Chapter 14

1449 Words
“Selamat pagi, Benjamin,” sapa Navaya ketika melihat Benjamin yang melintas di depan tangga. “Selamat pagi, Nyonya,” balas Benjamin sopan. “Bagaimana pagi Anda?” “Sangat baik,” jawab Navaya mengulas senyum. “Apa Anda ingin sarapan?” tanya Benjamin. Saat Navaya hendak menjawab, pria paruh baya itu kembali berucap, “Kebetulan Tuan juga sedang sarapan.” Selama beberapa saat, Navaya membisu sebelum akhirnya menjawab, “Aku akan sarapan nanti. Sekarang aku ingin pergi ke taman bunga.” Tadinya, Navaya ingin langsung sarapan ketika tiba di lantai bawah. Namun, begitu mendengar kalau Azka juga sedang sarapan, ia langsung mengurungkan niatnya. Bukan karena Navaya tak suka sarapan bersama pria itu. Namun, ia sudah berjanji akan memberikan ketenangan untuk Azka di rumah ini. Jadi, mulai sekarang Navaya memutuskan untuk berusaha tidak berada di ruangan yang sama dengan pria itu. Lebih tepatnya, menghindar dari pandangan Azka. “Baiklah. Kalau begitu, silakan nikmati hari ini,” ucap Benjamin. “Kau juga,” balas Navaya kemudian berlalu dari sana menuju taman bunga. Begitu pula dengan Benjamin yang beranjak menuju dapur yang hanya dibatasi oleh kaca pembatas dari ruang makan. Setibanya di dapur, pria paruh baya itu langsung menghampiri salah seorang pelayan setelah menyapa Azka. “Setelah ini, siapkan sarapan untuk Nyonya,” pinta Benjamin. “Baik, Pak,” ucap sang pelayan. “Apa dia sudah bangun?” sahut Azka. Benjamin lantas bergegas menghampiri sang Tuan. “Sudah, Tuan. Saat ini Nyonya sedang berada di taman bunga.” “Perhatikan jam makannya dan penuhi semua kebutuhannya. Kau boleh menggunakan dana lebih jika diperlukan. Pastikan kesehatan dan keperluannya terjamin selama tinggal di sini. Jangan sampai Mama mengamuk, karena aku tidak memperhatikannya dengan baik. Apa lagi sampai tahu kalau kami tidak tidur di kamar yang sama,” tukas Azka. “Baik, Tuan. Saya mengerti,” ucap Benjamin. Setelahnya, Azka langsung meraih tas kerjanya lalu beranjak dari sana. Meninggalkan Benjamin yang menatap kepergian Tuan-nya. Pria paruh baya itu lantas menghela napas panjang dengan tatapan sendu. Di lain sisi, Navaya yang berada di taman bunga sedang memerhatikan dua orang pekerja taman yang memotong daun-daun dari bunga yang rusak agar tetap bisa mempertahankan kesuburan bunga tersebut. Selain itu, agar penampilan bunga tetap terlihat menarik di pandang mata. Navaya mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dengan pandangan yang tak pernah teralihkan dari dedaunan rusak yang digunting tersebut. Semakin lama, ketukan jari wanita itu semakin cepat. Hingga akhirnya, Navaya beranjak menghampiri pekerja tersebut. “Apa aku boleh mencobanya?” tanya Navaya yang membuat sang pekerja terlonjak kaget dengan kehadiran tiba-tiba wanita itu. “N, Nyonya,” gumam pekerja tersebut. “Apa aku juga boleh memotong daunnya?” tanya Navaya. “Maaf, Nyonya. Tapi, ini pekerjaan berat. Anda tidak boleh melakukannya,” tolak sang pekerja. “Tapi, aku sedang bosan, jadi aku ingin mencobanya,” bujuk Navaya. “Lagi pula, ini bukan pekerjaan berat.” “Tapi, Nyonya. Tu-” “Tidak apa-apa,” potong Navaya kemudian langsung mengambil alih gunting rumput dari pekerja tersebut. “Nyonya,” ucap sang pekerja ragu. “Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya,” ucap Navaya mengulas senyum kemudian mulai memotong dedaunan yang rusak. “Lihat, aku bisa melakukannya, ‘kan?” ujarnya bangga. Sementara pekerja tersebut hanya menatap gugup pada Navaya yang terlihat asyik memotong daun. “Omong-omong, siapa namamu?” tanya Navaya. “Nama saya Bella, Nyonya,” jawab pekerja bernama Bella tersebut dengan kepala menunduk. “Berapa usiamu?” tanya Navaya lagi. “Tahun ini saya berusia 24 tahun,” jawab Bella. “Ternyata kau lebih tua dariku,” ujar Navaya. “Kalau begitu, kau tidak perlu berbicara terlalu formal padaku.” “Maaf, Nyonya. Tapi, saya tidak bisa berlaku tidak sopan pada Anda. Itu bertentangan dengan tugas saya,” tolak Bella. Navaya menghela napas pendek. “Sepertinya semua orang di sini sudah terlatih,” gumamnya dengan suara kecil. “Nyonya,” panggil Benjamin yang membuat perhatian Navaya menoleh. “Sarapan Anda sudah siap, Nyonya,” lapornya. “Sudah?” tanya Navaya memastikan yang diangguki oleh pria paruh baya tersebut. “Apa Azka sudah berangkat kerja?” tanyanya dengan hati-hati. “Tuan sudah berangkat sejak 15 menit yang lalu,” jawab Benjamin. Navaya mengulas senyum. “Baiklah. Aku akan segera ke ruang makan.” “Omong-omong, apa yang sedang Anda lakukan?” tanya Benjamin yang membuat Bella menunduk panik dan gugup. “Ah, ini. Aku sedang memotong daun-daun yang rusak,” jawab Navaya antusias. Sontak, Benjamin melirik ke arah Bella dengan tatapan penuh peringatan. Navaya yang menyadari hal itu lantas menyahut, “Jangan menyalahkan Bella. Aku yang memaksanya untuk memberikan gunting ini padaku. Aku tidak tahan ingin mencoba memotong daun-daun ini.” Benjamin mengulas senyum tipis kemudian mengangguk. “Silakan, Nyonya. Sarapan Anda sudah menunggu,” ujarnya yang diangguki oleh Navaya. “Ini,” ucap wanita itu sembari memberikan guntingnya pada Bella. “Terima kasih sudah memberikannya padaku,” ujarnya kemudian beranjak dari sana bersama Benjamin. “Nyonya,” sahut Benjamin yang berjalan di belakang Navaya. “Mulai sekarang, tolong jangan melakukan hal seperti itu lagi. Jika Tuan tahu, seluruh pelayan di rumah ini bisa dipecat.” Sontak, langkah Navaya terhenti ketika mendengar ucapan Benjamin. Ia lalu berbalik menatap pria paruh baya itu. “Dipecat?” tanya Navaya memastikan. “Tuan pernah berpesan untuk tidak membiarkan Anda melakukan pekerjaan apa pun. Kami dipastikan untuk memastikan bahwa Anda baik-baik saja. Jika tidak, maka seluruh pelayan di rumah ini akan dipecat,” ungkap Benjamin. “Jadi maksudmu, aku bisa menyebabkan semua pelayan di rumah ini dipecat?” tanya Navaya yang diangguki oleh Benjamin. Navaya lantas mengulas senyum. “Tidak mungkin. Azka tidak akan mungkin melakukan itu hanya karena aku. Kalaupun hal itu terjadi, aku yang akan bertanggungjawab untuk kalian semua. Tenang saja. Pria itu tidak akan peduli padaku.” Setelahnya, Navaya berlalu dari sana menuju ruang makan. Meninggalkan Benjamin yang kembali menghela napas panjang. Menatap punggung sang Nyonya penuh arti. “Yang satu melakukan segala cara agar tidak ketahuan. Sementara itu, yang satu lagi terlalu polos dan tidak peka,” gumam Benjamin. ------- Devan membuka pintu mobil untuk sang Kakak, Chessy. Akhirnya, setelah 2 bulan tinggal di hotel, hari ini Devan berhasil membujuk sang Kakak untuk kembali ke rumah. Cukup lama Chessy tetap duduk di dalam mobil, sampai akhirnya wanita itu keluar dengan sangat terpaksa. Devan lantas mengulas senyum kemudian langsung menarik sang Kakak masuk ke rumah dengan penuh antusias. “Pelan-pelan. Aku lelah,” gerutu Chessy dengan wajah masam. “Ayolah. Memangnya kau tidak senang bisa pulang ke rumah lagi?” tanya Devan semangat. “Tidak,” ketus Chessy. Devan terkekeh. “Aku tahu kau bohong. Kemarin aku melihatmu menangis sambil melihat foto Mama dan Papa. Bilang saja kalau kau juga merindukan mereka.” Sontak, Chessy mendengus seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan salah tingkah karena ketahuan. Melihat tingkah sang Kakak lantas membuat Devan kembali terkekeh. “Ma! Pa! Kami pulang!” teriak Devan seraya tersenyum lebar. “Tidak usah teriak-teriak. Berisik,” ucap Chessy jengah. “Ma! Pa! Ka-” “Chessy!” seru Freya. Wanita paruh baya itu lantas bergegas menghampiri Chessy kemudian langsung memeluk putri sulungnya itu. “Akhirnya kamu pulang juga, Nak. Mama sangat khawatir dengan keadaan kamu,” ujar Freya penuh haru. “Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Kamu pasti tidak makan dengan teratur. Lihat lingkaran di bawah matamu. Apa kamu tidak tidur semalaman? Ya, Tuhan. Chessy,” cecarnya sembari memeriksa tubuh sang putri. Saat Chessy hendak menjawab, Arfan yang baru datang taman belakang langsung menyahut, “Ternyata kamu masih ingat jalan pulang,” sindirnya. “Pa,” tegur Freya. “Kenapa? Papa hanya mengatakan yang sebenarnya,” ucap Arfan. “Anak gadis tidak pulang ke rumah selama 2 bulan, tapi tinggal di hotel. Apa yang akan dikatakan orang kalau tahu tentang masalah ini? Bisa-bisa kamu dianggap sebagai perempuan tidak benar. Mau jadi apa kamu nanti?” tukasnya. “Atas dasar apa Papa bicara seperti pada Kakak?!” bentak Devan. “Kenapa Papa tega memperlakukan Kakak seperti ini?! Sebenarnya siapa a-” “Hentikan, Devan,” pinta Chessy. “Bukankah aku sudah mengatakannya? Percuma kita pulang ke rumah ini. Tidak ada yang akan menyambut kedatangan kita,” sinisnya. Tanpa basa-basi, ia langsung keluar dari rumah dengan penuh emosi. “Chessy!” panggil Freya yang diabaikan oleh wanita itu. “Kak!” seru Devan. Ia lalu menatap sang Ayah dengan kesal. “Tidak seharusnya Papa mengatakan itu pada Kakak! Papa tidak tahu apa-apa!” bentaknya kemudian ikut menyusul Chessy. “Devan!” panggil Freya yang lagi-lagi diabaikan oleh sang putra. Ia lalu menatap kesal pada sang suami. “Papa benar-benar keterlaluan,” tukasnya kemudian langsung beranjak dari sana. Meninggal Arfan yang hanya menghela napas. ------- Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD