“Wanginya sedap sekali, Mama jadi lapar ini. Masaknya pasti karena tulus buat calon suami!” pujian yang membuat Daisy menoleh sambil memegang sendok sup, memasukkannya ke tempat makanan.
“Aku buat lebih ini, Ma.” Ucap Daisy bersemangat.
Jadi putri satu-satunya dan bungsu, meski manja, Daisy bisa melakukan beberapa perkerjaan rumah sekali pun ada pekerja. Terutama memasak dan buat kue, Daisy menyukainya. Dulu dia sangat ingin kuliah mengambil jurusan tata boga, tapi Papa lebih menyetujuinya mendalami bisnis.
“Nanti Mama siapkan buat Opa saja.” Beritahunya, menatap putrinya juga memotong buah-buahan kemudian memasukkan ke tempat yang berbeda.
“Belajar jadi istri yang baik ya, urus suami. Omara pasti makin sayang kamu kalau begini.” Puji Mamanya.
Pipi Daisy merona mendengarnya, “aku siap-siap dulu, Ma.”
“Nyetir sendiri?”
“Iya menyetir sendiri saja, Mas Omara selain lagi sibuk... tadi pagi pas angkat teleponku suaranya serak. Kayak mau flu, makanya aku buatkan sup hangat.”
“Ya sudah sana, siap-siap. Pulangnya jangan sampai malam ya, Papamu nanti cemas.”
Daisy mengangguk, sambil merapikan makanannya ke dalam satu tas agar mudah dibawa. Sejujurnya setelah kejadian tertangkap basah Papa dan calon mertuanya dikantor Omara, Papa agak ketat mengenai dirinya pergi dengan Omara. Papa selalu mengingatkan jika mereka belum menikah dengan resmi, sekali pun statusnya sudah bertunangan dan tinggal menunggu waktu pernikahan.
Saat diinterogasi, Omara tenang dan berjanji tidak akan melanggar batasan sebelum pernikahan mereka. Papa tetap tidak bisa tenang.
Daisy bersiap, tidak lupa mengambil Daima juga memasukkannya ke tempat khusus untuk berpergian. Ia mengambil untuk makan kucing itu juga selama di rumah Omara.
“Kita jenguk Daddy ya, Dai. Daddy enggak bilang lagi sakit, tapi suaranya serak banget pagi tadi!” ceritanya.
“Meeeow!” Respons Daima yang hanya mengeong.
Daisy tersenyum, “hanya main, Dai. Mommy enggak akan tinggalkan kamu sama Daddy yang sibuk. Nanti kamu kurang diurus jadi kurus dan jelek.” Ia bawa tempat berisi Daima yang mulai tenang.
Bersiap menuju rumah yang ditempati calon suaminya. Ya, Omara memang sudah lama tinggal terpisah dari rumah keluarganya. Rumah besar, ada juga apartemen. Tapi, belakangan lebih banyak di rumah yang nantinya akan jadi rumah mereka juga setelah menikah. Daisy akan dibawa pindah ke sana.
Persiapan pernikahan berjalan, bahkan Daisy diminta untuk fokus pada persiapan pernikahan dan setelah itu barulah kembali fokus pada tugas akhirnya. Setiap hari pembicaraan kini beralih pada dekorasi, wedding dress-nya, undangan fisik maupun digital dan daftar tamu yang panjangnya mencapai ribuan nama mengingat penyatuan dua keluarga mereka yang sudah terlanjur bocor ke publik.
Catur Aji Jagaraga, keluarga Omara memang masih memiliki daya tarik istimewa dalam pembicaraan publik.
Beberapa waktu lalu, saat Omara pertama kali mempublikasikan foto mesra sedang memeluknya di sebuah kapal saat berlibur. Berita mereka langsung naik dan pernikahan mereka termasuk yang paling ditunggu.
Di balik hubungannya dengan Omara dan segala persiapan pernikahan, Daisy merasa identitasnya perlahan terkikis. Ia bukan lagi mahasiswi tingkat akhir yang berambisi menyelesaikan tugas akhir. Lebih sebagai ‘Calon Nyonya Muda Jagaraga’, sebuah gelar yang terasa lebih berat daripada namanya sendiri.
Pernikahan yang mereka jalani sungguhan, tidak ada perjanjian aneh-aneh walau dijodohkan. Namun, ya tetap membuat perjanjian pra-nikah, atas kesepakatan yang diketahui keluarga juga. Isinya sangat detail, mulai dari pembagian harta hingga pasal-pasal mengenai tanggung jawab rumah tangga setelah mereka menikah.
Sambil mengingat semua yang sudah dijalani sejauh ini, mobilnya berhenti depan gerbang tinggi. Ia membuka sedikit kaca mobil, menunjukkan wajahnya pada kamera di dekat gerbang. Tidak lama gerbang bergeser otomatis, Daisy pun melajukan mobilnya lagi.
Ia menatap rumah dua tingkat yang luas, terawat. Ada tiga pekerja pengurus rumah, yang sudah mulai Daisy hafal nama-namanya.
Hanya hitungan minggu, setelah pernikahan rumah ini akan jadi rumahnya juga.
Daisy turun dari mobil sambil menenteng tas bekal yang masih terasa hangat di telapak tangannya. Harum sup ayam jahe buatannya sendiri menguar tipis.
Namun, kejutan menyambutnya saat ia melangkah menuju area belakang sesuai arahan asisten rumah tangga tadi yang membukakan pintu untuknya. Ia meminta sup dan makanan lain disiapkan.
Bukannya menemukan pria yang terbaring lemah di ranjang dengan kompres, ia justru melihat air kolam renang yang berkecamuk. Omara ada di sana. Berenang dengan balikan yang kuat dan cepat, membelah air seolah sedang membuang seluruh racun pesta semalam dari tubuhnya. Ya, alasan sesungguhnya yang tidak Daisy ketahui asal suaranya serak pagi tadi.
Daisy berhenti di tepi kolam yang posisinya sedikit lebih tinggi dari halaman. Dress putih bermotif bunga biru yang ia kenakan tertiup angin pagi, menciptakan siluet yang sangat kontras dengan d******i warna biru kolam dan dinding batu alam.
“Mas Omara...” panggil Daisy lirih.
Omara berhenti. Ia berbalik, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyisir rambutnya ke belakang. Matanya yang tajam dan sedikit merah karena kurang tidur langsung terkunci pada Daisy. Ada jeda sesaat di mana Omara hanya diam, memandangi tunangannya seolah Daisy adalah pemandangan yang paling tidak ia duga, namun sangat ia inginkan. Ia sudah tahu Daisy akan datang, karena memang hari libur ini momen mereka berdua.
“Daima ikut?” suara Omara terdengar berat, lebih maskulin daripada biasanya karena sisa serak yang belum hilang sepenuhnya.
Daisy berjongkok di tepi kolam, tidak peduli ujung dressnya sedikit menyentuh lantai yang lembap. “Iya, Daima kangen Daddy-nya. Aku pikir kamu sakit, Mas. Suaramu serak sekali tadi pagi.”
“Oh, itu... mungkin karena baru bangun pas kamu telepon tadi,” bohong Omara dengan mulus. Ia berenang mendekat, memosisikan dirinya tepat di depan lutut Daisy.
Daisy yang polos menyentuh dahi Omara, memastikan suhu tubuh pria itu. “Iya, tidak demam. Aku sudah terlanjur buatkan sup hangat dan sarapan lainnya.”
“Aku belum sarapan, Bee... Nanti pasti kumakan habis,” ucap Omara, tangannya kini bertumpu pada tepian kolam, menatap Daisy dengan intensitas yang membuat pipi gadis itu merona. “Simpan tasmu di kursi. Dan lepaskan Daima.”
“Mas...”
“Temani aku di sini. I think you owe me a morning kiss, Bee... Jika kamu tidak mendekat, aku yang akan naik ke sana dan memaksamu dengan tubuh basah ini.”
Daisy menghela napas, menyerah pada pesona tunangannya. Ia menurunkan Daima yang langsung melesat menjauh ke arah taman, mungkin trauma melihat air. Daisy meletakkan tasnya, lalu kembali berjongkok. Ia menurunkan kakinya ke dalam air kolam yang sejuk, merasakan sensasi kontras dengan kulitnya yang hangat.
“Jangan tarik aku ya, aku tidak bawa baju lain kalau basah.”
“Ada beberapa pakaian yang akan cocok untukmu,” jawabnya ringan.
“Mas!”
“Sudah sini, Sweety!” pinta Omara.
Daisy membungkuk, tangannya yang basah mengusap pipi Omara yang dingin karena air. Ia menatap wajah tampan itu, merasa beruntung sekaligus takut akan d******i yang terpancar dari sana. Saat bibir mereka bertemu, Daisy hanya bermaksud memberikan ciuman singkat sebagai tanda sapaan.
Namun, Omara punya rencana lain.
Tangan Omara yang besar dan basah tiba-tiba mencengkeram tengkuk Daisy, sementara tangan lainnya melingkar kuat di pinggang ramping gadis itu. Dalam satu gerakan sentakan yang kuat, Daisy kehilangan keseimbangan.
Daisy memekik saat tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan Omara di dalam air. Dress putih tipisnya seketika melekat erat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan dengan sopan.
“Mas! Bajuku basah semua!” Daisy memprotes, napasnya tersengal karena terkejut. Tapi Omara tidak memberi ruang untuk protes lebih lanjut. Ia mendesak Daisy ke dinding kolam, membawa kaki Daisy untuk melingkar di pinggangnya agar gadis itu tidak tenggelam. Omara membungkam bibir Daisy dengan ciuman yang jauh lebih rakus, lebih haus, seolah ia ingin menghisap seluruh rasa manis dari tunangannya.
“Mmppth... Mas...” Daisy meremas bahu basah Omara, kepalanya terasa berputar.
Ciuman itu baru terlepas saat Daisy benar-benar kehabisan napas. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Omara menatap bibir Daisy yang membengkak kemerahan, lalu beralih ke lehernya yang basah.
“Aku mendapatkan dessert yang sangat manis sebagai pembuka breakfast-ku hari ini, It tastes really good, Sweety.” Bisik Omara serak. Ia menunduk, menciumi leher Daisy, memberikan tanda yang samar di sana.
Daisy memejamkan mata, membiarkan dirinya terhanyut. Ia merasa dicintai, ia merasa diinginkan. Ia tidak tahu bahwa bagi Omara, ciuman ini bukan sekadar romansa pagi. Ini adalah cara Omara menutupi rasa bersalahnya karena baru saja pulang dari pesta, dan cara dia untuk memastikan bahwa Daisy tetap berada dalam kendalinya.
“Kamu nakal, Mas!” lirih Daisy sambil menyandarkan kepalanya di bahu Omara.
“Hanya padamu, Bee. Hanya padamu,” sahut Omara, tersenyum tipis di balik bahu Daisy. Ia menatap ke arah pintu rumah, memastikan tidak ada asisten rumah tangga yang melihat.
Di dalam hatinya, Omara merasa puas. Daisy begitu mudah dipikat, begitu mudah dibuat luluh hanya dengan satu tarikan ke dalam kolam. Ia akan menjadikan pernikahan ini sesuai dengan keinginannya, di mana Daisy tetap menjadi gadis manis yang melayaninya, sementara dia tetap memegang kunci atas seluruh privasi dan masa lalunya serta alasan menikahinya yang tak perlu wanita ini tahu.
“Mas udah!” Daisy menjerit saat Omara menariknya hingga makin ke tengah-tengah kolam. Tawa lepas perempuan itu menggema di halaman rumah yang kelak akan mereka tempati bersama-sama.
"Baru dimulai sayang, jangan buru-buru mau selesai..." Ucapnya.