Setelah pergulatan panas itu, keduanya berbaring sambil berpelukan dengan erat seolah tak ingin terpisahkan satu sama lain. “Apa kamu pernah menyesal kenal aku?” tanya Avelline tiba-tiba, suaranya hampir berbisik. Eldiro terdiam sejenak lalu menggeleng mantap, “enggak pernah. Aku justru bersyukur bisa kenal kamu dan menjadi suamimu sekarang. Aku tahu jalannya mungkin berat ke depannya, tapi aku enggak pernah ragu sama keputusan ini.” Avelline mendongak, menatap wajah Eldiro. Di sana tak ditemukan keraguan, yang tampak hanya ketulusan yang terasa menenangkan. Dia tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya kembali. Keheningan kembali menyapa, namun hening itu tak terasa canggung. Justru sebaliknya, terasa penuh dan utuh, seperti dua jiwa yang akhirnya menemukan rumah masing-masing. Ma

