Bab 1: Jerat Obsesi Tuan Muda
Bau sisa hujan dan aroma melati dari taman belakang kediaman Arkananta selalu mengingatkan Alana pada hari pertamanya menginjakkan kaki di sini. Sepuluh tahun yang lalu, dia hanyalah seorang anak kecil dengan baju kumal yang gemetar ketakutan di aula rumah ini. Namun hari ini, Alana berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan seragam SMA elit yang terasa terlalu mewah untuk gadis yang berasal dari panti asuhan.
Statusnya di rumah ini selalu ambigu. Dia bukan pelayan, tapi juga bukan benar-benar anggota keluarga. Tuan Arkananta mengadopsinya sebagai bentuk balas budi pada mendiang ayahnya, namun bagi dunia luar, Alana hanyalah "anak pungut" yang beruntung.
"Alana, kau akan terlambat," suara lembut itu muncul dari balik pintu.
Jantung Alana berdegup kencang. Ia segera membuka pintu dan menemukan Nathan berdiri di sana. Nathan, yang saat itu sudah duduk di bangku kuliah tahun kedua, tampak sempurna dengan kemeja putih yang disetrika rapi. Dia adalah definisi ketenangan. Nathan adalah satu-satunya alasan Alana merasa rumah ini memiliki kehangatan.
"Pagi, Kak Nathan," bisik Alana sambil menundukkan kepala, menyembunyikan pipinya yang merona.
Nathan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka dan hanya diberikan pada Alana. Ia mengulurkan tangan, merapikan kerah seragam Alana yang sedikit tertekuk. Sentuhan jarinya yang dingin namun lembut membuat Alana merasa seperti seorang putri.
"Belajarlah yang rajin. Aku akan menjemputmu nanti sore jika rapat organisasiku selesai lebih cepat," ucap Nathan pelan.
"Janji?" Alana memberanikan diri menatap mata jernih kakaknya itu.
"Janji."
Namun, momen manis itu hancur berantakan saat sebuah suara gaduh terdengar dari lantai bawah. Suara dentuman musik rock yang keras dan tawa yang mengejek. Itu adalah tanda bahwa badai lain telah bangun.
Kenzie Arkananta, yang hanya setahun lebih tua dari Alana, muncul di tangga dengan seragam yang berantakan. Dasinya hanya dikalungkan di leher, kemejanya keluar dari celana, dan tasnya disampirkan di satu bahu dengan gaya malas. Dia adalah kebalikan dari Nathan dalam segala hal. Jika Nathan adalah air yang tenang, maka Kenzie adalah api yang menghanguskan.
"Oh, lihatlah dua sejoli ini. Sangat puitis sampai aku ingin muntah," ejek Kenzie sambil melangkah lebar mendekati mereka.
Kenzie berhenti tepat di samping Alana, dengan sengaja menyenggol bahu gadis itu hingga Alana terhuyung. Nathan segera menahan lengan Alana agar tidak jatuh, sementara matanya menatap tajam pada adiknya.
"Jaga sikapmu, Kenzie. Dia adikmu," tegur Nathan dengan suara rendah yang mengancam.
Kenzie tertawa keras, suara tawanya menggema di koridor yang luas. "Adik? Jangan melucu, Kak. Kita semua tahu dia bukan siapa-siapa. Dia hanya gadis kecil yang Ayah pungut agar rumah ini tidak terasa seperti kuburan. Dan bagiku, dia bukan adik. Dia adalah mainan baru yang menarik."
Kenzie mencondongkan tubuhnya ke arah Alana, mengabaikan tatapan membunuh dari Nathan. Ia menghirup aroma rambut Alana dengan terang-terangan, membuat Alana mencengkeram rok seragamnya karena takut.
"Kamu wangi sekali pagi ini, Al. Apa kamu memakai parfum hanya untuk menarik perhatian Kakakku yang membosankan ini?" bisik Kenzie dengan nada menggoda yang berbahaya.
"Hentikan, Kenzie. Berangkatlah ke sekolah sekarang," perintah Nathan tegas.
Kenzie mengangkat bahu dengan santai, lalu berjalan menuruni tangga sambil bersiul. Namun sebelum ia benar-benar menghilang, ia menoleh ke belakang dan mengedipkan mata pada Alana. Sebuah kedipan yang membuat Alana merasa seperti sedang diincar oleh predator.
Perjalanan ke sekolah seharusnya menjadi waktu bagi Alana untuk fokus pada ujian biologinya, namun pikirannya terus melayang. Sejak mereka remaja, persaingan antara Nathan dan Kenzie untuk mendapatkan perhatiannya semakin tidak masuk akal. Nathan melindunginya dengan cara yang elegan dan tenang, sementara Kenzie mengganggunya dengan cara yang kasar namun posesif.
Di sekolah, Alana mencoba menjadi bayangan. Ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa dia tinggal bersama dua pangeran Arkananta yang menjadi idola di kota ini. Namun, menjadi bayangan adalah hal yang mustahil jika kamu memiliki Kenzie di sekolah yang sama.
Saat jam istirahat, Alana sedang duduk di perpustakaan yang sepi ketika tiba-tiba sebuah kotak s**u coklat diletakkan dengan kasar di atas mejanya. Ia mendongak dan menemukan Kenzie sedang menyeringai padanya.
"Minum itu. Kamu terlihat pucat seperti orang kurang gizi," ujar Kenzie sambil menarik kursi di depan Alana.
"Terima kasih, tapi aku bisa beli sendiri," jawab Alana pelan, mencoba mengabaikan kehadiran pria itu.
Kenzie tidak pergi. Ia justru mengambil buku biologi Alana dan mulai membolak-baliknya dengan kasar. "Biologi? Membosankan sekali. Mau aku ajarkan cara kerja sistem reproduksi secara praktis? Itu jauh lebih menyenangkan daripada membaca teori ini."
Wajah Alana memerah padam. "Kenzie! Ini perpustakaan!"
"Aku tidak peduli. Ayah menyumbang gedung ini, aku bisa membakarnya jika aku mau, termasuk membakar semua orang yang berani menatapmu di kantin tadi," suara Kenzie tiba-tiba berubah menjadi sangat gelap.
Alana menatapnya dengan bingung. "Maksudmu apa?"
"Aku melihat bagaimana kapten basket itu menatap kakimu yang jenjang. Jika aku melihatnya sekali lagi, aku akan memastikan dia tidak bisa melompat lagi selamanya," Kenzie mengatakannya dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca, padahal matanya berkilat penuh amarah.
"Kamu gila, Kenzie. Kamu tidak punya hak untuk mengatur siapa yang boleh menatapku!"
Kenzie tiba-tiba berdiri dan mencondongkan tubuh di atas meja, menjepit Alana di kursinya. Suasana perpustakaan yang sepi membuat setiap napas Kenzie terdengar jelas.
"Aku punya semua hak di dunia ini atas kamu, Alana. Kamu tinggal di rumahku, kamu memakai uang ayahku, dan kamu bernapas karena aku mengizinkannya. Ingat itu baik-baik. Jangan biarkan pria lain menyentuhmu, atau aku akan menghancurkan mereka. Termasuk kakakku tercinta jika dia berani melampaui batas."
Alana merasa sesak. Ia merasa seperti sedang tercekik oleh dinding-dinding yang tidak terlihat. "Nathan bukan orang sepertimu. Dia menghormatiku."
"Menghormatimu?" Kenzie tertawa sinis. "Dia hanya berpura-pura menjadi suci, Al. Dia menginginkanmu sama besarnya denganku, hanya saja dia terlalu pengecut untuk mengakuinya. Dia suka melihatmu memuja kakinya, sementara aku? Aku lebih suka melihatmu memohon di bawahku."
Alana segera bangkit dan mengemasi barang-barangnya dengan terburu-buru. Ia tidak tahan lagi berada di dekat Kenzie. Ia berlari keluar dari perpustakaan, mengabaikan panggilan Kenzie yang mengejeknya dari belakang.
Sore harinya, sesuai janji, mobil sedan hitam Nathan sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Alana merasa lega luar biasa saat melihat sosok Nathan di balik kemudi. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mengembuskan napas panjang.
"Apa hari ini melelahkan?" tanya Nathan lembut sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Hanya... sedikit banyak tugas," bohong Alana. Ia tidak ingin mengadu soal Kenzie karena ia tahu itu hanya akan memicu pertengkaran hebat antara mereka berdua di rumah.
Nathan menjangkau tangan Alana dan meremasnya pelan. "Sabar sedikit lagi. Setelah kamu lulus SMA, aku akan membujuk Ayah agar mengizinkanmu kuliah di luar negeri. Aku akan menyusulmu ke sana, dan kita bisa hidup tenang tanpa gangguan siapa pun."
Harapan itu membuat Alana tersenyum. Itu adalah mimpi yang selalu ia simpan. Hidup berdua dengan Nathan, jauh dari kegilaan Kenzie dan tuntutan keluarga Arkananta.
Namun, saat mereka sampai di rumah, suasana terasa berbeda. Pintu utama terbuka lebar, dan mereka bisa mendengar suara Tuan Arkananta yang sedang tertawa bersama seseorang di ruang tamu.
Nathan dan Alana melangkah masuk dengan ragu. Di ruang tamu, Tuan Arkananta sedang duduk bersama seorang pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis terbesarnya. Di sana juga ada Kenzie, yang sedang duduk dengan gaya angkuh sambil memainkan ponselnya.
"Ah, kalian sudah pulang! Pas sekali," ujar Tuan Arkananta dengan suara menggelegar yang penuh kegembiraan.
Nathan mendekat dengan sopan. "Ada apa, Ayah? Sepertinya ada kabar baik."
Tuan Arkananta menepuk bahu Kenzie dengan bangga, lalu menatap Alana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Tadi kami baru saja membahas masa depan perusahaan dan keluarga. Dan aku sudah memutuskan sesuatu yang besar. Ini demi menjaga keutuhan aset dan ikatan kita," Tuan Arkananta berhenti sejenak, membuat ketegangan di ruangan itu memuncak.
Alana merasakan firasat buruk. Ia menatap Nathan yang juga tampak tegang, lalu beralih pada Kenzie yang kini sudah menaruh ponselnya dan menatap Alana dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan yang pernah ia lihat.
Tuan Arkananta berdeham, lalu menunjuk ke arah Alana dan Kenzie secara bergantian.
"Alana, setelah kamu lulus nanti, tidak perlu pusing memikirkan kuliah di luar negeri. Aku sudah sepakat dengan keluarga rekan kita. Tapi sebelum itu, ada janji keluarga yang harus dipenuhi. Untuk memastikan Kenzie menjadi pria yang bertanggung jawab dan tidak lagi membuat onar, aku memutuskan untuk mengikat kalian berdua."
Lutut Alana terasa lemas. Nathan maju selangkah dengan wajah pucat. "Maksud Ayah apa?"
Tuan Arkananta tersenyum lebar, seolah baru saja memberikan hadiah terbesar dalam hidup mereka.
"Alana akan bertunangan dengan Kenzie bulan depan, dan mereka akan menikah segera setelah Alana berusia delapan belas tahun."
Hening. Ruangan itu mendadak sepi seperti kuburan. Alana merasa dunia di sekelilingnya berputar. Ia menatap Nathan, memohon pria itu untuk memprotes, untuk berteriak, untuk membawanya lari sekarang juga. Namun, Nathan hanya berdiri mematung dengan rahang yang mengeras, matanya menatap lantai seolah-olah ia baru saja kehilangan suaranya.
Kenzie bangkit dari kursinya, melangkah perlahan menuju Alana yang sudah hampir pingsan karena syok. Ia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di telinga Alana yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
"Jadi, Sayang, apa kamu masih berpikir Kakakmu bisa menyelamatkanmu sekarang?"
---