8. Hadiah Yang Tak Disangka

1685 Words
Beberapa hari kemudian, Avelline masuk kerja seperti biasa, meskipun ada perasaan yang tidak biasa menggelayuti dadanya sejak pagi. Zaven tak pulang ke rumah sejak ibunya keluar dari rumah sakit, dia berkata ingin menemani ibunya. Namun, Avelline tahu ... Zaven terlalu takut menerima kenyataan bahwa dia telah mentalak istrinya, juga mengetahui bahwa wanita itu sudah tidur bersama temannya. Hari ini ada rapat keuangan di kantor Zaven. Akhir bulan yang selalu menyita energi. Setelah laporan keuangan dipresentasikan dan beberapa point dijabarkan. Rapat pun berakhir menjelang siang. Seperti kebiasaan, sebagian karyawan memilih langsung ke kantin untuk makan bersama sebelum kembali bekerja. Avelline ikut turun ke kantin kantor Zaven. Sesuatu yang sebenarnya ingin dia hindari. Bukan karena tempat itu tidak nyaman, namun karena tempat itu terlalu dekat dengan kemungkinan bertemu Eldiro. Dia tahu betul kantor ini adalah wilayah Eldiro, tempat di mana pria itu bisa muncul kapan saja. Namun, dia juga tak mungkin menghindar terus menerus, dia masih memiliki kontrak kerja sama dengan perusahaan ini dan hidupnya tidak boleh berhenti hanya karena satu kesalahan yang baru terjadi kemarin malam. Di kantin, Avelline duduk bersama Rully, karyawan bagian keuangan dari kantor Zaven. Mereka sudah cukup sering bertemu dalam urusan laporan dan audit. Jadi makan bersama tentu terasa wajar. Rully merupakan sosok yang ramah, agak cerewet namun tidak menyebalkan. Setidaknya, Avelline merasa aman berada di dekatnya. Mereka menyantap makan siang masing-masing ketika Avelline mulai merasa sedikit lebih rileks. Hingga keberuntungan kecil itu tiba-tiba menguap begitu saja. “Hei!” Suara itu muncul begitu saja, disertai suara kursi yagn digeser tanpa permisi. Dalam sekejap sosok tinggi dengan aura yang terlalu familiar sudah duduk di antara Avelline dan Rully yang langsung memisahkan mereka. Avelline membeku sesaat. Dialah Eldiro. Sosok yang dihindari Avelline. Dengan wajah innocent yang cukup menyebalkan, dia meletakkan mangkuk berisi mie ayam di hadapannya dan langsung mulai makan tanpa izin lebih dahulu. “Ngapain kamu?” tanya Avelline setengah berbisik. Jelas tidak nyaman dengan kehadiran Eldiro yang mendadak. “Makan, lah,” jawab Eldiro santai tanpa menoleh, sumpitnya sudah dipakai mengaduk mie ayam favoritnya. Rully yang sempat kehilangan sebagian wilayah tempat duduknya terpaksa sedikit bergeser. Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengutak atik layar, meskipun dia tentu saja merasa aneh dengan situasi ini. Dia melirik Avelline, memastikan apakah kehadiran Eldiro memang direncakan? Atau hanya kebetulan absurd? “Lin, confirm dong, aku sudah kirim permintaan pertemanan,” ujar Rully sambil menggeser layar ponselnya ke arah Avelline. Avelline langsung menunduk, menatap layar ponselnya sendiri. “Oke, done,” jawabnya cepat berusaha bersikap seolah Eldiro tak ada di sana. Eldiro tetap mengawasi gerakan Avelline, lalu dia berhenti mengunyah menatap layar ponsel Avelline yang menunjukkan akun sosial medianya, “foto profilnya kue ulang tahun?” tanya Rully tiba-tiba, “punya siapa?” lanjutnya memberondong. Avelline melirik sekilas, lalu menjawab datar. “Punyaku, kelihatan tuh namaku,” ujar Avelline. “Oh iya, kamu bikin sendiri?” tanya Rully dengan antusias, seolah tidak menyadari aura canggung yang mulai terasa di sekitar mereka. Avelline mengangguk, “iya, sekedar hobi aja sih.” “Wah keren hobinya. Memang kapan ulang tahun kamu?” tanyanya lagi. “Tanggal tiga puluh, sabtu kemarin.” Eldiro menatap Avelline lekat. Tanggal tiga puluh, tanggal di mana Avelline menginap di rumahnya. Tanggal di mana semuanya terasa kian kacau. Dan dia bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun dengan layak. “Wah dapat kado spesial dong dari suami?” goda Rully sambil terkekeh. Eldiro mengepalkan sumpitnya, jika tatapan bisa melukai, Rully mungkin sudah pingsan di tempat. Kata ‘suami’ itu menghantamnya dengan keras. Mengingatkannya pada batas yang tidak seharusnya dia lewati. “Iya dapat,” jawab Avelline ringan tanpa beban. “Oiya apa tuh? Barangkali kalau aku sudah nikah nanti bisa aku contoh.” “Jangan pernah contoh kadonya,” sahut Avelline dengan cepat. “Kenapa? Jadi penasaran nih?” Avelline refleks tertawa cukup keras sambil menutup mulutnya sendiri. Tawa yang jarang dilakukan akhir-akhir ini. Kini bukan hanya Rully yang menunggu jawabannya. Eldiro pun ikut menajamkan telinganya, meskipun dia masih berpura-pura fokus pada makanannya. Avelline memajukan wajahnya seolah hendak berbisik, hingga Rully dan Eldiro otomatis mendekatkan kepala. “Suamiku ngasih hadiah brondong. Tepat di malam ulang tahun. Percaya enggak?” tanyanya berbisik. Rully mendengus kesal, “ih garing banget bercandanya!” selorohnya. Sementara itu, Eldiro justru tersenyum puas. Dia tahu persis siapa yang dimaksud Avelline, dadanya terasa hangat. Sebuah perasaan yang salah, namun tetap terasa nyata. “Kenapa El senyum-senyum? Sudah gila ya?” ketus Rully. Eldiro hanya terkekeh kecil. Siapa yang tidak mengenal Eldiro? Cowok terpopuler se-kantor. Tampan, mapan, percaya diri. Banyak karyawan perempuan yang terang-terangan mengaguminya, namun tak satu pun tahu isi pikirannya saat ini. Matanya kembali menerawang ke arah Avelline, dia ingin memberikan sesuatu. Bukan sekedar kado ulang tahun, namun sesuatu yang bisa mengikat Avelline lebih dalam, membuatnya tak bisa lagi berpura-pura bahwa semua ini sudah bisa dihentikan begitu saja. Avelline, di sisi lain merasakan gelisah yang tak bisa dijelaskan. Senyum eldiro membuatnya waspada. Dia tahu senyum itu, senyum seorang yang takkan menyerah begitu saja. Dan di tengah kantin yang ramai, di antara tawa kecil dan obrolan ringan, mereka bertiga duduk dengan rahasia masing-masing, sebuah rahasia yang perlahan bisa berubah menjadi bom waktu! *** Pada esok harinya, sebenarnya dimulai seperti hari-hari biasa bagi Avelline. Tidak ada firasat apapun, tidak ada mimpi buruk atau rasa sesak yang tiba-tiba datang tanpa sebab. Dia berangkat kerja dengan rutinitas yang sama, membuatkan sarapan untuk Kaivan. Memastikan baju seragam anaknya rapih sebelum diserahkan ke daycare, mengecek jam lalu berangkat ke kantor dengan langkah yang penuh keyakinan. Malam tadi Zaven tidak pulang lagi, namun pihak daycare berkata kemarin siang pria itu sempat bermain berrsama Kaivan di daycare, lalu pergi sebelum hari menjelang sore. Sehingga Avelline tak bisa menemuinya. Tak ada pesan dari Zaven sama sekali, pun dengan Avelline yang tak mengiriminya pesan teks karena tidak mau ribut lagi. Saat Avelline baru saja duduk di kursinya dan membuka laptop, seorang office boy menghampirinya sambil membawa sebuah tas kertas kecil berwarna cokelat. Ukurannya tidak besar, namun cukup mencolok karena pita tipis berwarna emas yang melingkar di pegangan tas itu. “Bu Avelline, ini ada titipan,” ucapnya sopan. “Titipan? Dari siapa?” tanya Avelline seraya mengernyitkan keningnya. “Kurang tahu, Bu. Tadi dititipkan sama kurir,” jawabnya. Avelline menerima tas itu dengan ragu, dia menaruhnya di atas meja, memandanginya beberapa detik lebih lama. Dia membuka tas itu perlahan, di dalamnya ada sebuah kotak kado berbentuk persegi panjang, dibungkus rapi dengan kertas berwarna putih bermotif, dan sebuah note kecil menempel di atasnya. Tangannya gemetar saat membaca tulisan tangan yang sudah sangat dia kenali. “Happy b’day Sayang, dipakai ya. Love you. Regards, Eldiro.” Avelline menutup mulutnya dengan refleks. Jantungnya berdegup keras seolah hendak melompat keluar dari dadanya. Sudah beberapa hari dia berusaha hidup seolah dia dan Eldiro tak pernah melakukan apa-apa. Seolah malam itu hanyalah mimpi buruk yang harus dilupakan. Namun, satu kado kecil ini berhasil meluruhkan pertahannya. Dia membuka kotak itu dengan napas tertahan. Di dalamnya tergeletak sebuah kalung emas putih, sederhana namun tampak elegan. Liontinnya memanjang dengan ukiran satu kata kecil yang tampak berkilau. ‘Love.’ Indah. Terlalu indah untuk sesuatu yang lahir dari sebuah dosa. Tanpa sadar, Avelline mengeluarkan kalung itu dan memakainya, jarinya menyentuh dinginnya emas putih di kulit lehernya. Dia menunduk, mengecup liontin itu pelan. Gerakan refleks yang bahkan tak dia rencanakan. Air matanya jatuh. Bukan karena dia bahagia, melainkan karena dia sadar betapa lemah pertahannya. Mengapa ... dia merindukan pria itu? Tak lama kemudian ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zaven. “Semua uang di rekening aku dari Eldiro sudah aku transfer ke rekening kamu. Aku enggak berhak gunain uang itu. Sekali lagi maaf.” Avelline memejamkan mata. Napasnya terasa berat, dadanya seperti ditekan oleh beban berat yang tidak terlihat. Dia merasa kotor, bersalah dan hancur dalam satu waktu. Dia telah mengkhianati pernikahan yang belum benar-benar sepenuhnya berakhir itu. Dan ironisnya, suaminya sendiri yang menjerumuskannya dalam jurang itu. Dia pun melepas kalung tersebut, meletakkan di kotaknya semula. Dia menatap kotak itu lalu mendesah pelan. Dia menyadari bagian paling menyakitkan dari semua ini adalah satu fakta yang tidak bisa dia sangkal, bahwa dia menikmati perhatian Eldiro. Apakah dia benar-benar sudah gila sekarang? Perhatian Eldiro sangat lembut dan tidak menuntut, membuatnya merasa diinginkan. Dan Eldiro ... Pria itu juga sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain. Avelline harus segera sadar dari mimpi semunya. *** Pada malam harinya, Avelline pulang ke rumah setelah Zaven berkata dia menjemput Kaivan. Karena itu Avelline bisa sedikit lebih lega menyelesaikan laporan akhirnya tanpa terburu. Dia melihat Zaven di ruang televisi, wajahnya tampak kusut. Sementara Kaivan sudah tidur. “Duduk, aku mau bicara,” ucap Zaven tanpa menoleh ke arah Avelline sama sekali. “Aku mandi dulu,” ucap Avelline. Zaven hanya menganguk kecil. Avelline tahu sesuatu memang harus dibicarakan. Setelah mandi, Avelline pun ikut duduk di sofa itu, dengan jarak yang cukup kentara. “Ada apa?” tanyanya. “Hubungan kita,” ucap Zaven, “kamu mau bagaimana?” tanyanya. Avelline tampak terdiam, sebelumnya dia sangat menginginkan perceraian, setiap bertengkar selalu dia meminta cerai. Namun, menerima kenyataan bahwa Eldiro sebentar lagi akan menikah, membuatnya sedikit sesak. “Baru talak satu kan? Bisa ... diperbaiki,” ucap Avelline menelan salivanya dengan kasar. Zaven mengangguk kecil, “kita coba dulu,” ucapnya tanpa menatap Avelline. Lalu dia masuk ke kamar Kaivan. Sejak malam itu Zaven tidur bersama Kaivan, mereka memang satu rumah namun hampir tak pernah berbicara seperti dulu. Seolah mereka hanya ada untuk Kaivan saja. Tidak ada lagi sentuhan fisik, atau perhatian kecil seperti mereka hanya dua orang asing yang terpaksa tinggal di satu atap. Awalnya Avelline mengira itu hanya sementara. Dia pikir suaminya butuh waktu. Dia pikir semuanya akan kembali normal perlahan. Namun hari berganti minggu, lalu berganti bulan. Namun jarak itu tak pernah benar-benar menyempit, justru semakin melebar. Ibu mertuanya sudah sangat sehat, wanita itu kembali ceria, kembali mengurus rumah dan menimang cucunya dengan penuh cinta. Apalagi adik iparnya sudah melahirkan. Seolah kejadian tiga bulan lalu tidak pernah terjadi. Hingga hari itu tiba ... hari di mana dia menerima surat dari pengadilan agama. Gugatan perceraian yang mengatas namakan dirinya dan Zaven. Avelline tahu sesuatu yang buruk benar-benar akan terjadi! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD