Aku bersimpuh di atas sejadah lebih lama kali ini, menatap lurus ke arah motif sejadah yang hanya sekedar garis memanjang ke bawah. Selesai salat malam, aku ingin menumpahkan resah dan sakit di hati kepada Sang Pemilik Semesta. Tangis tak bisa lagi terbendung, jatuh begitu saja dengan bebas. Hatiku tidak berhenti membatin, bagaimana bisa Tuan Dave memberiku surat berisi kata-kata permohonan? “Ya Allah, kalau memang hamba yang ‘katanya’ lebih dekat dengan-Mu, lantas kenapa harus hamba yang disuruh mengalah?” Tangisku semakin pecah, lidahku terasa kelu dan tidak mampu menahan sakit yang terlampau dalam. Lama aku menyimpan perasaan kepada pria itu, pria yang kini berbahagia dengan istri barunya. Ketika ia datang meminta doa, siapa yang mendoakanku saat itu? Saat aku ditekan dan dihina mand

