Bab 5

1157 Words
Jantung Dave berdetak lebih kencang ketika membaca satu nama itu. Nama yang selalu membayangi dirinya dalam persaingan bisnis dan jabatan. Sosok yang tidak pernah merasa puas dan enggan mengaku kalah. Menyaingi apa saja yang dicapai oleh Dave. Seolah dirinya tak ingin ada pria lain yang lebih sukses. Ares Vandermont. Tangannya mengepal tanpa sadar, layar ponsel nyaris retak di genggamannya. Dari sekian banyak kemungkinan pria yang bisa bersama Mawa, mengapa harus Ares? Mengapa harus rival abadi yang nyaris mustahil ditangguhkan? Sejak lulus SMA, Ares adalah saingan Dave. Mereka selalu bersaing di segala hal, mulai dari prestasi akademik, bisnis keluarga, bahkan masalah pertemanan, mereka hampir selalu sejajar. Tidak jarang, Ares justru berdiri di podium atas, selangkah lebih maju dibanding Dave. Pertemanan yang dulu dijaga sepenuh hati, kini rusak karena ego dari pihak keluarga. Baik Dave maupun Ares, mereka dituntut agar bisa menguasai dunia. Retak sudah hubungan kakak adik yang sempat mewarnai masa kecil itu, tersisa persaingan ketat yang tidak pernah berakhir sampai kapan pun. “Dia lagi, dia lagi.” Dave menggumam, menghela napas kasar. Bahkan setelah perceraian, nama itu kembali menyenggol egonya. “Maksudnya apa? Dia mau rebut Mawa dariku?” Sungguh tidak masuk akal. Meski baru bercerai, bukan berarti Dave masih berhak menguasai Mawa. Tanpa berpikir panjang, Dave mengambil kunci mobil. Ia tidak peduli pesta makan malam belum selesai, saat semua orang menatapnya kebingungan, Julia memanggil Dave berulang kali, tetapi Dave tak peduli. Ia terus melangkah tanpa berniat menoleh. Hanya satu hal yang memenuhi kepalanya sekarang. Nama pria itu dan Mawa. Dadanya seketika terasa panas hanya dengan membayangkan mereka saja. Ah, apa namanya? Cemburu? Bisa jadi. Tiada mantan suami yang nekat menyusul mantan istrinya yang bertemu dengan pria lain. Sesampainya di sana, Dave langsung mengenali sosok Mawa dari balik jendela. Ia mendongak, memastikan kembali penglihatannya. Mawa duduk berhadapan dengan seorang pria berjas hitam dengan tubuh gagah tegap, wajahnya yang cukup tampan cukup mudah dikenali. Apakah mereka sedang makan malam? Dave terdiam beberapa saat di sana, ia berdiri mematung seolah mencerna sesuatu. Tidak ada interaksi sentuhan, keduanya saling menjaga jarak. Hanya obrolan diselingi canda tawa sesekali, setelah itu biasa saja. Namun, Dave bisa mendeteksi bahwa Ares mulai nyaman dengan Mawa. Siapa pria yang tidak luluh melihat kelembutan wanita itu? Dave melangkah mendekat tanpa ragu. Derap sepatunya terdengar keras, menarik perhatian beberapa pengunjung. Mawa yang tidak pernah menyangka siapa yang datang pun segera menoleh. Seketika wajahnya memucat, pandangannya sedikit mengabur dengan ribuan pertanyaan mampir di benaknya. “Tuan Dave?” Ares juga menoleh perlahan, tapi ekspresinya masih terlihat santai. Untuk sesaat, tatapan mereka beradu, menciptakan atmosfer mencengkam. Sudut bibir Ares sedikit terangkat. Seringai dingin yang membuat darah Dave memanas. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Dave to the point. Enggan berbasa-basi. “Aku kebetulan lewat dan tidak sengaja bertemu Pak Ares. Beliau mengenaliku sebagai mantan istrimu, jadi kami berbincang sebentar,” jawab Mawa tenang setelah meletakkan sendoknya. “Kebetulan? Kebetulan apa sampai makan malam segala?” tanya Dave lagi, ia mendengkus kesal. “Tuan,” panggil Mawa pelan. Dia sendiri juga bingung mengapa tiba-tiba Dave datang dan menginterogasinya. “Memangnya apa yang salah, Tuan? Aku merasa sah-sah saja berbincang dengan beliau.” Tatapan Dave beralih sekejap ke arah Ares, lalu kembali memandang Mawa yang keheranan. “Pulang sekarang. Kakek dan Nenek mencarimu,” suruh Dave datar. “Hah? Kok tiba-tiba?” “Sekarang!” tegas Dave. Mawa mengerutkan kening, lidahnya kelu karena bingung harus menanggapi apa lagi. “Sepertinya kamu terlalu memaksakan kehendak, Dave,” ucap Ares akhirnya buka suara setelah membungkam sejak tadi. “Kehendak? Tahu apa kamu tentang Mawa?” “Bukankah kalian sudah bercerai?” Ares menyandarkan punggungnya santai. “Atau aku salah informasi?” sungut Ares sambil mengetuk kuku-kukunya di meja. Sementara tatapannya masih cukup santai, seolah mengejek. “Kamu tidak punya hak ikut campur,” balas Dave ketus. “Justru aku heran. Kalau sudah cerai, kenapa kamu bersikap seposesif ini? Atas dasar apa kamu memerintah dia pulang? Dia bukan tanggung jawabmu lagi, Dave. Dia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri,” kata Ares terkekeh pelan. Mawa menatap Dave nanar. Seolah tanda tanya besar di kepalanya menghantui sejak tadi. Beberapa saat yang lalu Dave mengusirnya halus, digantikan cepat oleh gadis bernama Julia. Sekarang begitu mudahnya ditarik tanpa penjelasan apa-apa. Dia bukan barang yang bisa ia perlakukan seperti ini. “Tuan, aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu buru-buru. Mengenai Kakek dan Nenek, aku sudah mengabari mereka tadi dan tidak ada masalah,” kata Mawa cenderung santai. Berbeda dengan dirinya ketika masih berstatus menjadi istri Dave, emosional dan perasa. “Tidak,” potong Dave, "kamu ikut aku sekarang.” Perdebatan itu mulai menarik perhatian sebagian besar pasang mata di sana. Dave tertekan, dirinya harus membawa kembali Mawa pulang tanpa terlihat cemburu atau apa pun itu. “Hm?” Ares menggumam, tersenyum mengejek seolah mendapati sosok Dave yang cemburu buta. “Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Aku hanya menjemput Mawa sebagai bentuk tanggung jawab kepada kakekku. Lagi pula, bulan depan aku akan menikah,” katanya sangat dingin. Seketika Mawa membeku, secepat itukah posisinya akan tergantikan oleh Julia? “Apa?” “Pernikahanku dengan Julia akan dilaksanakan bulan depan dan kalau sempat, aku harap kalian datang,” jelas Dave menekankan setiap katanya. Ares mengangkat alis, penasaran dengan reaksi Mawa. Ia menoleh ke arah wanita itu. Namun, sepertinya ia menang kali ini usai melihat wajah tenang seseorang di depan. Masalahnya, beberapa detik lalu, Mawa menunjukkan reaksi terkejut dan selanjutnya biasa saja. Apa yang spesial? Mawa tidak tampak seperti orang yang sedih atau menangis kehilangan sesuatu yang dia cintai. Justru sebaliknya, ia tersenyum manis, menyodorkan tangannya untuk memberi selamat. “Wow, kabar yang bagus, Tuan. Semoga kalian bahagia dan cepat mendapat momongan, ya.” “Selamat juga untuk Nona Julia. Kalian memang serasi.” “Sudah jelas, ‘kan?” tanya Ares berdeham, sengaja membuyarkan tatapan Dave ke Mawa yang terlalu dalam, "tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Dia baik-baik saja.” Dave mengepalkan tangan geram, seolah ingin menghancurkan bumi dengan sekali hantaman. Jika Mawa benar-benar tidak peduli, mengapa hal itu membuatnya marah? Jika Mawa sudah merelakan, mengapa ia merasa kalah? Bukankah lebih baik sekarang, Dave tidak perlu membuang waktu dan tenaga memaksa Mawa melupakannya? “Kita pulang,” ucap Dave meraih tangan Mawa, memaksanya bangkit dari sana. Mawa bangkit perlahan. Akhirnya ia mengalah karena takut menjadi masalah. “Terima kasih waktunya, Pak Ares. Kita bisa mengobrol lagi di lain waktu.” Ares mengangguk pelan, lalu dengan sigap Dave membawanya pergi dari sana. Tidak ada perlawanan dari Mawa, ia tahu emosi Dave tidak bisa dicairkan dengan apa pun sekarang. Mau tidak mau menurut, mencegah masalah yang lebih besar. “Kamu dekat dengan Ares?” tanya Dave akhirnya tanpa menatap Mawa. Mawa yang berjalan mengikuti di belakang pun menghentikan langkahnya. “Tidak. Cuma kebetulan.” “Jangan mengulang jawabanmu tadi, Mawa. Aku tanya serius.” “Kenapa Tuan peduli? Bukankah Tuan akan menikah bulan depan? Jangan melewati batas, Tuan. Pikirkan Julia yang sebentar lagi akan menjadi istrimu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD