Bab 5

1127 Words
Nayla masuk ke kamar dengan langkah berat. Beberapa koper besar sudah disiapkan di sudut ruangan. Vania menyusul masuk sambil membawa daftar barang bawaan. “Kau bawa ini semua,” ujar Vania singkat, tangannya lincah memeriksa isi koper. Pakaian, gaun santai, pakaian tidur, hingga peralatan mandi sudah tersusun rapi. “Tidak perlu kau repotkan. Aku sudah menyiapkan yang terbaik.” Nayla hanya mengangguk, menunduk sambil membantu melipat beberapa baju. Tangannya gemetar saat menyentuh kain tipis yang jelas bukan pilihannya sendiri. Vania berhenti sejenak, lalu menatap Nayla dengan sorot tajam. “Ingat peranmu. Bulan madu bukan sekadar liburan. Kau harus bisa membuat Adrian menidurimu. Lebih cepat hamil, lebih cepat selesai kontrak ini. Itu syarat utamanya.” Nayla menelan ludah, jantungnya serasa berhenti. “Tapi—” “Tidak ada tapi,” potong Vania cepat, tatapannya menusuk. “Kalau kau gagal, kontrak ini tidak ada artinya. Jangan lupa, masa depanmu ada di tanganku. Kau mau bebas? Kau mau hidup tenang? Jalankan peranmu tanpa banyak tanya.” Ia menutup koper dengan suara klik yang terdengar jelas, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, hampir seperti ancaman, “Adrian tidak akan mengejarmu. Dia bukan tipe lelaki yang bernafsu begitu saja. Jadi, kalau kau tidak berusaha, kontrak ini bisa berlangsung lama… bahkan selamanya. Itu yang kau mau?” Nayla menunduk semakin dalam, jemarinya meremas ujung gaun yang dikenakannya. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Aku… aku mengerti, Tante.” Ada getar halus di nadanya, seolah menahan tangis. Ia tidak berani menatap Vania lagi, hanya fokus pada kain di tangannya, mencoba meyakinkan diri bahwa ia bisa melalui ini meski hatinya menolak. Vania menghela napas pelan, lalu membuka koper lain. Ia mengeluarkan beberapa potong pakaian tidur yang tipis dan berenda, lalu menaruhnya di atas ranjang. “Ini semua harus kau pakai. Adrian tidak suka yang ribet. Dia lebih suka sesuatu yang sederhana, tapi bisa menarik perhatiannya. Mengerti?” Nayla menatap sekilas pakaian-pakaian itu, wajahnya memanas. Ia buru-buru kembali menunduk. “I-iya, Tante…” “Bagus.” Vania kembali menandai sesuatu di daftar yang dibawanya. “Jangan membuatku harus mengulang perkataan yang sama. Kau harus ingat, semakin cepat kau hamil, semakin cepat kau bebas. Jangan sampai lupa tujuanmu.” Nayla hanya mengangguk. Suaranya tercekat di tenggorokan, tidak ada kata lain yang keluar. “Kalau begitu, bereskan sisanya. Aku akan memastikan tiket dan dokumen perjalanan sudah siap. Besok pagi kalian berangkat.” Vania menutup buku catatannya, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah mantap. Begitu pintu tertutup, Nayla duduk di tepi ranjang. Matanya kosong menatap pakaian yang tadi ditaruh Vania. Dadanya terasa sesak, tapi ia tidak punya pilihan selain menurut. Nayla menatap koper yang terbuka di depannya. Pakaian-pakaian itu terasa asing, seakan bukan miliknya. Semua sudah diputuskan orang lain, bahkan sampai hal kecil seperti warna baju tidur. Dalam hati, ia bergumam pelan, “Ini hidupku sekarang. Aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku melawan, semuanya bisa lebih buruk. Jadi aku harus diam. Jalani saja. Cepat atau lambat, pasti akan selesai juga.” Ia menghela napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih tak karuan. Rasanya seperti masuk ke dalam permainan yang aturannya dibuat orang lain, sementara dirinya hanya pion. “Aku harus pintar. Aku harus bisa menjaga sikap. Kalau tidak, kontrak ini bisa jadi lebih lama dari yang kuinginkan. Dan itu yang paling kutakutkan.” Nayla meraih salah satu baju tidur tipis di atas ranjang, memandanginya sebentar. Wajahnya panas, tapi ia menaruhnya kembali dengan hati-hati. “Aku tidak suka ini. Tapi kalau ini syaratnya… aku harus tahan. Tidak ada gunanya mengeluh. Yang penting aku keluar dari situasi ini secepat mungkin.” Ia berdiri, menutup koper dengan hati-hati. Dalam diam, ia menegaskan lagi pada dirinya sendiri: ia harus bisa bertahan. ***** Nayla turun ke ruang makan dengan wajah pucat, matanya masih menyimpan sisa lelah. Sarapan sudah disiapkan, tapi ia hanya sempat meneguk segelas air sebelum Vania menghampirinya. “Ayo, waktunya berangkat. Mobil sudah siap,” ujar Vania singkat. Mereka berjalan ke arah mobil dengan koper yang sudah lebih dulu dimuat pelayan. Adrian sudah menunggu di kursi belakang, mengenakan kemeja rapi, wajahnya tanpa ekspresi. Ia hanya mengangguk singkat pada sopir, tidak menoleh sedikit pun ke arah Nayla. Sebelum Nayla masuk ke dalam mobil, Vania meraih pergelangan tangannya sebentar. Senyumnya tipis, tapi nadanya penuh tekanan. “Ingat apa yang kubilang. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Adrian tidak akan mengejarmu, jadi kaulah yang harus bergerak.” Nayla menelan ludah, mencoba menahan rasa gugup. “Aku… aku tahu, Tante.” Vania lalu menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman Nayla—sebuah botol kecil, disamarkan dengan sapu tangan. “Kalau perlu, gunakan ini. Obat perangsang. Jangan biarkan Adrian hanya sibuk dengan pekerjaannya. Lebih cepat hamil, lebih cepat selesai semua ini.” Nayla tercekat. Tangannya gemetar saat menyembunyikan benda itu di dalam tas kecilnya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut, bingung, dan malu. Ia tahu ini bukan sesuatu yang benar, tapi melawan pun tak ada gunanya. Vania menepuk bahunya sekali lagi. “Jangan buat aku kecewa, Nay.” Setelah itu, Vania melangkah mundur. Sopir membuka pintu, dan Nayla terpaksa masuk ke dalam mobil, duduk di samping Adrian yang sama sekali tidak menoleh padanya. Mobil pun melaju keluar halaman rumah besar itu, meninggalkan Vania yang berdiri dengan ekspresi puas. ***** Mobil melaju tenang di jalan raya. Suasana di dalam terasa sesak meski hanya ada sopir, Adrian, dan Nayla. Tak ada percakapan, hanya bunyi mesin dan sesekali deru kendaraan lain yang lewat. Adrian duduk bersandar, wajahnya menghadap keluar jendela. Sesekali ia membuka ponsel, membaca pesan atau menulis balasan singkat. Tidak sekalipun ia menoleh ke arah Nayla. Nayla duduk kaku di sampingnya. Tangannya bertaut di pangkuan, jemari saling meremas karena gugup. Pandangannya hanya menempel pada kaca jendela, meski sebenarnya otaknya penuh pikiran. Kenapa harus aku yang ada di sini? batinnya. Dia bahkan tidak melihatku. Seakan aku cuma orang asing yang kebetulan duduk di kursi ini. Ia melirik sekilas ke arah Adrian. Wajah itu tetap tenang, dingin, tak terbaca. Justru membuat Nayla semakin minder. Bagaimana aku bisa melakukan apa yang Tante minta? Aku bahkan tidak tahu cara berbicara dengannya tanpa salah tingkah. Botol kecil yang tadi diselipkan Vania kini ada di dalam tasnya. Nayla bisa merasakan keberadaannya, membuatnya semakin gelisah. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan buruk yang terus muncul. Mobil terus melaju, membawa mereka berdua menuju awal bulan madu yang bagi Nayla terasa lebih seperti ujian daripada perjalanan. Setiba di bandara, Adrian langsung berjalan lebih dulu tanpa menunggu. Langkahnya cepat, tegas, seolah terbiasa bepergian dengan jadwal ketat. Nayla hanya bisa mengikuti di belakang, menyeret koper dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. Sopir keluarga yang mengantar segera membantu mengurus bagasi. Adrian hanya memberikan beberapa instruksi singkat tanpa menoleh ke Nayla. Semua tampak teratur, nyaris terlalu formal. Nayla melirik sekeliling, merasa asing di tengah keramaian bandara. Orang-orang tampak sibuk dengan urusan masing-masing, dan ia sendiri justru merasa seperti bayangan yang menempel pada Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD