Chapter 45 Jeisya histeris begitu tahu kalau bayi di dalam kandungannya tidak selamat. Seperti yang sudah diperkirakan, ia menyalahkan Shaneen atas kejadian itu. Sejak sadar pasca operasi, Jeisya tak henti-hentinya memaki Shaneen. Ia menangis sejadi-jadinya sambil terus mengatakan kalau Shaneen lah yang telah membuat ia kehilangan bayinya. “Jeisya masih shock. Dia pasti nggak siap kehilangan bayinya.” “Iya.” Quin menatap Greya. “Kalian harus kasih Jeisya kekuatan. Kakak ngerti banget apa yang Jeisya rasain. Di saat kayak gini Jeisya bener-bener butuh dukungan dari orang-orang di sekelilingnya.” Greya mengangguk. “Kak, kalau seandainya Jeisya masih nggak terima dalam waktu lama, apa yang harus kami lakukan? Apa Jeisya perlu dibawa ke psikolog atau psikiater?” “Sebenarnya setelah

