Sejak Avelline menerima hadiah dari Eldiro, dia meminta atasannya untuk memindahkan tugasnya dari perusahaan Zaven, dia menghindari pertemuan dengan Eldiro, dia pikir mungkin dia akan bisa kembali dengan Zaven, memulai semua dari awal lagi. Namun dia salah, pria tak pernah bisa melupakan sesuatu yang merupakan miliknya yang juga sempat dimiliki orang lain.
Mereka akan mengingatnya, dan tak bisa mengikhlaskan begitu saja. Itulah sebabnya mengapa jika wanita yang ketahuan berselingkuh, maka pria memilih pergi, berbeda dengan jika pria yang selingkuh, maka banyak wanita yang memilih memaafkan dan memulai lagi semuanya.
Dan itu lah yang dilakukan Zaven padanya. Dia tidak bisa menerima lagi Avelline dengan utuh, dia tahu apa yang telah terjadi. Meskipun itu salahnya, namun tetap egonya yang menang.
Kini Avelline justru merasa dikhianati. Padahal dulu dia sangat ingin perceraian itu. Namun semua berubah. Sejak harga dirinya dihancurkan akan tetapi hatinya justru menjadi semakin rapuh.
Dia tidak siap kehilangan Kaivan setiap hari, tidak siap melihat anaknya tumbuh tanpa ayah di sisinya. Tangannya gemetar saat menekan nomor Zaven.
“Halo, Yah?”
“Ada apa?” tanya Zaven dengan suara yang terdengar dingin.
“Kamu serius mau cerai?”
“Aku cuma mewujudkan apa yang selama ini kamu inginkan,” ucap Zaven dari seberang sana.
“Tapi bagaimana dengan aku? Dengan Kaivan?”
“Eldiro pasti bisa menerima kamu apa adanya.”
Deg! Nama itu kembali menusuk. Avelline terdiam cukup lama.
“Aku minta maaf Lin, aku harap kamu mengerti.” Dan panggilan pun terputus.
Avelline terisak. Dadanya terasa seperti diremas. Dia kemudian melihat pesan masuk dari Zaven yang mengirim kontak Eldiro. Dalam pesannya dia berkata, “kamu mungkin sudah menyimpan nomornya, tapi terserahlah.”
Avelline menatap kontak itu. Tanpa sadar dia menekan nomor itu, nama yang selalu dia hindari. Dia bingung, bagaimana dia harus menghadapi ini sendirian? Dia nyaris tak memiliki sahabat semenjak menikah dengan Zaven yang bersikap begitu over protective padanya. Dia dilarang berteman, bermain atau sekedar nongkrong di cafe dan sejak itu teman-temannya memilih mundur dari pertemanan mereka.
Kini, dia merasa kan rapuh, berkutat dalam kebingungan sendirian.
Tangannya terasa gemetar saat menunggu sambungan. Dia tidak tahu apa yang akan dia katakan. Dia hanya tahu bahwa hidupnya runtuh dan dia tidak tahu harus berpijak di mana lagi.
***
Dan di sinilah kini Eldiro berada bersama Avelline.
Sebuah rumah makan yang tersembunyi di sudut kota, jauh dari hiruk pikuk jalanan besar dan suara klakson yang biasa memekakkan telinga. Tempat itu seolah sengaja diciptakan untuk orang-orang yang ingin menyendiri.
Rumah makan itu berkonsep pedesaan, bangunannya didominasi kayu dengan atap jerami sintetis. Lampu-lampu temaram menggantung rendah dan aroma ikan bakar yang menyebar ke seluruh sudut ruangan. Mereka duduk di dalam sebuah saung kecil, tertutup bilik setengah badan. Cukup privat sehingga hanya bayangan samar orang yang bisa terlihat di kejauhan.
Di depan saung terbentang sebuah kolam buatan berukuran sedang, belasan ikan mas berenang malas, sesekali menyembul ke permukaan untuk mengambil oksigen, menciptakan riak-riak kecil yang memecah keheningan.
Namun, ketenangan tempat itu tidak mampu meredakan badai di d**a Avelline.
Dia duduk mematung, kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Matanya sembab, pipinya basah oleh air mata yang tak kunjung berhenti. Sejak mereka datang, hampir tiga puluh menit lalu, Avelline belum menyentuh sedikit pun makanannya. Ikan bakar di piringnya sudah mulai dingin, sambal yang tersaji rapi tampak tak lagi menggooda.
Sementara itu, piring Eldiro di depannya sudah kosong tak bersisa.
Eldiro menghela napas panjang, kesabarannya mulai menipis. Dia menatap Avelline dengan sorot mata campuran antara cemas dan frustasi.
“Sampai kapan mau nangis terus?” tanyanya, suaranya sedikit meninggi meski masih agak tertahan, “kapan ceritanya? Ada apa sih sebenarnya?”
Avelline tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajah ke arah kolam. Menatap ikan-ikan yang berenang tanpa beban. Dia iri pada makhluk-makhluk itu yang tidak perlu memilih, tidak perlu menanggung dosa dan tidak perlu merasa bersalah karena mencintai orang yang salah.
Eldiro berdecak pelan, dia berdiri dan berjalan ke sudut saung untuk mencuci tangna di kran air yang tersedia. Gerakannya kasar, seperti sedang meluapkan kekesalan. Setelah itu dia kembali duduk, menatap Avelline yang masih terisak dalam diam.
“Kamu masih sayang banget sama Zaven?” tanyanya lebih pelan, namun justru terdengar begitu menusuk.
Avelline menggeleng pelan.
“Terus kenapa?” Eldiro mencondongkan tubuhnya ke depan, “tadi di telepon kamu cuma bilang Zaven gugat cerai kamu. Kamu juga bilang sudah enggak ada rasa apa-apa lagi sama dia. Terus kenapa sedih banget harus pisah sama dia?”
Avelline menelan salivanya. Dadaya terasa sesak, dia memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya bersuara dengan suara yang parau dan rapuh.
“Aku mikirin Kaivan.”
Eldiro terdiam sesaat. “Kaivan?” tanyanya.
“Iya, anakku. Dia masih kecil Mas, dia sayang banget sama ayahnya. Aku enggak siap lihat dia harus pindah-pindah rumah. Aku enggak siap lihat dia nanya, ayah kenapa enggak tidur di rumah lagi?”
Air matanya kembali jatuh, “aku ibu yang egois, aku mungkin bisa kuat. Tapi anak aku belum tentu,” lanjutnya lirih.
Eldiro meraih tangan Avelline dan menggenggamnya erat, “tenang, aku akan sayangi Kaivan seperti anak aku sendiri. Aku suka anak-anak Lin, beneran.”
Kalimat itu justru membuat Avelline tersentak.
“Kamu apa-apaan sih Mas!” Avelline menarik tangannya, “enggak nyambung, tahu enggak?” nada suaranya meninggi, bercampur emosi yang dia tahan. Eldiro terdiam, namun tak menyerah. Dia kembali mendekap Avelline ke dadanya, memeluknya erat tanpa mempedulikan perlawanan kecil yang diberikan Avelline di awal.
“Aku sayang sama kamu,” ucap Eldiro, kali ini suaranya penuh ketulusan, “aku enggak mau lihat kamu sendirian ngelewatin ini,” tuturnya.
Avelline terisak di dadanya, namun di tengah pelukan itu, Avelline masih sadar. Dia tahu bahwa kehadiran Eldiro, akan selalu disalahkan oleh dunia sebagai penyebab runtuhnya rumah tangganya.
“Aku enggak mau kamu dituduh jadi orang ketiga,” ucap Avelline akhirnya. Suaranya hampir tak terdengar, “aku enggak mau orang mikir kamu perusak rumah tangga.”
Eldiro menghela napas panjang, “aku ngerti,” ucapnya berat, “kalau itu yang kamu mau aku bisa jaga jarak.”
“Lalu bagaimana dengan tunangan kamu?” tanya Avelline lagi-lagi tersentak oleh kenyataan sendiri bahwa Eldiro pun bukan seorang yang bebas.
Eldiro terdiam, “aku akan menyelesaikannya, kamu enggak perlu permasalahkan itu.”
Satu sisi Avelline tak ingin menyakiti tunangan Eldiro, namun sisi lainnya berkata bahwa dia pun ingin egois memperjuangkan perasaannya yang baru saja tumbuh ini. Terlebih dia merasa bahwa Eldiro justru memiliki perasaan yang lebih besar untuknya dibanding perasaannya untuk Eldiro. Pantaskah mereka memperjuangkan cinta ini yang pasti takkan mudah untuk ke depannya?
Untuk pertama kalinya mereka kembali dekat, Eldiro terlihat mengalah. Dia berjanji akan mundur sejenak. Tidak muncul di kehidupan Avelline selama proses perceraian berlangsung. Tidak ikut campur atau memperkeruh keadaan. Keputusan itu tidak mudah, baik bagi Eldiro maupun Avelline.
Tak lama setelah pertemuan itu, Avelline benar-benar meninggalkan rumah yang dulu dia sebut rumah tangganya. Dia membawa Kaivan dan kembali ke rumah ibunya di luar kota. Rumah sederhana itu menyambutnya dengan kehangatan yang sudah lama dia rindukan.
Namun, konsekuensinya tidak ringan. Setiap hari Avelline harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk bekerja. Bangun lebih pagi dan pulang lebih malam. Tetapi dia tidak mengeluh, dia merasa pantas menerima itu sebagai bentuk penebusan.
Uang yang diterimanya dari Zaven, pemberian Eldiro kala itu, digunakan untuk merenovasi rumah orang tuanya, agar lebih layak dihuni. Setidaknya dari uang kotor itu dia ingin menghasilkan sesuatu yang baik.
Hingga perceraian hampir usai, dan sesekali Eldiro datang. Bukan untuk Avelline, itu yang mereka katakan pada diri sendiri. Eldiro datang untuk Kaivan, bermain mobil-mobilan, mengajaknya ke taman kecil atau sekedar membelikan es krim.
Kaivan terlihat menyukainya dan itu justru membuat hati Avelline semakin teriris. Karena Zaven yang merupakan ayahnya justru tidak pernah datang sekalipun.
Pesan-pesan yang mereka kirim pun kaku dan singkat, selalu tentang jadwal sidang, dokumen atau administasi. Tidak pernah tentang perasaan apalagi rindu. Bahkan Zaven tak pernah menanyakan Kaivan, membuat Avelline semakin sedih, apakah sebegitunya dia membuang mereka?
Ibu mertua Avelline sempat meneleponnya menanyakan apakah keputusan berpisah itu sudah bulat. Avelline bingung harus menjawab apa, hingga dia hanya bisa terisak di telepon itu. Itu adalah perpisahan yang kejam, Avelline bahkan belum berani menemui wanita itu karena merasa dosanya begitu besar. Ada rasa takut dalam dirinya. Namun mendengar ibu mertuanya yang pulih kembali secara ajaib membuatnya bisa bernapas lebih lega.
Malam itu terasa berbeda. Eldiro tetap datang ke rumah Avelline meskipun Avelline sudah melarangnya. Mereka berdiri di depan rumah, lampu teras menyala redup dan udara malam di kota ini terasa dingin.
Eldiro tampak gelisah. Wajahnya kusut, dia lebih banyak diam tak seperti biasanya yang cukup ceria.
“Kamu kenapa sih?” tanya Avelline akhirnya karena tak tahan pria itu ingin bertemu namun terus saja diam.
Eldiro menelan salivanya, “aku sudah mutusin pertunanganku dengan Winora.”
“Terus? Dia ... enggak terima kan?” tanya Avelline meski hatinya berkecamuk, konflik batin antara perasaan bersalah namun lega sekaligus.
“Awalnya dia setuju,” ucap Eldiro lirih, “tapi enggak lama, ibu telepon dan marah besar. Dia bilang ... dia enggak mau anggap aku anak lagi kalau aku enggak nikah sama Winora.”
Mata Eldiro memerah. Avelline terdiam, dia tahu betul betapa Eldiro mencintai ibunya, dan berat dengan keputusan itu. Dia pernah cerita pada Kaivan bahwa Kaivan harus mencintai ibunya karena ibunya berjuang melahirkan Kaivan sama sepertinya yang mencintai ibunya. Namun ... sepertinya kini ucapan itu terdengar seperti bualan ketika dihadapkan dengan cinta yang membuat mereka mengambil keputusan gila.
Avelline mengusap punggung Eldiro. Gerakan kecil yang sarat akan empati. Air matanya ikut jatuh tanpa dia sadari. Eldiro kemudian memeluknya.
“Aku janji Lin, apapun yang terjadi, meski orang tuaku enggak merestui hubungan kita. Aku akan tetap menikahi kamu. Aku sangat mencintai kamu, aku enggak akan biarin setetes pun air mata keluar dari mata kamu lagi.”
Tangis Avelline pecah. Gila. Ini memang cinta yang gila, keduanya memilih bersama di saat mereka seharusnya tak bersama. Avelline harusnya menyembuhkan diri dulu dari luka. Selama ini dia meminta cerai pada Zaven bukan karena pria lain, namun malam itu mengubah segalanya. Dia jatuh cinta pada pria yang tak seharusnya dia cintai. Pria yang menghargainya cukup tinggi hanya untuk menghabiskan satu malam bersamanya.
Sementara Eldiro rela melepaskan apa saja, bahkan restu orang tuanya demi bisa menikahi Avelline dan mewujudkan janjinya untuk membahagiakan Avelline juga putra kecilnya, Kaivan. Ini bukan hal yang mudah, namun Eldiro sudah bertekad kuat, dan janji seorang pria pantang untuk dilanggar.
Mereka tak menyadari bahwa hati mereka telah menyatu. Cinta yang berawal dari dosa kini tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh lebih berbahaya. Dan di sanalah mereka berdiri, di antara harapan dan ketakutan. Tanpa tahu bahwa takdir belum selesai memainkan perannya.
***