Chapter 13

1422 Words
Azka membuka pintu sebuah ruangan VVIP yang berada di club milik Rebecca. Pria itu lantas masuk ke dalam ruangan tersebut yang telah dihuni oleh salah satu sahabatnya. Zico Haritala. Zico merupakan salah satu pengusaha muda yang sukses di tengah sengitnya persaingan bisnis di zaman modern seperti sekarang. Bisnisnya sendiri bergerak di bidang otomotif dan gadget. Di usianya yang telah menginjak 25 tahun, Zico sudah membuka cabang perusahaannya di beberapa kota besar Indonesia. Saat ini, pria itu bahkan sedang berencana untuk membuka cabang di Malaysia dan Thailand. “Kau sudah datang,” sambut Zico kemudian meneguk minumannya. “Kau sendirian? Biasanya ada wanita yang menemanimu,” ujar Azka sembari duduk di sofa yang berlawanan dengan sang sahabat. “Aku sedang tidak mood. Jadi, jangan pernah memanggil mereka ke sini,” ucap Zico. Lagi, pria itu meneguk minumannya. “Ada apa? Kau ada masalah?” tebak Azka tepat sasaran. “Bagaimana bisa kau selalu bisa menebak isi kepalaku?” tanya Zico tak mengerti. “Justru aneh kalau aku tidak tahu,” ucap Azka. “Katakan, apa yang mengganggumu.” “Sebenarnya hanya masalah kecil. Tapi, kepalaku tetap sakit setiap mengingatnya,” ujar Zico. “Kau tahu kalau aku akan membuka cabang di Thailand dan Malaysia.” “Baru-baru ini, aku menerima kabar kalau baru-baru ini pemerintah di Thailand menerapkan peraturan baru. Pajak untuk pengusaha asing di sana akan dinaikkan sebesar 5 persen dari pajak sebelumnya. Bandingkan saja berapa banyak pajak yang harus kubayar dan laba yang akan kudapatkan. Aku baru memulai bisnis di sana, tapi sudah membayar pajak sebesar itu,” keluh pria itu. “Bukan hanya itu. Tanah yang ada di Malaysia tersangkut masalah sengketa. Aku sudah mengirim orang untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi, sampai sekarang masih belum ada kabar dari mereka.” “Untuk masalah pajak, kau bisa meningkatkan dana pensiun untuk para karyawan. Besar dana yang dibayarkan setiap bulan untuk kontribusi dana pensiun dapat digunakan sebagai pengurang jumlah penghasilan yang dikenakan pajak. Selain itu, kau juga bisa berinvestasi pada produk investasi dengan pajak rendah,” tutur Azka. “Sementara masalah sengketa tanah di Thailand, usahakan untuk menyelesaikannya dengan cara negosiasi atau mediasi dengan pihak terkait agar tidak masalahnya tidak terlalu diperpanjang. Jika 1 minggu kau masih belum menerima kabar, kau harus turun tangan secara langsung.” “Kedua masalah ini memang bukan masalah besar dan bisa diselesaikan dengan cara yang mudah. Lalu, apa yang membuatmu sakit kepala?” “Bagaimana aku tidak sakit kepala? Walaupun ada cara untuk mengatasi kedua masalah itu, tapi hasilnya jauh dari rencanaku sebelumnya. Aku bahkan hampir tidak bisa menerima keuntungan sama sekali. Kalau begitu, apa gunanya aku membuka cabang di kedua negara itu?” gerutu Zico. “Kau baru memulai bisnis di sana. Lambat laun, kau pasti akan bisa meraih keuntungan dari sana. Sa-” BRAK! Suara pintu yang dibuka dengan kasar sukses mengalihkan perhatian Azka dan Zico. Keduanya lalu menoleh pada ke arah pria yang baru saja masuk ke dalam. Pria tersebut tampak sangat marah sampai bernapas tak teratur. “Apa yang terjadi denganmu? Baru datang sudah mengamuk,” sahut Zico. Menatap pria yang berdiri di depan meja sembari berkacak pinggang. “Jangan bertanya. Aku sedang kesal,” ketus pria tersebut kemudian meraih botol alkohol di atas meja lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Milan Cassio Octavian. Pria keturunan Italia yang berusia 25 tahun. Milan merupakan seorang model sekaligus aktor yang cukup terkenal. Karir pria itu bahkan telah merambah hingga keluar negeri. Pernah berperan bersama aktor hollywood terkenal dan bahkan pernah menjadi model runway di acara bergengsi Paris Fashion Show. Azka dan Zico saling bertukar pandang melihat sahabat mereka yang baru memunculkan batang hidung tersebut. Sudah hampir 1 tahun mereka tidak bertemu karena jadwal Milan yang terlalu padat. Sekalinya bertemu, pria itu langsung mengamuk seperti ini. “Bermasalah dengan lawan mainmu lagi?” tebak Azka sesaat setelah Milan duduk tak jauh dari Zico. “Bagaimana bisa mereka memasangkanku dengan wanita sembarangan?! Wanita itu benar-benar tidak berbakat di bidang akting! Aku sampai harus mengulang adegan yang sama berulang kali karena wanita itu! Terlebih adegan itu saat dia harus menyiram air tepat di wajahku! Hidungku sampai kemasukan air beberapa kalinya karenanya!” oceh Milan. “Sudah seperti itu, dia masih dengan tidak tahu malunya malah meminta foto denganku! Sangat menjengkelkan! Aku sangat benci dengan wanita itu! ARGH! AKU TIDAK SANGGUP LAGI HARUS BERTEMU DENGANNYA SELAMA BEBERAPA BULAN KE DEPAN!” serunya. Setelah itu, Milan kembali meneguk botol alkoholnya hingga tandas. Membuat Azka dan Zico lagi-lagi saling bertukar pandang. “Apa dia cantik?” tanya Zico. “Lumayan,” jawab Milan dengan napas yang masih terengah-engah karena emosi. “Kalau begitu, masalah selesai,” ucap Zico. Milan menoleh pada Zico. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan sebelah alis terangkat. “Kau pikir saja sendiri,” ujar Zico kemudian meneguk minumannya. “Ini bukan pertama kalinya kau mengeluh tentang lawan mainmu yang tidak bisa akting. 1 bulan setelah kau mengeluh, rumor pacaran kalian sudah muncul ke permukaan. Dan satu-satunya alasan kau mengencani pasangan mainmu meski dia tidak bisa akting adalah karena wajahnya yang cantik,” ungkap Azka. “Benarkah? Aku? Seperti itu?” tanya Milan tak percaya. “Sudah kubilang kalau ini bukan pertama kalinya,” ucap Azka acuh yang membuat Milan mendengus. “Kalau begitu, rumor kencanku akan berhenti sampai di sana. Lawan mainku kali ini benar-benar sangat payah. Sampai mati pun, aku tidak akan memiliki skandal apa pun dengannya. Kalau sampai kalian mendengar rumor kencanku dengannya, aku akan meninggalkan dunia hiburan selamanya,” tukas Milan penuh keyakinan. Azka menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Oh, iya. Azka,” sahut Zico yang mengalihkan perhatian sang empunya nama. “Kau sudah menikah dengan wanita lain. Lalu, bagaimana dengan Rebecca?” “Benar. Bagaimana kekasih gelapmu itu? Kau masih menjalin hubungan dengannya?” tambah Milan penasaran. “Kekasih gelap apanya? Dia kekasihku. Dan itu tidak akan pernah berubah,” ucap Azka. “Lalu, bagaimana dengan istrimu?” tanya Zico. “Benar. Bagaimana dengan istrimu? Ini namanya selingkuh sejak dini,” sambung Milan. “Bukan selingkuh sejak dini. Tapi, wanita itu yang datang di antara kami,” koreksi Azka. “Jahat sekali. Teganya kau berkata seperti itu tentang istrimu,” ucap Milan. “Wanita itu hanya berstatus sebagai istriku. Selain itu, kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan sampai kapan pun, yang ada di hatiku hanya Rebecca. Tidak ada wanita lain,” tukas Azka. “Ck ck ck. Kau sudah dibutakan oleh cinta. Kau benar-benar sudah tidak bisa terselamatkan,” ujar Milan. “Apa wanita itu tahu tentang hubunganmu dan Rebecca?” tanya Zico. “Untuk apa dia tahu? Tidak penting,” ucap Azka. “Jadi, kau akan tetap menyembunyikannya?” tanya Zico yang diangguki oleh Azka. “Lalu, bagaimana jika suatu saat nanti dia mengetahui hubunganmu bersama Rebecca?” “Biarkan saja. ‘Toh, dia juga tidak memiliki perasaan apa pun padaku,” ujar Azka acuh. “Dari mana kau tahu kalau tidak tidak memiliki perasaan padamu? Kau bertanya padanya? Atau dia sendiri yang mengatakannya?” tanya Milan. Selama beberapa saat, Azka membisu. Benar. Tidak ada jaminan kalau Navaya tidak menyukai dirinya. Ia tidak pernah bertanya pada wanita itu dan Navaya sendiri pun tidak pernah mengatakannya. Lalu, atas dasar apa dirinya mengatakan kalau Navaya tidak menyukainya? Azka menggelengkan kepala. ‘Untuk apa aku memikirkan itu?’ batinnya. “Dia menyukaiku atau tidak, itu tidak penting. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita itu. Selama dia tidak mengganggu hubunganku dengan Rebecca, menjamin kehidupannya sudah cukup,” ucap Azka. “Yang kau sebut dengan wanita itu adalah istrimu. Apa kau tidak bisa setidaknya memanggil namanya?” tanya Zico. “Tapi, Zic. Kenapa kau seperti membela wanita itu? Kau menyukainya?” sahut Milan penasaran. Mendengar pertanyaan itu lantas membuat Azka ikut penasaran. “Tentu saja tidak. Aku hanya merasa kasihan dengan wanita itu karena menikah dengan pria seperti Azka,” ucap Zico. “Hanya itu?” tanya Milan. “Memang jawaban seperti apa yang kau harapkan?” tanya Zico. “Tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya berpikir, mungkin saja ada alasan yang sedikit istimewa karena kau terus membelanya,” ujar Milan. “Aku bukan membelanya. Kalian tahu kalau sangat menghargai suatu hubungan. Hatiku lemah menyangkut masalah seperti ini,” ucap Zico. Milan mengangguk setuju. “Benar. Aku sampai lupa kalau kau adalah pria lembut berhati malaikat,” sindirnya. “Jangan mulai,” pinta Zico sembari melempar bantal pada pria itu. Di lain sisi, Azka yang sejak tadi membisu dengan kening mengerut. Pria itu masih terjebak di pertanyaan ‘apakah Navaya menyukai dirinya atau tidak?’. Entah kenapa, ia tiba-tiba memikirkan hal itu. ------- Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD