S E V E N T E E N T H ; Dark and Sweet

1379 Words
Pria itu menyeringai. Menatap seseorang yang diikat dengan rantai tajam. Semua orang yang berada disana menunduk dalam dan diam-diam bergidik ngeri karena sedari tadi merasakan aura yang sangat mengerikan dari pria itu. “PUTRI PENOLONGKU AKAN MENGHANCURKANMU! CAMKAN ITU!” Kendrick terkekeh sinis. “Benarkah? Kalau begitu, bisakah kau memanggilkannya untukku?” Tanyanya dingin. Matanya semakin merah pekat. Membuat pria tua dihadapannya merinding tatkala melihat itu. Yuwirxn menyadari jika ia telah membuat perbuatan yang menjerumus ke sesuatu yang mengerikan. Lebih baik ia mati saat itu juga di penjara kaum manusia, dari pada menerima tawaran orang itu. Ia telah masuk ke sarang iblis. Yuwirxn akhirnya sadar mengapa semua makhluk di dunia ini begitu menyembah dan menakuti orang yang berada didepannya. “Heh? Dimana keberanianmu yang tadi?” Tanya Kendrick lagi melihat Yuwirxn yang masih bergeming. Kendrick berjalan memutari tubuh pria itu yang berlumuran darah dan luka. “Tetap pada pendirianmu? Apa aku harus menggunakan sedikit kekerasan agar kau mau membuka mulut?” Kendrick berhenti didepan Yuwirxn. Ia menatap dingin pria tua itu dengan tatapan sinis. “Hancur.” Tiba-tiba Yuwirxn menyemburkan darah segar dari mulutnya. Dadanya terasa sakit, seperti ada yang menikamnya. Hanya satu kata yang keluar dari bibir Kendrick mampu membuatnya seperti ini. Kini Yuwirxn sangat menyesal berurusan dengan iblis ini. “Dasar kau iblis! LEPASKAN AKU!!” Tawaan menggema didalam ruangan itu. Para prajurit yang ada disana semakin menunduk. Aura dan tekanan yang diberikan Kendrick sangat kuat. Kendrick kembali menatap Yuwirxn dengan seringaian lebar. “HANCURKAN!” “ARGHHH!!!” Didalam tubuh Yuwirxn terasa panas dan sakit. Ia memuntahkan darah yang banyak. Tubuh luarnya pun muncul cakaran yang sangat dalam layaknya tercabik oleh binatang buas. Tawaan kembali menggema. “Ya! Aku adalah iblis! Dan iblis ini tak akan membiarkan sampah tak berguna sepertimu terus hidup.” Suara teriakan menggema tak kalah kerasnya dari tawa Kendrick. Rasa sakit yang terus dirasakannya membuat Yuwirxn terus berteriak kesakitan. “Aku suka teriakanmu. Berteriaklah lebih kencang!” Kata Kendrick dengan tajam. Seolah mendapatkan titah, rasa sakit ditubuh Yuwirxn semakin terasa. Baik diluar atau didalam tubuhnya, seperti tercabik-cabik. Yuwirxn mendongak keatas dengan mulut yang terbuka, lalu memekik dengan sangat keras. “ARGHHHHHH!” Kendrick menatap datar tubuh Yuwirxn yang sudah jatuh dan tergeletak mengenaskan. Ia berbalik dan menyibakkan jubah hitamnya. “Bereskan mayatnya. Aku tak ingin darah kotornya masih tercium olehku.” Titahnya lalu melangkah pergi. “Akan saya laksanakan, Lord.” Kata Alfred sambil membungkuk lalu menatap tubuh Yuwirxn yang sangat mengenaskan. Bahkan prajurit-prajurit yang ada disana tak berani untuk mengangkat wajah mereka walaupun Lord mereka sudah pergi. Alfred menghela napas pelan. “Bersihkan ruangan ini! Jangan sampai darahnya masih membekas dan tercium jika kalian tak ingin bernasib sama sepertinya.” Prajurit-prajurit itu menegakkan tubuhnya lalu berseru lantang, “Baik!” Alfred menatap datar tubuh Yuwirxn. “Beginilah risikonya jika berurusan dengan Yang Mulia Lord.” Batinnya. *** Taman, bagian barat Kerajaan Altissimo. Semilir angin menghembus pelan wajahnya. Wajahnya terlihat sumringah menatap bunga-bunga yang bermekaran. Ia merunduk, menghirup aroma bunga-bunga yang berbeda-beda warna. Senyuman manis pun tak luput dari bibirnya. Entah hari ini yang begitu menyenangkan, atau perasaannya yang sedang baik, Elica tak berhenti untuk tidak tersenyum. Perasaan ini sangat jarang dirasakannya. Seperti pertama kali ia melihat dunia luar bersama Kendrick. Begitulah perasaannya saat ini. Tetapi bedanya, hatinya seperti berbunga-bunga. Entah kenapa. Elica berbalik, membuat rambut panjangnya berterbangan dengan indah. Ia menyentuh kelopak-kelopak bunga. Lalu berjalan beberapa langkah. Hari yang cerah. Elica mendongak menatap langit yang biru lalu kembali melirik bunga-bunga indah yang baru dilihatnya. “Kau suka?” Bisikan itu sukses membuat Elica mematung. Suara yang serak dan dalam. Deru napasnya mengenai kulit lehernya, membuat sensasi geli sekaligus merinding. Elica berbalik. Menatap pria yang juga menatapnya dengan lembut. Senyuman Elica langsung kembali muncul melihat orang yang sedari tadi ditunggunya. “Akhirnya kau muncul.” Katanya sambil sedikit memiringkan kepalanya, diselingi kekehan kecil. Elica kembali berbalik. Menatap bunga-bunga yang berbeda warna. Setahunya, bunga-bunga ini adalah bunga anggrek. “Apa kau mengubah taman ini?” Tanya Elica sambil memerhatikan bunga-bunga itu. Sangat indah. Bahkan jenis-jenis bunga di taman ini bertambah dari yang sebelumnya. Ada beberapa jenis bunga yang ditambah. Dan bunga-bunga anggrek yang tak hanya satu warna inilah yang menarik perhatiannya. “Hm. Karena kau terlihat sangat menyukai taman ini, aku menyuruh para Fairy mengurusnya untukmu.” Kendrick mendekati sebuah bunga, “Ini coelogyne pandurata.” Kendrick menatap anggrek berwarna hitam, membuat perhatian Elica pun teralih. Ia akui, bunga ini juga tak kalah cantik, walaupun berwarna hitam. “Lalu ini?” Tanya Elica sambil menunjuk anggrek berwarna jingga yang letaknya tak jauh dari anggrek hitam. “Renanthera matutina.” Elica mengangguk. Walaupun apa yang dikatakan Kendrick sukar untuk diingat. Tetapi apa salahnya bertanya. Ia hanya ingin mendengar jenis bunga-bunga cantik ini. Perhatian Elica beralih pada sebuah bunga. Ia berjalan mendekatinya lalu menatap bunga itu dan kembali menatap Kendrick. Seolah mengerti, Kendrick tersenyum sambil mendekatinya. “Nama spesiesnya adalah paraphalaenopsis denevei. Atau bisa disebut anggrek bulan bintang.” Elica tersenyum tipis sambil melipat kedua tangannya dibelakang punggung. “Sepertinya kau sangat tahu tentang bunga.” “Ya, aku pernah membaca semua jenis bunga disebuah buku.” Elica menaikkan satu alisnya, “Disini ada buku? Bisakah aku membacanya?” “Tentu. Aku akan memberikannya padamu nanti.” Elica mengangguk lalu kembli menunjuk sebuah bunga berwarna merah yang sangat indah. “Bunga apa ini? Sangat indah. Warna merahnya sangat cerah.” Katanya membuat Kendrick melirik bunga itu. “Ipomopsis sancti-spiritus. Kau bisa menyebutnya bunga ipomopsis.” Elic membuka mulutnya dan mengangguk mengerti lalu berjalan menuju tempat duduk. Ia menatap Kendrick sambil melambaikan tangannya. Melihat itu, Kendrick terkekeh lalu berjalan mendekati Elica dan duduk disampingnya. Didengarnya Elica yang menghela napas pelan. “Bisakah kita keluar lagi? Aku ingin berjalan-jalan lagi diluar.” Kata Elica sambil menatap Kendrick. Menunggu jawaban dari pria itu. “Bukankah kau sudah pernah pergi keluar? Kenapa kau ingin melakukannya lagi?” Elica menatap Kendrick memelas. Sungguh, baginya hanya berada disekitar kerajaan membuatnya jenuh. Ia ingin melihat dunia luar lagi. Dan yang bisa membawanya keluar hanyalah Kendrick seorang. “Ayolah. Kau tak ingin aku terkurung terus disini lalu mati kebosanan, kan?” Kendrick terkekeh. “Kau tak akan mati karena bosan.” Mendengus pelan, Elica membuang wajahnya menatap kedepan. Ia mengerucutkan bibirnya. Kenapa sulit sekali untuk membujuk pria itu. Padahal permintaannya sungguh mudah untuk dikabulkan. “Apa kau sibuk?” Kendrick menggeleng. Ia menatap Elica dengan satu alis yang terangkat. “Kenapa?” “Mungkin saja kau akan menghilang beberapa hari seperti dulu dan saat kau kembali, kau akan mengabulkan keinginanku.” Gumam Elica membuat Kendrick tersenyum geli. “Aku tak akan meninggalkanmu seperti waktu itu.” Jawab Kendrick sambil mengelus lembut surai Elica. “Apa kau, ekhm. Menyukaiku?” Tanya Elica dengan mata yang tertutup dan mengabaikan wajahnya yang terasa panas. Kendrick tertawa membuat Elica membuka mata dan menatapnya kesal. 'Apa Kendrick menertawaiku? Apa dia mengira aku sangat percaya diri? Ck, kau sangat memalukan, Elica!' Batin Elica lalu memilih menatap kearah samping. “Kau sedang ingin mengetahui perasaanku?” Tanya Kendrick membuat Elica kembali menatapnya dengan ragu-ragu. Kendrick mendekatkan wajahnya, membuat Elica bisa merasakan deru napas Kendrick yang hangat menerpa wajahnya. Wajahnya terlihat memerah. Jantungnya berdegup kencang. Kedua tangannya yang berada diatas pahanya mengepal, menahan rasa gugup yang melanda. Kendrick semakin mendekatkan wajahnya. Perlahan bibirnya bertemu bibir Elica. Ia mengecupnya sekilas lalu berbisik dengan suara rendah dan serak di telinga Elica. “Aku mencintaimu.” Wajah sampai telinga Elica langsung memerah layaknya tomat. Ia mendorong d**a Kendrick menjauh. Tangannya gemetar saat mendorong d**a bidang itu. Lalu berusaha untuk mengontrol jantungnya yang berdetak tak menentu. Jika Kendrick terus seperti itu, mungkin saja jantungnya akan meledak. “A-apa yang kau lakukan!” Seru Elica marah. Ia menyentuh bibirnya membuat Kendrick yang melihat itu tersenyum jenaka. “Menginginkannya lagi?” “TIDAK!” Sergah Elica cepat dengan wajah yang masih memerah. “Kau... kau mengambil ciuman pertamaku!” Walaupun bibir mereka hanya menempel, tentu saja Elica baru pertama kali merasakannya. Bibir Kendrick sangat lembut dan membuatnya menginginkannya lagi. Elica menggeleng menyadarkan akal sehatnya. “Itu bukan ciuman. Apa kau ingin merasakan ciuman yang sesungguhnya?” Tanya Kendrick sambil menaikkan satu alisnya dan tersenyum menggoda. Elica cepat-cepat berdiri. “Argh! Kau benar-benar pria yang m***m!” Katanya lalu berjalan cepat menjauhi Kendrick yang tertawa pelan melihat tingkahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD