F I F T E E N T H ; The Incidence of Painful

1543 Words
Ruangan sangat sunyi dan gelap. Seorang gadis berdiri lemah dengan kedua tangan yang terikat oleh rantai di dinding. Wajahnya pucat dengan rambut yang sedikit berantakan dan kusut. Gaunnya yang indah terlihat kotor dan kusam. Sudah beberapa jam gadis itu masih tak sadarkan diri dibawah pengaruh kabut tidur yang dihirupnya. Rintihan pelan lolos dari bibirnya. Matanya yang sedari tadi tertutup pelahan terbuka dengan sayu. Tubuhnya terasa sangat sakit, terutama dibagian pergelangan tangannya yang terlentang dan terikat rantai yang menopangnya agar terus berdiri. Wajahnya perlahan terangkat. Terlihat sangat jelas wajahnya yang pucat dengan bulir-bulir keringat disekitar kening dan pelipisnya. Ia mengedarkan pandangannya. Ruangan yang pengap dan sunyi langsung dirasakannya. Tak ada penerangan disini. Membiarkan sinar rembulan menerangi melalui cela-cela dinding atas yang berlubang. Elica melirik kedua tangannya yang terikat rantai. Ia menariknya, berusaha untuk melepaskan rantai yang begitu kokoh dan keras dengan tenaganya yang tersisa, menyebabkan suara rantai yang digerakkan terdengar menggema di ruangan itu. Tubuh Elica terasa sangat lemas. Ia tak sanggup menahan tubuhnya lagi dan hendak terjatuh tetapi tertahan oleh rantai yang mengikat kedua tangannya, rasa perih semakin terasa dipergelangan tangannya membuatnya meringis kesakitan. Kedua tangannya yang dibelenggu rantai mengharuskannya untuk tetap berdiri, walaupun tubuhnya tak sanggup lagi untuk menopang dirinya. Elica tak dapat mengingat bagaimana dirinya bisa disini, dalam kondisi seperti ini. Yang diingatnya terakhir kali adalah ia tak sadarkan diri karena kabut berwarna ungu dan seseorang yang wajahnya tak begitu jelas terlihat saat kesadarannya hilang sepenuhnya. Suara derap langkah terdengar mendekat dan menggema di ruang kosong itu. Sekitar yang gelap membuat Elica tak dapat melihat apa-apa. "Ternyata kau sudah bangun." Suara itu membuat Elica mendongak. Wajah orang yang berada dihadapannya tak begitu terlihat membuat Elica menyipitkan matanya. "S-siapa kau? Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Apa aku pernah berbuat salah padamu?" Tanya Elica dengan suara parau. Ia menajamkan penglihatannya, bertepatan dengan itu ruangan disekitarnya perlahan mulai diterangi oleh lentera. Seseorang yang berada didepannya pun perlahan terlihat, membuat Elica melebarkan matanya. "B-bukankah kau..." Orang itu tertawa. Ia semakin mendekat dengan seringaian yang sangat mengerikan. Matanya menatap Elica tajam dengan tangan yang ia lipat dibelakang punggung, dan punggung yang ditegapkan dengan angkuh. "Haruskah saya memberi hormat padamu, Putri?" Orang itu tertawa sinis. Lalu membungkuk dengan kepala yang mendongak menatap Elica dengan bibir yang tersenyum miring. "Salam untuk Yang Mulia Putri." "Kau... kau jendral itu kan? Kenapa kau lakukan ini padaku?!" Elica menatap pria berumur yang diketahuinya sebagai Jendral Yu itu. Jendral dari kaum manusia dan seseorang yang menggunakan jabatannya untuk menindas kalangan bawah. Yuwirxn menegakkan punggungnya kembali. Ia mengelus janggutnya sambil berjalan bolak balik dihadapan Elica dengan langkah yang lambat. Kekehan sinis kembali terdengar darinya saat kakinya berhenti melangkah dan menatap Elica dengan dagu yang terangkat, menunjukkan keangkuhannya. "Kenapa saya melakukannya? Sepertinya Anda tahu alasan saya setelah pertemuan kita waktu itu bukan?" Elica menatapnya penuh tanya. Perlahan pikirannya kembali melayang dikejadian waktu itu. Elica kembali menatap Yuwirxn dengan ragu-ragu ketika mengingat apa yang pernah terjadi. Yuwirxn menyeringai lebar, "Anda tahu setelah kejadian itu? Saya dibawa Pangeran bodoh itu ke penjara dan kepala saya hendak dipenggal dengan alasan menggunakan hak dan wewenang tak sepantasnya! Anak saya terluka parah dan sakit dikemudian hari karena tak mendapatkan perawatan yang seharusnya." Matanya menatap Elica tajam, kesedihan memuncak didadanya mengingat itu semua. Elica menatapnya datar. Bukankah dia seharusnya berada di penjara? Kenapa dia sekarang bisa disini? "Saya akhirnya tahu Anda adalah seorang calon ratu dari Lord yang disegani oleh semua makhluk di dunia ini. Dan laki-laki yang melukai anak dan prajurit saya adalah Lord itu! Bagaimana saya bisa tak tahu?! Anda dan Lord sialan itu telah menghancurkan hidup saya!!" Yuwirxn menggepalkan tangannya menahan rasa gejolak didadanya yang seakan ingin meledak. Matanya memerah karena amarah. Tiba-tiba pria tua itu terkekeh setelah beberapa saat terdiam. "Untungnya seseorang membebaskan saya dan membantu saya untuk membalaskan dendam ini." "Lalu? Apa hubungannya denganku? Bukankah seharusnya kau langsung berhadapan dengan Lord? Menyandera seorang wanita? Hah! Benar-benar pecundang." Elica menatap Yuwirxn tajam walaupun suara sedikit bergetar. Tubuhnya seakan ingin remuk sekarang. Yuwirxn berdecih, "Itulah tugas saya. Melenyapkan Anda! Lagipula setelah melenyapkan Anda, Lord itu pun akan terpuruk karena calon ratunya telah tiada. Setelah itu saya akan menyerang dan menghancurkannya!" Elica berdecih pelan. 'Hanya orang bodoh yang memberitahu rencananya pada musuh!' "Kalau begitu kenapa kau tak langsung membunuhku saja?" "Aku tak sebodoh itu Nona. Lebih menyenangkan melihatmu tersiksa perlahan-lahan lebih dahulu sebelum membantumu untuk menjemput kematianmu!" Aura membunuh keluar dari Yuwirxn. Tetapi mata Elica menatap pria tua dan gila itu seakan tak takut. "Kau hanyalah seorang b******n dan sampah. Lord membuat keputusan yang tepat untuk memperlakukanmu seperti itu!" Kata Elica lantang dan dingin membuat amarah Yuwirxn memuncak. Dalam hati Elica terus berdoa agar seseorang menemukan tempat ini dan menolongnya. Pikirannya terlintas seseorang. Kendrick! "Beraninya kau..." Plakkk Wajah Elica tertoleh ke samping. Suara tamparan menggema nyaring di ruangan itu. Rasa sakit dan perih menjalar dari pipi kearea wajahnya yang lain. "Sepertinya kau ingin kita memulainya lebih awal. Sayang sekali, wajahmu sangat cantik." Katanya dengan senyuman licik dan kembali menampar Elica beberapa kali. Elica meringis. Ujung bibirnya terobek kecil, pipinya memar dan merah bekas tamparan. Rambutnya semakin berantakan. Ia menatap Yuwirxn dingin tanpa mengeluarkan suaranya sedikit pun. Menyeringai lebar, Yuwirxt mengeluarkan sebuah belatih tajam dari punggungnya. Ia melangkah mendekat, membuat Elica mundur tetapi punggungnya malah menabrak dinding dibelakangnya keras. Brukk! Elica menggeleng gemetar saat belatih itu semakin dekat dengan wajahnya. Yuwirxn semakin menyeringai melihat ekspresi ketakutan Elica. "Akh!" Erang Elica kesakitan ketika merasakan dingin dan tajam belatih itu menggores pipinya. Tubuhnya semakin gemetar, luka goresan itu cukup dalam sehingga membuat darah mengalir dari sana. Rasa perih dan sakit kembali terasa dipipinya ketika Yuwirxn menggores lagi pipi Elica dengan senyuman kepuasan terukir diwajahnya. "Pertama wajahmu ini harus dimusnahkan. Putri penolongku pasti akan sangat senang ketika melihat wajahmu hancur saat kau sudah tak bernyawa! Hahaha!!" Mata Elica terpejam erat. Perlahan ia pasrah pada tekanan yang diberikan Yuwirxn saat pria tua itu kembali melukai dirinya. Air matanya turun dari matanya yang terpejam, mengenai luka goresan dipipinya yang menambah rasa perih. 'Akankah seseorang datang menolongku? Kumohon datanglah, Kendrick!' Batin Elica dengan mata yang terpejam rapat. Perlahan ia tersenyum gentir. Mungkinkah ini akhir dari segalanya? "Jadi kau sudah pasrah pada kematianmu? Sungguh itu hal yang bagus. Tetapi saya masih menikmati saat-saat menyiksamu." Yuwirxn menjatuhkan belatihnya dengan wajah yang dingin menatap Elica masih membisu. Enggan membuka matanya. Pria tua itu mengeluarkan sebuah cambuk kecil dari balik punggungnya. Menyeringai lebar sambil memain-mainkan cambuk itu. "Berharaplah pada kematian agar cepat menjemputmu!" BOOM!! Yuwirxn yang hendak melayangkan cambuk itu terhenti dan langsung berbalik kaget mendengar suara ledakan besar itu. Dinding diujung ruangan runtuh, menyebabkan tanah yang dipijaknya sedikit bergetar. Segerombolan pasukan masuk melalui pintu yang dipaksa terbuka. Membuat tubuh Yuwirxn yang melihat itu gemetar ketakutan. Elica perlahan membuka mata ketika tak merasakan siksaan yang diberikan pria tua itu. Matanya yang sayu melihat pria tua itu sudah memunggunginya dan berdiri mematung ditempatnya. Elica yang merasa sesuatu yang aneh terjadi pun mengedarkan pandangannya. Semua prajurit telah mengepung tempat ini. Tiba-tiba sesuatu yang terbang berhenti tak jauh didepan Yuwirxn dengan satu kaki yang berlutut dan kepala yang tertunduk. Perlahan wajahnya terangkat, mata merahnya menatap tajam. Orang itu perlahan berdiri tegap dan menatap dingin kearah Yuwirxn. Aura membunuhnya begitu terasa dengan kabut hitam yang menyelimutinya. Melihat itu Elica tak mampu menahan air matanya untuk kembali mengalir. Ia tersenyum gentir melihat kehadiran orang itu. "Ja-jangan mendekat! Selangkah saja kau maju, aku akan membunuh perempuan ini!" Kata Yuwirxn dengan gemetar lalu menunduk mengambil belatih yang dijatuhkannya dengan tangan yang gemetaran. Kendrick menatap dingin Yuwirxn yang gemetaran menatapnya. Dengan cepat ia langsung berdiri tepat dihadapan pria tua itu dan mencengkram leher Yuwirxn erat, matanya seolah benar-benar ingin menyiksa dan membunuh orang yang dicengkramnya. Yuwirxn memegang tangan Kendrick yang mencengram lehernya kuat, wajahnya pucat pasi dengan mulut yang terbuka. Dengan sekali hentakan, Kendrick menghempas tubuh Yuwirxn kebawah dengan sangat keras, membuat tubuh Yuwirxn membentur keras lantai yang dingin dan kotor. "Uhuk! Uhuk!" Yuwirxn memegang lehernya dengan posisi yang masih tersungkur di lantai. Mengatur napasnya yang memburu dan rasa sakit yang ada di area lehernya. Rasa sakitnya seperti terbakar oleh api. Kendrick menatap pria tua yang berada tak jauh didepannya sedingin es. Aura membunuhnya masih sangat terasa. Saat hendak melangkah, suara erangan halus terdengar membuatnya terhenti. "K-kendrick..." Dengan cepat Kendrick mendekat dan bergumam sesuatu membuat rantai yang masih membelenggu kedua pergelangan tangan Elica terputus. Tak mampu lagi menopang tubuhnya, Elica hampir tersungkur kebawah jika tidak dengan cepat ditahan. Elica menatap sayu Kendrick yang berada diatasnya sambil tersenyum lemah. Tangannya terangkat mengelus pipi Kendrick yang sedang menatapnya dengan khawatir dan lembut. "Maaf aku terlambat." Mendengar itu Elica menggeleng pelan. Ia berusaha melebarkan senyumannya, "Aku senang kau datang." Kata Elica dan perlahan matanya terpejam. Tangannya hampir terjatuh tetapi langsung ditahan Kendrick. Kendrick menatap Elica yang sangat berantakan dengan wajah yang penuh luka dan memar. Rahangnya mengeras, dengan perlahan ia mengangkat tubuh Elica dalam gendongannya. Mendongak menatap tajam Yuwirxn yang hendak kabur. "Tangkap dia dan bawa ke penjara bawah tanah kerajaan. Perketat penjagaannya dan aku yang akan memberikan hukuman." Kata Kendrick dingin kepada Alfred yang berlutut dengan satu kakinya sambil menunduk hormat yang keberadaan tangan kanannya itu tak jauh darinya lalu mengeluarkan sayap hitamnya. Ia menunduk menatap Elica lembut dan terbang dengan segera menuju kerajaannya. "Maafkan aku tak bisa melindungimu dengan baik." Gumam Kendrick menatap Elica yang masih terpejam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD