“Mawa, jawab aku!” desak pria itu membuat mata Mawa berkaca-kaca. Cengkeraman Dave di kedua bahunya memang tidak keras, tetapi cukup membuat Mawa merasa terancam. Seolah pria di hadapannya ini menuntut sesuatu yang bukan miliknya lagi. “Iya. Tuan Ares memang melamarku,” jawab Mawa akhirnya. Dave terguncang hebat. Lagi-lagi Ares merebut sesuatu yang pernah ia miliki, tetapi bukankah seharusnya ia tidak peduli? “Dasar pemungut sampah,” gumam Dave geram. “Tapi itu belum pasti, Tuan,” sanggah Mawa membuat lamunan Dave buyar seketika. Dave mengerjap cepat. “Maksudmu?” Mawa menarik napas panjang, melepaskan tangan Dave dari bahunya dengan hati-hati. Ia mundur selangkah demi langkah, menciptakan jarak di antara mereka berdua. “Kami masih masa pengenalan, Tuan. Aku memang menerima lamaran

