Bab 3

1048 Words
Hari-hari setelah kesepakatan itu berjalan begitu cepat, seakan waktu sengaja berlari untuk menjerat Nayla ke dalam takdir yang tak pernah ia bayangkan. Tidak ada pesta. Tidak ada tamu. Bahkan tidak ada kabar yang keluar dari rumah besar itu. Semua dijaga rapat oleh Vania. Pernikahan hanya akan disaksikan empat orang: Adrian, Nayla, Vania, dan dua saksi yang dipanggil diam-diam. Siang itu, Nayla berdiri di depan cermin, mengenakan kebaya putih sederhana yang dipilihkan Vania. Bukan gaun mewah, hanya kain polos dengan renda tipis. Indah di mata orang lain, tapi bagi Nayla, pakaian itu tak ubahnya rantai yang membelenggunya. Tangannya bergetar saat meraba pinggir kain. “Ini bukan pernikahan... ini hukuman,” bisiknya lirih. Vania muncul di balik pintu, menatapnya puas. “Cepatlah, Nay. Jangan membuat Adrian menunggu. Kau tahu dia benci ketidakdisiplinan.” Ruangan itu begitu sepi. Hanya meja kayu sederhana yang memisahkan penghulu, seorang saksi, Adrian, Nayla, dan Vania yang duduk di samping dengan wajah tenang. Tidak ada dekorasi meriah, tidak ada musik, tidak ada tamu. Semuanya senyap, seolah waktu sendiri menahan napas. Jantung Nayla berdegup kencang hingga nyaris menyakitkan. Tangannya basah oleh keringat dingin, bergetar di atas pangkuan. Pandangannya kabur, tidak berani mengangkat kepala. “Baik,” suara penghulu terdengar tegas. “Kita mulai akadnya.” Tubuh Nayla menegang seketika. Dadanya terasa sesak, seolah udara di ruangan itu menipis. Sekilas, ia melirik Adrian yang duduk di seberang meja. Lelaki itu tampak tenang, wajahnya datar tanpa emosi. Penghulu menoleh pada Adrian. “Saudara Adrian Mahendra, apakah Anda siap?” “Siap.” Suara Adrian mantap, dalam, tanpa ragu sedikit pun. Nayla memejamkan mata. Kata-kata itu bagai palu yang mengetuk palung hatinya. Penghulu mulai mengucapkan ijab kabul. Adrian mengikutinya dengan suara lantang, tegas, nyaris seperti seorang pengusaha yang sedang menandatangani kontrak bisnis. Hanya butuh sekali ucap, akad itu sah. “Saya terima nikahnya Nayla Adzkia Sanjaya…” Kata-kata itu menghantam Nayla lebih keras daripada yang pernah ia bayangkan. Sekilas ia berharap suara itu goyah, setidaknya terdengar keberatan. Tapi tidak. Adrian terlalu sempurna dalam melafalkannya, seakan memang tidak ada alasan untuk menolak. “...dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Sunyi. Hanya terdengar suara detak jam dinding. Penghulu mengangguk. “Sah.” Nayla menunduk lebih dalam. Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru menggigit bibir, menahannya. Tangannya yang gemetar mengepal erat di pangkuan, berusaha menjaga agar tubuhnya tidak terlihat terlalu lemah. Vania yang sejak tadi duduk dengan anggun perlahan berdiri. Senyumnya merekah, hangat, penuh kelembutan. Ia mendekat, menyentuh bahu Nayla pelan. “Selamat, Sayang,” ucapnya lembut. “Kau sudah resmi istri sekarang. Jangan takut… semua akan baik-baik saja.” Nayla hanya bisa mengangguk kecil. Suara itu seakan menenangkan, tapi di dadanya justru menimbulkan gelombang sesak yang semakin kuat. Ia tidak berani menatap Adrian. Tidak berani melihat mata lelaki yang kini sah menjadi suaminya—suami karena sebuah perjanjian yang bahkan bukan miliknya sendiri. Langkah-langkah kaki terdengar pelan di sepanjang koridor rumah besar itu. Setelah akad singkat yang sahkan status mereka, penghulu dan saksi sudah pamit, meninggalkan ruangan yang kembali senyap. Kini hanya ada mereka bertiga—Adrian, Nayla, dan Vania. Vania sempat menggenggam tangan Nayla erat, seakan memberi dukungan, lalu berbisik lembut, “Ingat, jangan buat masalah. Jalani saja.” Senyum tipisnya begitu manis, tapi bagi Nayla terasa seperti lingkaran rantai yang semakin mengikat. Lalu, Vania meninggalkan mereka berdua. Nayla berjalan pelan ke arah kamar yang sudah disiapkan, jantungnya masih berdegup tak terkendali. Begitu pintu ditutup, seketika sunyi menyeruak. Ruangan itu terlalu besar, ranjang di tengah tampak asing, dan udara di dalamnya terasa dingin menusuk. Adrian meletakkan jas hitamnya di kursi, gerakannya tenang, nyaris angkuh. Ia membuka kancing kemejanya bagian atas, lalu duduk di sofa tanpa melihat ke arah Nayla. “Kau bisa istirahat di ranjang,” katanya datar, nada suaranya hampir seperti perintah. Nayla berdiri kaku di dekat pintu, jemari meremas kain gaunnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, atau bagaimana harus bersikap di hadapan lelaki yang kini sah menjadi suaminya. “Tenang saja.” Adrian akhirnya menoleh sekilas, sorot matanya dingin, tapi bukan kejam. Lebih seperti seseorang yang ingin menjaga jarak. “Aku tidak akan menyentuhmu tanpa alasan. Anggap saja ini… kontrak tidur. Kau di sana, aku di sini. Sederhana.” Nayla menelan ludah, perasaannya campur aduk. Bagian dirinya merasa lega, tapi sisi lain justru terasa hancur. Karena kata-kata Adrian, meski terdengar seperti jaminan, sebenarnya hanyalah penegasan: bahwa ia tidak pernah diinginkan. Ia melangkah pelan menuju ranjang. Matanya menatap lantai, kosong. Dalam hati, ia bertanya—apakah ini benar-benar hidupku sekarang? Sementara itu, Adrian menyandarkan kepala ke sofa, menutup mata. Wajahnya tampak lelah, seolah ia pun terjebak dalam permainan yang tidak pernah ia pilih. Kamar itu terasa terlalu asing untuk disebut rumah. Lampu gantung redup menyinari ruangan dengan cahaya lembut, kelopak mawar merah bertaburan di lantai, bahkan ranjang besar itu dihiasi dengan pola hati dari bunga-bunga yang sama. Aroma manis bercampur wangi lilin aromaterapi memenuhi udara, membuat suasana seolah disiapkan untuk malam yang penuh cinta. Padahal, Nayla tahu persis—semua ini hanya tipuan. Dekorasi itu bukan miliknya, bukan untuknya, melainkan hasil ide Vania, yang memastikan pernikahan kontrak ini terlihat nyata di mata siapa pun yang sempat melihat. Nayla berdiri kaku di samping ranjang, jemarinya menggenggam renda gaunnya yang masih ia kenakan. Dadanya naik-turun, mencoba mengatur napas yang terasa semakin sesak. Adrian masih duduk di sofa, membuka dasinya perlahan. Gerakannya tenang, berwibawa, nyaris tanpa suara. Dan saat ia bangkit, langkah-langkah mantapnya terdengar begitu jelas di telinga Nayla, lebih nyaring dari degup jantungnya sendiri. Setiap langkah mendekat membuat tubuh Nayla semakin kaku. Udara di sekitarnya seolah menipis. Napasnya memburu, tapi ia tidak berani menggerakkan satu pun anggota tubuh. Hingga akhirnya Adrian berhenti tepat di depannya. Tingginya menjulang, membuat Nayla harus mendongak. Sorot mata dingin pria itu menelannya bulat-bulat, tanpa memberi ruang untuk bernapas lega. Tanpa peringatan, Adrian menunduk. Wajahnya mendekat perlahan, begitu dekat hingga Nayla bisa merasakan tiap hembusan napas hangatnya di pipi. Nayla membeku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, telapak tangannya berkeringat dingin. Lidahnya kelu, sementara darahnya berdesir begitu cepat sampai ia tak mampu berpikir jernih. Namun, tepat di detik terakhir, bibir Adrian tidak menyentuhnya. Ia hanya mendekat ke telinga, suaranya terdengar rendah, berat, dan menusuk tajam ke dalam kepala Nayla. “Ingat,” bisiknya dingin. “Ini hanya kontrak. Jangan pernah salah mengira.” Sejurus kemudian, ia menjauh, meninggalkan Nayla yang masih terpaku dengan napas terhenti di tenggorokan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD