Bab 2

1030 Words
"Apa yang harus kulakukan...?" bisiknya lirih. Permintaan Vania siang tadi terus terngiang di kepalanya. Bukan sekadar permintaan, tapi lebih tepatnya ultimatum. Jika ia menolak, rumah ini bukan lagi tempatnya. Nayla tahu betul, ia tidak punya siapa-siapa lagi. Tak ada keluarga lain, tak ada tempat untuk pulang. Tapi... menikah dengan Adrian? Pria yang selama ini ia segani, kagumi dari jauh, sekaligus takuti karena sikap dinginnya? Hatiku saja hampir runtuh hanya dengan membayangkannya, pikir Nayla getir. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Air mata jatuh begitu saja. "Tante... kenapa tega padaku?" Pintu kamarnya diketuk perlahan. Suara lembut Vania terdengar dari balik pintu. "Nayla, kamu belum tidur?" Nayla buru-buru menyeka air matanya, berusaha tampak biasa. "S-sebentar, Tante." Ia bangkit, membuka pintu. Vania berdiri di sana, mengenakan piyama sutra warna krem. Senyumnya tipis, namun mata itu tetap penuh kuasa. "Kamu sudah pikirkan ucapanku tadi?" Nayla menunduk. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Semua terasa berat." Vania masuk begitu saja, lalu duduk di tepi ranjang Nayla. "Dengar, ini bukan tentang kamu saja. Ini tentang keluargaku, tentang pernikahanku. Kalau Adrian sampai menceraikanku, apa kamu sanggup melihatku hancur? Aku sudah menjaga kamu sejak kecil, Nay. Sekarang saatnya kamu membalas." Nayla menggigit bibir, mencoba menahan suara tangis. "Tapi... bagaimana dengan Adrian? Dia bahkan tidak pernah benar-benar bicara denganku. Apa dia mau?" Vania menoleh cepat, menatapnya tajam. "Dia akan menurut. Adrian terlalu sayang padaku untuk menolak. Aku sudah bicara dengannya. Dia memang keberatan, tapi akhirnya setuju demi aku." Nayla menegang. Ada rasa sakit yang menyesak d**a saat mendengar itu—bahwa Adrian hanya melakukannya karena Vania. "Ini hanya kontrak," lanjut Vania, suaranya dingin. "Setelah melahirkan, kamu bebas. Kamu boleh pergi dari rumah ini, aku akan memberimu uang. Anggap saja ini jalan untuk membalas semua kebaikanku." Nayla menutup mata rapat-rapat. Kalimat itu seakan mengikat lehernya dengan rantai. Ia tahu, perlawanan percuma. Mau tidak mau, ia harus menuruti. "Aku... aku akan melakukannya," bisiknya akhirnya, dengan suara nyaris tak terdengar. Vania tersenyum puas. Tangannya menepuk pelan bahu Nayla. "Bagus. Kamu akhirnya mengerti." Nayla hanya bisa menunduk. Di balik senyum dingin tantenya, ia merasa seakan hidupnya dijual. --- Keesokan harinya, suasana rumah besar itu berubah. Ada kesibukan tak biasa, seolah sedang mempersiapkan sesuatu yang besar. Pelayan mondar-mandir, mengatur ruangan, membersihkan setiap sudut dengan teliti. Nayla berjalan di koridor dengan langkah berat. Dari kejauhan, ia melihat Adrian baru pulang. Pria itu melepas jas hitamnya, menyerahkan pada pelayan, lalu berjalan masuk ke ruang kerja tanpa sepatah kata. Sosoknya selalu sama: tinggi, tegap, dengan sorot mata dingin yang membuat siapa pun segan. Di usianya yang empat puluh, garis wajahnya tampak tegas, nyaris tak pernah tersenyum. Bagi Nayla, Adrian selalu seperti tembok—kokoh namun tak terjangkau. Entah apa yang ada di benaknya saat tahu ia harus menikah lagi, bahkan dengan Nayla. Hatinya mencelos memikirkan pertemuan nanti. Dan benar saja, malam itu, setelah makan malam, Vania memanggil Nayla ke ruang kerja Adrian. Saat pintu dibuka, Adrian duduk di balik meja kayu besar, menatap berkas-berkas di depannya. Ia tidak langsung menoleh saat Nayla masuk. "Adrian," suara Vania terdengar. "Aku sudah bicara dengan Nayla. Dia setuju." Barulah pria itu mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Nayla—dingin, datar, namun tajam. Nayla menahan napas, seolah seluruh dunia berhenti berputar. Lampu kristal di atas kepala terasa terlalu terang, detak jarum jam di dinding terasa begitu nyaring. Hanya ada sorot mata Adrian. Pria itu akhirnya bersuara, rendah dan berat. “Jadi... ini benar?” Nayla tercekat, tak sanggup mengeluarkan suara. Tenggorokannya kering, jemarinya saling menggenggam erat. Ia hanya bisa menunduk. Vania yang menjawab untuknya. “Ya. Nayla sudah setuju.” Adrian kembali menatap Nayla lama, nyaris tanpa berkedip. Ada sesuatu di balik tatapan itu—bukan hanya dingin, tapi juga penolakan yang ditekan. Dan Nayla tahu persis. Ia bukan diinginkan. Ia hanya dipilih... karena keadaan. Perasaan getir menyusup pelan, menusuk hatinya lebih dalam dari yang bisa ia tahan. Betapa tololnya ia. Betapa bodohnya sempat berharap, walau hanya sekejap, bahwa mungkin Adrian... menginginkannya. Hanya memikirkannya saja membuat wajahnya panas. Rasa segan yang sejak dulu ia rasakan terhadap pria itu berubah jadi beban berat. Adrian selalu tampak begitu tinggi, begitu jauh dari jangkauannya—dan kini, dipaksa masuk ke dalam hidupnya dengan cara ini, ia hanya merasa kecil. Kau benar-benar bodoh, Nayla, batinnya mencaci diri sendiri. Jangan pernah berharap pada sesuatu yang mustahil. Adrian akhirnya menutup berkas di mejanya. Suaranya pelan, namun setiap kata terdengar menekan. “Kalau kau sudah sepakat... jangan pernah menyesalinya, Nayla.” Nayla tertegun. Seolah ada batu besar yang menghantam dadanya. Kata-kata itu sederhana, tapi nadanya—dingin, berat, tak memberi ruang untuk berkilah. Adrian melanjutkan, kali ini menatap lurus, membuat napas Nayla tercekat. “Pernikahan ini bukan hal yang bisa kau ubah sesuka hati. Sekali kau melangkah masuk, tidak ada jalan keluar yang mudah.” Hening menguasai ruangan, hanya detak jam dinding yang terdengar. Nayla merasa gemetar, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk. Kepalanya penuh oleh suara sendiri—bertanya, apakah ia benar-benar sudah menjerumuskan diri ke jurang yang tak bisa ia panjat lagi? Senyum samar muncul di wajah Adrian, tipis dan dingin, lebih menyerupai guratan sinis daripada kehangatan. “Kau bilang siap...” Ia berhenti sejenak, tatapannya tak beralih. “Mari kita lihat, seberapa jauh kau bisa bertahan.” Darah Nayla serasa berhenti mengalir. Tubuhnya kaku, matanya menatap lantai tanpa berani mengangkat kepala lagi. Ia ingin lari, tapi kaki seolah terpaku. Bertahan? Sampai sejauh apa? batinnya kacau. Sekelebat rasa takut bercampur getir menyergap. Untuk pertama kalinya, Nayla sadar, apa pun yang akan terjadi setelah ini, ia tidak lagi punya kendali atas hidupnya sendiri. Adrian menutup kalimatnya dengan tatapan dingin yang membuat Nayla nyaris kehilangan napas. Ruangan itu seakan membeku. Tiba-tiba, Vania yang sejak tadi berdiri di sisi pintu tersenyum tipis. “Bagus,” ucapnya ringan, seolah ancaman Adrian barusan adalah musik di telinganya. “Kalian akhirnya mulai mengerti posisi masing-masing.” Nayla menoleh sekilas, dan matanya menangkap sorot puas di wajah tantenya. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada iba. Justru tatapan yang seakan berkata: inilah yang kuinginkan dari awal. Vania melangkah mendekat, menepuk bahu Nayla dengan lembut, namun sentuhannya terasa dingin seperti besi. “Lakukan bagianmu, Nay. Sisanya biarkan aku yang urus.” Senyumnya melebar, penuh kuasa. “Percayalah... semua akan baik-baik saja. Selama kau tidak macam-macam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD