09. Jangan Beritahu Aidan

1143 Words
Liana tidak tahu harus bagaimana. Di depannya kini ada Simon, sekretaris sekaligus orang kepercayaan Aidan yang sudah ia kenal sejak dulu. Yang sialnya lagi, tatapan Simon beralih ke Noah yang berada dalam gendongannya. "Nyonya, apa kabar?" tanya Simon ramah. Lelaki yang berumur lima tahun lebih tua dari Liana itu tersenyum lebar, seakan mengabaikan tatapan Liana yang sedikit cemas. Liana menutup pintu mobilnya, sepenuhnya kini menghadap pada Simon. "Aku ... baik. Bagaimana denganmu?" tanya Liana basa-basi. Ya Tuhan, Liana benar-benar ingin menghilang sekarang. Menghilang dari hadapan Simon. Simon mengangguk kecil, "Saya baik-baik saja. Hanya saja, pekerjaan saya yang tidak baik-baik saja." Dahi Liana mengerut dalam, rasa penasaran tiba-tiba menggerotinya. "Apa maksudmu?" "Tuan Aidan selalu emosional sejak kalian berpisah. Tapi itu bukanlah masalah besar, aku masih bisa mengatasinya," sahut Simon lalu mengangkat bahunya acuh. Liana bungkam kala mendengar nama Aidan. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entahlah, ia merasa perasaannya sekarang campur aduk. "Nyonya," panggil Simon. "Panggil Liana saja, aku tidak nyaman dipanggil Nyonya." Simon tidak protes sama sekali. "Apa dia Tuan Muda?" Arah pandang Simon beralih pada Noah yang menatap kedua orang dewasa itu dengan polos. Kerutan samar muncul di dahi Noah, antara silau karena matahari atau bingung dengan laki-laki yang sedang berbicara dengan Liana. "Om itu siapa, Ma?" Kini giliran Noah yang bertanya. Alisnya terangkat naik melihat orang asing di depannya dan tengah berbicara dengan Liana. Simon hanya mendengarkan interaksi Liana dan bocah itu. Ia sebenarnya tidak paham, karena mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ia tidak bisa dan mengerti bahasa Indonesia, hanya Aidan yang bisa. "Kenalan Mama." Liana menyahut pertanyaan Noah dengan singkat. Lalu matanya menatap Simon serius. "Aku ingin berbicara serius denganmu, Simon." "Silakan." Simon tidak keberatan, ia menanti ucapan Liana selanjutnya. Liana menatap Noah yang di gendongannya. "Noah, kamu masuk ke mobil lagi ya sebentar?" Noah mengangguk menurut. Liana kembali membuka pintu mobil dan mendudukkan Noah. Setelah selesai ia menutup pintu mobil dan kembali menghadap ke arah Simon. "Dia anakku, bukan Tuan muda mu Simon." Liana berujar dengan penuh Simon tersenyum kecil, "Anda tidak bisa berbohong. Saya tahu anda tengah mengandung saat meninggalkan kota London. Terlebih ia sangat mirip dengan Tuan Aidan. Hanya rambutnya yang berbeda." Liana membelalakkan matanya kaget. "Tahu dari mana?" Sekarang berbagai macam pikiran buruk berkeliaran di kepala Liana. Apakah Aidan juga tahu? "Saya mengikuti anda setelah bercerai. Jujur, saya tidak setuju kalian berpisah dan saya yakin anda tidak bersalah. Tapi ya, Tuan Aidan memang bodoh dan tidak bisa mengendalikan emosinya." Liana tersenyum samar, mendengar Simon mengatai Aidan bodoh membuatnya tak bisa menahan senyum. Ya, Simon benar, Aidan sangat bodoh. Tapi tetap saja, Liana tak suka dengan kalimat Simon yang mengatakan mengikuti dirinya setelah bercerai. Liana menatap Simon sinis. Berani sekali pria ini mengikuti dirinya. “Berani-beraninya kamu mengikutiku, Simon!” seru Liana kesal. Simon hanya meringis pelan dan meminta maaf. “Maaf, Nyonya.” Semua telah berlalu, tidak ada gunanya jika Liana memarahi Simon sekarang. Namun, Liana harap Aidan tidak tahu. "Apa Aidan tahu?" "Jadi benar bukan? Dia Tuan Muda." Senyum tipis terpancar di wajah Simon. Ia lega, ternyata Liana berhasil melahirkan seorang putra. Seperti yang Aidan inginkan, dulu. Liana menggeram kesal, "Jawab dulu pertanyaan ku!" "Tidak, Tuan Aidan tidak tahu." Liana menghela napas lega. Kini ia menatap Simon dengan wajah penuh harap. "Rahasiakan ini semua, Simon. Sekarang aku hanya ingin tinggal dan hidup bersama putraku." Simon mengangguk saja. Toh, selama ini ia juga menyembunyikan fakta bahwa Liana hamil dari Aidan. "Kamu serius?" "Saya akan merahasiakannya. Anda tidak perlu khawatir, dan kalau kita berjumpa lagi. Saya harap bukan tatapan takut, khawatir dan tajam yang anda layangkan." Liana tersenyum lebar, ia sangat lega. Simon tidak akan membeberkan rahasianya. "Siapa namanya?" "Noah." "Noah saja?" Dahi Simon mengerut dalam. "Noah Manuel." "Tidak ada nama Winston?" "Dia putraku." Simon terkekeh geli melihat raut wajah Liana yang berubah kesal. "Maaf telah membuat anda kesal." "Aku pergi. Rahasiakan semua ini, Simon. Anakku sudah lapar, sampai jumpa!" Liana membuka kembali pintu mobil dan menggendong Noah. Setelah itu ia mengunci mobil dan masuk ke dalam restoran, meninggalkan Simon yang masih berdiri di tempatnya menatap ke arah Liana dan Noah. Simon mengembangkan senyumnya dengan lebar saat Noah menatapnya karena posisinya digendong oleh Liana, membuat anak itu bisa melihatnya ke belakang. *** Usai makan siang, Liana langsung mengajak Noah pulang. Sesampainya di rumah, Liana dan Noah di kejutkan oleh kehadiran Darian dan Keanu di depan pintu, langsung saja ia membukakan pintu dan menyuruh keduanya untuk masuk. Noah dan Keanu langsung bermain seperti biasanya di halaman belakang rumah, meninggalkan Liana dan Darian di ruang tamu. "Habis dari mana saja?" tanya Darian basa-basi, kemudian menjatuhkan dirinya di sofa empuk di ruang tamu. "Makan diluar sama Noah. Oh iya, kamu mau minum apa?" Darian menggeleng, "Tidak usah membuatkan aku minuman, cukup air putih aja." Liana mengangguk lalu mengayunkan kakinya menuju dapur, mengambil segelas air untuk Darian. Tak berselang lama, Liana kembali. Ia menyerahkan gelas berisi air mineral itu pada Darian. "Tidak bekerja?" tanya Liana. "Hari ini tidak banyak pekerjaan, hanya pertemuan bersama pemilik resort." Liana bungkam, ia menatap Darian lurus. Ia ingin bertanya, tapi ia ragu. Namun, Darian menangkap gelagat Liana yang seakan ingin berbicara padanya. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" "Aku bertemu Simon tadi," ucap Liana, lalu menghela napas. "Simon sekretaris Aidan?" Liana mengangguk mengiyakan. "Apa dia tahu soal Noah?" tanya Darian sedikit cemas. "Dia tahu. Bahkan sejak dulu," sahut Liana. Wanita itu melirik ke arah Noah yang sedang berlarian bersama Keanu dengan memegang robot. Terlihat sedang memperebutkan mainan itu. "Maksudmu?" Darian menatap Liana bingung. "Dia tahu aku hamil saat meninggalkan London, dan aku bersyukur ia tidak melaporkan itu pada Aidan. Dan pertemuan kami tadi ia akan rahasiakan, aku sangat lega." Darian menatap Liana tidak percaya, ia merasa Liana tak benar-benar senang dengan ucapannya sendiri. Dapat Darian lihat pancaran khawatir di wajah Liana. "Kalau lega, kenapa wajahmu masih terlihat khawatir?" "Aku tidak khawatir," sahut Liana cepat. "Aku hanya penasaran." "Penasaran?" Alis Darian terangkat naik, heran. "Bagaimana keadaan Aidan? Kamu menemuinya bukan?" tanya Liana dengan satu tarikan napas. Kepala wanita itu menunduk menanti respon Darian. "Aku melihat tidak ada masalah pada dirinya." Darian menyahut seadanya. Diam-diam Liana menghela napas lega. Walaupun Liana berusaha menampik perasaannya pada Aidan dan ingin membuang nama Aidan dari hidupnya, tapi ia tidak bisa. Rasa penasaran dan khawatir dengan keadaan pria itu masih sering melanda dirinya. "Kenapa penasaran?" tanya Darian dengan tatapan menyelidik. Liana menggeleng cepat, "Aku hanya takut semua akan terbongkar. Noah pernah menanyakan soal Aidan, dan aku mengatakan padanya kalau Ayahnya telah meninggal." Darian membeliakkan matanya, "Kamu berbohong padanya." "Aku tahu. Tapi tidak ada yang bisa ku lakukan selain itu, aku hanya tidak ingin ia bertemu dengan Aidan." Darian menghembuskan napas berat. "Pantas saja beberapa hari lalu dia terlihat murung." "Liana..." Darian menatap Liana serius, "Apa kamu tidak memikirkan ucapan ku setahun yang lalu? Noah tetaplah membutuhkan figur seorang Ayah," lanjut Darian. Liana bungkam, ia menatap Darian tidak enak. Lalu wanita itu bangkit, dari duduknya. "Aku akan mengawasi Noah dan Kean dulu." Liana berlalu pergi meninggalkan Darian. Kabur lebih tepatnya. Ia tidak bisa menjawab pernyataan yang Darian layangkan padanya. Karena Liana tidak tahu apa jawaban atas tawaran Darian. Lelaki itu menawarkan kehidupan yang sempurna untuknya, tapi Liana masih sadar diri. Dulu, Aidan menikahinya dan membuatnya menjadi perempuan yang paling bahagia dan memiliki kehidupan yang indah. Tapi pada akhirnya, mereka berpisah. Dan Liana tidak ingin hal itu terulang lagi. Darian pantas mendapatkan yang lebih baik, dan itu bukanlah dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD