Keheningan yang membekukan, jauh lebih berat dari semua jeritan yang tertahan, kini membanjiri setiap sudut kamar hotel mewah itu. Udara terasa tebal dan beracun, mencekik setiap napas yang ia coba ambil. Jam dinding berdetak pelan, setiap detik terasa seperti palu godam yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Amelia. Ia terbaring kaku, matanya menatap kosong ke langit-langit yang dihiasi lampu kristal mahal, air mata masih mengalir perlahan di pelipisnya, membasahi bantal sutra yang dingin. Ia tidak lagi sesenggukan, hanya air mata yang terus menetes tanpa suara, mencerminkan kehancuran batin yang begitu dalam dan tak bertepi. Tubuhnya terasa seperti bangkai, berat dan tak bernyawa, dingin hingga ke sumsum tulang. Jiwanya telah terkubur jauh di bawah lapisan es yang membungkus raganya.

