Nayla masih berdiri di tempat yang sama, tubuhnya seakan tertancap di lantai. Kata-kata Adrian bergaung di kepalanya, berulang-ulang, semakin lama semakin menusuk. Hatinya terasa diremas hingga sulit bernapas.
Kelopak mawar yang ditabur di ranjang, harum lembut bunga putih yang memenuhi kamar, dan cahaya lampu temaram yang seharusnya menciptakan kehangatan, kini semuanya terasa asing. Seperti panggung yang dipersiapkan untuk sebuah sandiwara, tempat dirinya hanya menjadi peran sampingan tanpa hak memilih jalan cerita.
Adrian sudah kembali ke sofa, melepaskan jas dan kemeja formal dengan gerakan tenang seakan tak terjadi apa-apa. Ketika ia duduk, lengannya terentang di sandaran, matanya dingin, penuh jarak. Berbeda sekali dengan ketegangan yang masih membelenggu Nayla.
Nayla menunduk dalam, jemarinya semakin menggenggam renda gaunnya hingga nyaris merobek kain. Pikirannya penuh dengan kalimat yang tidak ingin ia akui: bahwa di balik rasa takutnya, ada secuil harapan bodoh yang ia sembunyikan. Harapan bahwa mungkin… mungkin Adrian akan memandangnya lebih dari sekadar kontrak.
Dan menyadari betapa tololnya pikiran itu, Nayla ingin menangis. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan perasaan yang bergolak di d**a.
“Gantilah pakaianmu. Istirahat. Hari ini sudah cukup panjang,” suara Adrian kembali terdengar, datar, bahkan tanpa menoleh.
Nayla hanya mengangguk pelan, meski ia tahu pria itu tidak sedang menatapnya. Ia berbalik menuju lemari yang sudah dipenuhi baju-baju baru pilihan Vania, namun setiap langkahnya terasa berat. Seolah setiap gerakan adalah pengingat bahwa dirinya kini bukan lagi gadis bebas, melainkan seorang istri kontrak yang dipaksa tunduk pada permainan orang lain.
Dan malam itu, saat ia akhirnya duduk di tepi ranjang berlapis kelopak mawar, Nayla sadar satu hal. Bahwa cintanya pada Adrian—cinta yang selama ini ia simpan dalam diam—hanya akan menjadi beban. Sebuah rahasia yang harus ia kubur dalam-dalam, karena kenyataan terlalu pahit untuk berharap lebih.
Nayla menunduk, menatap kelopak mawar yang berserakan di pangkuannya. Jemarinya menyentuh lembut satu helai kelopak, seakan berharap ada arti lain selain sekadar hiasan palsu untuk menutupi kenyataan. Namun, semakin ia menatapnya, semakin jelas bahwa semua ini hanya sandiwara.
Di balik punggungnya, ia bisa mendengar suara gesekan kain saat Adrian merebahkan diri di sofa. Pria itu benar-benar tampak tenang, seolah beban dunia tak pernah menyentuhnya. Napasnya stabil, teratur, berbeda sekali dengan detak jantung Nayla yang terus berdebar kencang.
Ia menggigit bibirnya, menahan rasa perih yang menyesak. Hatinya ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ia bukan sekadar pion dalam permainan Vania. Tapi lidahnya kelu. Ketakutan menahannya untuk membuka suara.
Pelan-pelan, air matanya jatuh. Membasahi gaun putih yang masih ia kenakan. Ia tak berani bergerak, tak berani bersuara, takut Adrian menyadari betapa lemahnya ia saat ini.
Namun, kesunyian kamar justru memperjelas tangisnya. Isak kecil yang ia tahan akhirnya pecah, meski hanya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia buru-buru merebahkan tubuh ke sisi ranjang, membelakangi sofa. Kedua tangannya merangkul diri sendiri, berusaha memberi sedikit kehangatan di tengah dingin yang menusuk.
Malam itu terasa panjang. Nayla tahu, tidurnya tak akan nyenyak. Bukan karena tempat tidur baru, bukan karena dekorasi semu, tapi karena satu kenyataan pahit: mulai hari ini, ia resmi menjadi istri dari pria yang tidak akan pernah mencintainya.
*******
Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, menyapu ruangan yang masih beraroma mawar. Nayla membuka mata dengan rasa berat, kepala pening karena semalaman hampir tidak tidur. Kelopak mawar yang semalam tampak indah kini hanya terlihat layu, mengotori seprai.
Ia bangkit perlahan, mengusap wajahnya yang sembap. Pandangannya langsung jatuh pada sosok Adrian di sofa. Pria itu sudah bangun, duduk tegap dengan kemeja yang rapi, seolah malam panjang yang baru saja mereka lalui tidak berarti apa-apa. Tidak ada tanda kelelahan, tidak ada sisa emosi.
Nayla menahan dirinya untuk tidak bersuara. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar, berpadu dengan hembusan lembut dari pendingin ruangan. Adrian tetap di tempatnya, duduk tegap di sofa, jari-jarinya merapikan kancing kemeja tanpa sekalipun menoleh ke arah Nayla. Seolah-olah ia hanyalah bayangan tak kasat mata.
Waktu berjalan lambat, hingga suara ketukan pintu memecah kesunyian. Tak lama, pintu terbuka, dan Vania masuk dengan senyum tipis yang langsung membuat suasana semakin menegang. Pandangannya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada Nayla sebelum beralih ke Adrian.
“Kalian sudah bangun rupanya,” ucap Vania dengan nada datar namun penuh kendali. “Ayo turun. Sarapan sudah disiapkan.”
Nayla meremas ujung gaunnya, gugup, sementara Adrian hanya bangkit tanpa komentar. Tidak ada bantahan, tidak ada protes. Ia berjalan melewati Nayla, meninggalkan aroma maskulin yang singkat namun cukup untuk membuat tubuh gadis itu kembali kaku.
Nayla menunggu sebentar sebelum akhirnya melangkah pelan mengikuti Adrian. Tangannya masih menggenggam ujung gaun tidurnya, berusaha menenangkan diri. Suara langkah kakinya di lantai marmer terasa begitu jelas, seolah semua orang bisa mendengar kegugupannya.
Saat tiba di ruang makan, meja panjang sudah tertata rapi. Hidangan lengkap berjejer, mulai dari roti hangat, omelet, hingga sup bening yang mengepul. Adrian sudah duduk di ujung meja, membuka koran pagi dengan wajah tenang, seakan seluruh dunia ini hanya rutinitas baginya.
Nayla berdiri canggung di dekat pintu, tak tahu harus ke mana. Pandangannya melirik ke arah Vania yang duduk anggun di kursi samping kanan meja. Wanita itu hanya menatap sekilas lalu memberi kode halus dengan anggukan kecil.
Nayla duduk kaku di kursinya, berusaha menelan makanan meski rasanya hambar di lidah. Adrian ada di sampingnya, menikmati sarapan dengan wajah datar, seolah tidak ada hal penting yang sedang terjadi.
Vania meletakkan sendoknya, lalu menatap Nayla. “Setelah sarapan, kau bersiaplah. Tiket dan semua keperluan sudah kuatur. Kalian akan berangkat bulan madu ke Bali sore ini.”
Nayla hampir tersedak. Ia cepat-cepat meneguk air putih, lalu menunduk. “Baik, Tante,” jawabnya pelan, meski suaranya nyaris tak terdengar.
Adrian tetap tidak bereaksi. Ia menyuap makanannya dengan tenang, seakan percakapan itu sama sekali tidak ditujukan padanya. Vania pun tidak memaksanya bicara. Yang penting baginya adalah memastikan Nayla mengikuti semua rencana yang sudah ia susun.