Suara gemerisik jubah yang terseret terdengar menggema di lorong gelap dan pegap. Dinding-dinding lorong yang terbuat dari batu itu lembab dan berlumut. Bau amis darah menyeruak sangat tajam dan menyengat di indra penciuman siapa pun makhluk yang memasuki tempat tersebut. Kendrick menatap kedepan dengan tatapan dinginnya. Lorong-lorong ini hanya diterangi oleh obor membuat suasana mencekam semakin terasa.
Langkah Kendrick terhenti disebuah sel penjara paling pojok. Tatapan dinginnya mampu membuat semua orang bertekuk lutut dihadapannya. Ia menatap seorang pria tua yang tubuhnya penuh dengan luka dan bahkan wajahnya hampir tak berbentuk lagi yang ada didalam sel itu.
Sel penjara dan sekitarnya sudah dipasang mantra dari kaum witch yang sangat kuat. Sehingga para tahanan tak mudah untuk meloloskan diri, bahkan jika dibantu orang lain pun tak akan mudah. Mantra itu hanya dapat dipatahkan oleh seorang witch yang mempunyai kemampuan diatas rata-rata. Dan itupun sangat jarang orang luar yang bisa menembus pertahanan prajurit yang menjaga penjara bawah tanah.
"Jangan biarkan dia bunuh diri ataupun mati sekarang. Biarkan selama sehari dan besok aku akan mengeksekusinya." Kata Kendrick dingin kepada Alfred yang berada dibelakangnya lalu berjalan keluar dari sana.
Kini langkahnya terhenti sebuah ruang kamar. Tangannya membuka pintu. Matanya langsung mendapati seorang wanita yang sedang tertidur dengan mata yang terpejam erat. Kendrick duduk dipinggir ranjang, siku tangannya bertumpu disamping kepala wanita itu dengan tubuh yang tercondong maju, mendekatkan wajahnya dengan wajah wanita itu. Matanya menatap lembut sosok itu.
Perlahan tangannya membelai lembut wajah cantik wanita itu. Dari kening, turun ke hidung, dan berlanjut ke bibirnya. Mengelus pelan bibir kecil dan berwarna merah cerry itu. Tangannya kembali turun dan berhenti di dagu. Ia menunduk dan mengecup lembut bibir mungil itu. Beberapa saat dengan posisi seperti itu, ia menarik wajahnya.
"Maaf membuatmu dalam kondisi seperti ini." Gumam Kendrick sambil menggenggam erat tangan Elica.
Kendrick menoleh melihat tangan Elica yang digenggamnya ketika merasakan gerakan dari tangan Elica. Erangan halus terdengar, membuat Kendrick dengan cepat kembali menoleh menatap wajah paras itu. Kelopak mata yang indah itu perlahan terbuka. Samar-samar, Elica menatap langit-langit ruang kamar yang sudah tak asing lagi baginya.
Elica mengerjap pelan lalu menoleh, mendapati Kendrick yang menatapnya lembut. "Kendrick?" Bisiknya lemah.
Genggaman Kendrick semakin mengerat. "Maafkan aku."
Elica tersenyum lalu menggeleng pelan. Ia menangkup wajah Kendrick dengan satu tangannya. "Aku baik-baik saja."
"Ada yang sakit?" Tanya Kendrick sambil memegang tangan Elica yang berada dipipinya. Tatapannya sangat lembut, membuat Elica merasa aman sekarang.
Lagi, Elica menggeleng. "Kau tahu? Hal pertama yang kurasakan sekarang yaitu tentang dirimu." Ia tersenyum lembut sambil mengelus pipi Kendrick, "Aku sangat lega mengetahui jika kamu adalah Lord itu."
"Kau tak marah?"
"Awalnya aku terkejut saat prajurit itu memanggilmu Lord. Disisi lain, aku bersyukur jika kau adalah Lord yang dimaksud. Tetapi kenapa dari awal kau tak mengatakannya padaku?" Elica berusaha untuk bangkit. Membuat Kendrick membantunya dengan hati-hati.
"Aku hanya tak mau kau menjaga jarak dariku hanya karena statusku."
Terkekeh pelan, Elica memegang tangan Kendrick. "Aku tak akan menjaga jarak dari seseorang yang selalu berada disisiku." Elica tersenyum, "Pantas saja aku tak pernah melihat Yang Mulia Lord selama ini. Ternyata Yang Mulia Lord itu selalu berada disisiku."
"Sungguh kau tak merasakan sakit di tubuhmu?" Tanya Kendrick sekali lagi yang membuat Elica menggeleng.
Elica memegang wajahnya, keningnya mengerut samar. "Aku sama sekali tak merasakan sakit. Dan wajahku terasa tak mempunyai luka." Gumamnya lalu menyibakkan selimut dan berjalan mendekati cermin. Ia terbelalak sambil memegang wajahnya.
"Tak ada luka."
Luka dan memar diwajah dan pergelangan tangan Elica sudah menghilang sejak Kendrick membawanya kembali ke kerajaan. Kendrick menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan luka, memar, dan rasa sakit ditubuh Elica.
Kendrick bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Elica dan berdiri tepat dibelakang Elica. Ia tersenyum lembut yang dapat dilihat Elica dari cermin yang memantulkan diri mereka disana. Tatapan Kendrick hanya tertuju padanya. Hati Elica menghangat melihat tatapan itu. Sangat lembut dan sangat menunjukkan rasa kasih sayang. Perlahan Elica berbalik menatap Kendrick.
"Ah iya. Bagaimana dengan Jendral Yu itu?"
"Besok aku akan mengeksekusinya. Ingin melihatnya?" Tawar Kendrick membuat Elica menatapnya ragu.
"Tiba-tiba aku ingin berjalan-jalan disekitar istana lagi. Mm, kukira aku tak bisa melihatnya." Ucap Elica membuat Kendrick terkekeh.
"Baiklah. Dua Mermaid itu akan mengikutumu berkeliling lagi." Kata Kendrick membuat Elica menatapnya berbinar. "Benar! Entah kenapa aku merindukan mereka. Rasanya seperti sudah lama aku tak bersama mereka. Padahal aku hanya sehari diculik oleh penjahat itu."
Tiba-tiba tatapan Kendrick berubah sendu. "Bisakah kau tak mengungkitnya? Aku selalu ingin mempersalahkan diriku mengingat hal itu menimpamu."
Perasaan bersalah muncul dibenak Elica. Ia tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah. Apa sekarang aku bisa berjalan-jalan? Kurasa diluar masih terang."
"Hari ini kau harus beristirahat. Tubuhmu masih lemah."
Elica merenggut kecil. "Baiklah. Akan sangat tak sopan menolak titah dari Yang Mulia Lord Kendrick." Kata Elica diselingi kekehan membuat Kendrick tersenyum.
"Aku harus pergi beberapa saat. Aku akan datang lagi nanti. Kedua Mermaid itu akan melayanimu." Elica mengangguk lalu melambaikan tangannya melihat punggung Kendrick yang menghilang dibalik pintu.
Senyuman Elica perlahan memudar. Ia berbalik lalu kembali menatap wajahnya dengan kedua tangan yang menangkup pipinya. "Lukanya benar-benar menghilang. Bahkan tak ada bekasnya. Bagaimana mereka melakukannya?" Gumamnya lalu beralih menatap pergelangan tangannya. Disana pun juga tak ada apapun. Semua lukanya menghilang.
Pikiran Elica kembali melayang ke kejadian yang menimpanya kemarin. Hanya memikirkannya saja membuatnya merinding. Mengingat rasa belatih itu menggores pipinya. Rasa ngilu dari belatih itu membuat Elica bergidik ngeri.
Suara pintu terbuka, membuat Elica langsung berbalik dengan waspada.
"Hormat kami pada Putri. Maaf menganggu waktu luang Putri." kata Ra dan Ri sambil menunduk hormat.
Melihat Ra dan Ri yang datang, Elica melangkah mendekat lalu memeluk keduanya sekaligus. Membuat kedua Mermaid itu terserentak kaget.
"Pu-putri?"
"Ap-apa ada yang salah, Putri?"
Elica melepaskan pelukannya lalu menatap Ra dan Ri bergantian. Ia melangkah mundur lalu menggeleng pelan. "Tidak. Tidak ada yang salah. Hanya saja aku merindukan kalian, entah kenapa."
Ra dan Ri saling bertatapan lalu kembali menundukkan kepala. "Apakah Putri ingin berendam?"
"Hm. Aku ingin berendam dengan air hangat dan aroma bunga lavender." Kata Elica sambil tersenyum.
"Baik Putri. Akan kami siapkan." Kata Ra dan Ri lalu keduanya pergi. Ra pergi dari ruangan itu untuk mencari bunga yang dikatakan Elica. Sedangkan Ri menyiapkan bak dan air hangat untuk Elica berendam.
Setelah semua persiapannya sudah selesai, Elica memasuki kamar mandi dan aroma khas bunga lavender langsung tercium di sangat kuat diindra penciumannya. Tubuhnya terasa rileks hanya dengan menghirup aromanya. Sangat harum. Batinnya.
Elica melepaskan gaunnya lalu berendam dan mengerang merasakan nyamannya berendam saat ini. Ia memejamkan matanya. Menikmati rasa hangatnya air dan aroma bunga yang sangat disukainya ini sedari dulu.
Cukup lama berendam, Elica keluar dari bathroom dan mengeringkan tubuhnya. Ia mengenakan gaun yang disiapkan Ra lalu menyisir rambutnya sendiri. Menolak Ra dan Ri untuk mengurus dan merias wajah dan rambutnya. Lagipula ia hanya akan berada didalam kamar ini sesuai apa yang dikatakan Kendrick kepadanya.
Elica bangun dari duduknya lalu menuju jendela besar yang menunjukkan sebagian daerah kerajaan. Pikirannya menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Mengingat Jendral itu menyebutkan 'Putri penolongnya'. Tapi, siapa itu? Apa selain Jendral itu, ada seseorang yang juga mengincar dan ingin menyakitinya? Elica menggeleng pelan. Ia tak pernah mempunyai musuh didunia ini, bahkan berinteraksi dengan makhluk luar pun tak pernah. Jendral itu hanya mengincarnya karena dirinya sangat lemah dan mudah untuk dibunuh.
Pikiran Elica beralih pada seseorang. Ya, sosok Lord dunia ini. Sosok Lord yang dipikirkannya sangat berbeda bagaikan langit dan bumi dengan Lord yang sebenarnya. Lord yang sebenarnya sangat baik dan lembut. Itupun berbeda dengan apa yang dikatakan Ra dan Ri dulu. Senyuman terbit dibibirnya yang berwarna merah cerry alami.
"Putri?"
Elica berbalik menatap Ra dan Ri yang kini berada dibelakangnya. Ia tersenyum lalu mengangguk. "Ya?"
"Apakah ada sesuatu yang Putri inginkan?"
"Kurasa tidak. Kalian bisa kembali sekarang. Aku ingin beristirahat." Katanya yang membuat Ra dan Ri mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan itu.
Melihat sosok Ra dan Ri yang sudah menghilang, Elica kembali berbalik menatap keluar jendela. Ia tersenyum dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang kesegala hal mengenai dunia ini.