Kaivan "Aku bercanda, Sayang." Gue raih lengan Lujeng dan menariknya ke sofa. Kali ini gue akan bicara serius. Soal tadi, gue benar-benar bercanda. Gue sayang wanita ini. Gendis Wilujeng. Gue nggak akan tega membuat perutnya membuncit sebelum akad. Bohong banget kalau gue nggak berkeinginan bobo bareng. Bohong. Terlebih dengan masa lalu gue yang hobi berpetualang dari satu ranjang ke ranjang lain, jiwa kelelakian gue memberontak. Keinginan menyeret Lujeng ke atas ranjang jelas ada, tapi gue selalu nyoba untuk nahan. Karena apa? Karena gue sayang dia. Karena gue nggak ingin, ada janin yang tumbuh dalam perutnya di luar pernikahan. Gue ingin anak gue dan Lujeng terlahir setelah proses akad, sah baik secara agama dan negara. "Aku nggak mau kalau kelewatan gitu bercandanya." Duh, calon ist

