mempercepat segalanya. Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk menunda. Pernikahan ini akan terjadi lebih cepat, dan Daisy baru saja mengunci pintunya sendiri dari dalam ikatan bersama Omara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD