Chapter 16

1188 Words
Hari berganti. Minggu beralih. Tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu sejak Azka dan Navaya menikah, tak sekali pun pria itu menyentuh Navaya. Azka selalu mengabaikan keberadaan Navaya meski wanita itu berada tepat di depan matanya, begitu pula sebaliknya. Tak ada dari keduanya yang mau berinisiatif untuk hanya sekadar basa-basi. Terlebih, Navaya sendiri selalu berusaha untuk menghindari Azka. Ia takut akan mengganggu mata pria itu jika melihatnya. Navaya bahkan tidak tahu kapan Azka berada di rumah dan kapan pria itu keluar. Tak tahu apakah Azka tidur di rumah atau tidak. Keduanya benar-benar hanya menjalani kehidupan masing-masing. Seperti orang asing yang kebetulan tinggal di satu atap. Untungnya lagi, orang luar termasuk orang tua mereka tidak pernah berkunjung ke rumah, jadi keduanya tidak perlu berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis. Kini, Navaya pun telah mulai bisa beradaptasi di rumah tersebut. Dan hari ini, karena ia tak memiliki kegiatan apa pun, wanita itu memilih untuk menanam bunga di taman. Walaupun pekerja taman, para pelayan, dan Benjamin selalu melarangnya menanam bunga, tapi ia tetap kukuh ingin menanam bunga untuk mengisi waktu luangnya. Navaya tidak bisa hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Sebelum menikah, ia sering menghabiskan waktu bersama Zoya. Jadi, waktu luangnya selalu terisi dengan hal-hal baru yang ia lihat bersama sang sahabat. Tapi kini, Navaya lebih sering berada di rumah tanpa mengerjakan apa pun. Alhasil, ia memilih untuk menanam bunga. Selain bisa mengisi waktu luang, Navaya juga ikut berkontribusi memperindah taman dengan bunga-bunga yang ia tanam. Ada pun bunga, pupuk, dan peralatan menanamnya telah disediakan oleh Benjamin. Tidak secara gratis. Pasalnya, ia harus membujuk pria paruh baya itu agar dirinya bisa menanam bunga di taman. Dan membujuk Benjamin untuk itu tidak-lah mudah. Butuh perjuangan selama 1 minggu agar pria paruh baya itu luluh dengan bujuk rayunya. Navaya memasukkan bunga kecilnya ke dalam tanah yang telah ia gali. Setelahnya, ia kembali menimbun akar bunga tersebut hingga benar-benar tertutup. Navaya menepuk tanahnya beberapa kali untuk memastikan kalau bunga tersebut tertanam dengan baik. Setelah itu, ia menyiram sedikit pada bunganya dengan harapan kalau bunga tersebut akan tumbuh dengan subur dan indah. “Bagaimana menurutmu?” tanya Navaya pada Bella yang setia menemani setiap kali dirinya menanam bunga. Bisa dibilang, Bella adalah sahabat Navaya di rumah tersebut. “Sangat cantik,” jawab Bella jujur. Navaya mengulas senyum. “Bukan hanya cantik, tapi juga sangat indah. Aku bahkan meletakkan beberapa pot bunga ini di kamarku yang dulu.” “Benarkah? Memang ini bunga apa?” tanya Bella. “Daisy. Ini adalah bunga daisy,” jawab Navaya. “Ah! Aku pernah mendengar pelayan lain membicarakan bunga itu. Ternyata ini yang namanya bunga daisy,” ujar Bella kemudian kembali memerhatikan bunga daisy. Lagi, Navaya mengulas senyum. “Kau suka?” Bella mengangguk sebagai jawaban. “Dari semua bunga yang Anda tanam, ini adalah bunga tercantik yang pernah kulihat.” Sontak, Navaya terkekeh mendengar. “Sepertinya kau sudah mengatakan itu setiap kali aku menanam bunga.” “Ah. Benarkah?” tanya Bella malu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Ia lalu menatap bingung pada Navaya yang kembali menggali tanah menggunakan sekop. “Anda ingin menanam lagi?” tanyanya yang diangguki oleh sang Nyonya. “Aku suka bunga ini. Jadi, aku akan menanamnya sebanyak 3 kali,” jawab Navaya. “Anda ingin melakukannya sekarang?” tanya Bella yang diangguki oleh Navaya. “Tapi, sekarang sudah jam 9 lewat. Matahari sudah mulai meninggi. Anda bisa kepanasan jika di sini terus.” “Tidak masalah. Selain bunga, aku juga suka matahari. Jadi, tidak perlu khawatir,” ucap Navaya. “Tapi, kau boleh masuk kalau kepanasan. Aku bisa melakukan ini sendiri.” “Tidak, Nyonya. Saya tidak bisa meninggalkan Anda sendiri melakukan ini semua sendiri,” tolak Bella. “Selain karena pekerjaan, saya juga ingin belajar cara menanam bunga lebih banyak dari Anda.” Navaya mengulas senyum lebar. “Baiklah.” Ia pun mulai menggali tanah bersama Bella untuk bunga daisy keduanya. “Kau ingin mencoba memasukkan bunganya nanti?” tawar Navaya. “Memang boleh?” tanya Bella. “Kenapa tidak?” ujar Navaya yang membuat Bella mengulas senyum lebar. “Makanya, cepatlah menggali.” Bella mengangguk kemudian semakin semangat menggali tanah bersama Navaya. Di lain sisi, Benjamin yang sejak tadi mengawasi kegiatan Navaya hanya bisa menghela napas. Meskipun sedikit pendiam dan tertutup, tapi Istri Tuan-nya itu benar-benar sangat aktif dalam setiap kegiatan di rumah. Ia sampai tak tahu harus menggunakan bahasa apa lagi untuk melarang Navaya mengerjakan pekerjaan yang cukup berat. Entah karena dirinya yang tidak tegas, atau karena wanita itu yang memang keras kepala. “Ben,” sahut Azka yang membuyarkan lamunan Benjamin. “Tuan,” sapa pria paruh baya itu. “Anda sudah pulang?” tanyanya bingung. Pasalnya, sekarang masih pukul 9 pagi. “Ada beberapa berkas yang ketinggalan, jadi aku kembali.” “Apa perlu saya ambilkan?” “Tidak usah. Aku bisa mengambilnya sendiri,” tolak Azka yang diangguki oleh pria paruh baya itu. “Tapi, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Azka. Sebelum menjawab, pria paruh baya itu menunjuk ke arah Navaya yang tengah menanam bunga menggunakan sekop untuk menggali tanahnya. “Nyonya sedang menanam bunga lagi, Tuan,” ucap Benjamin. Sebelah alis Azka terangkat. “Lagi?” “Benar. Ini bukan pertama kali Nyonya menanam bunga di taman. Sebelumnya, Nyonya sudah pernah menanam bunga bloodroot, bunga azalea, bunga krisan putih, bunga seruni, bunga bellflower, bunga tulip, bunga blackeyed susan, dan bunga moonflower,” ungkap Benjamin. “Kenapa kau membiarkannya menanam bunga?” tanya Azka. “Jelas-jelas aku sudah mengatakan kalau dia tidak boleh melakukan pekerjaan berat.” “Saya sudah melarang Nyonya untuk melakukan itu, Tuan. Tapi, Nyonya tidak peduli dan tetap menanam bunga di keesokan harinya,” tutur Benjamin. “Dan bukan hanya itu. Nyonya juga sering menyiram tanaman dan memotong daun bunga yang rusak sendiri. Kami sampai lelah terus melarang Nyonya melakukan pekerjaan-pekerjaan itu,” sambungnya. Selama beberapa saat, Azka hanya membisu sembari memandangi Navaya yang terlihat senang menanam bunga. Wanita itu tampak antusias dan lebih hidup dari sebelumnya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh taman. Dan benar, taman yang sebelumnya hanya memiliki 2 jenis bunga, kini telah berubah menjadi taman bunga. Begitu banyak bunga-bunga baru yang menghiasi taman rumahnya. Taman yang sebelumnya tampak suram dan biasa saja, kini terlihat lebih cerah dan indah karena bunga-bunga Navaya. Wanita itu bahkan menyusun tempatnya dengan rapi hingga terlihat semakin cantik. “Bunga apa yang dia tanam sekarang?” tanya Azka. “Bunga daisy, Tuan,” jawab Benjamin. “Daisy, ya,” gumam Azka dengan suara kecil. “Sepertinya dia menanam dirinya sendiri,” gumamnya lagi yang membuat Benjamin menoleh pada pria itu. “Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Tidak perlu melarangnya. Cukup ingatkan saja jika dia terlalu melewati batas,” pinta Azka. “Baik, Tuan,” ucap Benjamin. Setelahnya, Azka pun berlalu dari sana. Sepeninggal sang Tuan, Benjamin kembali memandangi Navaya. Pria paruh baya itu lantas mengulas senyum tipis. Bunga daisy. Bunga yang memiliki makna kesederhanaan dan kepolosan. Sebenarnya, bunga daisy memiliki beberapa makna yang lain. Namun, yang mendekati maksud ucapan Azka tadi hanya kedua hal tersebut. Jika dipikir-pikir, bunga daisy memang sangat cocok dengan kepribadian Navaya. Sederhana dan polos. ------- Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD