Chapter 12

1935 Words
Navaya membuka mata dan pandangannya langsung berhadapan dengan langit-langit kamar. Selama beberapa saat, wanita itu termenung tanpa bergeming sedikit pun dengan perasaan campur aduk. Ini adalah hari pertama di mana ia terbangun di kamar barunya. Dan mulai sekarang, Navaya akan terbangun dari kamar ini. Terasa sangat aneh dan canggung. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama baginya untuk bisa terbiasa di rumah ini. Merasa siap untuk menjalani hari pertamanya di rumah tersebut dengan status yang baru, Navaya beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Seusai mandi, ia mengenakan pakaian berupa sepasang sweater dan celana panjang. Selesai bersiap-siap, Navaya pun keluar dari kamar dengan sedikit canggung. Namun sebelum menutup pintu, ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Setelahnya, barulah Navaya beranjak dari sana. Akan tetapi, baru beberapa langkah, kakinya berhenti tepat di depan kamar Azka. Navaya menoleh pada pintu kamar pia itu yang tertutup rapat. “Apa dia sudah bangun? Ini hari minggu. Jadi, dia tidak pergi kerja. Mungkin dia masih tidur,” gumam Navaya dengan suara kecil. Saat ia hendak melangkah menghampiri kamar Azka, kakinya langsung tertahan di tempat. “Tidak. Jangan lupakan batasanmu, Navaya,” gumamnya lagi kemudian langsung pergi dari sana. Namun, lagi-lagi kaki Navaya terhenti saat tiba di tangga. Ia bingung harus ke mana di rumah yang luas ini. Alhasil, Navaya hanya terdiam di tempatnya. Sampai tak berapa lama kemudian, seorang pria paruh baya menghampiri wanita itu. “Anda bangun pagi hari ini, Nyonya,” sapa pria paruh baya tersebut yang membuat Navaya terperanjat kaget. Selama sesaat, Navaya menatap pria paruh baya tersebut dengan bingung. “Siapa Anda?” “Perkenalkan, saya Benjamin Walton. Anda boleh memanggil saya Benjamin. Saya adalah kepala pelayan di rumah ini,” ungkap pria bernama Benjamin tersebut. “Jika Anda membutuhkan sesuatu atau sekadar ingin bertanya, Anda boleh bertanya pada saya.” Navaya mengulas senyum. “Terima kasih.” “Sudah tugas saya untuk melayani Anda, Nyonya,” ucap Benjamin seraya membungkuk. “Kau tidak perlu terlalu formal padaku. Cukup panggil aku Navaya,” pintanya. Benjamin menggeleng dengan senyum di wajahnya. “Anda adalah istri dari Tuan Azka. Saya tidak boleh berlaku tidak sopan pada Anda. Tolong dimengerti.” “Baiklah,” ucap Navaya tanpa membantah. “Tadi saya melihat Anda seperti kebingungan. Apa Anda membutuhkan sesuatu?” “Seperti yang kau tahu, ini adalah hari pertamaku di sini. Aku masih belum mengenal tempat ini dengan baik. Jadi, aku tidak tahu harus ke mana,” jawab Navaya jujur. Dari pada berbohong yang justru akan membawa kesesatan untuknya. “Tanpa mengurangi rasa hormat, apa saya boleh mengajak Anda keliling di rumah ini?” tawar Benjamin. “Sepertinya aku memang membutuhkan itu,” ucap Navaya setuju. “Kalau begitu, kita akan memulai dari lantai ini,” ujar Benjamin. “Di lantai 3 ini hanya 3 ruangan. Seperti yang Anda tahu. Ini adalah kamar Tuan Azka dan yang itu adalah kamar Anda. Sementara yang di ujung sana adalah ruang kerja Tuan Azka. Selain pelayan yang membersihkan ruang kerja tersebut, siapa pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam sana,” jelasnya. “Kau tahu aku dan Azka tidak tidur di kamar yang sama?” tanya Navaya cukup terkejut. Lagi-lagi Benjamin mengulas senyum. “Bukan hanya saya, semua pelayan di sini tahu. Dan karena kami adalah pelayan, jadi wajar jika kami tahu semuanya tentang Tuan dan Nyonya kami.” ‘Jadi, memang tidak ada rahasia di rumah ini.’ Navaya membatin. “Apa masih ada yang ingin Anda tanyakan?” tanya Benjamin yang dijawab gelengan oleh Navaya. “Kalau begitu, sekarang kita bisa pindah ke lantai 2.” Navaya mengangguk. Setelahnya, mereka berdua pun turun ke lantai 2 menggunakan tangga atas permintaan Navaya. Berbeda dari lantai 3, di lantai 2 terdapat cukup banyak ruangan. Ada 3 kamar tidur yang sedikit lebih kecil dari kamar Navaya, ruang gym, home theater yang bisa digunakan untuk 10 orang, dan ruang sauna. Sementara itu, di lantai dasar terdapat ruang keluarga, perpustakaan mini, dapur, ruang makan, ruang santai, dan ruang tamu. Selain ketika lantai tersebut, Benjamin juga mengajak Navaya menuju ruang bawah tanah yang sangat luas. Ruang bawah tanah tersebut merupakan tempat untuk bermain billiard dan beberapa permainan lainnya. Seperti mesin basket, bowling, mesin boxing, permainan balap mobil, tenis meja, dan sepak bola meja. Bukan hanya itu, di sana juga terdapat mini bar yang menyediakan berbagai macam jenis anggur dan berbagai jenis minuman lainnya. Tempat penyimpanan anggurnya sendiri pun terdapat di ruangan lain yang juga berada di sana. Membuat Navaya semakin mengagumi rumah tersebut. Rasanya, semua fasilitas yang biasanya hanya ia jumpai di luar, berada di rumah ini. Setelah keluar dari ruang bawah tanah, Navaya kembali diajak ke area halaman rumah. Di halaman sisi kiri terdapat lapangan basket. Di halaman belakang memiliki kolam renang yang difasilitasi dengan kursi santai. Di halaman sisi kanan terdapat taman bunga, kolam ikan, ayunan, serta kursi dan meja yang bisa digunakan untuk duduk santai. Sementara itu, di halaman depan ada air mancur dan garasi mobil yang dapat memuat hingga 10 mobil. Setelah puas mengelilingi seluruh area rumah, Navaya tak henti-hentinya mengagumi semua fasilitas yang terdapat di sana. Dan karena lelah berjalan, Navaya dan Benjamin memutuskan untuk beristirahat di taman bunga. Meski Navaya telah mengelilingi seisi rumah tersebut, namun ada satu hal yang mengganggu pikiran wanita itu. “Sejak tadi, kau sudah memperkenalkan seluruh fasilitas di rumah ini. Tapi, aku kau tidak pernah menyebut kamar untuk para pelayan. Di rumah ini ada cukup banyak pelayan, di mana mereka semua tinggal?” tanya Navaya. “Di sana,” jawab Benjamin seraya menunjuk sebuah rumah kecil berlantai dua yang berada tak jauh dari taman bunga. Antara rumah tersebut dan taman bunga hanya dibatasi oleh semak-semak yang terawat. “Anda juga tinggal di sana?” tanya Navaya yang diangguki oleh Benjamin. “Kami semua tinggal di sana,” ucap pria paruh baya itu. “Apa aku boleh bertanya tentang masalah pribadi?” tanya Navaya. “Tentu,” jawab Benjamin. “Apa kau berasal dari luar negeri? Wajahmmu terlihat seperti orang asing,” tanya Navaya. “Anda memiliki pengamatan yang bagus,” puji Benjamin. “Saya memang berasal dari Amerika.” “Tapi, bahasa Indonesia-mu sangat bagus,” ujar Navaya. “Saya sudah 33 tahun berada di Indonesia. Justru aneh jika saya masih belum menguasai bahasa Indonesia,” ujar Benjamin yang membuat Navaya mengulas senyum. “Saat berusia 18 tahun, saya datang ke Jakarta dengan tujuan untuk berlibur. Waktu itu, Jakarta masih belum seperti sekarang. Walaupun begitu, saya sangat suka tinggal di sini dengan keramahan semua orang yang berada di sekitar saya. Karena itu, setelah beberapa bulan berada di sini, saya memutuskan untuk menetap di Indonesia,” tuturnya. “Di tahun pertama, saya mencoba berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Sampai saya bertemu dengan Tuan Kevin. Selama hampir 27 tahun, saya bekerja di rumah Tuan Kevin dan Nyonya Shanum. Awalnya, saya bekerja sebagai sopir pribadi. Namun akhirnya, Tuan menjadikan saya sebagai kepala pelayan.” “Setengah hidup saya, saya habiskan bersama Tuan Kevin dan Nyonya Shanum. Saya bahkan telah menyaksikan pertumbuhan Tuan Azka. Hingga sekarang Tuan Muda telah menikah dengan Anda. Karena itu, Nyonya Shanum mengirim saya ke sini untuk melayani Anda berdua. Beberapa pelayan di sini pun berasal dari rumah lama. Tuan Muda merasa sedikit tidak nyaman jika dilayani dengan orang baru.” “Aku tidak menyangka kalau kau sudah sangat lama berada di keluarga ini. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini sangat lama. Wajar jika Mama mengirimmu ke sini untuk menjaga Azka. Karena kau sudah mengenalnya sejak kecil, jadi Mama yakin kalau kau pasti bisa menjaganya dengan baik,” ujar Navaya. “Aku tidak bermaksud meragukanmu, tapi apa sebelumnya kau tidak pernah berpikir untuk bekerja di tempat lain?” tanyanya. “Tidak. Saya sudah lama bekerja untuk Tuan Kevin dan Nyonya Shanum. Sejak mereka menawarkan pekerjaan pada saya pun, saya sudah menetapkan pilihan kalau saya hanya ingin mengabdikan diri untuk keluarga ini. Mereka berdua telah memberikan banyak kebaikan pada saya,” tutur Benjamin. “Lalu, bagaimana dengan istri dan anak-mu? Apa mereka juga tinggal di sini?” “Saya tidak memiliki istri dan anak.” “Apa aku boleh tahu alasannya?” “Dulu, saya hidup dalam keluarga yang tidak utuh. Kedua orang tua saya berselingkuh di belakang masing-masing. Saat mereka memutuskan untuk bercerai, tidak ada dari mereka ingin merawat saya. Keduanya saling melempar tanggung jawab dengan berbagai alasan. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak akan pernah memiliki pasangan. Tidak masalah jika saya harus seorang diri seumur hidup saya. Tidak ada yang akan berbeda.” “Sebenarnya, datang ke Jakarta pun adalah bentuk dari pelarian diri saya. Saya berbohong saat mengatakan kalau saya datang untuk berlibur. Saya hanya tidak ingin hidup di tempat yang akan mengingatkan saya tentang peristiwa menyakitkan itu. Saya ingin memulai hidup baru yang lebih baik.” “Maaf. Aku tidak tahu kalau kau memiliki masa lalu seperti itu. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu.” “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nyonya. Anda tidak tahu, tidak apa-apa. Justru saya yang harus berterima kasih pada Anda. Jika Anda tidak mengingatkan saya, mungkin saya sudah lupa kalau saya memiliki orang tua.” Meskipun Benjamin berkata seperti itu, namun Navaya tetap merasa tidak enak pada pria paruh baya itu. “Baiklah. Saya pikir cukup untuk hari ini. Saya masih memiliki pekerjaan yang lain,” sahut Benjamin sembari berdiri dari duduknya. Navaya lantas menoleh pada pria paruh baya itu. “Anda boleh memanggil saya jika Anda membutuhkan sesuatu,” ucap pria paruh baya itu yang diangguki oleh Navaya. “Terima kasih dan maaf telah membuang waktumu,” ujar Navaya. “Sudah menjadi tugas saya,” ucap Benjamin. “Saya permisi,” pamitnya kemudian langsung beranjak dari sana. Sepeninggal Benjamin, Navaya pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Azka yang baru datang. Pria itu masih mengenakan pakaiannya yang semalam. ‘Apa dia tidur di luar semalam?’ batin Navaya. “Azka,” panggilnya canggung. Ini pertama kalinya ia memanggil pria itu dengan nama. Bahkan ini pertama kalinya Navaya yang lebih dulu berbicara dengan Azka. “Ada apa?” tanya Azka setelah Navaya berada di hadapannya. “Apa siang ini aku boleh keluar untuk bertemu temanku?” tanya Navaya. “Silakan. Kau tidak perlu meminta izin padaku. Kau boleh melakukan apa pun yang kau mau tanpa izin dariku. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mengganggu privasi masing-masing?” ujar Azka kemudian beranjak dari sana. “Apa mereka tidak memberitahumu tentangku?” tanya Navaya yang menghentikan langkah pria itu. “Mereka sudah memberitahuku,” jawab Azka. “Lalu, kenapa kamu tetap mau menikah denganku?” tanya Navaya. “Apa alasanmu memilihku?” tanyanya lagi sembari menoleh pada pria itu. “Karena itu adalah kau,” jawab Azka. “Apa maksudmu?” tanya Navaya dengan kening yang sedikit mengerut. “Aku tak suka dengan wanita cerewet, rewel, dan sulit diatur. Dari yang kutahu, kau memiliki sifat yang tenang dan sabar. Dengan menikah denganmu, aku bisa hidup dengan tenang.” “Kalau begitu, apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Navaya. “Tidak ada,” jawab Azka. “Kau hanya perlu berada di rumah ini selayaknya suami istri pada umumnya. Kau tidak perlu melakukan pekerjaan rumah. Kau juga tidak perlu menyiapkan barang-barangku setiap pagi, karena aku bisa melakukannya sendiri. Selebihnya, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan di rumah ini selama kau tahu batasanmu,” jelasnya kemudian pergi dari sana. Meninggalkan Navaya yang terpaku di tempat. Sebenarnya Navaya pun tidak mengharapkan jawaban apa pun dari Azka. Karena, ia sadar kalau dirinya tak bisa memberikan apa pun untuk pria itu. “Jika satu-satunya yang kamu inginkan adalah ketenangan. Maka aku akan memberikannya padamu,” lirih Navaya. ------- Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD