Malam itu kampus sudah lama sepi. Lampu lorong belakang gedung Ilmu Komunikasi hanya menyisakan sebagian yang menyala, sementara sisanya mai dan menyisakan suasana remang-remang yang menusuk. Angin dingin menusuk masuk lewat sela bangunan, bawa suara daun kering terseret di lantai berlapis semen. Ara berjalan sendirian, menenteng tas pink dan gantungan kuncinya yang ribut mengikuti ritme jalannya langkahnya yang cepat dan gelisah. Matanya terus menengok ke belakang. Sejak keluar dari kelas terakhir, Ara langsung pergi ke ruang Auditorium untuk bersembunyi sambil menunggu Lena datang. Dia selalu merasa ada yang mengikutinya. Dari parkiran, dari taman tengah, sampai ke lorong belakang tempat Auditorium yang gelap ini. Langkah itu selalu ada. Pelan. Berat. Konsisten. Dia berhenti. Lang

