Setelah kejadian di ruang rapat pagi tadi, Samuel mengundang Aurora untuk datang mengunjungi apartemen barunya yang dekat dengan lokasi kantor pusat firma hukum miliknya yang baru. Kedatangannya juga bertujuan untuk bekerja dan belajar bisnis yang masih asing di telinga wanita itu. Apartemen baru Samuel berada di sebuah gedung tinggi di pusat kota, menghadap jalanan yang tak pernah tidur. Dari luar saja sudah kelihatan mahal, tapi Aurora tidak terlalu memikirkan itu. Yang ada hanya satu perasaan: gugup. Dan entah kenapa, gugupnya bukan karena ingin belajar bisnis. Ia berdiri di depan pintu warna abu gelap itu sambil menarik napas panjang. “Kak Sam udah nungguin, kan…?” gumamnya pelan sambil mengetuk. Pintu terbuka. Samuel muncul dengan kemeja hitam yang lengannya dilipat sampai siku, ra

