Aurora masih bisa merasakan tatapan seluruh ruangan kantor yang menempel di punggungnya ketika Samuel menariknya keluar dari ruang Kerja tadi. Semua orang jelas membaca ketegangan di wajah pria itu. Bahkan sampai sekarang, ketika lift menutup perlahan dan menyisakan hanya dua orang di dalamnya, Aurora masih mengetuk ujung jarinya pada sisi rok karena gugup. Lift bergerak turun perlahan. Aurora menatap angka yang berubah satu per satu sambil menahan napas. Ia tidak berani menoleh. Samuel berdiri di sampingnya, tubuh tinggi dan bahunya tegang, seolah berusaha menahan sesuatu yang sudah lama mendidih. Begitu pintu lift terbuka di basement, Samuel langsung menggenggam pergelangan tangan Aurora. Genggamannya hangat dan kuat. Aurora sempat terkejut, tapi ia tidak menarik diri. Ada sesuatu pa

