Bab 5: Jerat Obsesi Tuan Muda

997 Words
Rasa pening yang luar biasa menghantam dahi Alana saat kesadarannya perlahan kembali. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah lantai dingin aula pesta, melainkan permukaan seprai sutra yang sangat halus dan aroma kayu cendana yang begitu akrab. Wangi itu selalu identik dengan Nathan, namun kali ini, harum itu terasa mencekik seperti kabut yang tebal. Mata Alana mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu temaram yang memantul di dinding kamar serba putih yang elegan. Ia tidak berada di kediaman Arkananta. Kamar ini asing, jendela-jendelanya tertutup rapat oleh tirai beludru tebal, dan satu-satunya pintu yang terlihat tampak kokoh tanpa gagang di bagian dalam. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya, Alana menyadari gaun sampanyenya telah hilang, berganti dengan piyama sutra tipis yang membuatnya merasa telanjang di bawah hawa AC yang dingin. "Jangan dipaksa untuk duduk, Alana. Efek kloroformnya masih ada di sistem tubuhmu," suara itu muncul dari sudut ruangan yang gelap. Alana tersentak. Nathan duduk di sana, di sebuah kursi kulit mewah. Ia tidak lagi memakai jas; kemeja putihnya terbuka di dua kancing teratas, memperlihatkan aura predator yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng pangeran. Matanya tidak lagi hangat, melainkan gelap dan haus, menatap Alana seolah-olah ia adalah harta karun yang akhirnya berhasil ia curi dari dunia. "Kak Nathan? Di mana kita? Kenapa Kakak membiusku?" suara Alana serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar. Nathan bangkit dan mendekati tempat tidur dengan langkah yang sangat pelan. Ia membawa segelas air, namun saat Alana hendak mengambilnya, Nathan menjauhkan gelas itu. Ia justru duduk di tepi ranjang dan menempelkan pinggiran gelas ke bibir Alana, memaksanya untuk minum dari tangannya. "Aku menyelamatkanmu, Alana. Kenzie sudah gila. Dia hampir mempermalukanmu di atas panggung dengan obat yang ia tukar," ucap Nathan dengan nada tenang yang mengerikan. Ia mengusap tetesan air di sudut bibir Alana dengan ibu jarinya, lalu menekannya sedikit lebih keras. "Di sini kau aman. Tidak ada Kenzie, tidak ada Ayah. Hanya ada aku yang akan menjagamu." "Tapi Kakak menculiku! Kakak membawaku pergi paksa!" tangis Alana pecah. Nathan tidak terlihat merasa bersalah. Ia justru menarik kunci kecil dari sakunya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia membuka gembok pada choker emas pemberian Kenzie yang masih melilit leher Alana. Saat logam itu terlepas, Nathan melemparnya ke sudut ruangan seolah benda itu adalah sampah yang menjijikkan. "Kau tidak butuh rantai dari anjing seperti Kenzie. Kau hanya butuh aku," bisik Nathan tepat di telinga Alana. Tiba-tiba, suara dentuman keras menghantam pintu luar apartemen. Seseorang sedang mencoba mendobrak masuk dengan kemarahan yang tidak terkendali. Suara benturan logam bertemu kayu jati bergema di seluruh ruangan, memecah suasana intim yang Nathan bangun. "Nathan! Buka pintunya, b******n! Aku tahu kau di dalam!" itu suara Kenzie. Suaranya terdengar seperti raungan binatang buas. Nathan memejamkan mata sejenak, tampak sangat terganggu karena rencananya terinterupsi. Ia berdiri, merapikan kemejanya, dan berjalan menuju pintu kamar. Ia tidak membukanya, ia hanya menatap layar monitor di samping pintu yang memperlihatkan Kenzie sedang menghantamkan tongkat besi ke arah pintu depan apartemennya. "Pergilah, Kenzie! Alana sudah memilih untuk bersamaku. Dia muak dengan keliaranmu!" teriak Nathan dari dalam, sebuah kebohongan yang diucapkan dengan nada sangat meyakinkan. "Bohong! Kau membiusnya, Kak! Kau pengecut yang tidak bisa menang dengan cara jantan!" balas Kenzie dari luar. Suara pintu depan akhirnya jebol. Langkah kaki berat Kenzie terdengar berlari di koridor apartemen, mendekati kamar tempat mereka berada. Kenzie menghantam pintu kamar dengan bahunya. "Buka, Nathan! Atau aku akan meratakan tempat ini sekarang juga!" Nathan tersenyum tipis ke arah Alana, sebuah senyum sosiopat yang sangat provokatif. Ia sengaja menarik Alana ke dalam pelukannya, memastikan posisi mereka terlihat sangat intim jika pintu itu terbuka. Ia ingin menghancurkan mental adiknya. "Lihat bagaimana dia bersikap, Alana. Dia seperti binatang. Apakah kau benar-benar ingin menghabiskan hidupmu dengan orang seperti itu?" bisik Nathan sambil mencium kening Alana dengan posesif. Pintu kamar itu akhirnya terbuka paksa. Kenzie berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah yang berlumuran keringat. Matanya merah padam saat melihat Alana berada di pelukan Nathan dengan pakaian yang sangat minim. "Lepaskan dia, Nathan," desis Kenzie. Ia mencengkeram tongkat besinya hingga buku jarinya memutih. "Kau terlambat, Kenzie. Alana sudah menjadi milikku sejak ia memejamkan mata di pesta tadi," sahut Nathan tanpa rasa takut sedikit pun. Alana mencoba melepaskan diri dari pelukan Nathan, namun tangan Nathan mencengkeram pinggangnya dengan sangat kuat hingga terasa sakit. Alana menatap Kenzie dengan pandangan memohon. "Ken, tolong aku..." "Aku akan membawamu pulang, Al," ucap Kenzie. Ia melangkah maju, namun Nathan segera menarik sebuah ponsel dari nakas dan menekan sebuah tombol. "Satu langkah lagi, Kenzie, dan aku akan mengirimkan rekaman balapan ilegalmu dan skandal penggelapan dana perusahaan yang kau lakukan kepada Ayah sekarang juga. Kau tahu apa konsekuensinya? Kau akan didepak dari keluarga ini tanpa sepeser pun uang," ancam Nathan dengan tenang. Kenzie terhenti. Ia menatap kakaknya dengan kebencian yang murni. "Kau pikir aku peduli pada uang sialan itu? Aku hanya peduli pada Alana!" "Benarkah? Lalu bagaimana kau akan melindunginya jika kau menjadi gelandangan? Di dunia Arkananta, tanpa kekuasaan, kau bukan siapa-siapa," Nathan tertawa kecil, suara yang sangat menghina. Alana hanya bisa terdiam melihat kedua pria ini saling mengancam. Tidak ada cinta yang tulus di sana, yang ada hanyalah obsesi untuk menang. Namun, saat tensi sedang berada di puncaknya, ponsel Nathan yang ia pegang bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar. Tuan Arkananta: Rencana A gagal. Polisi menuju apartemenmu karena laporan penculikan. Amankan Alana sekarang. Mata Nathan membelalak sesaat. Ia menatap Kenzie, lalu menatap Alana. Rupanya, Kenzie tidak datang sendirian. Ia telah melibatkan pihak luar untuk menghancurkan rencana "penyelamatan" Nathan. "Kau memanggil polisi?" tanya Nathan dengan suara yang mulai kehilangan ketenangannya. Kenzie tersenyum menyeringai, sebuah senyuman liar yang penuh kemenangan. "Jika aku tidak bisa memilikinya malam ini, maka kau juga tidak boleh memilikinya, Kak." Suara sirine mulai terdengar dari kejauhan, membelah keheningan malam di luar gedung apartemen mewah itu. Alana menyadari bahwa ia tidak sedang diselamatkan oleh siapa pun. Ia hanya sedang dijadikan alat untuk saling menjatuhkan di antara dua saudara sosiopat ini. "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?" tanya Alana dengan suara bergetar, menatap Nathan yang kini tampak terjepit. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD