Chapter 17

1207 Words
“Silakan dilihat,” ucap seorang pria, mempersilakan Chessy dan Devan masuk ke dalam sebuah unit apartemen. Kedua saudara itu pun masuk ke dalam dan mulai melihat-lihat isi apartemen tersebut. Mulai dari ruang tamu, pantry, kamar mandi, dan 2 buah kamar. Dilihat dari berbagai sisi, apartemen itu cukup besar untuk menampung Chessy dan Devan. “Apa semua furniture yang ada di sini sudah termasuk harga?” tanya Chessy. “Benar. Anda sudah akan mendapatkan semua furniture yang ada di sini. Furniture-nya sendiri sudah termasuk furniture dengan kualitas terbaik. Jadi, Anda tidak akan rugi selama tinggal di sini, karena semua furniture-nya bisa tahan dalam jangka waktu yang cukup lama,” jelas pria itu. “Berapa harga apartemen ini?” tanya Chessy. “Kakak benar-benar ingin tinggal di apartemen?” tanya Devan. “Kalau tidak, di mana aku harus tinggal?” “Kita masih punya rumah. Kita tidak perlu tinggal di tempat kecil seperti ini.” “Kalau kau tidak mau tinggal di sini, biar aku saja. Lagi pula, aku tidak punya tempat yang disebut rumah lagi. Tidak akan ada orang yang menanti kepulanganku. Jadi, lupakan saja kata itu. aku tidak ingin mendengarnya lagi,” tukas Chessy yang membuat Devan menghela napas berat. “Jadi, berapa harga apartemen ini?” tanya Chessy pada pria tadi. “Untuk sewa perbulannya, apar-” “Saya tidak ingin menyewa. Saya ingin membeli,” potong Chessy. “Anda yakin ingin membelinya? Kredit perbulan apartemen ini cu-” “Cash. Saya akan membayar cash,” potong Chessy lagi yang membuat pria tersebut membisu sejenak. “Baiklah. Kalau begitu silakan ikut saya ke kantor untuk transaksi lebih lanjut,” ucap pria itu. “Setelah tanda tangan kontrak dan melakukan pembayaran, apa saya bisa menempati apartemen ini hari ini?” tanya Chessy. “Tentu,” jawab pria tersebut. Setelahnya, mereka pun pergi ke kantor agen real estate yang menangani gedung apartemen tersebut untuk melakukan transaksi. Seusai membayar unit apartemen tersebut, Chessy dan Devan langsung kembali ke sana. Apartemen yang telah resmi menjadi milik Chessy. Walaupun masih ada beberapa berkas yang masih membutuhkan tanda tangan wanita itu ke depannya. Tapi setidaknya, kini ia telah bisa menempati apartemen tersebut. Chessy melempar tubuhnya ke atas sofa sembari menghela napas panjang dengan mata terpejam. Tak beda jauh dengan Devan yang mendudukkan dirinya di seberang sang Kakak. “Entah apa yang akan Mama dan Papa katakan jika tahu hal ini,” gumam Devan. “Sudah kubilang, kau boleh pergi kalau tidak mau tinggal di sini. Lagi pula, ini masalahku. Kau tidak perlu ikut campur,” ucap Chessy. “Sekali lagi kukatakan padamu. Jika aku pergi meninggalkanmu sendiri, tidak ada orang yang akan menjagamu. Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu terhadapmu dan tidak ada yang menolong? Jika aku di sini, setidaknya ada yang melindungimu,” ujar Devan. “Dan lagi, kau adalah Kakak-ku. Masalahmu adalah masalahku juga. Aku tidak bisa melihatmu menderita seorang diri seperti ini,” lanjutnya. “Ini semua gara-gara wanita sialann itu. Andai dia tidak ada, mungkin kau tidak perlu bertengkar dengan Papa dan Mama. Kau juga tidak perlu keluar dari rumah dan mengasingkan diri di apartemen kecil ini,” tukas Devan. Chessy membuka mata dan langsung melemparkan tatapan tajam pada langit-langit apartemen-nya. Pikirannya kembali melayang pada Navaya. “Kau benar. Ini semua gara-gara wanita sialann itu,” geram Chessy. “Andai dia tidak ada, pasti aku yang ada di sana. Harusnya aku yang menikah dengan Azka. Harusnya aku yang menyandang status Nyonya Mahadarsa. Harusnya aku!” “Lihat saja, aku pasti akan menghancurkan rumah tangga mereka. Jika aku tidak bisa memiliki Azka, tidak akan kubiarkan wanita sialann itu memilikinya,” kecamnya. “Kau ingin menghancurkan rumah tangga mereka? Bagaimana caranya?” tanya Devan. Chessy mengulas senyum miring. “Ada banyak cara untuk melakukannya. Tunggu saja. Aku pasti akan menghancurkan wanita sialann itu. Pasti.” Kedua tangan Chessy mengepal erat penuh dendam. ------- Navaya tengah sibuk bermain game melalui ponselnya di salah satu cafe yang terletak tak jauh dari pusat perbelanjaan. Ia tengah menunggu kedatangan Zoya, sang sahabat. Hari ini, ia telah berjanji akan menemani sahabatnya itu untuk membeli kado untuk keponakan Zoya yang dijadwalkan lahir bulan depan. Namun, sudah hampir setengah jam Navaya menunggu, Zoya tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Baterai ponselnya pun sudah hampir habis, karena digunakan sejak tadi. Untuk kesekian kalinya, Navaya mengalihkan pandangan ke arah pintu ketika seseorang masuk. Berharap kalau orang yang masuk itu adalah Zoya. Akan tetapi, harapan tinggallah harapan. Nyatanya, orang itu bukanlah sahabatnya. Menyimpan harapannya, Navaya kembali fokus pada game-nya. Sampai akhirnya, sisa baterai ponselnya tersisa 10 persen. Mau tak mau, ia pun harus menyudahi game-nya lalu menyimpan ponselnya ke dalam tas. Bertepatan dengan itu, Zoya akhirnya tiba di sana yang membuat Navaya menghela napas lega. Lain hal dengan Zoya yang terengah-engah seolah baru saja berlari. Tanpa basa-basi, wanita berambut panjang itu langsung meminum minuman Navaya hingga tandas. “Maaf, aku terlambat. Tadi ban mobilku pecah, jadi aku harus ke bengkel dulu,” ucap Zoya dengan napas yang lebih teratur dari sebelumnya. “Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja,” ujar Navaya. “Kau masih mau minum? Aku akan memesankan untukmu.” “Iya. Tolong pesankan Vanilla Sweet Cream Cold Brew. Aku sangat haus dan kepanasan,” pinta Zoya seraya mengipas-kipas wajahnya yang dipenuhi keringat. “Baiklah. Tunggu sebentar,” ucap Navaya kemudian beranjak menuju meja kasir. Beberapa saat kemudian, Navaya kembali dengan dua gelas minuman di tangannya. Yang satu adalah pesanan Zoya, sementara yang satu adalah minuman miliknya sendiri. Asian Dolce Latte. “Ini,” ucap Navaya sembari memberikan minuman Zoya “Terima kasih,” ujar Zoya kemudian langsung meminum minumannya hingga kini tersisa setengah gelas. Navaya pun tak heran lagi dengan kelakuan sahabatnya itu. Justru, ia akan heran kalau Zoya tiba-tiba menjadi kalem dan tenang. “Kau pasti sudah bosan, karena menunggu lama,” ucap Zoya. “Tapi, aku benar-benar minta maaf. Ban sialann itu bocor di waktu yang tidak tepat.” “Tidak apa-apa. Aku juga datang agak telat tadi. Jadi, aku tidak menunggu terlalu lama,” ujar Navaya terpaksa berbohong agar Zoya tak terlalu merasa bersalah. “Baguslah, kalau begitu. Sejak tadi, aku sudah khawatir kalau kau menunggu terlalu lama,” ucap Zoya lega. “Omong-omong, kau sudah meminta izin pada suamimu kalau hari ini kau keluar untuk menemaniku?” Navaya mengulas senyum. “Tentu saja.” “Enaknya yang sudah menikah. Sekarang kau sudah punya orang untuk menjagamu,” ujar Zoya yang hanya dibalas senyum tipis oleh Navaya. “Oh, iya. Di mana kita akan membeli kado untuk calon keponakan barumu?” “Di mall yang ada di seberang saja.” “Kau sudah putuskan ingin membeli apa?” “Belum. Aku masih bingung ingin membeli apa,” jawab Zoya. “Menurutmu, apa yang harus kubeli?” “Apa kau sudah tahu jenis kelaminnya?” Zoya menggeleng. “Belum. Sepupu-ku ingin merahasiakan jenis kelamin anak-nya sampai lahir. Jadi, mereka tidak pernah melakukan USG.” “Ya, sudah. Kita pergi saja dulu. Kita akan putuskan setelah melihat-lihat,” usul Navaya yang diangguki oleh Zoya. “Ide bagus,” ucap Zoya. “Ayo, pergi sekarang.” Navaya mengangguk kemudian langsung mengenakan tasnya kembali. Baru saja keduanya hendak beranjak, seorang pria bertubuh tinggi nan tampan menghampiri mereka. “Navaya,” sapa pria itu. ------- Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD