Dari kejauhan, Kaisar masih melihat apa yang akan dilakukan Aura menghadapi orang orang itu. Terhitung ada lebih dari sepuluh orang yang menghadang Aura.
Tapi yang membuat Kaisar heran adalah rasa tenang Aura saat ini. Kaisar masih bisa melihat senyum di wajah Aura tapi bukan senyum yang biasa.
Dan benar saja, detik berikutnya mereka semua menyerang Aura bersamaan.
#
Bugh....
Brak....
Dak....
Terdengar suara pertarungan antara Aura dan orang orang itu. Satu persatu orang orang itu tumbang. Membuat Kaisar berdecak kagum.
Tapi mata Kaisar membola saat satu orang dari mereka menusuk Aura dari arah belakang.
Jleb....
Tingkat besi yang di bawa Aura jatuh menimbulkan bunyi nyaring disana.
"Argh ..."
Aura meringis kesakitan, dia memegang pundaknya yang tertusuk pisau. Bau anyir mulai tercium disana.
Bruk....
Aura jatuh berlutut di depan mereka semua dengan napas tersengal.
"Berengsek kalian!" ucap Aura menahan rasa sakit nya.
"Harusnya kamu menurut sejak tadi!" sahut preman itu Aura sudah meringis ngilu dan menarik pisau itu sehingga darah segar semakin mengalir deras disana.
Saat Aura mulai lengah, para preman bergerak maju menghajar Aura. Tapi belum sempat tangan mereka menyentuh Aura, sebuah tendangan dan pukulan menyerang mereka semua. Samar sama Aura melihat Kaisar bertarung melawan para preman itu.
"Kenapa dia ada disini?"
Aura berusaha untuk bangun, dia melihat para preman itu masih menyerang para preman dengan brutal. Aura berusaha menekan rasa sakit di pundaknya. Dia membantu Kaisar untuk menghajar para preman itu.
Bugh ...
Dak...
Kaisar menoleh, dia melihat Aura menyerang para preman dengan darah yang semakin deras mengalir.
"Sialan!"
Kaisar menyerang mereka semua membabi buta. Terlebih saat dia melihat wajah Aura semakin pucat.
Saat semua sudah tewas, Kaisar mendekati Arus yang sedang menopang tubuhnya dengan tongkat besi yang dia bawa. Napasnya mulai tersengal dan memburu.
"Kenapa kamu disini? Kamu ngikutin aku?" tanya Aura penasaran.
Dia masih menahan kesadarannya agar tetap terjaga. Tapi matanya membola saat Kaisar malah mengangkat tubuhnya dan membawa Aura masuk ke dalam mobilnya.
"Aku akan jawab nanti kalau kamu udah di obati."
Aura tak menjawab, karena rasa nyerinya semakin tak karuan. Tubuhnya mulai menggigil dan terasa dingin. Saat Kaisar ingin pergi, Aura menahan ujung baju Kaisar.
"Pisau itu ada racunnya." ucap Aura lirih.
Mata Kaisar melebar, dia lalu melihat luka Aura yang darahnya mulai menghitam.
"Sial, kenapa baru bilang?"
Kaisar frustasi, dia cepat pergi ke bagian kemudi. Tapi sebelum itu dia menghubungi Reynald untuk mengambil mobilnya di tempat itu.
"Kita ke rumah sakit."
Tangan Aura mencengkeram lengan Kaisar.
"Bawa aku ke tempat lain, yang nggak bisa di lacak mereka."
Setelah mengatakan itu tangan Aura terlepas dari lengan Kaisar. Aura pingsan dengan wajah yang mulai membiru. Kaisar mengusap wajahnya kasar. Dia berpikir cepat, kemana dia harus membawa pergi Aura. Tempat yang aman dan tak bisa di lacak siapapun.
Mata Kaisar membeliak, dia tahu dia harus kemana.
Kaisar mengemudikan mobil itu dengan cepat dan pergi ke suatu tempat yang baru terpikir dalam benaknya.
"Bertahan Aura, masih banyak yang harus kamu jelasin sama aku!"
#
Sedangkan Reynald yang baru saja tiba di tempat dimana Kaisar mengirim lokasinya terkejut. Dia melihat beberapa orang tergeletak disana.
"Periksa mereka semua!"
Anak buah Reynald bergerak cepat. Mereka memeriksa satu persatu semua orang yang ternyata udah tewas itu.
"Tuan Rey, mereka semua sudah tewas. Dan di lihat dari keadaan mereka, semua karena serangan tuan Kaisar."
Mata Reynald membola, dia memeriksa sendiri mayat mayat itu. Dan benar saja, mereka tewas karena Kaisar. Saat dia berbalik, kembali Reynald di buat syok.
Disana banyak darah yang tercecer tapi berada hampir di sekeliling orang orang itu.
"Ada yang terluka? Apa Kaisar terluka?"
Reynald mulai gusar, dia mengambil ponselnya menghubungi Kaisar tapi tak mendapat respon sama sekali.
"Argh, sial..... dia kemana sebenarnya!!"
Reynald frustasi karena dia tak menemukan Kaisar sama sekali di tempat itu. Yang membuat Reynald panik karena disana banyak darah. Reynald takut jika Kaisar terluka parah.
"Cari Kaisar sampai dapat, dan pastikan dia baik baik saja!"
#
Sementara itu, Kaisar sudah sampai di sebuah rumah yang terlihat sepi.
Kaisar mengangkat tubuh Aura yang terasa dingin. Tergesa masuk ke dalam, dengan pikiran yang mulak kacau.
Seorang paruh baya muncul dari dalam rumah saat mendengar suara sebuah mobil.
Dia terkejut melihat Kaisar sedang membopong seorang wanita yang terluka.
"Aunty, tolong dia!"
Wanita yang di panggil Aunty oleh Kaisar mengangguk dan menyuruh Kaisar meletakkan Aura di tempat yang di sediakan. Wanita itu bergegas mengambil semua yang di butuhkan.
"Keluar Kai, biar aunty yang urus!"
Kaisar mengangguk, dia melangkah pergi dengan perasaan yang tak karuan. Entah kenapa dia tak bisa melepaskan pikirannya dari Aura. Padahal baru hari ini mereka bertemu.
Amara, membuka pakaian Aura dengan pelan. Dia melihat luka di pundak Aura yang menghitam. Perlahan dia membersihkan luka itu dan ternyata lukanya cukup dalam. Meskipun Amara terbiasa mengobati tapi melihat luka itu dia ikut meringis ngilu.
Setelah luka itu bersih, Amara segera meracik obat untuk membalut luka Aura. Lalu menutupnya dengan perban.
Mengganti pakaian Aura dengan pakaian yang tak sesuai agar tak mengenai luka Aura.
Amara juga memeriksa keadaan Aura yang lain memastikan agar Aura baik baik saja.
#
Sementara itu, Kaisar yang berada di depan mengambil ponselnya. Dia kembali mengumpat karena dia baru melihat semua pesan yang di kirim Reynald kepadanya. Tak hanya Reynald, tetapi Arka sang papi juga menghubunginya beberapa kali.
"Lupa, sialan. Saking paniknya!"
Kaisar mengambil napas panjang lalu menghembuskannya pelan.
Dia menghubungi Arka terlebih dahulu memberitahu jika dia tak apa apa. Lalu menghubungi Reynald dan meminta Reynald menyusulnya. Tak lupa juga Kaisar menyuruh Reynald membawakannya baju ganti untuknya dan juga Aura.
#
"Kai, kamu mau pakai baju cewek?" tanya Reynald bingung.
Reynald tak menunggu waktu lama, segera menyusul Kaisar di tempat yang dia sendiri juga sudah tahu.
Kaisar menggeleng, dia menjelaskan semuanya pada Reynald.
Reynald syok, terlebih lagi saat tahu jika Aura bisa bertarung juga sampai dia terkena racun.
Amara keluar dari dalam bilik dimana Aura berasa di dalam sana
"Aunty...."
Amara yang melihat wajah kusut Kaisar tersenyum lalu menepuk pelan pundak Kaisar.
"Kekasihmu tidak apa apa, dia sudah mulai membaik. Hanya saja, lukanya mungkin membutuhkan waktu lebih lama karena lukanya cukup dalam."
Tubuh Kaisar dan Reynald membeku dengan pikirannya masing masing.
"Kekasih?"
to be continued