Bianca tak pernah menyangka akan datang momen dirinya duduk berhadapan sembari makan malam dengan mantan suaminya, Reymond. “Jadi ada apa lo nyari gue sampe ke kantor Andara?” tanyanya dingin. Ia ingin membuat pembatas yang jelas dengan mantan suaminya itu, bahwa mereka tak perlu berakrab-akrab meski sedang makan malam bersama. “Kamu … beneran hamil?” Suara Reymond tercekat. “Iya. Kayak yang dibilang di berita-berita.” Reymond tersenyum getir. “Bagaimana bisa? Padahal kita pernah tiga tahun menikah, tapi kamu sama sekali nggak bisa hamil.” Ada nada sedih dalam kalimatnya, bukan amarah seperti yang ia rasakan tadi. “Gue juga nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba hamil. Yah, sepertinya memang kita nggak berjodoh aja. Jadi kita harus berpisah karena lo ngira gue mandul.” Bianca bicara lugas.