Bab 3: Jerat Obsesi Tuan Muda

1531 Words
Hawa dingin malam itu terasa merayap masuk ke dalam pori-pori kulit Alana, namun tak ada yang lebih dingin daripada tatapan Kenzie saat ia turun dari tempat tidur. Pria itu berdiri di sana, memutar-mutar spidol hitam di jarinya dengan ekspresi puas, seolah baru saja menyelesaikan sebuah mahakarya di atas kanvas yang tak ternilai harganya. "Jangan dihapus, Sayang. Tinta itu butuh waktu untuk meresap, sama seperti namaku yang akan meresap ke dalam hidupmu," bisik Kenzie sebelum melangkah keluar dengan seringai yang menghilang di balik kegelapan koridor. Begitu pintu tertutup, Alana langsung melompat menuju kamar mandi. Ia menyalakan keran air hingga maksimal, membiarkan suara gemericik air menyamarkan isak tangisnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil sabun dan spons, lalu mulai menggosok tulang selangkanya yang kini ternoda tulisan kapital yang menghina itu: PROPERTI KENZIE. Ia menggosoknya dengan keras. Sekali, dua kali, hingga kulitnya memerah dan terasa perih. Namun, tinta permanen itu seolah mengejeknya. Warnanya hanya sedikit memudar, menyisakan bayangan abu-abu yang tetap terbaca dengan jelas. Alana merasa kotor. Ia merasa seperti hewan ternak yang baru saja diberi cap oleh pemiliknya. "Kenapa kamu jahat sekali, Ken..." gumamnya di sela tangis. Setiap gosokan spons itu membawa kembali ingatan masa kecilnya. Dulu, Kenzie juga sering merusak barang-barangnya, mematahkan krayonnya, merobek buku gambarnya hanya untuk melihat Alana menangis dan berlari pada Nathan. Sekarang, Kenzie tidak lagi merusak barang milik Alana. Ia merusak Alana sendiri. Malam itu, Alana hampir tidak memejamkan mata. Ia meringkuk di atas tempat tidur dengan handuk hangat yang ia tempelkan di d**a, berharap keajaiban akan melunturkan tinta itu. Pikirannya melayang pada Nathan. Ia butuh Nathan. Ia butuh pria itu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa tanda itu tidak berarti apa-apa. --- Pagi harinya, Alana mengenakan seragam sekolah dengan kancing paling atas yang dikunci rapat. Ia bahkan menambahkan syal tipis untuk memastikan tidak ada satu inci pun dari tulang selangkanya yang terlihat. Saat menuruni tangga, ia melihat Nathan sudah menunggu di ruang makan, sedang membaca koran digital di tabletnya sambil menyesap kopi hitam. "Pagi, Alana," sapa Nathan tanpa mendongak. "Pagi, Kak," sahut Alana pelan. Ia duduk di seberang Nathan, mencoba bersikap senormal mungkin meskipun jantungnya berdegup tidak karuan. Tak lama kemudian, Kenzie muncul. Berbeda dengan Alana yang tampak lesu, Kenzie terlihat sangat segar. Ia duduk di samping Alana, menarik piring roti gadis itu dan mengambil satu potong dengan santai. "Tidur nyenyak, Calon Istri?" tanya Kenzie dengan nada sarkastik yang kental. Matanya melirik ke arah syal yang melilit leher Alana, dan senyumnya semakin lebar. "Kenapa pakai syal? Hari ini cuaca cukup panas, lho." Alana mengabaikannya dan mulai mengaduk sereal tanpa nafsu makan. Nathan mendongak, matanya yang tajam beralih dari tablet ke arah Alana, lalu ke arah Kenzie. "Ada apa dengan syal itu, Alana?" "Hanya... tenggorokanku sedikit sakit," bohong Alana. Kenzie tertawa kecil. "Mungkin karena semalam dia terlalu banyak berteriak, Kak. Kamu tahu kan, Alana punya kebiasaan panik yang lucu kalau ada 'serangga' masuk ke kamarnya." Nathan meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan yang cukup keras di atas meja. Atmosfer di ruang makan itu mendadak mendingin. Nathan menatap Kenzie dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Apa yang kamu lakukan semalam, Kenzie?" tanya Nathan, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Hanya memberikan hadiah kecil. Sebagai tanda bahwa aku sangat menghargai perjodohan ini," jawab Kenzie sambil mengedipkan mata pada Alana. Selesai sarapan, saat mereka berjalan menuju mobil, Nathan tiba-tiba menarik tangan Alana, membawanya ke balik pilar garasi yang tersembunyi dari pandangan Kenzie yang sedang memanaskan motor besarnya. "Lepaskan syalnya," perintah Nathan. "Kak, jangan..." "Alana, lepas sekarang." Dengan tangan gemetar, Alana membuka lilitan syalnya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Ketika kain itu tersingkap, memperlihatkan kulit merah lecet akibat gosokan kasar dan sisa tulisan hitam yang masih terbaca, Alana melihat sesuatu yang jarang ia lihat di wajah Nathan: amarah murni yang tidak tertutup topeng ketenangan. Nathan menyentuh pinggiran tulisan itu dengan jemarinya. Rahangnya mengeras. "Dia masuk ke kamarmu?" Alana mengangguk pelan, air mata kembali menetes. "Dia mengancamku, Kak. Dia bilang kalau aku menghapusnya, dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk." Tiba-tiba, Nathan menarik Alana ke dalam pelukannya. Sangat erat, hingga Alana bisa merasakan detak jantung Nathan yang tidak beraturan. "Maafkan aku. Aku seharusnya menjagamu lebih baik." "Bawa aku pergi, Kak. Aku mohon," isak Alana di d**a Nathan. Nathan terdiam sejenak, lalu melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Alana dengan intensitas yang menakutkan. "Belum saatnya, Alana. Jika kita lari sekarang, Ayah akan menutup semua akses keuangan dan koneksiku. Aku tidak bisa melindungimu jika aku tidak punya kekuatan. Tapi aku janji, Kenzie akan membayar untuk setiap inci kulitmu yang dia nodai." --- Di sekolah, Alana merasa seperti orang asing di tubuhnya sendiri. Ia terus-menerus memegangi kerah bajunya, merasa ketakutan jika ada orang yang melihat "tanda" itu. Kenzie, di sisi lain, tampak sangat menikmati hari itu. Ia sengaja berjalan melewati kelas Alana beberapa kali, hanya untuk memastikan Alana melihatnya dan mengingat apa yang terjadi semalam. Saat istirahat, Alana bersembunyi di laboratorium biologi yang sedang tidak digunakan. Ia ingin menyendiri, namun pintu laboratorium terbuka dan Nathan masuk. "Kak Nathan? Kenapa Kakak di sini?" "Aku membawakan sesuatu," ujar Nathan. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dan kapas. "Ini cairan pembersih khusus dari laboratorium kimia kampus. Ini bisa menghapus tinta permanen tanpa merusak kulitmu lebih parah." Nathan meminta Alana duduk di kursi laboratorium. Dengan sangat telaten dan lembut, Nathan mulai mengusap kulit Alana yang memerah. Bau bahan kimia yang tajam memenuhi ruangan, namun bagi Alana, itu adalah bau kebebasan. "Sakit?" tanya Nathan pelan. "Sedikit perih," jawab Alana. "Tahan sebentar. Aku tidak akan membiarkan tanda itu ada di sana." Saat Nathan fokus membersihkan kulit Alana, wajah mereka sangat dekat. Alana bisa melihat bulu mata Nathan yang panjang dan aroma parfumnya yang menenangkan. Untuk sesaat, ia merasa aman. Ia merasa dicintai. Namun, kenyamanan itu hancur saat pintu laboratorium ditendang terbuka dengan keras. Kenzie berdiri di sana, menatap mereka dengan mata yang berkilat penuh kebencian. Tangannya mengepal di samping tubuh. "Wah, wah. Adegan yang sangat menyentuh. Sang Kakak sedang membersihkan kotoran adiknya?" ujar Kenzie sambil melangkah masuk. Nathan tidak berhenti. Ia terus mengusap kulit Alana hingga tulisan itu benar-benar hilang, lalu ia membuang kapas kotor itu ke tempat sampah. Ia berdiri dan menghadap Kenzie, menempatkan dirinya di depan Alana sebagai tameng. "Jangan pernah masuk ke kamarnya lagi, Kenzie," ucap Nathan dingin. "Atau apa? Kamu akan mengadu pada Ayah? Silakan. Ayah justru akan senang tahu aku sudah mulai 'mengenal' calon istriku," tantang Kenzie. Ia mendekati Nathan, hingga d**a mereka nyaris bersentuhan. "Kamu boleh menghapus tinta itu sejuta kali, Nathan. Tapi kamu tidak bisa menghapus kenyataan bahwa dia akan tidur di kamarku, bukan kamarmu." Kenzie beralih menatap Alana yang bersembunyi di belakang Nathan. "Alana, kamu pikir Kakakmu ini suci? Kamu pikir dia tidak menginginkan hal yang sama? Dia hanya terlalu takut untuk menjadi kotor. Tapi aku? Aku tidak takut kotor. Dan malam ini, aku akan memastikan tanda itu kembali, dengan cara yang tidak bisa dihapus oleh cairan kimia apa pun." "Cukup, Kenzie!" bentak Nathan. Kenzie tertawa sinis, lalu berbalik meninggalkan laboratorium. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di pintu. "Oh, satu lagi. Ayah mempercepat pesta pertunangan kita. Bukan dua minggu lagi, tapi besok malam. Selamat bersiap-siap, Calon Pengantin." Dunia Alana serasa runtuh untuk kesekian kalinya. Besok malam? Itu terlalu cepat. Ia menatap Nathan dengan wajah pucat pasi. Nathan membalikkan tubuhnya dan memegang kedua bahu Alana. "Dengarkan aku. Besok malam, saat pesta berlangsung, aku akan mengatur sesuatu. Kita tidak punya banyak waktu, tapi aku akan memastikan pertunangan itu tidak pernah selesai." "Apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Alana lirih. Nathan tidak menjawab. Ia hanya memberikan sebuah kotak kecil yang ia ambil dari sakunya. "Simpan ini. Jika terjadi sesuatu yang tidak terkendali di pesta nanti, minum ini. Ini akan membuatmu tampak seperti pingsan karena serangan jantung ringan. Mereka akan membawamu ke rumah sakit, dan di sana, orang-orangku sudah menunggu untuk membawamu keluar dari kota ini." Alana menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Ini adalah rencana yang gila. Rencana yang berbahaya. "Bagaimana dengan Kakak?" Nathan tersenyum misterius, sebuah senyuman yang entah mengapa terasa lebih menakutkan daripada kemarahan Kenzie. "Aku akan menyusulmu setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Kenzie dan Ayah. Sekarang, kembalilah ke kelas. Berpura-puralah tidak terjadi apa-apa." Sepanjang perjalanan pulang, Alana terus menggenggam kotak kecil di sakunya. Ia berada di persimpangan antara harapan dan ketakutan. Di satu sisi, ia ingin percaya pada Nathan. Di sisi lain, ia teringat ucapan Kenzie: Nathan hanya takut menjadi kotor. Malam itu, rumah Arkananta sangat sibuk menyiapkan pesta besar untuk besok. Alana mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, bahkan mengganjalnya dengan kursi. Ia duduk di jendela, menatap bulan yang tampak pucat. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Alana tahu siapa pengirimnya dari gaya bahasanya. Jangan berpikir untuk memakai obat yang diberikan Nathan, Alana. Aku sudah menukarnya dengan sesuatu yang jauh lebih 'menyenangkan'. Kalau kamu meminumnya, jangan salahkan aku kalau kamu sendiri yang akan merangkak memohon padaku di depan semua tamu undangan besok. Alana menatap kotak di tangannya dengan ngeri. Ia membuka kotak itu, melihat sebuah pil putih yang tampak tidak berdosa. Siapa yang harus ia percayai? Nathan yang menjanjikan pelarian, atau Kenzie yang selalu tahu setiap langkahnya? Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar kembali. Kali ini bukan ketukan halus, melainkan ketukan yang ritmis dan mengancam. "Alana... kamu sudah coba pilnya? Atau mau aku yang membantumu menelannya sekarang?" ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD