Di bawah sorot lampu temaram yang menyelimuti kamar hotel mewah, suasana terasa beku, mencekam, dan penuh ketegangan. Kata-kata Ardi yang tajam menusuk gendang telinga Amelia seperti bilah belati es. "Sekarang, lepaskan pakaianmu." Perintah itu menggema, menelan keheningan yang menyesakkan, dan menghancurkan sisa-sisa keberanian Amelia. Tubuhnya menegang, seluruh ototnya kaku, seolah lumpuh oleh perintah kejam itu. Matanya membelalak, dipenuhi ketakutan dan rasa ngeri yang begitu dalam, seolah ia sedang berhadapan dengan iblis. Jiwanya terasa meninggalkan raganya, menyisakan sebuah boneka kosong yang tak berdaya, terperangkap dalam jebakan yang tak terhindarkan. “Pak…” bisiknya, suaranya tercekat, penuh permohonan putus asa. Ia masih mencoba mencari secercah harapan, secercah belas kasiha

