E I G H T E E N T H ; Ypóschesi (Promise)

1872 Words
“Hm? Apa ini sungguh ada?” Gumam Elica sambil membalikkan lembaran yang baru. “Ardea Herodias? Jadi nama bangau yang cantik ini adalah Ardea Herodias?” Tanyanya kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba Elica menutup buku itu. Ia tersenyum sambil menggenggam buku yang terlihat sedikit tua. “Buku ini sangat berguna. Aku akan membacanya lagi nanti.” Gumamnya lalu menyimpan buku tersebut diatas nakas. Ia memperhatikan dirinya sekali lagi di cermin sambil tersenyum. Tadi, Kendrick memberikannya sebuah buku tua yang berisi informasi dan nama-nama dari bunga, tanaman herbal, dan hewan-hewan langka yang ada di dunia ini. Elica yang sempat membacanya sebagian pun beberapa kali berdecak kagum. Walaupun tak disertai gambar, tetapi penjelasan yang berada di buku tersebut cukup untuk membuatnya mengerti dan tahu. Elica membuka pintu dan keluar dari ruang kamarnya. Ia menatap sekitar lorong yang sepi. Hanya berisi beberapa penjaga yang Kendrick tempatkan disana. Elica berjalan menuju lantai bawah. Tepat saat ia menginjakkan kakinya di lantai bawah, seorang pelayan melewatinya yang dengan cepat langsung ditahan oleh Elica. “Aku ingin bertanya...” Pelayan itu langsung menunduk gugup. “Hormat pada Putri. Maafkan hamba yang tak melihat kehadiran Putri.” Elica mengibaskan tangannya pelan. “Tak perlu sekaku itu padaku. Ah, bisakah kau mengantarkanku dimana tempat Keㅡ maksudku Yang Mulia Lord?” Pelayan itu mengangguk ragu. “Tapi Putri...” Pelayan itu tak meneruskan perkataannya membuat Elica mengernyit heran. “Kenapa?” “Mm, Maaf Putri. Yang hamba tahu, sekarang Yang Mulia Lord sedang mengadakan pertemuan bersama para tetua.” Katanya membuat Elica mengangguk mengerti. “Baiklah. Antarkan aku ke tempatnya.” Kata Elica membuat pelayan itu mengangguk patuh. Pelayan itu berjalan didepan Elica, menuntunnya. Berjalan ketempat yang sebelumnya tak pernah dilewatinya. Ia harus melewati lorong-lorong panjang, melewati jembatan yang menghubungkan kastil yang ditempatinya ke bangunan yang lain, hingga mereka berhenti didepan sebuah pintu yang sangat besar. Elica mengingat-ngingat. Selama dirinya disini, ia tak pernah menemukan tempat ini. Dan tempat apa ini? Kenapa ia tak pernah mengetahuinya? Ah iya. Kastil ini sangat besar dan luas. Ia hanya berkeliling disekitar kastil bagian timur dan barat, dan tempat-tempat yang selalu ia kunjungi hanyalah taman dan danau. Tak lebih. Mungkin saja ada tempat lain dibagian kastil ini yang belum ia lihat. Contohnya istana ini. Jika bisa menebak, Elica tebak jika istana ini adalah istana utama. Karena kerajaan ini terbagi menjadi beberapa bangunan yang sangat luas dan berbeda fungsi. Prajurit yang berjaga menunduk hormat. Elica langsung menempatkan jari telunjuknya didepan bibir agar prajurit-prajurit itu tak mengeluarkan suaranya. Perlahan Elica mendekati pintu besar itu. Membukanya sedikit lalu mengintip apa yang sedang terjadi disana. Yang bisa ia lihat, sebuah ruangan yang sangat besar, permadani berwarna merah tergeletak dari pintu besar utama sampai ke singgasana didepan sana. Untuk naik ke singgasana itu pun harus menaiki beberapa anak tangga karena letaknya yang tinggi. Beberapa orang ada didalam sana. Dilihat dari penampilan mereka, mereka sudah sangat tua. Mengingat pelayan itu mengatakan Kendrick sedang rapat bersama para tetua, Elica menebak jika orang-orang tersebut adalah tetua-tetua yang dimaksud. Di singgasana yang tampak mewah dan berkelas, seorang pria berjubah duduk disana dengan wajah dinginnya. Elica yang melihat itu pun tersenyum tipis. Pasti itu Kendrick. “Maaf mengatakan ini Yang Mulia. Tetapi wanita itu hanyalah seorang manusia. Dan itu pun bukan berasal dari dunia kita.” Samar-samar, suara dari salah satu tetua terdengar menggema di ruangan itu. Elica semakin mendekatkan telinganya ke pintu. Katakanlah ia menguping, tetapi ia sangat penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan. Mendengar kata manusia, Elica sedikit berdebar. Siapa yang sedang mereka bicarakan? “Lalu?” Suara dingin dan datar Kendrick terdengar. Tetua berambut putih itu menunduk. “Menurut hamba, wanita itu bukanlah Mate Anda yang sebenarnya. Dia sangat lemah, bagaimana mungkin seorang Mate dari Yang Mulia Lord tak memiliki kekuatan yang kuat seperti Anda? Hamba mohon untuk mempertimbangkan ini sekali lagi Yang Mulia.” “Benar Yang Mulia.” Seorang tetua dengan tubuh tegap dan kurus maju selangkah. “Hamba setuju dengan apa yang dikatakan tetua Liao. Mengingat Putri Elica yang diculik tempo lalu, Putri Elica hanya akan membebankan Yang Mulia kedepannya. Tak ada yang spesial darinya, berbeda dari apa yang di ramalkan dalam bukuㅡ” “Lalu apa masalahnya?” Kendrick berdiri dari singgasananya. Ia menuruni tangga. Ia berjalan mondar mandir dihadapan para tetua tersebut tanpa berkata lebih. “Yang Mulia... hamba berharap Yang Mulia bisa mempertimbangkannya sekali lagi sebelum pengangkatan dan peresmian Queen.” Kata tetua berambut putih itu lagi, yang diketahui bernama Tetua Liao. Rahang Kendrick mengeras. “Kau ingin mengaturku?!” Desisnya membuat para tetua itu terserentak kaget lalu menunduk semakin dalam. Kendrick melangkah mendekati tetua itu, “Kau tahu? Aku sangat tak suka diatur.” Tetua itu menunduk dalam. “M-maafkan hamba Yang Mulia. Tapiㅡ” “Matilah. Aku tak menginginkan seseorang yang menentangku.” Potong Kendrick dingin. Tetua itu melebarkan matanya dan tiba-tiba menyemburkan darah segar. Ia memegang dadanya lalu ambruk kebawah. Para tetua lainnya yang melihat itu menutup mulutnya rapat. Kendrick menatap semua tetua itu tajam. “Siapa lagi yang ingin menentangku?” pandangan Kendrick terhenti disalah satu tetua yang sedari tadi berkeringat dingin. “Kau yang tadi sependapat dengannya bukan?” Tubuh tetua itu langsung menegang mendengar itu. Brukk Tetua itu bertekuk lutut dengan kepala yang menyentuh lantai. Tetua itu menutup matanya erat dengan ketakutan yang sangat besar menyelimutinya. “Maafkan hamba Yang Mulia Lord, hamba mohon.” Pintanya dengan suara yang bergetar. Kendrick menatapnya datar. Lalu beralih pada pintu yang sedikit terbuka. Elica yang merasa jika Kendrick mengetahui keberadaannya karena menatap kearah pintu pun mundur beberapa langkah. Ia melangkah pergi dari sana dengan jantung yang sedikit berdegup kencang. Setelah merasakan Elica telah pergi, Kendrick kembali menatap tetua yang masih bersujud itu. “Demi Queenku, aku akan membiarkanmu kali ini.” Katanya dingin. “Jika ada yang mengatai Queenku sepertinya,” Kendrick menatap tubuh Tetua Liao yang sudah tak bernyawa, “Aku tak akan membiarkannya hidup lebih lama lagi.” Sambungnya lalu melangkah keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan kumpulan Tetua yang diam dalam ketakutan dan suasana yang tegang. Ia melangkah lebar menuju sebuah ruangan. Membuka pintu tersebut dan masuk kedalamnya. Matanya langsung menangkap sosok wanita yang memunggunginya sedang berdiri didekat jendela. Kendrick tersenyum tipis sambil melangkah mendekat. Tangannya terulur melingkar pada pinggang wanita itu dari belakang dengan dagu yang ia tempatkan pada pundak wanita itu. Bisa dirasakannya tubuh wanita itu yang menegang. Bahkan jantung wanita itu yang berdebar cepat bisa didengarnya. Kendrick menghirup aroma Elica, “Kau mengganti aromamu?” Elica melirik Kendrick, “Ya. Apa kau tak menyukainya?” “Tentu saja tidak. Aku selalu menyukai aromamu apa pun itu. Karena aromamu yang selalu kurasakan hanya beraroma manis. Jadi walau kau mengubahnya, tak akan berpengaruh padaku.” Kata Kendrick sambil tersenyum dan mencium sekilas pundak Elica yang terbuka. Membuat Elica sedikit terserentak kaget. “Jangan lakukan itu!” Seru Elica kesal. “Kenapa?” “Karena... karena...” Elica memutar otaknya untuk menjawab. Ia bingung ingin menjawab apa kali ini. Dengan cepat ia melepaskan tangan Kendrick yang melingkar di pinggangnya lalu berbalik menatap Kendrick. “Apa aku begitu merepotkanmu?” Tanya Elica menatap Kendrick sendu. Kendrick merapikan anak rambut Elica yang sedikit berantakan. Tatapannya selalu lembut jika bersama Elica. “Tentu saja tidak. Memangnya ada yang memberitahumu seperti itu?” Elica mengernyit. Jadi Kendrick tak tahu jika ia tadi menguping? Baguslah. Pikirnya. Dengan cepat Elica menggeleng. Ia menatap Kendrick sambil tersenyum tipis. “Kukira aku sudah merepotkanmu.” “Jadi ini yang mengganggumu?” Elica mengangguk. Kendrick menarik tangan Elica untuk duduk dipinggir ranjang. Ia memegang kedua tangan Elica dengan tatapan yang tak terlepas dari wanita itu. “Ingin melakukan sebuah perjanjian? Perjanjian untuk selalu bersama.” Tanya Kendrick membuat Elica menatapnya penuh tanya. Kendrick tersenyum. “Perjanjian ini membutuhkan darah dari kedua pihak. Sebenarnya perjanjian ini dilakukan saat hari dimana peresmianmu menjadi Ratu. Tetapi ini hanya bagian kecil darinya. Dan ini dinamakan διαθήκη αίματος.” “Bagaimana melakukannya?” “Hanya perlu melukai tanganmu dan menyatukannya dengan lukaku.” Kata Kendrick membuat Elica menaikkan satu alisnya. “Hanya itu?” Kendrick mengangguk. “Ya. Ingin melakukannya?” Elica mengangguk membuat Kendrick menyeringai. Elica menggores telapak tangannya cukup dalam, membuat segumpal darah segar keluar dari luka goresan itu. Elica meringis pelan lalu menatap Kendrick. Kendrick menyatukan telapak tangannya yang sebelumnya  ia gores pada telapak tangan Elica. Kendrick menggenggam erat tangan dengan jemarinya yang terpaut erat pada jemari Elica dan menatap telapak tangan mereka yang menyatu sambil bergumam pelan. “Εγώ, Harold Kendrick, υποσχέθηκε να είναι μαζί και την αγάπη Mate μου, Vionetta Cathalina Elica. Θα είμαστε πάντα μαζί για τις επόμενες μέρες. Αν έχω σπάσει την υπόσχεσή μου, εγώ θα παραδώσει την ψυχή και τη ζωή, και στην επόμενη ζωή, δεν μπορούσα να βρω την ευτυχία. Θα είμαστε πάντα μαζί και να αγαπούν ο ένας τον άλλο για πάντα.” Sinar berwarna hitam dan putih mengelilingi telapak tangan mereka yang bersatu. Setelah sinar tersebut hilang, Kendrick melepas tautan jemari mereka dan beralih mengelus telapak tangan Elica lembut. “Apa sudah selesai?” Tanya Elica membuat Kendrick mengangguk. “Mm... Bolehkah aku bertanya?” Kendrick mengangguk lagi, membuat Elica kembali melayangkan pertanyaan. “Apa yang kau gumamkan tadi? Dan bahasa apa itu?” “Itulah perjanjiannya. Bahasa yang kugunakan akan kau mengerti nanti.” Elica mengangguk pasrah. “Lalu sekarang apa yang bisa kulakukan? Aku sangat bosan sekarang.” Kata Elica sambil menghela napasnya. Ia menatap telapak tangannya dan langsung menatap Kendrick heran. “Kemana luka goresan tadi pergi?” “Aku menghilangkannya.” Jawab Kendrick lalu terkekeh pelan melihat Elica yang membolak-balikkan tangannya untuk mencari luka tersebut. 'Mungkin saja nyasar di tubuhku yang lainnya.' Batin Elica. “Apa yang sedang kau cari?” “Luka. Mungkin saja luka itu nyasar ditempat yang lain.” Jawab Elica membuat Kendrick tergelak pelan. “Tentu saja itu tak mungkin terjadi. Sudahlah. Besok aku akan mengajakmu berjalan-jalan diluar kerajaan.” Perkataan Kendrick itu membuat Elica langsung mendongak menatapnya berbinar. “Kau bersungguh-sungguh bukan?” Tanya Elica semangat yang diangguki Kendrick. Elica memekik senang lalu memeluk Kendrick membuat Kendrick terkekeh. “Jika mengajakmu berjalan-jalan bisa membuatmu terus memelukku, aku akan melakukannya selalu.” Gumamnya sambil tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD