Aurora masuk ke gedung perusahaan pagi itu dengan napas yang masih belum stabil. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini pertama kalinya dia benar-benar menginjakkan kaki ke tempat yang selama ini dikuasai Luna. Tempat yang seharusnya jadi masa depan dia, bukan direbut dan diputarbalikkan oleh Luna dan Darren. Begitu pintu lobby terbuka, suara orang-orang yang sedang lalu lalang terdengar berdengung. Semua pegawai mengenakan pakaian formal, wajah serius, dan langkah cepat. Aurora sempat membenarkan kerah kemejanya, lalu berjalan ke arah front desk. Tapi sebelum dia sempat bicara, resepsionis langsung mendongak. Matanya melebar. “Selamat pagi, Bu Luna. Agenda hari ini prod meeting jam sepuluh sama divisi finansial, lalu makan siang sama investor Jepang.” Aurora hampir keselek

