Perpecahan | Bab 21

1081 Words

Ruang rapat pagi itu penuh orang, tapi atmosfernya terasa aneh. Sunyi, dingin, dan… tegang. Semua duduk tegap sambil menyusun berkas-berkas, menunggu presentasi yang akan dibawakan oleh Luna sebagai kepala divisi sementara. Begitu Luna masuk, semua berdiri memberi salam hormat. “Selamat pagi, Ibu Luna.” Aurora berada di kursi paling ujung neja panjang ini sebagai seorang anak magang. Mendengar seluruh salam itu ditujukan pada Luna, bukan dirinya. Lagi-lagi. Tapi hari ini dia tidak mau terintimidasi. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk kuat. Tetap terlihat tenang meski mendapat kan diskriminasi dari kakanya sendiri. Papah mereka, Pak Leon, masuk bersama beberapa orang di belakangnya yang menenteng map berkas. Semua orang membungkuk hormat, menyaksikan Pak Leon duduk di kursi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD