Bab 2: Jerat Obsesi Tuan Muda

1481 Words
Dunia Alana seolah tersedot ke dalam lubang hitam yang hampa. Suara tawa Tuan Arkananta dan denting gelas kristal di ruang tamu terdengar seperti dengung lebah yang menyakitkan di telinganya. Ia menatap Nathan, mencari secercah kemarahan atau penolakan di mata pria itu. Namun, Nathan tetap diam. Pria yang selalu menjadi pelindungnya itu hanya mengepalkan tinju hingga buku jarinya memutih, tanpa sepatah kata pun keluar untuk membela Alana. "Ayah, ini tidak masuk akal," suara Nathan akhirnya terdengar, namun nadanya terlalu rendah, terlalu terkendali. "Alana masih sekolah. Dia punya masa depan yang dia impikan." Tuan Arkananta melambaikan tangan dengan acuh tak acuh. "Masa depannya ada di keluarga ini, Nathan. Kenzie butuh jangkar, dan Alana adalah satu-satunya orang yang bisa membuat adikmu itu pulang ke rumah tepat waktu. Ini sudah diputuskan." Alana merasakan cengkeraman tangan Kenzie di bahunya. Bukan sentuhan lembut seperti yang biasa Nathan berikan, melainkan remasan posesif yang seolah ingin menembus kulitnya. "Dengar itu, Kak? Ayah sudah memutuskan," ujar Kenzie dengan nada kemenangan yang memuakkan. "Jangan khawatir, aku akan menjaga 'adik' kesayanganmu ini dengan sangat, sangat baik." Alana menyentakkan bahunya, melepaskan diri dari Kenzie, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak peduli jika tindakannya dianggap tidak sopan. Ia membanting pintu dan menguncinya, lalu merosot ke lantai sambil terisak. Bagaimana mungkin hidupnya berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan menit? Ia mencintai Nathan. Ia membayangkan masa depan di mana ia bisa bangga berdiri di samping Nathan sebagai seorang istri, bukan sebagai tumbal untuk menjinakkan monster seperti Kenzie. Ketukan pelan di pintu membuatnya mendongak. "Alana, buka pintunya. Ini aku." Itu suara Nathan. Alana segera bangkit dan membuka kunci pintu. Ia langsung menghambur ke pelukan Nathan, menangis di d**a bidang pria itu. "Kak, tolong aku. Katakan pada Ayah kalau ini salah. Aku tidak mau menikah dengan Kenzie. Aku takut padanya." Nathan mengusap rambut Alana, namun gerakannya terasa kaku. "Alana, tenanglah. Ayah sedang dalam posisi sulit dengan dewan direksi. Kenzie terus-menerus membuat masalah yang mengancam citra perusahaan. Ayah pikir pernikahan ini akan meredam kegilaan Kenzie." Alana melepaskan pelukannya, menatap Nathan dengan tidak percaya. "Jadi kamu setuju? Kamu membiarkan aku dikorbankan hanya demi citra perusahaan?" "Tentu saja tidak!" suara Nathan meninggi satu oktav, memperlihatkan retakan pada topeng tenangnya. "Tapi kita harus bermain cantik. Jika aku melawan sekarang, Ayah akan mengirimmu pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau. Biarkan ini berjalan untuk sementara. Aku akan mencari jalan keluar." "Janji?" bisik Alana dengan mata sembab. "Aku janji," ucap Nathan sambil mengecup dahi Alana. Namun, di balik mata Nathan, ada kegelapan yang tidak disadari Alana—sebuah perhitungan yang jauh lebih rumit daripada sekadar menyelamatkan seorang gadis. --- Keesokan harinya di sekolah, berita tentang "pertunangan internal" keluarga Arkananta belum menyebar, namun sikap Kenzie sudah berubah total. Dia tidak lagi hanya mengganggu; dia mulai mengklaim. Alana sedang berada di lokernya ketika tiba-tiba sebuah lengan kekar mengunci pergerakannya. Kenzie berdiri di belakangnya, menempelkan tubuhnya ke punggung Alana. Aroma tembakau dan parfum mahal pria itu langsung menyergap. "Minggir, Kenzie. Orang-orang melihat," desis Alana sambil mencoba mendorong lengan Kenzie. "Biar saja mereka melihat. Biar mereka tahu siapa yang punya hak untuk menyentuhmu," Kenzie menarik tali tas Alana, memaksanya berbalik. Kenzie mengeluarkan sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk inisial 'K' yang dihiasi berlian kecil. Tanpa meminta izin, ia memakaikannya ke leher Alana. Jarinya yang kasar sengaja berlama-lama di tengkuk Alana, membuat gadis itu bergidik. "Jangan dilepas. Kalau aku melihat leher ini kosong, aku akan memastikan teman sebangkumu yang kutu buku itu kehilangan beasiswanya hari ini juga," ancam Kenzie dengan senyum manis yang mengerikan. "Kenapa kamu melakukan ini, Ken? Kamu bahkan tidak menyukaiku. Kamu hanya suka menyiksaku," ujar Alana dengan suara bergetar. Kenzie tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. Ia mencengkeram dagu Alana, memaksa gadis itu menatapnya. "Siapa bilang aku tidak menyukaimu? Aku menyukaimu lebih dari apa pun yang pernah kumiliki. Aku suka bagaimana matamu ketakutan saat melihatku. Aku suka bagaimana kamu selalu mencari Nathan setiap kali aku mendekat. Itu membuatku ingin menghancurkan semua harapanmu pada si b******k suci itu." Kenzie mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Nathan itu seperti pajangan di museum, Alana. Cantik dilihat, tapi tidak punya nyali untuk memilikimu secara nyata. Sedangkan aku? Aku adalah badai yang akan menghancurkan rumahmu agar kamu tidak punya pilihan selain berlindung padaku." Sepanjang hari itu, Alana merasa seperti mengenakan borgol di lehernya. Setiap kali ia melewati koridor, Kenzie akan muncul entah dari mana, hanya untuk sekadar mengacak rambutnya atau merangkul bahunya di depan umum. Teman-temannya mulai berbisik. Alana yang dulunya "anak pungut yang tidak terlihat" kini menjadi pusat perhatian sebagai "properti" Kenzie Arkananta. Saat jam olahraga, Alana sengaja bersembunyi di belakang tribun lapangan basket untuk menghindari keramaian. Namun, ia justru menemukan pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Di sana, di balik pilar beton, Nathan sedang berdiri berhadapan dengan Kenzie. Tampaknya Nathan datang ke sekolah untuk urusan administrasi kuliahnya, tapi ia berpapasan dengan adiknya. "Lepaskan kalung itu dari lehernya, Kenzie," suara Nathan terdengar dingin, tanpa emosi yang biasa ia tunjukkan. "Kenapa? Kamu cemburu, Kak?" Kenzie bersandar pada pilar dengan gaya menantang. "Harusnya kamu berterima kasih padaku. Aku menyelamatkanmu dari beban harus menikahi gadis yang tidak punya status apa-apa. Kamu butuh istri dari keluarga konglomerat untuk mengamankan posisimu sebagai CEO, bukan gadis yatim piatu yang merepotkan." "Alana bukan beban," sahut Nathan tajam. "Lalu kenapa kamu diam saja saat Ayah menjodohkannya denganku? Karena kamu pengecut, Nathan. Kamu lebih mencintai takhtamu di Arkananta Group daripada gadis itu. Kamu membiarkan aku mengambilnya karena kamu tahu, kalau kamu yang mengambilnya, Ayah akan mencoret namamu dari daftar waris." Kenzie melangkah maju, menepuk d**a Nathan dengan provokatif. "Jangan sok pahlawan. Kita berdua sama-sama menginginkannya. Bedanya, aku tidak keberatan menjadi iblis untuk mendapatkannya, sementara kamu masih sibuk memoles sayap malaikatmu yang sudah kotor itu." Nathan tidak membalas. Ia hanya menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu berbalik pergi. Dari balik tribun, Alana menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis. Kata-kata Kenzie terasa seperti pisau yang menguliti hatinya. Apakah benar Nathan lebih memilih warisan daripada dirinya? Sore harinya, saat perjalanan pulang, suasana di dalam mobil Nathan terasa mencekam. Alana hanya menatap keluar jendela, memegang liontin huruf 'K' yang terasa berat di lehernya. "Kenapa kamu memakainya?" tanya Nathan tiba-tiba. "Kenzie mengancamku," jawab Alana pendek. "Lepaskan." "Kalau aku melepasnya, dia akan menyakiti temanku." Nathan tiba-tiba menginjak rem dengan keras, membuat mobil itu berhenti mendadak di pinggir jalan yang sepi. Ia menoleh pada Alana, matanya berkilat penuh amarah yang jarang diperlihatkan. "Aku bilang lepaskan, Alana! Jangan biarkan dia menandaimu seolah-olah kamu adalah miliknya!" Alana tersentak. Ini pertama kalinya Nathan membentaknya. "Lalu apa yang harus kulakukan? Kamu tidak melakukan apa-apa! Kamu membiarkan Ayah mengumumkan perjodohan itu! Kamu hanya diam, Kak!" Nathan terdiam, napasnya memburu. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Alana, namun Alana menjauh. "Jangan sentuh aku jika kamu tidak punya nyali untuk membawaku pergi dari rumah itu," bisik Alana pedih. Nathan mengepalkan tangannya di atas kemudi. "Bersabarlah, Alana. Semuanya ada waktunya." Ketika mereka sampai di rumah, Kenzie sudah menunggu di depan pintu masuk. Ia tampak sedang menghisap rokoknya, dan saat melihat mobil Nathan tiba, ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan kasar. Kenzie berjalan mendekati pintu mobil Alana dan membukanya sebelum Nathan sempat turun. Ia menarik Alana keluar dengan paksa. "Lama sekali. Apa kalian mampir ke hotel dulu untuk perpisahan?" ejek Kenzie. Nathan turun dari mobil dan menatap Kenzie dengan tajam. "Jaga bicaramu, Kenzie." Kenzie mengabaikan kakaknya. Ia justru menatap leher Alana, memastikan kalung itu masih ada di sana. Ia tersenyum puas. "Bagus. Anak pintar." Malam itu, saat makan malam, Tuan Arkananta mengumumkan bahwa pesta pertunangan resmi akan diadakan dalam dua minggu. Alana merasa seperti terpidana mati yang sedang menghitung hari menuju eksekusi. Tengah malam, Alana terbangun karena merasa ada seseorang di kamarnya. Ia membuka mata dan hampir menjerit ketika melihat sosok bayangan duduk di kursi di pojok kamarnya. "Siapa itu?" bisik Alana ketakutan. Sosok itu bangkit dan berjalan menuju cahaya lampu tidur. Itu Kenzie. Dia memegang sebuah spidol permanen hitam di tangannya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Keluar!" Kenzie tidak menjawab. Ia naik ke atas tempat tidur Alana, menindih kaki gadis itu dengan berat tubuhnya. Sebelum Alana sempat berteriak, Kenzie membungkam mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membuka tutup spidol. Dengan gerakan lambat namun pasti, Kenzie menarik kerah piyama Alana sedikit ke bawah, memperlihatkan tulang selangkanya yang halus. Di sana, tepat di atas kulit putihnya, Kenzie mulai menuliskan sesuatu dengan spidol itu. Alana meronta, namun tenaga Kenzie terlalu kuat. Dinginnya tinta spidol itu terasa seperti tato permanen yang merusak kesuciannya. Setelah selesai, Kenzie melepaskan bungkamannya dan menunjukkan hasilnya melalui cermin kecil di meja rias Alana. Di sana, di kulit Alana, tertulis satu kata dengan huruf kapital yang tegas: PROPERTI KENZIE. Alana menatap tulisan itu dengan horor. Air mata mengalir deras di pipinya. Kenzie mengusap air mata Alana dengan ibu jarinya, lalu membisikkan sesuatu yang membuat darah Alana membeku. "Sekarang, coba perlihatkan ini pada Nathan besok pagi, dan lihat apakah 'pahlawanmu' itu masih mau menyentuh barang yang sudah kucoret-coret?" ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD