Hening.
Itulah suasana mobil yang saat ini dihuni oleh Navaya, Azka, dan seorang sopir. Tak ada satu pun di antara mereka yang berniat membuka suara. Keduanya membisu dan duduk tenang di kursi masing-masing, bak patung yang tidak bergerak.
Seusai acara resepsi yang dilaksanakan beberapa saat lalu, kini mereka tengah dalam perjalanan menuju rumah yang akan Azka dan Navaya tinggali mulai sekarang.
Sebenarnya, Shanum telah meminta mereka untuk menginap di hotel malam ini. Mengingat keduanya pasti lelah setelah berdiri seharian untuk menyambut para tamu.
Akan tetapi, Azka bersikeras untuk pulang ke rumah dengan dalih ingin segera beristirahat dengan tenang. Sementara Navaya tidak mengeluhkan apa pun. wanita itu hanya mengikuti ucapan Azka sebagai suaminya.
Alhasil, di sinilah keduanya berada. Duduk di dalam mobil dalam suasana hening. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sampai tak berapa lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sebuah rumah mewah berdinding kaca dan berlantai 3 dengan halaman rumah yang cukup luas untuk digunakan sebagai taman bermain.
Jarak dari gerbang ke teras rumah pun berjarak hampir 150 meter. Cukup panjang untuk digunakan olahraga.
Begitu keluar dari mobil, Navaya mengedarkan matanya mengamati sekeliling area rumah yang luas tersebut. Perhatian wanita itu teralihkan ketika melihat Azka beranjak lebih dulu untuk masuk ke dalam rumah.
Tanpa pikir panjang, Navaya segera mengikuti pria itu. Untungnya, desain gaun yang ia gunakan malam ini cukup sederhana, namun terlihat elegan. Jadi, ia tak perlu susah payah mengatur gaunnya saat berjalan.
Sesampainya di dalam rumah, Navaya kembali mengedarkan pandangan mengamati seisi ruang tamu yang memiliki interior mewah dengan tema modern. Tidak seperti rumah mewah kebanyakan orang mengusung tema klasik.
Seperti yang terlihat di depan, sekeliling dinding rumah tersebut terbuat dari kaca. Hingga dapat memanjakan mata untuk bisa melihat pemandangan bunga-bunga di taman.
Navaya terus melangkahkan kakinya mengikuti Azka yang berada di depan. Masuk ke dalam lift dan naik ke lantai 3. Setibanya di lantai 3, ia kembali mengikuti pria itu. Tanpa bertanya ke mana tujuan mereka.
Sampai akhirnya, keduanya tiba di sebuah kamar yang 2 kali lebih besar dari kamar Navaya sebelumnya.
‘Ah. Jadi, tujuannya ke sini. Apa malam ini ... aku harus melakukannya? Dengan pria ini?’ Navaya membatin.
“Mulai sekarang, ini adalah kamarmu. Semua pakaianmu telah ditata di walk in closet,” sahut Azka yang membuyarkan lamunan Navaya.
Wanita itu menoleh pada pria yang berstatus suaminya. “Kamarku?”
“Ya. Kita tidak tidur di kamar terpisah,” jawab Azka. Ia lalu ikut menoleh pada Navaya. “Aku tahu kalau kau tidak tertarik dengan pernikahan ini. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk berbagi kamar yang sama. Dan kupikir, aku tidak perlu memberitahumu batas kita masing-masing.”
‘Benar. Sejak awal, ini hanyalah pernikahan bisnis. Tidak ada alasan bagi kami untuk berbagi kamar. Apa yang aku pikirkan? Kau sangat konyol, Navaya,’ batin Navaya.
“Namun, saat orang tuamu atau orang tuaku datang, mau tak mau kita harus tidur di kamar yang sama. Tapi, kau tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Setidaknya, kita harus berpura-pura seperti pasangan yang harmonis di hadapan semua orang,” tutur Azka.
“Kamarku tepat di sebelah. Jadi, kau boleh meminta bantuanku jika terjadi sesuatu. Meskipun kita tidak memiliki hubungan seperti pasangan pada umumnya, tapi aku tetap berstatus sebagai suami-mu. Aku juga bukan pria yang tidak punya hati,” lanjutnya.
Selama beberapa saat, Azka hanya menatap Navaya yang tak membuka suara sama sekali. Wanita itu hanya membisu dan mendengarkan ucapan Azka tanpa berniat untuk menimpali. Ia pun tak memiliki apa-apa lagi untuk dikatakan.
“Aku akan keluar. Istirahatlah,” pamit Azka yang hanya dibalas anggukan oleh Navaya.
Setelahnya, pria itu pun keluar dari kamar sang istri. Meninggalkan Navaya seorang diri di kamar yang luas tersebut. Sepeninggal Azka, Navaya kembali mengamati kamarnya.
“Kamar ini ... terlalu besar untuk kugunakan sendiri,” lirihnya.
Ia lalu mengulas senyum kemudian beranjak menuju walk in closet. Dan benar, semua pakaiannya memang telah tertata rapi di sana. Bukan hanya itu, Navaya juga melihat beberapa potong pakaian baru yang terselip di antara pakaiannya.
Tak ingin berpikir lebih banyak lagi malam ini, ia pun memutuskan untuk langsung mandi lalu lekas istirahat. Rasanya, seluruh anggota tubuh wanita itu ingin lepas karena terlalu lelah.
Seusai mengenakan pakaian tidurnya, Navaya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur berukuran besar. Terlalu besar untuk ia tempati sendiri.
Meski begitu, Navaya harus menerima apa yang diberikan padanya. Ia tak bisa mengeluh mengenai hal seperti ini pada Azka. Diberikan tempat untuk tidur saja sudah sangat cukup baginya.
Pikiran Navaya lantas melayang pada Chessy dan Devan yang malam ini pun tidak menampakkan diri. Meskipun terdengar sedikit kejam bahwa ia mengharapkan kehadiran mereka berdua, tapi Navaya tetap berharap bisa melihat kedua saudaranya itu hari ini.
“Tidak apa walau hanya sedetik. Aku hanya ingin memastikan kalau kalian baik-baik saja dengan mata kepalaku sendiri.”
Navaya mengulas senyum sendu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Harusnya, bukan aku yang berada di rumah ini. Jika Kakak yang ada di sini, mungkin Kakak akan berada di dalam kamar yang sama dengan pria itu.”
“Maafkan Navaya, Kak. Maafkan Navaya.”
Tes. Air mata Navaya berhasil lolos dari pelupuk matanya. Wanita itu terisak dengan mata terpejam. Air matanya tak berhenti mengalir hingga membuat bantalnya basah.
Padahal, tadinya Navaya tidak ingin memikirkan masalah ini. Setidaknya hanya untuk malam ini. Namun nyatanya, rasa bersalah pada sang Kakak tetap menempati tempat tertinggi di hatinya.
Sampai detik ini pun, Navaya masih menyalahkan dirinya karena kepergian Chessy dan Devan dari rumah. Andai saja ia memiliki keberanian untuk menolak ketika Azka memilih dirinya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Tapi, nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terlanjur terjadi. Tidak ada lagi yang perlu disesali. Biarkanlah Navaya menyimpan rasa bersalah ini untuk dirinya sendiri. Biarkan ia memegang peran sebagai adik yang jahat.
-------
Ceklek.
Azka melangkahkan kakinya memasuki apartemen Rebecca. Setelah keluar dari kamar Navaya tadi, ia bergegas pergi ke apartemen sang kekasih. Ia merasa tak bisa tidur malam ini.
Karena itu, Azka memutuskan untuk menginap di apartemen Rebecca yang selalu berhasil menjadi penenangnya di kala gundah.
Dengan langkah sedikit gontai karena kelelahan, pria itu mencari keberadaan sang kekasih yang tak bisa ia temukan di mana-mana.
Saat Azka hendak mencari ke dalam kamar, pintu kamar telah lebih dulu dibuka oleh Rebecca. Sontak Azka terkejut ketika melihat penampilan wanita itu.
Kedua matanya bengkak dan memerah, begitu pula dengan hidungnya yang ikut memerah. Wajahnya pun terlihat sembab. Terlihat jelas kalau Rebecca baru saja menangis.
“Rebecca!” seru Azka menghampiri sang kekasih tercinta. “Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanyanya khawatir.
Tanpa menjawab pertanyaan Azka, Rebecca langsung memeluk pria itu. Kedua tangannya meremas kemeja Azka dengan erat. Terisak di d**a pria yang sangat ia cintai.
“Rebecca,” lirih Azka sendu membalas pelukan wanita itu.
“Kupikir ... kamu tidak akan datang ke sini malam ini,” lirih Rebecca sesenggukan. Pelukannya semakin erat pada pria itu.
Azka lantas mengulas senyum tipis. “Memang apa yang kamu bayangkan hingga berpikir seperti itu?”
Rebecca tak menjawab. Wanita itu hanya terisak dalam pelukan pria itu. Meski begitu, Azka bisa menebak alasan sang kekasih menangis seperti ini.
“Sejak awal aku sudah melarangmu untuk datang. Dan harusnya kamu mendengarkanku. Tapi, kamu tetap keras kepala dan memaksa untuk datang. Sekarang lihat hasil dari kekeraskepalaanmu,” omel Azka, namun dengan suara yang lembut. Tangannya menepuk pelan punggung sang kekasih.
“Kupikir, aku akan mampu mengatasinya,” lirih Rebecca. “Tapi, saat melihatmu mengucap janji dan mengecup kening wanita itu, rasanya hatiku sangat sakit. Seperti dicabik-cabik tanpa henti.”
“Lalu, bagaimana dengan sekarang? Lebih baik?” tanya Azka yang diangguki oleh wanita itu. Ia lalu mengulas senyum lebar.
“Kamu tahu? Sekarang aku sedikit bingung. Waktu itu, ada orang yang dengan percaya dirinya mengatakan kalau pernikahan ini hanya formalitas. Jadi, tidak masalah jika aku menikah dengan wanita lain. ‘Toh, aku juga tidak akan memberikan hatiku untuk wanita lain,” sindirnya yang membuat Rebecca malu.
Wanita itu lantas semakin menyembunyikan wajahnya di dadaa Azka. Membuat pria itu menahan tawa. Azka lalu mengurai pelukannya dan menatap wajah Rebecca yang masih sembab seusai menangis.
Tangannya terulur menyeka air mata di pipi wanita itu. Bibirnya mengulas senyum hangat. Tatapan lembut pun ia tujukan tepat di netra sang kekasih.
“Mulai sekarang, tidak peduli apa pun alasannya, jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku. Tidak usah berpura-pura kuat di hadapanku. Katakan saja semua yang kamu inginkan,” ujar Azka.
“Aku tidak mau melihatmu menyiksa diri seperti ini lagi. Mengerti?” Rebecca mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Meskipun sekarang aku telah menikahi wanita lain, tapi aku bisa menjanjikan satu hal padamu,” ucap Azka.
“Aku tidak akan menyentuh mana pun selain kamu. Satu-satunya wanita yang aku cintai hanya kamu. Bukan wanita lain. Dan tidak akan ada wanita lain yang mampu menarik hatiku seperti kamu,” sambungnya.
Blush! Ucapan pria itu pun berhasil membuat pipi Rebecca merona. Wanita itu bahkan tak berani menatap mata Azka karena malu.
Melihat itu membuat Azka gemas, hingga langsung membawa wanita itu kembali ke dekapannya. Mengecup puncak kepala Rebecca berkali-kali.
“Mulai sekarang, jangan berpikir yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan wanita itu. Kamu tahu alasanku menikahinya dan kamu juga harus tahu kalau dia tidak memiliki perasaan apa pun terhadapku. Jadi, apa pun yang ada di otak kecilmu itu tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah,” tutur Azka.
Rebecca mengulas senyum sembari mengeratkan pelukannya. “Aku mencintaimu.”
“Aku lebih mencintaimu,” balas Azka lembut.
-------
Love you guys~