11. Malam Pertama Di Keheningan

1721 Words
Avelline dan Eldiro seperti tak membuang waktu lama, meskipun agak malu namun Avelline akhirnya pamit pada orang tuanya yang seolah mengerti apa yang akan mereka hendaki. Sementara Kaivan dijaga oleh keluarga Avelline. Mengendarai sepeda motornya, Eldiro mengajak Avellie ke daerah Puncak, Bogor. Mereka memilih sebuah villa sederhana yang terletak tak jauh dari gerbang Taman Cibodas. Bangunannya menyerupai rumah panggung khas pedesaan, berdiri kokoh di atas tiang-tiang kayu dan tampak begitu anggun. Seluruh dindingnya terbuat dari bilik bambu yang tersusun rapi, memberi kesan alami dan hangat. Tidak terlihat mewah namun justru kesederhanaan itu yang membuat villa ini terasa menenangkan. Dari teras kecil di depannya, pemandangan alam terbentang begitu luas. Karena letaknya yang cukup tinggi membuat mata bisa memandang sejauh mungkin ke arah hamparan pepohonan hijau yang berlapis-lapis. Pepohonan itu terlihat lebih rendah dari villa, seakan rumah kecil ini berada di tempat yang paling tinggi. Pegunungan seperti mengelilingi tempat itu dan tampak seperti lukisan yang begitu indah. Angin pegunungan berembus lembut, membawa aroma dari pohon pinus, yang menyusup ke paru-paru dengan kesegaran yang sulit ditemukan di kota. Di dalam kamar, suasananya terasa hangat dan nyaman. Sebuah ranjang berukuran king size menempati hampir separuh ruangan. Dibalut seprai berwarna krem dan bed cover tebal yang tampak empuk dan mengundang untuk segera ditiduri. Di sisi ranjang terdapat lemari kecil yang menyatu dengan meja rias sederhana, lengkap dengan kursi mungil di depannya. Sebuah meja kecil dengan lampu tidur bercahaya temaram berdiri di sisi lain, menciptakan suasana intim. Jendela besar di dinding samping membiarkan cahaya senja masuk perlahan, memantulkan warna jingga keemasan ke seluruh ruangan. Eldiro masih berada di luar, berbincang singkat dengan penjaga villa yang rumahnya tak jauh dari sana. Sementara itu, Avelline berdiri mematung di depan jendela, matanya menatap pemandangan di kejauhan. Dia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Seakan setiap helaan napas itu membawa pergi sisa beban yang selama ini menekan dadanya. Waktu menunjukkan pukul lima sore, matahari mulai terbenam perlahan menyisakan cahaya lembut yang tampak menelungkupi pegunungan. Samar-samar suara jangkrik mulai bersahutan menjadi penanda bahwa malam akan segera datang. Avelline memejamkan mata sejenak, menikmati ketenangan yang jarang dia rasakan. Di tempat ini dia tidak perlu berpura-pura kuat. Dia bisa menjadi dirinya sendiri, tak perlu menjadi orang lain. Suara pintu tertutup membuat mata Avelline terbuka perlahan. Eldiro melangkah masuk ke dalam, pandangannya langsung tertuju pada istrinya yang terdiam sambil berdiri di depan jendela menatap pemandangan, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia menatap wajah Avelline yang tampak tenang, sekaligus rapuh, membuat hati Eldiro menghangat dan juga teriris di saat bersamaan. Avelline saat ini masih mengenakan celana jeans belel yang nyaman dan kaos putih agak ketat, menonjolkan siluet tubuhnya yang proporsional. Rambutnya dibiarkan tergerai. Sementara Eldiro mengenakan celana santai selutut dan kaos hitam polos. Beberapa gelang hitam melingkar di pergelangan tangannya, memberi kesan santai dan maskulin. Eldiro melangkah pelan, dia tak ingin mengusik momen hening itu. Tangannya melingkar lembut di pinggang Avelline yang ramping. Menariknya dalam pelukan, dagunya bertumpu di atas kepala Avelline, seolah itu adalah tempat paling pas untuknya. Avelline mendongak perlahan, mata mereka bertemu. Eldiro mengecup bibir Avelline dengan lembut, begitu singkat namun penuh makna. “Bagus ya pemandangannya?” bisik Eldiro di telinga Avelline, suaranya terdengar rendah dan hangat sehingga menimbulkan getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuh Avelline. “Iya, udaranya juga masih bersih,” jawab Avelline pelan. Dengan perlahan Eldiro membalikkan tubuh Avelline agar menghadapnya, dia memegang dagu Avelline dan mengangkatnya perlahan, lalu kembali mengecup bibirnya. Kali ini lebih dalam dan panjang. Ada kerinduan yang tertahan di sana, rasa memiliki yang kini tak lagi terlarang. Tangan Eldiro menyusuri punggung Avelline, mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Avelline membalas dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Eldiro, berjinjit untuk menyamakan tinggi mereka. Dia melumat bibir itu sehingga ciuman mereka berubah menjadi cumbuan yang menggairahkan seakan dunia hanya milik mereka berdua. Eldiro mengakhiri ciuman itu dan mengecup pipi Avelline, dia tersenyum kecil saat melihat sorot protes di mata istrinya. “Masih sore,” ucapnya lembut, “kamu mau mandi dulu pakai air hangat?” tanya Eldiro lagi. Avelline tersenyum, pipinya merona merah, dia merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. “Aku mandi pakai air dingin saja,” jawabnya. Dia mengambil handuk dan melangkah menuju kamar mandi. Ruangannya kecil, namun cukup bersih dan terasa nyaman. Di dalamnya terdapat sebuah kolam kecil dengan air yagn sangat jernih, mengalir langsung dari pegunungan. Saat Avelline mencelupkan tangannya, rasa dingin langsung menjalari kulit, membuatnya sedikit menggigil. Dia melepas pakainnya perlahan, membiarkan tubuhnya terkena guyuran air dingin yang menyegarkan. Air itu seakan tak hanya membersihkan tubuh namun juga pikirannya. Avelline mandi lebih lama dari yang dia kira, tenggelam dalam perasaan tenang yang jarang dia rasakan. Ketika dia akhirnya keluar, rambutnya masih basah. Dia melihat meja makan kecil, dan Eldiro sudah menyiapkan dua porsi mie rebus lengkap dengan daun sawi, telur dan saus. Bahkan dua gelas cokelat hangat juga sudah tersedia di meja itu. “Wah kayaknya enak,” ucap Avelline sambil tersenyum. Eldiro terkekeh, “aku kira kamu ketiduran di dalam,” ucapnya, lalu dia menarik tangan Avelline dan menarik tangannya agar duduk di sampingnya. Mereka makan dengan tenang. Sesekali mata mereka bertemu dan senyum kecil terukir di wajah masing-masing. “Setelah ini kita mau tinggal di mana?” tanya Avelline. Eldiro menerawang. “Aku kepikiran untuk cari kontrakan di dekat kantor, bagaimana?” tanya Eldiro. “Boleh, tapi ... apa sebaiknya setelah pulang dari Kalimantan saja ya Mas?” ujar Avelline. “Terus seminggu sebelum ke Kalimantan kita tinggalnya bagaimana?” tanya Eldiro. Avelline tersenyum kecil dan menyuap suapan terakhir dari mie instan itu. “Kan bisa di rumah orang tuaku dulu, lagi pula Kaivan belakangan tidurnya sama ibu terus,” jawab Avelline. Eldiro tersenyum lebar, “boleh,” jawabnya, lalu dia mengulurkan tangan mengusap kepala Avelline dengan lembut. Tatapan matanya penuh cinta dan bibirnya yang tersenyum lebar seolah mengagumi seluruh yang ada di diri Avelline. Setelah makan, Eldiro pun bergantian mandi sementara Avelline kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang. Menatap lampu temaram dan mendengarkan suara alam di luar. Dia merasa sangat damai. Sambil menunggu Eldiro mandi, dia pun mengeluarkan gaun tidur dari tas yang dia bawa, gaun seserahan yang dia buka tadi. Warnanya putih polos dengan renda di bagian d**a dan roknya, sangat tipis dan menerawang, namun tentu gaun itu memang diciptakan untuk menggugah momen intim antara suami istri ini kan? Malam semakin larut, suara alam di sekitar villa terdengar semakin jelas. Eldiro pandai menemukan tempat yang indah serta tersembunyi, jauh dari pemukiman dan juga jalan utama sehingga nyaris tak ada suara kendaraan terdengar. Sesekali desau angin menyentuh dedaunan menimbulkan gemerisik pelan dan syahdu. Di dalam kamar yang diterangi cahaya lampu temaram. Avelline menatap Eldiro yang keluar dari kamar mandi, menyugar rambut dengan handuk yang dia bawa, dia bertelanjang d**a dan memakai celana pendek saja. Tubuhnya begitu sempurna, tinggi dan tidak memiliki banyak lemak berlebihan. Avelline menelan salivanya kasar ketika menatap Eldiro dari kepala sampai kaki, tak menyangka bahwa dia bisa menikahi karyawan favorit para wanita di kantornya. Pria tampan yang tak pernah dia bayangkan akan bersama dengannya seperti sekarang ini. Awalnya dia pikir malam itu hanya kesalahan fatal yang takkan pernah diulangi, bahkan dia ingin mengubur rapat-rapat ingatan itu, namun kini dia menyadari bahwa malam itu adalah awal dari segalanya, dari pernyataan cinta Eldiro. Dari sambutan cinta Avelline yang merasa bahwa di malam itu tak hanya tubuh mereka yang menyatu, melainkan hati mereka. Eldiro duduk di tepi ranjang, menatap Avelline yang berbaring, wajahnya tampak bersemu. Dia tersenyum dan menyentuh jemari Avelline. Satu tangannya dipakai mengusap pipi Avelline. Saling tatap dan membiarkan kenangan-kenangan lama di kepala mereka berputar kembali seperti kaset yang diputar ulang. Kilasan pertemuan pertama, di mana hati Eldiro yang harus layu sebelum berbunga, rasa bingung Avelline, lalu dilanjutkan dengan rasa bersalah. Pertentangan batin antara pernikahan atau melepaskan. Hingga keberanian untuk memilih satu sama lain, semua terasa seperti perjalanan panjang yang akhirnya membawa mereka ke titik ini bersama, tanpa lagi batasan atau rasa takut. “Aku masih enggak nyangka, bisa benar-benar bersama kamu,” ucap Eldiro pelan. Suaranya rendah, namun sorot matanya dipenuhi kejujuran. “Aku juga, kadang aku masih merasa ini mimpi,” ucap Avelline seraya tersenyum tipis. Eldiro menarik napas dalam-dalam, “aku sayang banget sama kamu. Percaya sama aku, di hatiku Cuma ada kamu sekarang dan untuk seterusnya,” ucap Eldiro. Kata-kata itu bukan janji berlebihan agar terdengar dramatis. Namun itu adalah bentuk kesederhanannya untuk membuat Avelline merasa yakin. “Terima kasih sudah memperjuangkan aku. Aku juga sayang kamu,” balas Avelline sambil mengulurkan tangan mengusap pipi Eldiro, pria itu menoleh dan mengecup telapak tangan Avelline dengan lembut, lalu dia membungkuk mengecup bibir wanita itu. Jemarinya mulai menari di leher Avelline, mengusapnya perlahan. Gerakan itu begitu pelan seolah dia ingin menghapal setiap inci kulit sang istri. Cumbuannya kian dalam, diikuti dengan sentuhan jemarinya di titik sensitif Avelline. Wanita itu menutup mata, menikmati lumatan yang diberikan Eldiro, yang kini ciumannya turun ke leher wanita itu, terus turun ke dadanya, menyesap setiap tempat yang membuatnya kian b*******h. Hingga Avelline menggelinjang nikmat ketika ciuman Eldiro bermain di titik paling sensitif tubuhnya, kepalanya terbenam di antara paha Avelline. Lenguhan dan racauan terdengar bergantian, diikuti dengan decakan khas pemilik hasrat tersebut. Puas bermain di sana, Eldiro menyeka bibirnya sambil tersenyum. Wajah Avelline merona merah, sisa kenikmatan masih terpancar di mata itu. Eldiro melucuti sisa pakaian mereka berdua, lalu tenggelam dalam penyatuan, waktu berjalan lebih lambat, tidak ada yang ingin terburu-buru, gerakan sensual itu dilakukan perlahan seperti ingin menikmati setiap detik kebersamaan itu tanpa tergesa. Eldiro mengecup kening Avelline, gesturnya sederhana namun penuh makna. Avelline memeluk tubuh sang suami, merapatkan tubuh mereka, dia merasa terlindungi dalam pelukan pria yang kini telah menjadi suaminya itu. Dia tahu hidup ke depan tidak akan selalu mudah, akan ada perbedaan, tantangan, terutama dengan keluarga Eldiro yang belum sepenuhnya menerima kehadirannya. Namun, malam ini dia memilih untuk percaya, bahwa selama mereka saling mencintai, maka semuanya bisa dilewati bersama. Hingga gerakan itu berubah menjadi lebih liar dan nakal, lalu keduanya saling mengentak, mendapatkan titik tertinggi dari penyatuan mereka. Tubuh Eldiro limbung, mendekap erat Avelline yang memejamkan mata menikmati sisa-sisa pelepasan mereka. Satu menit keduanya membiarkan hasrat itu terbenam dalam gelombang yang dahsyat yang baru saja terjadi. Lalu Eldiro mengangkat wajahnya menatap Avelline dan mengecup keningnya sekali lagi. “Enak?” tanyanya. Avelline mengangguk dengan malu-malu membuat Eldiro gemas dan mencubit ujung hidungnya. Mereka kembali mencumbu dan membiarkan penyatuan malam ini berlalu dengan lebih panjang di banding sebelumnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD